Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
269. Obrolan Laki-laki


__ADS_3

Hari ini, adalah hari Minggu. Matahari nampak bersinar terang memberikan sinar hangat pada bumi yang dihuni berbagai macam makhluk. Di sebuah kamar, nampak gorden kamar yang melambai-lambai dikibarkan angin. Pakaian pria dan wanita nampak berceceran di lantai. Sepasang insan yang masih berada di atas ranjang nampak enggan untuk membuka mata


Icha yang dipeluk Radeva dari belakang nampak menggeliat dan perlahan membuka matanya yang langsung mengedip-ngedip karena merasa silau dengan sinar mentari yang masuk dari celah-celah gorden yang diterbangkan angin.


Icha dengan perlahan melepaskan tangan besar Radeva yang melingkar di perutnya. Namun pria itu malah mengeratkan pelukannya di perut Icha.


"Kak, sudah siang, aku ingin bangun dan membersihkan diri,"ucap Icha seraya menoleh ke belakang, menatap suaminya yang masih memejamkan matanya.


"Sebentar lagi, sayang,"gumam Radeva tanpa mau membuka matanya. Pergulatan panas dengan istrinya semalam membuatnya kelelahan dan enggan untuk beranjak dari peraduannya.


"Aku nggak enak kalau bangun kesiangan, kak. Aku kan menantu dirumah ini,"ucap Icha kemudian menghela napas, membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.


Mendengar kata-kata Icha itu, Radeva perlahan-lahan membuka matanya dan mengernyitkan keningnya,"Memangnya kenapa jika kamu adalah menantu di rumah ini?"tanya Radeva menatap wajah polos Icha tanpa polesan make-up.


"Sebagai menantu, seharusnya aku bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah ini. Bukan bangun kesiangan seperti ini. Apalagi, aku adalah menantu dari anak sulung di rumah ini,"jelas Icha mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


Radeva memegang pipi Icha,"Sudah ada Art yang bertugas menyiapkan sarapan, untuk apa kamu repot-repot menyiapkannya sendiri? Aku menikahi kamu bukan untuk aku jadikan koki dirumah ku. Aku menikahi kamu untuk ku jadikan ratu di hati dan di rumah ku, bukan untuk aku jadikan pembantu. Bahkan seharusnya kamu tidak perlu bekerja di perusahaan Alva. Aku bisa mencukupi semua kebutuhan mu meskipun kamu tidak bekerja,"ucap Radeva membelai pipi Icha dengan jari jempolnya.


"Aku akan bosan, jika tidak memiliki kegiatan, kak,"ucap Icha masih menatap manik mata suaminya.


"Kalau begitu, kamu bekerja sebagai asisten pribadi ku saja,"ucap Radeva serius.


"Kalau aku jadi asisten pribadi kakak, berarti aku harus bersama kakak dua puluh empat jam penuh, dong? Masa selama dua puluh empat jam, setiap hari aku hanya berinteraksi dengan kakak,"ucap Icha menghela napas panjang.


"Kenapa? Apa kamu bosan jika bersamaku selama dua puluh empat jam penuh setiap hari?"tanya Radeva menatap lekat manik mata istrinya dengan raut wajah yang nampak kecewa.


"Bu..bukan seperti itu. Hanya saja, jika aku menjadi asisten pribadi kakak, aku tidak akan bisa berkumpul bersama Disha dan Yessie .Ada kesenangan tersendiri di hatiku, saat berkumpul dengan mereka,"ucap Icha terbata karena melihat raut wajah suaminya nampak berubah menjadi kecewa.


Radeva melepaskan pelukannya pada Icha dan beranjak dari ranjang, meraih celana boxernya di lantai, kemudian memakainya dan berlalu ke kamar mandi tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. Icha nampak tertegun menatap punggung Radeva yang telah menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Apa kak Dev marah karena ucapan ku tadi? Apa aku merangkai kata-kata yang salah?"gumam Icha nampak mengingat- ingat apa kata-katanya ada yang salah atau menyinggung Radeva.


