Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
127. Nasehat Seorang Kakak


__ADS_3

Di balkon sebuah kamar nampak seorang gadis cantik yang sedang berdiri dan melihat kearah taman yang nampak ramai. Matanya kemudian tertuju pada seorang pria yang akhir-akhir ini dikaguminya.


"Dia pria idaman yang begitu sempurna. Kebapakan dan terlihat penyayang. Pasti aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini jika bisa memilikinya," gumam gadis cantik itu.


"Tok..tok..tok.."


"Masuk!"ucap gadis itu tanpa beringsut dari tempatnya berdiri. Matanya masih tertuju pada satu sosok di bawah sana.


"Apa yang kamu lihat di bawah sana?"tanya seseorang yang baru masuk ke dalam kamar itu dengan suara bariton.


"Apa kita bisa ikut sarapan bersama mereka, kak?"tanya gadis cantik itu tanpa mengalihkan tatapannya pada sosok di bawah sana.


"Sepertinya tidak! Aku dengar dari beberapa pekerja di resort ini, sarapan di taman itu hanya untuk keluarga pemilik resort ini,"ucap pria yang berdiri disamping gadis itu.


"Kak, bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan hati Kak Alva?"tanya gadis yang tidak lain adalah Trisha itu mengalihkan pandangannya dan menatap kakaknya.


"Dia sudah menikah Trisha, bahkan sudah memiliki seorang anak. Carilah pria lain yang masih singel. Kamu masih muda dan cantik, banyak pemuda yang menyukai kamu,"cetus Radeva.


"Apa kakak menyerah sebelum berjuang?" tanya Trisha menatap lekat manik mata kakaknya.


"Kakak pasti berjuang jika sesuatu itu pantas diperjuangkan. Tapi merebut istri orang?! Itu bukan hal yang bisa dibanggakan,"ucap Radeva seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Tapi perempuan itu satu-satunya perempuan yang pernah kakak sukai," bujuk Trisha.


"Walaupun wanita itu adalah wanita satu-satunya yang pernah kakak sukai, kakak tidak akan merendahkan diri kakak dengan menjadi perebut istri orang. Apalagi pasangan itu saling mencintai," ucap Radeva tegas.


"Apa kakak yakin jika mereka saling mencintai?"tanya Trisha lagi.


"Mereka sudah menikah dan memiliki seorang putra. Bahkan mereka terlihat begitu mesra, bagaimana kamu bisa bertanya apakah mereka saling mencintai?"tanya Radeva tidak mengerti dengan cara berpikir adiknya.


"Ya siapa tahu saja istri Kak Alva tidak mencintai kak Alva,"sahut Trisha.


"Berhentilah berpikiran buruk tentang orang lain. Sudah lah! Jangan bahas lagi soal ini. Ayo kita sarapan di bawah!"ajak Radeva seraya menarik tangan adiknya keluar dari dalam kamar itu dan Trisha pun menurut. Akhirnya Trisha pun sarapan bersama dengan Radeva.


"Kak, aku ingin melanjutkan kuliah S2 ku di sini saja,"ucap Trisha di sela-sela sarapan pagi mereka.


"Kenapa?"tanya Radeva memicingkan matanya menatap Trisha, tidak jadi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Hanya ingin saja. Aku merasa negara ini indah dan aku merasa nyaman berada di sini,"ucap Trisha kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Jangan bilang kamu masih berniat merebut suami orang!"tanya Radeva nampak curiga.


"Kakak kenapa berpikir seperti itu?"tanya Trisha terlihat biasa saja.


"Kakak yang menjagamu sejak kecil. Kakak tahu apa yang kamu sukai dan apa yang kamu benci. Kakak juga tahu bagaimana sifat mu, kamu akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang kamu sukai,"

__ADS_1


"Jika tujuan mu tinggal di sini untuk menjadi perebut suami orang, kakak tidak akan mengijinkannya,"ucap Radeva tegas, kemudian mengelap bibirnya dengan tisu.


"Aku tidak mungkin dengan cepat bisa melupakan dia, kak! Jadi biarkan aku kuliah di sini. Siapa tahu nanti aku bertemu pria yang membuat aku jatuh hati,"sahut Trisha beralibi.


"Oke, kakak mengizinkan kamu untuk tinggal di sini. Tapi kakak juga akan ikut tinggal di sini,"ucap Radeva.


"What?! Kenapa kakak juga ikut tinggal di sini? Bukankah kakak banyak pekerjaan di negara kita?"protes Trisha.


"Kakak akan tinggal di sini dan mengawasi kamu. Kakak tidak ingin kamu berbuat sesuatu yang dapat merugikan orang lain, apalagi merugikan dirimu sendiri,"ucap Radeva.


