
"Apakah kamu mempunyai tanda lahir berbentuk bulat dan berwarna merah di paha kananmu?"tanya Radeva ragu karena menurut nya pertanyaan nya itu sangat pribadi.
Radeva juga tidak yakin jika tanda itu akan tetap ada saat adiknya sudah dewasa, karena bisa saja sebuah tanda lahir menghilang saat seseorang sudah dewasa. Harapan bahwa Disha adalah adik kandungnya sangat lah besar saat mendengar cerita Disha tadi, tapi Radeva juga takut kecewa jika apa yang diharapkan nya tidak sesuai dengan kenyataan nya.
"Degh"Disha sangat terkejut mendengar pertanyaan dari pria yang berada di depannya saat ini. Pasalnya hanya kedua orang tuanya, bibi, paman dan suaminya yang tahu ada tanda lahir yang berwarna merah di paha kanannya.
Disha selalu memakai pakaian yang tertutup dan agak longgar karena tidak ingin memperlihatkan bentuk tubuhnya yang bak gitar Spanyol itu. Apalagi sampai memperlihatkan pahanya. Kedua orang tuanya dan paman, bibinya pun mengetahui tanda lahir nya itu ketika dirinya masih kecil.
Radeva yang melihat Disha hanya diam membisu menatap dirinya pun akhirnya berpikir untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan nya itu dengan cara yang lain.
"Aku memiliki seorang adik yang hilang saat peristiwa kebakaran di villa yang kami tinggali. Dan kami masih mencari nya hingga saat ini. Beberapa hari yang lalu kami bertemu dengan pengasuh adikku yang selama 26 tahun lalu menghilang bersama adikku,"Radeva menatap kearah lain tidak ingin membuat Disha canggung.
"Ternyata dalam peristiwa kebakaran itu, adikku diselamatkan oleh pengasuhnya, namun setelah keluar dari kebakaran itu, pengasuh adikku dikejar beberapa orang yang diperintahkan untuk melenyapkan adikku dan juga pengasuhnya,"
"Karena takut tidak bisa melindungi adikku, pengasuh itu memohon pada dua pria yang ditemuinya untuk menyelamatkan adikku. Sedangkan dia membiarkan dirinya dikejar oleh orang- orang yang ingin melenyapkan pengasuh itu dan juga adikku,"Disha diam membisu mendengar cerita Radeva itu, ada bagian cerita yang sama dengan apa yang diceritakan oleh pamannya.
"Namun saat pengasuh itu melarikan diri, dia terpeleset dan jatuh ke sungai hingga dia mengalami amnesia dan Ingatannya baru kembali sepenuhnya sekitar satu bulan yang lalu. Pengasuh adikku itu akhirnya mencari papa dan mamaku untuk memberi tahu mereka apa yang terjadi 26 tahun yang lalu,"
"Pengasuh itu bilang dia memasukkan kalung kesayangan mama ke dalam bedongan adikku. Dan kata papaku, mama tadi pingsan karena melihat kalung yang kamu pakai itu. Kalung berliontin bunga'teratai yang dipesan khusus oleh papaku untuk mamaku,"Disha tertunduk dengan air mata yang sudah mengembun di matanya.
"Dulu aku sangat bahagia saat mama melahirkan seorang adik perempuan untuk ku. Saat aku tidak punya kegiatan, aku selalu berada disisi adikku.Bahkan aku sering tertidur dengan memeluk adikku. Aku masih ingat sampai sekarang bahwa adikku mempunyai tanda lahir berbentuk bulat, berwarna merah di paha kanannya. Aku tidak tahu tanda lahir itu masih ada atau tidak, karena kadang ada tanda lahir yang menghilang ketika usia semakin bertambah,"
"Apakah kamu pernah memiliki tanda lahir seperti itu?"tanya Radeva yang kini menatap Disha yang ada di depannya dengan penuh harap.
__ADS_1
Perlahan Disha mengangkat wajahnya menatap wajah pria yang ada di depannya itu,"Kakak!"ucap Disha dengan bibir yang bergetar dan air mata yang sudah tidak dapat dibendung nya lagi. Tanpa aba-aba Radeva langsung memeluk tubuh Disha.
Mendengar panggilan kakak dari bibir Disha yang bergetar dan wajah yang mulai basah dengan air mata membuat Radeva yakin bahwa jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan kepada Disha tadi adalah iya.
"Kamu memiliki tanda lahir itu?"tanya Radeva masih memeluk tubuh Disha, ingin memastikan asumsinya tentang tanda lahir yang dia tanyakan tadi.
