Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
214. Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Pagi menjelang, mentari mulai keluar dari peraduannya, memberikan sinar yang menerangi alam semesta, menandakan hari baru telah datang. Masih sama seperti biasanya, Disha selalu menggeliat dalam pelukan Alva. Enggan rasanya untuk melepaskan dekapan hangat suaminya.


"Sayang!"panggil Disha menengadahkan kepalanya menatap wajah suaminya yang selalu terlihat tampan dimatanya.


"Emm..aku masih ngantuk, sayang!" sahut Alva tanpa mau membuka matanya, semakin mengeratkan pelukannya.


"Banyak orang yang menginap di sini, sayang. Pasti kita akan ditunggu untuk sarapan bersama,"ucap Disha membujuk Alva.


Alva terdiam sejenak, baru mengingat jika mereka menginap di rumah Mahendra dan banyak orang yang juga menginap di rumah itu, Alva membuka matanya menatap wajah Disha,"Oke, tapi kita mandi bersama, ya?"pinta Alva.


"Kalau kita mandi bersama, bukannya cepat, tapi pasti tambah lama,"ucap Disha menghela napas.


"Habisnya semalam, kamu nggak nepatin janji kamu, sich!"keluh Alva.


"Maaf, aku ketiduran,"ucap Disha kemudian tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


"Oke, karena tadi malam kamu sedang sakit, maka kamu, aku maafkan. Tapi nanti malam kamu harus menebusnya," ujar Alva mencubit hidung Disha.


"Oke...oke. Kalau begitu aku mandi dulu,"ucap Disha kemudian mencium bibir Alva sekilas dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Alva tersenyum seraya meraba bibirnya yang baru saja dicium oleh Disha, menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri, mereka pun berjalan menuju meja makan dengan Alva memeluk pinggang Disha. Dan benar saja, dimeja makan itu, semua orang sudah berkumpul untuk sarapan bersama, tinggal mereka saja yang belum duduk di kursi meja makan itu.


Wajah Hery dan Trisha seketika menjadi masam saat sepasang suami-isteri itu berjalan menuju meja makan dan terlihat begitu mesra. Alva menarik kursi untuk Disha duduk, kemudian dia sendiri duduk sebelah Disha.


"Maaf, terlambat. Kalian jadi menunggu lama karena kami,"ucap Disha.


"Baru nyadar!"celetuk Trisha membuat semua orang menatapnya.


"Semuanya sudah berkumpul, ayo kita mulai sarapan nya!"ajak Mahendra tanpa menghiraukan kata-kata Trisha. Mahendra tidak ingin suasana pagi yang cerah dan hangat ini rusak gara-gara Trisha.


"Sayang, kamu ingin sarapan apa?"tanya Disha pada Alva, yang memang setiap hari melayani Alva.


"Terserah kamu saja, sayang,"ucap Alva tersenyum lembut pada Disha.

__ADS_1


Disha mengambilkan apa yang dia inginkan, sedangkan Ratih dan Ghina pun juga mengambilkan sarapan untuk suami mereka masing-masing. Trisha, Hery, Nalendra, Neda dan Niko terdiam memperhatikan kegiatan tiga wanita yang melayani suami mereka masing- masing. Sedangkan Radeva selalu menunggu giliran diambilkan makanan oleh mama atau pun adiknya.


"Kakak mau makan pakai apa?"tanya Disha pada Radeva setelah mengambilkan makanan untuk Alva.


"Terserah kamu saja, sayang,"ucap Radeva tersenyum manis kepada Disha membuat Nalendra, Neda, Niko, Hery dan Trisha terkejut mendengar panggilan 'sayang' yang diucapkan Radeva untuk Disha. Trisha yang dari kecil bersama Radeva saja, tidak pernah dipanggil sayang oleh Radeva. Trisha menggenggam erat sendok ditangannya, menahan rasa bencinya yang semakin mendalam pada Disha. Kenapa hidup Disha begitu sempurna? Trisha membencinya sangat teramat membencinya.


"Sebentar lagi akan ada yang mengambilkan makanan untuk kakak," ucap Disha seraya mengambilkan makanan untuk Radeva.


"Iya, dan kakak tidak perlu lagi mengemis perhatian dari kamu pada suami posesif kamu itu,"ucap Radeva seraya melirik Alva yang memutar bola matanya malas.


"Terimakasih, sayang,"ucap Radeva setelah Disha mengambilkan makanan untuk untuknya, kemudian langsung mengecup pipi Disha.


"Kau.."


