Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
228. Acara Dadakan


__ADS_3

Pagi menjelang, Disha masih enggan untuk melepaskan dekapan hangat suaminya. Suara dering telepon membuat sepasang suami-isteri itu terganggu. Dengan mata yang masih terpejam, Alva mengulurkan tangan kirinya untuk meraih handphonenya di atas nakas, sedangkan tangan kanannya masih memeluk tubuh istrinya. Membuka matanya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo!"sahut Alva dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Tuan, si Niko ini mau diapakan?"tanya Ferdi dalam sambungan telepon.


"Memangnya kamu belum mengurusnya?"tanya Alva seraya menatap wajah istrinya yang masih ada dalam pelukannya.


"Subuh tadi saya baru selesai mengerjainya, Tuan,"sahut Ferdi.


"Mengerjai? Mengerjai bagaimana maksudmu?"tanya Alva seraya mengernyitkan keningnya, merasa anak buahnya itu pasti baru berulah lagi.


"Nanti saya kasih tahu. Sekarang intinya mau diapain si Niko ini? Apa perlu saya serahkan ke kantor polisi?"tanya Ferdi.


"Nanti aku tanya sama kakakku. Sementara kamu amankan saja dulu," sahut Alva.


"Baik, Tuan,"sahut Ferdi lalu Alva memutuskan sambungan telepon.


Namun tiba-tiba Alva ingat kalau Ferdi sudah mengerjai Niko. Alva ingin bertanya pada Ferdi, mengerjai bagaimana maksudnya. Baru saja Alva akan menghubungi Ferdi, tiba-tiba ada notifikasi pesan video dari Ferdi. Alva mulai mengernyitkan dahinya, merasa curiga dengan vidio yang dikirim Ferdi. Akhirnya Alva memutar video dari Ferdi dengan mode silent. Seketika mata Alva membulat saat menonton video yang dikirimkan Ferdi.


"Astaga..!! Si Ferdi ini!. Kelakuannya bikin aku benar-benar menjadi speechless. Selama ini aku hanya mendengar berita soal cewek yang dilecehkan pria, tapi ini malah seorang pria dilecehkan lima orang wanita beda usia sekaligus," ucap Alva seraya membuang napas kasar.


"Kamu ngomong apa sich, sayang?"tanya Disha seraya mencari posisi nyaman dalam dekapan suaminya.


"Si Ferdi bikin ulah lagi. Dia bikin video panas lagi, dan ini lebih parah dari sebelumnya,"sahut Alva.


"Kali ini siapa lagi yang dia jadikan sebagai model video nya?"tanya Disha seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah Alva dengan rambut yang acak-acakan karena ulahnya semalam.


"Niko di gilir lima perempuan berwajah standar berbeda usia. Dari usia sekitar 23-40 tahunan,"jawab Alva.


"What?! Astaga...si Ferdi.!!"pekik Disha langsung duduk hingga membuat selimut yang dipakainya melorot.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu sengaja menggoda ku?"tanya Alva menatap dua bukit kembar Disha yang terpampang jelas di depan matanya karena saat ini tubuh Disha masih polos tanpa sehelai benang pun setelah pergulatan mereka semalam.


"Plak"Disha memukul tangan Alva yang ingin memegang benda favoritnya itu.


"Dasar mesum!"ucap Disha seraya menutup kembali tubuhnya dengan selimut, namun tiba-tiba Alva memeluknya dari belakang.


"Mesum sama istri sendiri nggak apa-apa, kan?"tanya Alva menggosok- gosokan hidungnya di leher Disha.


"Al.! Sudah! Tubuhku masih pegal semua,"keluh Disha.


"Iya.. sayang! Nggak lagi, nanti malam saja,"ucap Alva kemudian mencium pipi Disha beberapa kali.


"Issh.."desis Disha.


"Kaivan sudah berhenti minum ASI. Aku ingin memiliki anak lagi dari mu. Laki-laki atau perempuan tidak masalah,"ucap Alva menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Disha, membuat Disha terdiam, karena sebenarnya Disha belum ingin memiliki anak lagi.


***


Di sebuah kamar hotel.


"𝙔𝙖 𝙏π™ͺ𝙝𝙖𝙣, π™—π™–π™œπ™–π™žπ™’π™–π™£π™– π™žπ™£π™ž? π˜Όπ™ π™ͺ π™©π™žπ™™π™–π™  π™₯π™ͺπ™‘π™–π™£π™œ π™™π™–π™§π™ž π™ π™šπ™’π™–π™§π™žπ™£ π™¨π™€π™§π™š, π™₯𝙖π™₯𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙒𝙖 π™₯π™–π™¨π™©π™ž π™¨π™–π™£π™œπ™–π™© π™’π™šπ™£π™˜π™šπ™’π™–π™¨π™ π™–π™£ 𝙖𝙠π™ͺ. π˜Ώπ™–π™£ 𝙖𝙠π™ͺ...𝙖𝙠π™ͺ 𝙨π™ͺ𝙙𝙖𝙝 π™’π™šπ™‘π™–π™ π™ͺ𝙠𝙖𝙣 𝙝π™ͺ𝙗π™ͺπ™£π™œπ™–π™£ 𝙨π™ͺπ™–π™’π™ž-π™žπ™¨π™©π™§π™ž π™¨π™šπ™—π™šπ™‘π™ͺ𝙒 π™’π™šπ™£π™žπ™ π™–π™. π˜½π™–π™œπ™–π™žπ™’π™–π™£π™– π™žπ™£π™ž? 𝙋𝙖π™₯𝙖 π™₯π™–π™¨π™©π™ž 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙧𝙖𝙝 π™—π™šπ™¨π™–π™§ π™₯𝙖𝙙𝙖𝙠π™ͺ, π™—π™–π™œπ™–π™žπ™’π™–π™£π™– π™˜π™–π™§π™–π™ π™ͺ π™’π™šπ™£π™œπ™π™–π™™π™–π™₯π™ž π™₯𝙖π™₯𝙖,"gumam Icha dalam hati, tanpa sadar menangis hingga tubuhnya bergetar karena takut akan kemarahan orang tuanya.