Disha tidak menjawab sama sekali tapi Disha mengangguk dalam pelukan Radeva membuat Radeva memeluk Disha semakin erat dan tanpa terasa air matanya pun jatuh tanpa disadari nya. Radeva sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa menemukan adik yang selama ini dia cari. Disha pun membalas pelukan Radeva yang terasa hangat baginya itu.
Setelah puas berpelukan, Radeva merenggangkan pelukannya pada Disha. Kedua tangan Radeva memegangi kedua pipi Disha, dan menghapus air mata Disha dengan kedua ibu jarinya. Tanpa aba-aba Radeva menciumi seluruh wajah Disha dengan lembut terkecuali bibir Disha hingga...
"Kurang ajar!!"
"Bugh! Bugh! Bugh !"tiba-tiba Radeva mendapatkan bogem mentah bertubi-tubi. Radeva yang tidak siap akan serangan mendadak itu pun terhuyung.
Mendengar kata-kata Ferdi itu, Alva pun langsung menyusul Disha. Seketika amarah Alva langsung meledak saat melihat Radeva menciumi seluruh wajah wanita yang selama ini dijaga dan dicintainya. Tanpa aba-aba Alva langsung memberi bogem mentah pada Radeva.
"Al.!! Hentikan!!"pekik Disha yang melihat Alva tiba-tiba muncul dan menyerang Radeva, tapi tidak dihiraukan oleh Alva.
Radeva yang sempat terkejut dengan serangan mendadak itu pun akhirnya bisa menghindar dari serangan Alva. Radeva mengakui jika suami dari adik yang baru ditemukan nya itu ternyata sangat menguasai ilmu bela diri.
Walaupun dengan amarah yang nampak meledak-ledak, tapi serangan Alva sangat terkontrol menyerang titik titik yang mematikan.
Namu nyatanya Radeva yang sempat terhuyung karena pukulan Alva bisa mengimbangi ilmu bela diri yang dimiliki oleh Alva hingga terjadi lah perkelahian sengit walaupun Radeva lebih banyak menghindar karena tidak mau menyakiti pria yang dicintai oleh adiknya.
__ADS_1
Disha terus berteriak agar Alva menghentikan serangannya, namun tidak di perdulikan oleh Alva yang sudah cemburu buta itu. Alva benar-benar tidak rela wanita yang dicintainya disentuh oleh seorang pria selain dirinya.
"Al..! Hentikan!! Kamu salah paham, Al.! " pekik Disha namun tidak membuat Alva menghentikan serangannya.
"Al..! Apa kamu ingin membunuh kakak kandung ku?!"pekik Disha lagi karena sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghentikan kegilaan Alva menyerang Radeva yang lebih banyak menghindar dari pada membalas.
Dan nyatanya teriakan Disha kali ini membuat tangan Alva yang sudah melayang ingin kembali memukul Radeva tertahan di udara. Melihat Alva yang menghentikan serangannya, Disha pun segera menghampiri Alva dan memeluk suaminya itu agar pria itu bisa meredakan emosi nya.
Setelah merasa Alva agak tenang, perlahan Disha merenggangkan pelukannya,"Tenang lah, sayang! Kita bicara baik-baik. Oke?!"ucap Disha seraya memegang pipi suaminya itu dengan kedua tangannya kemudian menarik tengkuk suaminya dan mencium bibir pria itu beberapa kali. Disha mengusap peluh yang membasahi wajah suaminya itu. Alva langsung memeluk istrinya itu.
"Maaf!"ucap Alva kemudian mengecup puncak kepala Disha beberapa kali.
Sedangkan Radeva mengatur nafasnya dan mengusap peluh yang membanjir wajahnya karena perkelahian nya dengan Alva tadi. Matanya menatap adiknya yang mencoba menenangkan suaminya. Radeva hanya geleng-geleng kepala menatap sepasang anak manusia yang malah bermesraan di depan nya itu.
Radeva tahu kenapa Disha lebih memilih menghampiri Alva yang sama sekali tidak terluka, dari pada menghampiri dirinya yang terluka. Alasannya adalah, Alva akan semakin marah jika Disha menghampiri dirinya. Dan Radeva salut akan pemikiran adiknya yang seperti itu.
...🌟"Terkadang apa yang kita lihat dan kita dengar belum tentu benar dan seperti apa yang kita pikirkan."...
...Lebih bijaklah dalam menilai apa yang kita lihat dan kita dengar...
..."Positif thinking"🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
To be continued