"Apa? Dia adikku,"ucap Radeva memotong kata-kata Alva, kemudian menjulurkan lidahnya pada Alva sambil tersenyum, membuat Alva geram.


"Sudah, sudah! Makanlah sarapan kalian!"ucap Mahendra yang sudah biasa melihat tingkah keduanya.


"Kamu itu, Al, posesif sekali,"ujar Ratih dan Alva pun hanya menunduk.


Keluarga Mahendra dan Bramantyo memang sudah biasa dengan kedua pria yang menjadi saudara ipar itu. Mereka tidak heran lagi jika mereka berdebat setiap kali bertemu. Entah hilang kemana gaya mereka berdua yang cuek dan cool itu. Jika sudah bertemu, mereka persis seperti anak kecil. Sedangkan keluarga Nalendra, Trisha dan Hery tampak merasa aneh dengan interaksi Alva dan Radeva. Tapi jujur, mereka merasakan kehangatan dalam kedua keluarga itu.


Niko yang tidak pernah merasakan kehangatan seperti itu pun menghela napas, melirik sekilas pada Nalendra dan Neda. Jangan kan berkumpul dalam suasana yang hangat seperti itu, bahkan mereka jarang makan bersama.


Setelah sarapan, mereka nampak duduk di ruang keluarga sambil mengobrol ringan. Tak lama kemudian, Kaivan pun datang bersama Bik Inah.


"Papa!"panggil Kaivan berlari menghampiri Alva, terlihat begitu menggemaskan.


"Jagoan papa!"ucap Alva duduk berjongkok menyambut Kaivan dalam pelukannya.


"Papa, Kai mau renang sama papa,"ucap Kaivan yang bicaranya sudah lancar.


"Oke, kapan kita akan berenang?"tanya Alva seraya mengelus kepala Kaivan dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.

__ADS_1


"Sekarang!"ucap Kaivan bersemangat.


"Oke, siapa takut,"ucap Alva.


"Paman boleh ikut, kan?"tanya Radeva dengan senyum di bibirnya, mendekati Kaivan yang berada di atas pangkuan Alva.


"Boleh,"sahut Kaivan tersenyum cerah.


"Kakek mau ikut,"ucap Bramantyo terlihat antusias.


"Kakek juga,"ucap Mahendra tidak mau kalah.


"Yee... asyik, rame!"seru Kaivan membuat keluarga Mahendra dan Bramantyo tersenyum. Sedangkan Trisha, Hery dan keluarga Nalendra nampak iri dengan kebahagiaan, dan kehangatan kedua keluarga itu.


Akhirnya lima pria berbeda usia itupun berenang bersama dan juga bermain bola di dalam kolam renang itu. Sedangkan Disha, Ratih dan Ghina nampak duduk di kursi yang ada di pinggir kolam renang sambil memakan potongan buah-buahan.


"Kenapa dia selalu saja mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Harta kekayaan yang berlimpah dan keluarga yang amat harmonis pun dimilikinya," gumam Nalendra yang berdiri tidak jauh dari kolam renang, menatap Mahendra yang nampak bahagia.


"Ternyata sekarang Bramantyo lebih kaya dari pada dulu saat bersamaku. Seharusnya aku tidak meninggalkan Bramantyo dan menikah dengan Nalendra yang kasar itu,"gumam Neda yang menatap Bramantyo dari jauh.


Neda mencari informasi tentang Bramantyo dari internet, dan teryata kekayaan yang dimiliki Bramantyo sekarang lebih banyak dari pada dulu sewaktu Bramantyo masih bersamanya.


Disisi lain,"Aku juga mempunyai Ruzain, tapi dia lebih dekat dengan Sandy dari pada dengan ku. Aku dan anakku bahkan seperti orang asing,"gumam Hery yang juga berdiri tidak jauh dari kolam renang itu, menatap Kaivan yang tertawa bahagia.


Sedangkan Trisha nampak meremas ujung bajunya, dengan kebencian yang terpancar di matanya,"Kenapa dia selalu beruntung? Hidunpnya begitu sempurna, terlahir dari keluarga kaya, mendapatkan suami dan keluarga yang sangat mencintai dan menyayanginya. Seharusnya aku yang ada di sana, aku yang seharusnya bahagia, bukan dia,"gumam Trisha yang berada di sebuah gazebo, menatap Disha yang tersenyum dan tertawa penuh kebahagiaan bersama Ghina dan Ratih.


...🌟Selama masih ada rasa iri, dengki dan benci di dalam hati,...


...maka kebahagiaan pun tidak akan pernah datang menghampiri diri."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2