Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
203. Siapa Perempuan Itu?


__ADS_3

Saat ini di perusahaan Bramantyo Group bersamaan saat Radeva berada di rumah Icha.


"Sayang, nanti kamu pulang duluan saja, aku ada pertemuan dengan klien setelah pulang kantor,"ucap Alva saat Disha masuk ke dalam ruangannya untuk menyerahkan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Alva.


"Klien papa kemarin, ya?"tanya Disha saat mengingat papa mertuanya ingin Alva menemui klien yang ingin bekerja sama di bidang perhotelan milik papa mertuanya.


"Hum, kamu pulang duluan nggak apa-apa, kan?"tanya Alva seraya menatap wajah istrinya lekat.


"Oke, nggak apa-apa, kok?"sahut Disha tersenyum tipis pada Alva. Namun tiba-tiba handphone dalam sakunya berbunyi.


"Kakak? Tumben kakak Vidio call sama aku?"gumam Disha yang masih bisa di dengar oleh Alva.


Alva memicingkan matanya saat mendengar gumaman Disha dan bangkit dari duduknya. Disha melangkah ke arah sofa yang berada di ruangan Alva, kemudian duduk dan menerima panggilan telepon dari Radeva itu.


"Halo, kak!"sahut Disha setelah menerima panggilan video itu.


"Halo, sayang! Emm.. sayang, kakak melamarnya, tapi orangtuanya belum menerima kakak sebagai calon menantu mereka," ucap Radeva dalam panggilan video.


"Kenapa? Masa kakakku yang sekeren ini ditolak calon mertua,"celetuk Disha nampak tidak percaya dan membuat Alva mengerucutkan bibirnya saat mendengar Disha memuji Kakak ipar nya itu.


"Itu gara-gara pas kamu nelpon kakak kemarin, cewek yang pengen kakak lamar ini mendengar kakak manggil kamu 'sayang'," sahut Radeva, namun sebelum sempat Disha membuka mulutnya, Alva sudah menyambar pembicaraan mereka.


"Mangkanya, jangan lebay! Manggil adik sendiri pakai panggilan 'sayang'. Aneh tau nggak sich!?"ketus Alva yang tiba-tiba berada di samping Disha.


"Sayang, jangan mulai lagi dech! ucap Disha yang tidak ingin keduanya berdebat.


"Apa yang ku katakan itu adalah benar sayang, kakakmu itu saja yang lebay, manggil kamu pakek panggilan 'sayang', mana kerjanya nempel terus sama kamu lagi" sahut Alva nampak bersungut-sungut.


"Mangkanya kamu jelasin sama calon mertua kakak, biar kakak diterima menjadi calon menantunya dan kakak nggak nempel terus sama istri kamu," ujar Radeva yang membuat Alva mengernyitkan keningnya. Biasanya kakak iparnya itu selalu saja tidak mau kalah darinya, dan selalu saja mengumpatnya, tapi kali ini kakak iparnya itu terkesan menghindari perdebatan dengan dirinya


"Memang kakak ada dimana sekarang? Jangan bilang kalau kakak sedang di rumah Icha?"tebak Disha.


"Iya, sayang. Nich, kamu ngomong dulu sama orang tua Icha,"jawab Radeva dan handphone Radeva pun berpindah tangan.


"Pak Rendra? Bu Disha?"ucap kedua orang tua Icha yang nampak terkejut saat melihat Alva dan Disha dalam panggilan video call itu.


"Selamat siang, Pak, Bu!"sapa Disha pada orang tua Icha.

__ADS_1


"Selamat siang, Bu!"sahut mereka nampak canggung.


"Kak Radeva memang kakak kandung saya, dan kalau manggil saya memang dengan panggilan 'sayang'. Tapi kakak saya beneran belum punya pasangan, kok Pak. Kakak saya masih jomblo,"ujar Disha sambil nyengir.


"Bukan jomblo sayang, tapi perjaka tua,"sahut Alva santai namun membuat kedua orang tua Icha menahan tawa.


"Ish..kau ini!"gerutu Disha.


"Terima saja kakak ipar saya sebagai menantu kalian , Pak, Bu! Kasian dia, udah tua tapi nggak emmp..."Alva tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Disha langsung membekap mulut Alva, kemudian langsung beranjak menjauh dari Alva.


"Intinya kakak saya masih singel, Bu , Pak. Saya yang jamin. Em sudah dulu ya, Bu, Pak. Kami harus melanjutkan pekerjaan kami,"ucap Disha saat melihat Alva kembali mendekatinya.


"Iya, Bu,"sahut kedua orang tua Icha dan Disha pun langsung mengakhiri panggilan video itu.


"Sayang, kamu ini apa-apaan, sich! Nggak pantas tau bicara seperti itu di depan orang lain,"protes Disha dengan bibir mengerucut.


"Iya, maaf! Aku kebablasan, sayang," sahut Alva yang merasa bersalah karena membawa-bawa kebiasaannya berdebat dengan Radeva di depan orang asing, apalagi orang itu adalah bawahannya sekaligus calon mertua kakak iparnya.


"Maaf!"ucap Alva sekali lagi sambil memeluk tubuh Disha dari belakang dan menggosok gosokkan hidungnya yang mancung di leher Disha, membuat Disha bergidik.


"Sayang, ihh! Lepaskan! Aku mau kembali ke meja kerjaku,"ucap Disha berusaha melepaskan tangan Alva yang melingkar di perutnya.


