
Di meja resepsionis HD Group.
"Maaf, bisa saya bertemu dengan Tuan Hery,"ucap seorang gadis muda yang terlihat cantik.
"Apa anda sudah membuat janji?"tanya resepsionis yang sedang berjaga.
"Belum. Tapi katakan saja bahwa saya akan membicarakan sesuatu yang ada hubungannya dengan Ayudisha,"ucap gadis cantik itu
Resepsionis itu mengernyitkan keningnya namun tetap meraih interkom di depannya dan menghubungi sekretaris Hery.
"Tok..tok..tok.."
"Masuk!"seru Hery dari dalam ruangannya.
"Ada apa?"tanya Hery menatap pada sekretarisnya yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Ada seorang gadis ingin bertemu dengan anda dan gadis itu mengatakan bahwa dia ingin membicarakan sesuatu yang ada hubungannya dengan Ayudisha,"ucap sekretaris Hery.
"Ingin membicarakan sesuatu tentang Ayu?"tanya Hery mengernyitkan keningnya.
"Iya, Tuan,"sahut sekretaris itu.
"Suruh dia masuk!"titah Hery.
"Baik, Tuan,"sahut sekretaris itu kemudian keluar dari ruangan Hery dan segera mengkonfirmasi ke resepsionis untuk mempersilahkan gadis itu masuk.
"Silahkan, Nona! Tuan Hery mau bertemu dengan anda. Ruangan Tuan Hery ada di lantai lima belas,"ucap resepsionis itu.
"Terimakasih,"ucap gadis cantik itu kemudian berjalan ke arah lift dengan seringai licik.
Setelah keluar dari lift, gadis cantik itu bertanya letak ruangan Hery pada orang yang ditemuinya kemudian melangkah ke ruangan Hery.
"Anda yang ingin bertemu dengan , Tuan Hery?"tanya sekretaris Hery pada gadis cantik itu.
"Iya," sahut gadis cantik itu singkat.
"Itu ruangan Tuan Hery,"tunjuk sekretaris Hery ke arah sebuah ruangan yang berada di depan meja kerjanya.
"Terimakasih!"ucap gadis itu tersenyum manis.
Gadis itu kemudian mengetuk pintu ruangan itu hingga terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan nya untuk masuk.
"Ceklek"
Gadis cantik itu masuk kedalam ruangan itu dan melihat seorang pria tampan sedang berkutat dengan laptopnya.
"Selamat siang Tuan Hery,"sapa gadis itu membuat Hery menghentikan aktivitasnya dan mendongakkan kepalanya menatap gadis itu.
"Kamu?"ucap Hery sambil mencoba mengingatkan dimana pernah bertemu dengan gadis di depannya ini.
"Saya sekretaris Tuan Radeva sekaligus adik kandungnya,"sahut gadis yang tidak lain adalah Trisha.
__ADS_1
"Oh iya, saya ingat. Pebisnis dari luar negeri itu, ya?"tanya Hery.
"Iya,"sahut Trisha.
"Silahkan duduk!"ucap Hery mempersilahkan Trisha untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Terimakasih,"ucap Trisha kemudian duduk dengan anggun di salah satu sofa itu disusul oleh Hery yang kemudian duduk di depannya.
"Ada keperluan apa anda datang ke kantor saya, Nona?'tanya Hery to the point. Hery baru ingat bahwa gadis ini adalah gadis yang sempat berdebat dengan Ayu kemarin. Hery jadi merasa tidak suka.
"Perkenalkan dulu, nama saya Trisha," ucap Trisha seraya mengulurkan
tangannya kepada Hery dan Hery pun menyambut uluran tangan Trisha.
"So.?!"tanya Hery yang nampak malas meladeni Trisha saat mengingat bahwa gadis ini nampak sangat benci pada Disha.
"Aku ingin menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan,"sahut Trisha yang mulai memakai bahasa tidak formal.
"Kerja sama? Kerja sama apa?"tanya Hery lagi.
"Kerjasama untuk mendapatkan orang yang kita cintai,"jawab Trisha.
"Maksud mu?"tanya Hery menjadi penasaran.
"Aku tahu kamu mencintai si Disha itu, kan? Dan aku mencintai kak Alva. Jika kamu mau , kita bisa bekerja sama. Kamu mendapatkan Disha, dan aku mendapatkan kak Alva,"jelas Trisha.
"Bagaimana caranya?"tanya Hery mulai tertarik.
Akhirnya Trisha mengatakan semua rencananya pada Hery. Hery nampak berpikir sejenak kemudian menatap wajah Trisha.
"Itu tidak akan mudah. Ayu selalu di jaga oleh seorang bodyguard yang menemaninya kemanapun dia pergi. Dan nampaknya bodyguard nya itu bukan orang sembarangan. Matanya sangat jeli mengawasi Ayu. Jika kita ingin menjalankan rencana ini, kita harus menyingkirkan bodyguard Disha yang bernama Ferdi itu.
"Apa kamu bisa menghandle pria itu?"tanya Trisha.
"Baiklah kita susun rencana kita baik-baik,"ucap Hery tersenyum smirk..
