Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
205. Gadis Biasa


__ADS_3

Trisha mengendarai mobilnya menuju apartemen Radeva. Sudah lama dia tidak bertemu kedua orang tua dan kakak angkatnya itu. Semenjak menikah, Trisha sibuk mengelola butik yang diberikan oleh kedua orang tua angkatnya. Karena butik itulah yang menjadi sumber penghasilan terbesar dalam hidupnya sekarang. Uang yang diberikan Hery tidak bisa mencukupi kebutuhan dirinya, meskipun Trisha sudah berusaha untuk mengubah gaya hidupnya.


Rumah tangganya dengan Hery tidak ada kemajuan sama sekali. Mereka seperti dua orang yang saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka saja. Selebihnya, mereka hanya seperti orang asing yang tinggal di bawah satu atap dan dalam satu kamar. Trisha sudah sering kali menggoda Sandy, namun Sandy sama sekali tidak tergoda olehnya. Yang ada, jika Hery mengetahuinya, Trisha akan dihukum Hery dengan cara melakukan hubungan suami-istri dengan Trisha secara kasar.


Setelah sampai di gerbang apartemen tempat tinggal Radeva, Trisha pun segera memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk ke apartemen itu, masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka 20 dimana unit apartemen Radeva berada. Seperti biasa Trisha langsung masuk ke dalam unit apartemen Radeva karena sudah mengetahui kode sandi unit apartemen itu. Setelah pintu terbuka, Trisha melihat mamanya sedang mengepak sebuah kardus dengan seorang perempuan paruh baya yang tidak dikenalnya.


"Ma, mama sedang apa?"tanya Trisha mengejutkan Ghina dan Bik Anah.


"Eh, kamu kesini? Sini duduk!"ucap Ghina seraya menghampiri Trisha, kemudian merangkul dan membawa Trisha duduk di sofa,"Anah, tolong buatkan minuman untuk Trisha,"pinta Ghina.


"Baik, Nyah,"sahut Bik Anah bergegas ke dapur.


"Perempuan itu Art mama di sini?"tanya Trisha menatap Bik Anah yang berjalan menuju dapur.


"Iya. Apa kabar kamu?"tanya Ghina dengan wajah yang menurut Trisha sangat berbeda. Wajah Ghina tidak pernah sebahagia ini sebelumnya, selalu ada kesedihan yang tersirat di sana. Tapi kali ini, tidak ada kesedihan yang tersirat di wajah dan manik mata itu.


"Ya.. begitulah! Setelah aku menikah, mama, papa dan Kak Radeva sama sekali tidak mentransfer uang padaku.


Pendapatan dari butik tidak menentu, Hery, gajinya juga tidak banyak, kalian tega sekali tidak memberiku uang tiap bulan.


"Kami tidak lagi berkewajiban untuk menafkahi mu. Kamu sudah dewasa dan bahkan sudah memiliki suami. Yang bertanggung jawab atas diri mu sekarang adalah suamimu,"ucap Mahendra yang tiba-tiba muncul, kemudian duduk disebelah Ghina dan menatap Trisha dengan tatapan datar. Mahendra semakin tidak suka dengan sikap dan tingkah laku Trisha yang menurut nya sudah dikasih hati masih minta jantung.


"Ini minumannya, Nyah,"ucap Bik Anah.


"Terimakasih, Anah,"ucap Ghina dan Bik Anah pun langsung kembali ke dapur.


"Dari kecil kami membesarkan kamu, merawat dan mendidik kamu seperti anak kandung kami sendiri, bahkan kami memberikan apapun yang kamu inginkan. Hidup berkecukupan dengan fasilitas yang tidak dimiliki oleh orang lain. Papa rasa itu lebih dari cukup bagimu yang hanya anak angkat kami," sambung Mahendra setelah Bik Anah pergi. Mahendra berbicara dengan nada tegas dan terkesan tidak suka.

__ADS_1


Trisha membuang napas kasar mendengar kata-kata Mahendra itu, ditatapnya pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu,"Harta mama dan papa itu banyak, tidak akan membuat papa bangkrut jika hanya memberikan satu anak perusahaan papa untuk ku,"ketus Trisha tidak tahu malu.


"Bukan masalah uang, tapi masalah sikap mu yang tidak tahu terimakasih dan menuntut sesuatu yang bukan hak mu, itulah yang membuat papa tidak ingin memberikan apapun lagi padamu. Papa berharap, setelah kamu menikah, kamu bisa menghargai uang dan juga menghargai orang lain. Tapi nyatanya sedikit pun kamu tidak berubah,"ujar Mahendra yang terdengar sangat kecewa pada Trisha.


