Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
167. Adikku?


__ADS_3

"Pa..kalung itu..."ucap perempuan yang tidak lain adalah Ghina itu. Tubuhnya tiba-tiba limbung saat melihat kalung yang dikenakan Disha.


"Ma.!!"seru Mahendra yang ikut terkejut saat melihat kalung yang dikenakan oleh Disha namun lebih terkejut saat mendapati istrinya yang tiba-tiba pingsan.


"Tante.. Tante kenapa?"tanya Disha jadi panik. Namun Mahendra langsung menggendong dan membawa Ghina pergi dari tempat itu.


"Dis, siapa perempuan itu?"tanya Anjani seraya memegang lengan Disha yang membuat Disha mengurangkan langkahnya untuk mengejar Mahendra.


"Sahabat mama Ratih,"sahut Disha yang masih menatap kepergian Mahendra yang menggendong Ghina.


"𝘼𝙥𝙖 𝙏𝙖𝙣𝙩𝙚 𝙂𝙝𝙞𝙣𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙡𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙝𝙤𝙘𝙠 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙡𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙪?"batin Disha.


"Dis, kamu kenapa?"tanya Anjani yang melihat seperti ada sesuatu yang yang tiba-tiba membuat Disha bengong.


"Ach, tidak apa-apa,"sahut Disha.


"𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙏𝙖𝙣𝙩𝙚 𝙂𝙝𝙞𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙞 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙡𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞. 𝙉𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙥𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙏𝙖𝙣𝙩𝙚 𝙂𝙝𝙞𝙣𝙖. 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙥𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙡 𝙞𝙩𝙪,"batin Disha.


Sementara itu, Radeva yang sedang berbincang dengan beberapa orang rekan bisnisnya sangat terkejut saat melihat Mahendra menggendong Ghina yang nampaknya tidak sadarkan diri. Melihat hal itu, Radeva pun segera berlari menyusul papanya yang keluar dari ballroom itu.


"Pa, apa yang terjadi? Mama kenapa?"tanya Radeva yang berhasil mengejar Mahendra dan menyamai langkah papanya itu.


"Mamamu pingsan saat melihat kalung yang dipakai oleh Disha,"jawab Mahendra.


"Kalung yang dipakai Disha?"tanya Radeva seraya mengernyitkan keningnya, dengan terus menyamai langkah kaki Mahendra. Semenjak datang ke pesta pernikahan Riky itu, Radeva memang belum bertemu dengan Disha.


"Kalung berliontin teratai yang dipakai oleh Disha tadi adalah kalung yang papa pesan khusus untuk mamamu. Dan kalung itulah yang dimasukkan oleh Bik Anah ke dalam bedongan adik mu,"ucap Mahendra sambil terus berjalan menuju parkiran hotel.


"Maksud papa ada kemungkinan jika Disha itu adalah adikku?"tanya Radeva dengan perasaan yang tidak dapat dia ekspresi kan. Betapa bahagianya dia jika memang benar Disha itu adik kandung nya.


"Papa tidak tahu, karena bisa jadi kan kalung itu Disha dapatkan dari orang lain? Walaupun papa juga berharap Disha adalah adikmu. Dia mirip dengan almarhum nenekmu,"ucap Mahendra yang masih berjalan cepat menggendong Ghina diikuti Radeva.


"Iya itu bisa juga terjadi,"sahut Radeva yang entah mengapa jadi merasa agak kecewa menyadari kemungkinan Disha membeli kalung itu dari orang lain.


"Apa papa bisa minta tolong padamu?" tanya Mahendra tiba-tiba.

__ADS_1


"Katakan saja, pa! Aku akan melakukan apapun untuk papa, selagi aku bisa,"ucap Radeva serius.


"Tolong kamu tanyakan pada Disha, dari mana dia mendapatkan kalung itu! Pergilah sekarang, papa ingin tahu lebih cepat. Biar mamamu, papa yang mengurus nya," pinta Mahendra.


"Baik, pa. Tapi papa akan membawa mama kemana?"tanya Radeva.


"Papa akan membawa mamamu ke rumah sakit. Mamamu terlihat sangat shock, papa tidak ingin terjadi apa-apa pada mamamu,"ucap Mahendra.


"Beneran tidak apa-apa jika papa sendiri yang membawa mama ke rumah sakit?"tanya Radeva.


"Tidak apa-apa. Sekarang, lebih baik kamu temui Disha. Jika tadi mamamu tidak pingsan, papa pasti sudah menanyakan nya pada Disha,"ujar Mahendra.


"Baiklah, pa. Aku akan kembali ke sana dan bertanya pada Disha tentang kalung itu,"sahut Radeva kemudian membantu Mahendra untuk membuka pintu mobil.