"𝐊𝐚𝐥𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐀𝐲𝐮, 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠,"batin Hery dengan senyum yang menyeringai.
"Baiklah, kita akan bertemu lagi nanti. Kita akan membahas lebih lanjut tentang kerja sama kita ini,"ucap Trisha seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"𝐀𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐠𝐞𝐫𝐚 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐤𝐞 𝐚𝐩𝐚𝐫𝐭𝐞𝐦𝐞𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐊𝐚𝐤 𝐑𝐚𝐝𝐞𝐯𝐚 𝐜𝐮𝐫𝐢𝐠𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚𝐤𝐮," batin Trisha.
"Oke,"sahut Hery kemudian mereka berdua pun saling bertukar nomor telepon untuk mempermudah komunikasi. Akhirnya Trisha pun meninggalkan ruangan Hery dengan wajah yang cerah.
"𝐓𝐞𝐫𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐩𝐚𝐭. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐢𝐚-𝐧𝐲𝐢𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮. 𝐀𝐤𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐦𝐮 𝐊𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐯𝐚. 𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚, 𝐊𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐯𝐚,"batin Trisha tersenyum smirk.
***
Di sisi lain, nampak seorang pria tampan bertubuh tegap, tinggi dan atletis sedang berdiri di balkon apartemen. Apartemen yang dibeli nya untuk tempat berteduh selama tinggal di negara ini. Pria itu memandang keluar apartemen hingga handphone nya berdering dan pria tampan itu pun segera mengangkatnya.
"Halo!" ucap pria itu seraya menempelkan benda pipih berbentuk persegi itu di telinganya.
__ADS_1
"Dia datang ke perusahaan xx, bos,"sahut pria di ujung telepon.
"Apa? Apa yang dia lakukan di sana?" tanya pria itu saat mendengar kabar dari orang kepercayaan nya.
"Kami juga tidak tahu, Bos,"sahut pria di ujung telepon.
"Awasi terus pergerakannya. Jangan sampai dia berbuat yang macam- macam,"ucap pria itu.
"Baik, bos,"sahut suara pria di ujung telepon. Sambungan telepon pun diakhiri.
"Apa yang dia lakukan di sana? Apa yang dia rencanakan? Apakah orang tua kandungnya juga jahat, hingga dia juga jahat seperti itu? Seandainya saja adik kandung ku masih hidup, papa dan mama pasti tidak akan mengadopsi anak itu. Sulit sekali mendidik anak itu,"gumam pria itu kemudian menghela nafas panjang.
Perlahan ingatan pria itu kembali pada masa lalu, tepatnya dua puluh lima tahun yang lalu. Kejadian dimana rumah nya terbakar dan membuat nya kehilangan adik kandung nya.
"Tuan muda! Bangun Tuan Muda! Rumah ini kebakaran, kita harus segera pergi dari tempat ini! Ayo keluar dari sini, Tuan Muda,"teriak seorang Art membangun kan seorang anak berusia enam tahun.
"Mana mama, papa, Bik?"tanya anak laki-laki itu.
"Mama dan papa Tuan Muda sepertinya belum pulang,"sahut Art itu seraya menggendong anak kecil itu berusaha keluar dari rumah yang terbakar.
Keesokan harinya nampak seorang wanita cantik sedang menangis dalam pelukan seorang pria tampan di dalam sebuah hotel.
"Pa, di mana putri kita, pa? Dia masih hidup kan, pa?"ucap wanita cantik itu dalam pelukan suaminya.
"Kita akan terus mencari putri kita, ma. Mama harus tenang, mama tidak boleh seperti ini. Putra kita juga membutuhkan mama,"ucap pria itu menenangkan istrinya.
"Mama!"panggil anak laki-laki berusia enam tahun yang selamat dari kebakaran rumah. Anak laki-laki itu memeluk mamanya yang sedang menangis.
"Maafkan mama sayang, mama masih shock dengan kejadian semalam. Papa harap kamu mengerti,"ucap pria tampan itu pada putranya seraya mengelus kepala anak laki-laki itu.
"Dertt...dertt...dertt.."suara getar ponsel yang berada di saku celana pria tampan yang berdiri di balkon apartemen itu akhirnya mengembalikan pria tampan itu dari ingatan masa lalunya.
"Halo!"sapa pria itu setelah melihat siapa yang menghubunginya.
"Apa kamu baik-baik saja, sayang?"tanya seorang wanita di ujung telepon.
"Iya, ma. Aku baik-baik saja,"sahut pria itu.
"Kapan kamu pulang, sayang?"
"Aku belum tahu, ma. Tapi jika urusan ku di sini sudah selesai, aku pasti segera pulang,"ucap pria itu.
"Oke, hati-hati ya, di sana!"
"Iya, ma,"sahut pria itu kemudian sambungin telepon pun diakhiri.
"Shahira, apakah kamu masih hidup?" gumam pria itu menatap ke arah langit.
...🌟"Seperti adanya siang dan malam, ada hitam ada putih, ada kebaikan ada pula keburukan....
...Ada satu pilihan dari dua opsi yang harus kita pilih....
__ADS_1
... Ingin menjadi baik atau menjadi buruk, semua tergantung dari pilihan kita sendiri." 🌟...
To be continued