Icha beranjak bangun dari pembaringan nya, memakai baju tidur kimono yang dipakainya semalam, kemudian menyiapkan pakaian untuk suaminya. Setelah Radeva keluar dari kamar mandi, Icha bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaian ganti dan sekilas melirik wajah suaminya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Icha tidak dapat melihat ekspresi wajah Radeva karena wajah Radeva terhalang oleh lengannya dan handuk yang dipakainya untuk mengeringkan rambutnya.


Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian lengkap, Icha keluar dari kamar mandi dan melihat Radeva sedang sibuk dengan ponselnya dan nampak sedang mengetik di handphonenya. Icha memoleskan make-up tipis di wajahnya, setelah itu terdiam di depan meja riasnya tidak berani menatap Radeva yang duduk di tepi ranjang dan nampak masih sibuk dengan handphonenya.


Tiba-tiba perut Icha berbunyi yang menandakan wanita itu sedang lapar. Seketika wajah Icha bersemu merah karena merasa malu. Setelah tenaganya dikuras oleh Radeva semalam, tentu saja sekarang Icha merasa lapar. Apalagi saat ini sudah lewat satu jam dari jadwal sarapan pagi.

__ADS_1


Mendengar suara perut Icha yang keroncongan, Radeva pun mengalihkan pandangannya pada Icha,"Ayo turun! Kita sarapan,"ajak Radeva yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Icha, kemudian melangkah keluar dari kamar itu diikuti oleh Icha yang diam tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.


Saat mereka keluar dari kamar ternyata Alva dan Disha pun baru keluar dari kamar mereka,"Kalian tunggu sebentar di meja makan ya, kami akan menyiapkan sarapan untuk kita,"ucap Disha langsung menarik tangan Icha dan mengajaknya berjalan terlebih dahulu ke dapur menyiapkan makanan untuk sarapan mereka yang sudah kesiangan.


"Ternyata kakak lembur juga ya, semalam,"ujar Alva yang melangkah berdampingan dengan Radeva.


"Lembur?"tanya Radeva seraya mengernyitkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Alva. Namun saat mengingat bahwa kemarin dirinya pulang hampir mendekati jam makan malam, Radeva pun kembali berkata,"Oh, iya. Cuma sebentar, soalnya nanggung kalau nggak diselesaikan,"


"Nanggung ya? Memang nggak boleh nanggung kalau sedang bekerja, atau kakak akan sakit kepala,"ujar Alva seraya mengulum senyum melirik kakak iparnya.


"Mana ada kerjaan yang nanggung bikin sakit kepala. Aku nggak pernah sakit kepala hanya karena kerjaan yang nanggung,"sahut Radeva tersenyum tipis seraya menggeleng-nggelengkan kepalanya pelan, melirik adik ipar nya.


"Yang bener? Kakak nggak pusing kalau kerjaan kakak nanggung?"tanya Alva memicingkan sebelah matanya.


"Tinggal dikerjakan lagi besoknya, kenapa harus pusing?"ujar Radeva terus berjalan dan hampir memasuki ruang makan.


"Apa rahasianya sampai kakak tidak pusing saat kerjaan kakak lagi nanggung?"tanya Alva seraya menaik turunkan sebelah alisnya.


"Rahasia apa? Tinggal nggak usah dipikirin saja, kan beres,"ujar Radeva santai seraya menarik salah satu kursi di meja makan kemudian duduk menunggu adik dan istrinya yang sedang menyiapkan sarapan mereka. Entah apa yang sedang disiapkan oleh kedua perempuan itu.


Alva ikut menarik satu kursi di sebelah Radeva kemudian duduk, sedangkan Radeva nampak menuang air mineral dari pitcher glass kedalam gelas.


"Uhuk.. uhuk... uhuk..."Radeva yang sedang minum pun tersedak saat mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Alva. Radeva baru mengerti apa yang sebenarnya dibicarakan oleh adik iparnya itu dari tadi, sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Pekerjaan yang dimaksud Radeva adalah pekerjaan kantor, sedangkan pekerjaan yang dimaksud oleh adik iparnya itu adalah pekerjaan diatas ranjang.