"Iya..iya..aku maafkan,"sahut Disha tidak ingin membesar-besarkan masalah yang sepele.


"Terimakasih, sayang!"ucap Alva mengecup leher Disha beberapa kali kemudian mengecup pipi Disha, baru setelah itu melepaskan pelukannya. Dan Disha pun langsung kembali ke ruangannya setelah Alva melepaskan pelukannya.


***


Sore hari saat akan pulang dari kantor, tiba-tiba saja handphone Disha berdering. Saat melihat nama orang yang menghubunginya, Disha langsung tersenyum dan segera menerima panggilan telepon itu.


"Halo, kak!"sapa Disha pada orang yang menelponnya.


"Halo sayang! Sayang kamu pulang bareng kakak ya? Kakak sudah mau sampai di Bramantyo Group ini. Kita nanti mampir ke kafe, kakak bakal kasih tau rencana kakak sama kamu. Gimana? Mau nggak?"tanya Radeva yang terdengar dari handphone Disha.


"Oke kak, aku pamit dulu sama Alva, ya?"sahut Disha seraya beranjak dari duduknya.


"Oke, kakak tunggu di pintu utama Bramantyo Group ya, sayang?"sahut Radeva kemudian mengakhiri panggilan telepon itu.

__ADS_1


"Brug" Disha berjalan sambil memasukkan handphonenya ke dalam saku seraya menunduk dan tidak sengaja menabrak seorang office girl.


"Ah.. maaf! Maaf, Bu! Saya tidak sengaja,"ucap office girl itu nampak ketakutan karena nampan yang berisi gelas yang masih ada sisa kopi yang dia bawa tumpah di baju Disha.


"Ah, tidak apa-apa. Saya yang salah, kok! Saya tidak memperhatikan jalan saya," ucap Disha seraya melihat bajunya yang kotor kemudian menatap office girl yang nampak ketakutan.


"Maaf, Bu. Bi... biar saya bantu untuk membersihkan nya,"sahut office girl itu.


"Nggak usah, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu,"ucap Disha sambil menepuk pelan pundak office girl itu kemudian berlalu ke ruangan Alva. Office girl itu nampak merasa lega karena Disha tidak marah padanya dan office girl itu pun langsung melanjutkan pekerjaannya.


"Sayang, aku pulang sama kakak, ya? Kakak mengajakku mampir ke sebuah kafe. Boleh, ya?"tanya Disha pada Alva setelah berada di sebelah Alva.


"Iya,"sahut Alva yang terdengar tidak ikhlas, lalu mendongakkan kepalanya dan tanpa sengaja melihat baju Disha yang kotor,"Sayang, bajumu kenapa?" tanyanya menatap wajah Disha.


"Tidak sengaja menabrak office girl yang sedang membawa gelas sisa kopi. Ya udah, aku ganti baju dulu, dech," ucap Disha lalu masuk ke ruangan pribadi Alva.


Beberapa saat kemudian, Disha keluar dari ruangan pribadi Alva dengan menggunakan Hoodie dan menutupi kepalanya dengan tutup kepala Hoodie itu.


"Sayang, kenapa pakai hoodie aku?"tanya Alva yang melihat Disha memakai hoodie nya yang kebesaran di tubuh Disha.


"Aku mau mampir ke kafe, males kalau mau pakai baju kerja. Dan di lemari nggak ada baju santai selain Hoodie kamu ini, sayang,"sahut Disha.


"Ya udah, hati-hati!"ucap Alva kemudian berdiri dan mengecup bibir Disha sekilas. Setelah itu Disha pun keluar dari ruangan Alva.


***


Icha sudah menyelesaikan pekerjaannya, dan berniat untuk segera pulang. Saat tiba di pintu utama perusahaan Bramantyo Group, Icha terdiam ditempatnya ketika melihat Radeva sedang berdiri bersandar di pintu mobilnya dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Pria itu nampak semakin tampan dengan kemeja putih yang digulung hingga siku dan tiga kancing kemeja bagian atasnya yang tidak dikancingkan. Para karyawan wanita yang baru keluar dari gedung itu pun nampak terpesona melihat ketampanan Radeva. Icha melihat pria yang disukai nya itu nampak tersenyum lebar pada seseorang yang lebih dulu keluar dari gedung itu.


"Hai, sayang!"sapa Radeva melambaikan tangannya pada Disha yang memakai hoodie dan penutup kepala hoodie. Radeva langsung memeluk Disha dan mencium puncak kepala Disha kemudian merangkul Disha dan membukakan pintu mobilnya untuk Disha. Setelah itu Radeva pun segera melajukan mobilnya meninggalkan gedung perusahaan Bramantyo Group.


Icha menatap sendu pemandangan yang tidak jauh darinya itu,"Siapa perempuan yang dipanggil Kak Radeva dengan panggilan 'sayang'itu? Jadi kekasih Kak Radeva bekerja di perusahaan ini juga?"gumam Icha dengan dada yang terasa sesak. Masih jelas di ingatannya saat Radeva menghampiri perempuan yang memakai hoodie tadi dengan wajah yang nampak bahagia dan memanggilnya dengan panggilan 'sayang',. kemudian mencium puncak kepala perempuan itu.


...🌟"Tidak bisa dipungkiri, cinta bisa membuat bahagia....


... Tapi terkadang juga bisa membuat hati sedih dan terluka."🌟...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober"...


To be continued


__ADS_2