Merasa apa yang dipeluknya bergetar, Radeva pun terbangun dan melihat Icha yang sudah berlinang air mata,"Sayang, jangan menangis! Maafkan aku! Ini salahku,"ucap Radeva menghapus air mata Icha kemudian menenggelamkan wajah Icha ke dalam dada bidangnya. Menenangkan wanita yang semalam sudah membuatnya gila karena merasakan kenikmatan yang membuat nya melayang dan sulit untuk berhenti menikmatinya lagi dan lagi.


"Kak, aku takut pulang. Papa pasti marah besar padaku. Aku takut, Kak,"ucap Icha dalam Isak tangisnya.


"Tenanglah! Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi mu hari ini juga,"ucap Radeva membuat Icha langsung mendongakkan kepalanya menatap wajah Radeva.


"Kak...."


Radeva mengusap pipi Icha lembut,"Iya, aku akan menikahi mu hari ini juga,"ucap Radeva meyakinkan. Icha seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Radeva. Radeva menatap lekat manik mata Icha kemudian memiringkan kepalanya dan perlahan memagut bibir Icha. Ciuman yang terasa lembut namun menjadi semakin panas dan menuntut, hingga keduanya kembali melakukan hubungan terlarang, terhanyut dalam nikmatnya surga dunia, bergulat diatas ranjang dengan bermandikan peluh yang membanjir tubuh mereka.

__ADS_1


"Maaf! Aku benar-benar tidak bisa mengontrol diri ku untuk tidak menyentuh mu. Apa yang kita lakukan semalam dan barusan benar-benar nikmat dan membuat ku gila. Aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi,"ucap Radeva setelah mendapatkan pelepasan, memeluk Icha erat seolah tak ingin melepaskannya. Sedangkan Icha hanya terdiam dalam pelukan Radeva, merutuki kebodohannya yang malah terhanyut oleh buaian Radeva dan kembali melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan.


Radeva membawa Icha pulang ke rumahnya saat hari menjelang siang. Icha tertunduk menahan rasa malu, duduk di antara keluarga Mahendra.


"Pa, ma, aku ingin mempercepat pernikahan ku, dengan Icha,"ucap Radeva seraya menggenggam sebelah tangan Icha erat.


"Kapan?"tanya Mahendra tenang, sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan putranya setelah mendengar cerita dari Alva semalam dan tidak ingin mempersulit putranya. Ghina, Disha dan Alva pun hanya diam seolah tidak melihat jejak percintaan di leher kedua insan yang terlihat jelas itu.


"Hari ini juga, pa,"jawab Radeva mantap.


"Tapi ini hari Minggu, Dev,"sahut Mahendra.


"Biar aku yang urus, pa. Ucap Alva segera menghubungi Ferdi dan Riky. Setelah itu mereka pergi ke rumah Icha. Ghina memeluk Icha yang nampak ketakutan saat akan melangkah ke dalam rumahnya.


Mahendra, Radeva dan Alva menjelaskan apa yang terjadi pada kedua orang tua Icha, sehingga mereka tidak jadi marah. Akhirnya hari itu juga, Icha dan Radeva dinikahkan secara hukum dan agama, dan akan tetap mengadakan resepsi pernikahan sesuai rencana awal.Malam itu, Radeva pun memutuskan untuk menginap di rumah kedua mertuanya.


"Maaf kalau merasa kurang nyaman, hidangan makan malamnya hanya makanan orang kampung dan rumah kami juga hanya seperti ini, Nak,"ucap papa Icha setelah mereka selesai makan malam.


"Tidak apa-apa, pa,"ucap Radeva seraya tersenyum tipis. Sedangkan Icha sudah masuk ke dalam kamarnya melepaskan lelahnya karena acara pernikahan yang diadakan dadakan hari ini.


Setelah mengobrol beberapa lama, akhirnya kedua orang tua Icha pun mempersilahkan Radeva untuk beristirahat. Radeva masuk ke dalam kamar dan melihat Icha sudah terlelap. Perlahan Radeva naik ke atas ranjang yang tidak terlalu besar itu dan mengecup lembut kening Icha.


Radeva memandangi setiap inchi wajah Icha hingga pandangannya berhenti di area bibir Icha. Perlahan Radeva menundukkan wajahnya dan mencium Icha dengan lembut. Icha pun terbangun saat merasakan bibirnya di lum Matt dan di hisap Radeva.


"Kak.!"ucap Icha setelah Radeva melepaskan ciumannya.


"Maaf, sejak kejadian kemarin malam, aku tidak bisa menahan diriku jika melihatmu,"ucap Radeva menatap lekat wajah Icha kemudian kembali mencium bibir Icha.


...🌟"Saat merengkuh nikmatnya surga dunia, manusia lupa dengan apa yang namanya dosa."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


...🌸❀️🌸...


To be continued


__ADS_2