"Aku janji tidak akan macam-macam, kak," ucap Trisha.


"Kalau kamu tidak akan berbuat macam-macam, kenapa kamu protes jika kakak ingin tinggal di sini menemani mu?"tanya Radeva.


"Iya..iya..terserah kakak saja jika ingin tinggal di sini,"ucap Trisha pasrah.


"Kakak akan mencari tempat kuliah yang bagus untuk kamu sekaligus mencari apartemen untuk tempat tinggal kita selama kita di sini,"ucap Radeva tidak bisa di bantah oleh Trisha.


"Aku sudah selesai makan,"ucap Trisha.


"Kakak ingin jalan-jalan di sekitar sini, apa kamu mau ikut?"tanya Radeva.


"Iya,"sahut Trisha.


Di taman. "Sayang, ayo ikut! Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."ucap Alva kemudian memeluk pinggang Disha.


"Kencan,"bisik Alva di telinga Disha.


"Bagaimana dengan Kaivan?"tanya Disha.


"Biarkan Kaivan bersama dengan Bik Inah,"ucap Alva.


"Baiklah. Bik, nitip Kaivan, ya?!"ucap Disha seraya tersenyum manis.


"Iya, Nyonya,"sahut Bik Inah juga tersenyum.


"Kamu semakin cantik jika tersenyum," bisik Alva lagi.


"Kenapa suamiku jadi manis sekali, sich?! Aku jadi takut terkena diabetes,"canda Disha.


"Manis ku tidak akan membuat kamu diabetes, tapi akan membuat kamu ketagihan," ucap Alva tersenyum manis seraya mengedipkan sebelah matanya dengan genit membuat Disha terkekeh.


Alva membawa Disha ke air terjun yang tidak jauh dari resort nya. Suasana yang asri dan udara yang sejuk serta segar sangat terasa di tempat itu. Disha nampak senang dan berjalan kearah air terjun bersama Alva.


"Di sini segar sekali, sayang,"ucap Disha agak berteriak karena suara gemericik air terjun yang terdengar kuat.

__ADS_1


"Kamu suka?"tanya Alva ikut mengeraskan suaranya.


"Suka! Suka sekali!"teriak Disha.


Untuk beberapa menit mereka bermain di air terjun itu dan sepasang suami istri itu nampak sangat bahagia. Kebersamaan mereka di alam bebas itu baru kali ini mereka rasakan.


"Sayang, kita cari tempat yang bagus yuk, buat selfie!"ajak Disha.


"Oke,"sahut Alva.


Keduanya kemudian mencari tempat yang bagus menurut mereka dan agak jauh dari air terjun. Tempat itu agak tinggi dari aliran air terjun yang membentuk sungai. Beberapa kali Disha berpose sendiri kemudian berpose bersama Alva. Setelah puas ber-selfie ria, akhirnya mereka pun duduk di rerumputan.


"Apa kamu lelah?"tanya Alva seraya mengelus kepala Disha.


"Sedikit,"ucap Disha seraya memandang ke arah bawah,"Sayang, lihat! Ada bunga yang indah sekali di bawah sana,"ucap Disha menunjuk ke bawah kearah segerombolan bunga yang nampak indah.


"Kamu menyukainya?"tanya Alva.


"Iya, indah sekali,"sahut Disha masih menatap kearah bunga yang ada di bawah mereka.


"Aku akan mengambilnya untuk mu,"ucap Alva segera beranjak untuk mengambil bunga itu.


"Tapi sayang, sepertinya agak susah untuk mengambilnya,"ucap Disha.


"Tidak apa-apa, demi kamu, aku akan mengambilnya. Walaupun bunga itu tidak secantik dirimu, aku akan tetap mengambilnya untuk mu,"ucap Alva mengecup puncak kepala Disha kemudian mulai turun untuk mengambil bunga yang disukai Disha.


"Kenapa suamiku jadi pintar sekali menggombal, sich?!"gumam Disha tersenyum senyum sendiri.


"Kamu bilang apa?"tanya Alva yang tidak begitu jelas mendengar gumaman Disha.


"Suami ku baik sekali,"ucap Disha membuat Alva tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan.


Alva turun dengan perlahan agar terjatuh, sedangkan Disha hanya memperhatikan suaminya dari atas.


"Nyonya Disha?"


Terdengar suara bariton seorang pria yang menyapa Disha hingga reflek Disha membalikkan tubuhnya dan menatap pria yang menegurnya itu.


"Kalian?"ucap Disha menatap dua orang yang sekarang ada di depannya.


...🌟"Jangan pernah menjadikan cinta sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang salah. ...


...Sejatinya cinta tidak pernah salah, hanya saja hati manusia yang sering kali bermasalah."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2