"𝙇𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙩𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙪𝙜𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙚 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙙𝙞𝙡𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙧𝙩𝙖 𝙬𝙖𝙧𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 ,"batin Trisha, tanpa mengetahui jika namanya sudah dikeluarkan dari kartu keluarga Mahendra.


"Ma, apa semua barang sudah siap dibawa?"tanya Radeva yang baru saja masuk ke dalam apartemen itu, tanpa mengetahui kedatangan Trisha.


"Sudah, sayang,"sahut Ghina menatap putranya yang baru saja masuk itu.


"Kalian mau kemana? Apa kalian akan pulang?"tanya Trisha yang sejak datang tadi ingin menanyakan tentang barang-barang yang nampak dikemas dalam kardus.


"Kamu ada di sini?"tanya Radeva datar kemudian duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.


"Kalian akan pulang?"tanya Trisha lagi karena belum juga mendapatkan jawaban dari ketiga orang di ruangan itu, menatap ketiga nya bergantian.


"Kalian akan menetap di negara ini? Kenapa? Lalu bagaimana dengan perusahaan kita? Siapa yang akan mengurusnya?"cerocos Trisha setelah mendengar jawaban dari Radeva.


"Kakak akan menikah dengan seorang gadis yang tinggal di negara ini. Dan soal perusahaan, kami sudah memindahkan perusahaan induk ke negara ini,"sahut Radeva tenang, sedangkan Mahendra dan Ghina hanya diam saja.


"Kakak akan menikah? Dengan siapa?"tanya Trisha penasaran.


"Kami akan bertunangan lebih dulu. Malam minggu ini, kakak akan bertunangan dengan nya. Jika kamu punya waktu, datanglah ke acara pesta pertunangan kakak. Nanti kakak akan mengirimkan alamat rumah kami yang baru kepada mu,"ujar Radeva.


"Siapa gadis yang akan bertunangan dengan kakak itu?"tanya Trisha nampak penasaran.


"Dia gadis biasa, kakak rasa kamu tidak mengenalnya,"

__ADS_1


"Gadis biasa? Kakak tidak salah mau menikah dengan seorang gadis biasa?"tanya Trisha seolah-olah meremehkan.


"Memangnya kenapa jika Kakak menikah dengan gadis biasa?"tanya Radeva dengan nada tidak suka, karena Trisha menilai seseorang dari status sosialnya.


"Ya nggak keren aja, kak. Masa orang kaya nikah dengan gadis biasa!"celetuk Trisha.


"Tidak penting dia dari kalangan apa, yang penting dia gadis baik-baik,"ujar Ghina seolah menyindir Trisha.


"Lagian, jika memandang soal status sosial, kamu juga dari kalangan menengah ke bawah. Papa dapat melihatnya dari pakaian yang dikenakan oleh almarhum kedua orang tuamu dulu. Status sosial kamu menjadi naik karena kami menjadikan kamu sebagai anak angkat kami,"timpal Mahendra menohok hati Trisha.


"Kenapa sifat mu tidak berubah sama sekali, sich? Belajarlah menghormati dan menghargai orang lain, agar orang lain pun mau menghormati dan menghargai kamu. Jaga bicaramu dan bersikaplah rendah hati seperti layaknya padi yang semakin berisi semakin menunduk,"imbuh Radeva.


"Kenapa kalian jadi menceramahi aku?"cetus Trisha bersungut-sungut. "Lebih baik kalian transfer uang ke rekening ku agar aku bisa membeli gaun yang bagus untuk datang ke acara pertunangan kakak nanti. Apa kalian tidak malu jika aku datang dengan menggunakan gaun yang murah?" pungkas Trisha yang serempak membuat Mahendra, Ghina dan Radeva melotot.


"Kenapa menatap ku seperti itu?"tanya Trisha tanpa dosa.


"Kamu punya butik yang besar, kenapa harus meminta gaun dari kami,"tukas Radeva.


"Lagian sudah papa bilang, kamu itu bukan tanggung jawab kami lagi. Jadi, sebaiknya kamu minta pada suamimu saja,"timpal Mahendra.


"Walaupun kamu memakai gaun yang terbuat dari berlian sekalipun, tidak akan ada yang menyukaimu jika kamu tidak mau menghargai orang lain,"celetuk Ghina yang sudah sangat muak dengan sikap Trisha.


...🌟 Status sosial tidak bisa menentukan, mulia atau tidaknya seorang manusia....


...Karena kemuliaan yang sesungguhnya itu dilihat dari hati, bukan dari harta."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2