"Pelan-pelan, kak! Kenapa kakak selalu saja tersedak saat minum, sich! Seperti anak kecil saja,"ujar Alva seraya menghela napas, menggeleng pelan dengan ekspresi innocent face nya, menepuk-nepuk punggung Radeva pelan. Seolah tidak tahu jika kakak iparnya itu tersedak karena mendengar kata-kata yang terlontar dari mulutnya.


Dengan geram Radeva menatap adik iparnya itu,"Sepertinya aku harus menyuruh Disha untuk membeli deterjen dalam jumlah banyak,"ucap Radeva seraya menatap Alva yang sedang meminum air dari dalam gelas.


Alva meletakkan gelasnya yang sudah kosong kemudian menatap Radeva seraya mengernyitkan keningnya. "Deterjen? Untuk apa kakak menyuruh Disha membeli deterjen dalam jumlah banyak? Memangnya mau buka laundry?"tanya Alva tidak mengerti.


"Bukan untuk membuka laundry, tapi untuk mencuci otak kamu yang kelewat mesum,"ketus Radeva malah membuat Alva terkekeh.


"Kalau otakku bersih dan tidak mesum lagi, kasihan sama adik kamu, kak. Masa iya, cantik begitu di anggurin, kan sayang. Jangan menyia-nyiakan apa yang sudah dianugerahkan Tuhan,"sahut Alva kembali terkekeh.


"Kalian ngobrol apa, sich? Kayaknya seru banget,"ujar Disha yang membawa sarapan mereka, diikuti oleh Icha yang membawa minuman.


"Biasalah, sayang. Obrolan laki-laki,"sahut Alva santai.

__ADS_1


"Bik, mama dan papa kemana?"tanya Disha saat melihat Bik Anah ke dapur.


"Tuan dan Nyonya di teras belakang, Non. Bermain dengan Tuan kecil,"sahut Bik Anah.


"Pantesan sepi,"gumam Disha, kemudian dua pasang suami istri itu pun menyantap sarapan mereka dengan tenang.


"Sayang, hari ini aku pengen shopping, boleh, ya?"tanya Disha setelah mereka selesai sarapan.


"Hum. Aku juga mau ke gym,"sahut Alva kemudian menatap Radeva dan bertanya," Kak, apa kakak mau ikut aku ke gym?"


"Tidak. Aku hari ini, aku ada janji ketemu klien,"sahut Radeva.


"Hari Minggu begini ketemuan sama klien?"tanya Disha menatap kakaknya.


"Hum,"sahut Radeva.


"Kalau begitu, kakak ipar boleh pergi dengan ku, kan?"tanya Disha dengan wajah berbinar.


"Hum,"sahut Radeva.


"Makasih, kak!"ucap Disha kemudian menatap Alva,"Makasih, sayang!"ucap Disha kemudian mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Alva.


"Cup"Alva langsung menoleh saat bibir Disha hampir mencium pipinya, hingga membuat Disha bukan mencium pipi Alva, tapi bibir Alva.


"Ishh..jahil!"protes Disha mengerucutkan bibirnya dan Alva malah terkekeh.


"Auwh! Sakit, sayang!"pekik Alva mengusap pahanya karena dicubit Disha.


"Dasar! Pintar sekali mencari kesempatan!"cibir Radeva.


"Kakak nggak usah iri, kalau pengen tinggal cium kakak ipar,"ujar Alva seraya mengulum senyum.


Radeva membuang napas kasar kemudian beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan makan diikuti Icha yang mengekor dibelakangnya yang menipiskan bibirnya menahan tawa, melihat interaksi dua saudara ipar yang konyol itu. Icha tidak menyangka jika ternyata Alva begitu tengil.


NB : - Innocent face ( wajah tanpa dosa)


- Pitcher glass adalah Wadah air minum yang terbuat dari bahan kaca, keramik, dll.

__ADS_1


...🌸❤️🌸...


To be continued


__ADS_2