Setelah Mahendra masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit, Radeva bergegas keluar dari parkiran itu, Radeva segera masuk kembali ke ballroom hotel tempat acara resepsi pernikahan Riky diadakan.


Setelah masuk ke ballroom hotel, Radeva mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari keberadaan Disha diantara banyak nya tamu undangan.


"Mata Radeva berhenti di satu titik saat melihat Disha sedang berbicara dengan beberapa orang wanita. Radeva pun segera menghampiri Disha dengan perasaan yang tidak bisa dia ekspresikan.


"Dis, bisa ikut dengan ku? Ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepada mu,"ucap Radeva saat sudah berada di depan Disha.


"Oke,"sahut Disha yang melihat raut wajah Radeva yang nampak tegang.


Sebenarnya Disha juga penasaran saat melihat Ghina yang tiba-tiba pingsan tadi.Disha ingin menanyakan keadaan Ghina. Disha juga ingin tahu apakah Ghina mengetahui tentang kalung miliknya itu.


Radeva berjalan ke tempat yang sepi yang tidak jauh dari toilet. Tanpa kata Disha berjalan mengikuti Radeva hingga Radeva menghentikannya langkahnya.


"Kenapa kakak mengajak aku kesini? Apa yang ingin kakak tanyakan padaku?"tanya Disha saat Radeva sudah berbalik menghadap ke arah nya.


"Boleh aku tahu dari mana kamu mendapatkan kalung yang sekarang kamu pakai itu?"tanya Radeva to the point.


"Kenapa?"tanya Disha menyelidik. Pasal nya sudah dua kali ini Radeva melihat kalung yang dipakai Disha, bahkan waktu itu Radeva sempat memuji kalungnya itu. Tapi kenapa sekarang Radeva menanyakan dari mana Disha mendapatkan kalung itu?


'Tolong katakan saja dari mana kamu mendapatkan kalung itu!"pinta Radeva.

__ADS_1


"Kata pamanku, kalung ini ada dalam bedongan ku saat aku masih bayi," sahut Disha.


"Pamanmu?"tanya Radeva nampak mengernyitkan keningnya.


"Iya, pamanku berkata seperti itu,"jawab Disha jujur.


"Maksud nya bagaimana?"tanya Radeva yang merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Disha..


Disha menghela nafas panjang,"Aku baru tahu beberapa waktu yang lalu jika ternyata aku bukan putri kakak ipar paman ku. Ayah dan ibuku tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah anak angkat mereka,"


"Paman bilang, ada seorang wanita yang menyerahkan aku pada paman dan ayahku. Wanita itu memohon pada mereka untuk menyelamatkan aku,"


"Degh"jantung Radeva seolah berhenti berdetak saat mendengar cerita yang sama seperti yang diceritakan oleh Bik Anah.


"Lalu?"tanya Radeva semakin penasaran, ingin Disha segera melanjutkan ceritanya.


"Paman bilang wanita itu menyerahkan aku pada mereka, dan setelahnya, wanita itu langsung memungut batu yang ada di tempat itu dan menggendong nya. Wanita itu kemudian berlari meninggalkan paman dan juga ayah angkat ku,"


"Sejak saat itu ayah dan ibu angkat ku merawat dan membesarkan aku seperti anak kandung mereka sendiri. Mereka tidak pernah mengatakan kalau aku adalah anak angkat mereka. Karena kata pamanku, hanya paman, bibi dan juga ayah angkat ku saja yang tahu jika aku bukan putri kedua orang tua angkat ku itu,"cerita Disha panjang lebar.


"Ja..jadi kalung itu ada padamu sejak bayi?"tanya Radeva dengan bibir yang bergetar.


"Iya. Apakah Tante Ghina tau soal kalung ini? Tante Ghina tiba-tiba pingsan saat melihat kalungku ini,",tanya Disha penasaran.


"Menurut papaku, kalung yang kamu pakai itu mirip dengan kalung yang dipesan khusus oleh papa ku untuk mamaku,"ucap Radeva seraya menatap kalung yang melingkar indah di leher jenjang Disha.


"Degh"jantung Disha rasanya berhenti saat mendengar kata-kata Radeva itu.


"𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙏𝙖𝙣𝙩𝙚 𝙂𝙝𝙞𝙣𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙊𝙢 𝙈𝙖𝙝𝙚𝙣𝙙𝙧𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙠𝙪? 𝘿𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙫𝙖, 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙠𝙪?"batin Disha berasumsi.


"Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu yang pribadi padamu?"tanya Radeva nampak ragu.


"Apa? Tanyakan saja! Aku akan menjawabnya jika aku merasa itu pantas aku jawab,"sahut Disha.


"Apakah kamu mempunyai tanda lahir berbentuk bulat dan berwarna merah di paha kananmu?"

__ADS_1


To be continued


__ADS_2