
"Kenapa mama lama sekali?"gumam Mahendra yang menunggu Ghina dari kamar Disha. Karena sudah lama menunggu, akhirnya Mahendra memutuskan untuk menyusul istrinya. Namun baru saja membuka pintu, Mahendra sudah melihat Ghina yang sedang menggendong Kaivan.
"Mama kemana saja? Kenapa lama sekali?"tanya Mahendra pada Ghina, tapi Ghina hanya menatap Mahendra dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat Mahendra mengernyitkan keningnya.
"Mama kenapa? Ayo masuk dulu!"ucap Mahendra merangkul istrinya masuk kedalam kamar dan menggiring Ghina untuk duduk ditepi ranjang.
Mahendra meraih tubuh cucunya dari pelukan Ghina kemudian membaringkan tubuh cucunya di atas ranjang. Mata Mahendra beralih menatap Ghina kemudian duduk di samping Ghina.
Mahendra meraih jemari Ghina, kemudian menatap istrinya itu,"apa yang terjadi kenapa mama terlihat begitu shock seperti ini?"tanya Mahendra lembut.
"Pa, ternyata... orang yang membakar villa kita dulu adalah Kak Nalendra,"ucap Ghina seraya menatap Mahendra.
"Apa? Kenapa mama tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Mahendra yang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ghina.
"Waktu mama lewat di depan kamar mereka, mama mendengar percakapan Kak Nalendra dengan Kak Neda. Kak Nalendra bilang, dia telah membayar orang untuk membakar villa kita untuk melenyapkan seluruh keluarga kita. Kita selamat dari kebakaran di villa itu karena anak buah Kak Nalendra tidak tahu jika kita meninggalkan villa menggunakan mobil asisten papa. Anak buah Kak Nalendra juga mengejar Anah yang membawa putri kita, sampai Anah terjatuh ke dalam sungai dan anak buah Kak Nalendra mengira Anah dan putri kita meninggal setelah jatuh ke dalam sungai itu,"ujar Ghina sesuai dengan apa yang dia dengar dari depan kamar Nalendra tadi.
Mahendra membuang napas kasar dan mengusap wajahnya kasar,"Aku tidak menyangka Kak Nalendra tega melakukan semua itu pada kita. Kenapa dari dulu dia selalu iri padaku? Apa dia menginginkan semua harta warisan ayah jatuh semua ke tangannya? Ayah bahkan sudah membagi rata seluruh hartanya kepada kami berdua, tapi kenapa dia malah ingin melenyapkan kita?"ujar Mahendra dengan perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Dan ada satu lagi kebenaran yang di ungkapkan oleh kak Nalendra yang membuat mama bingung harus bagaimana menyikapi nya,"ucap Ghina menghela napas panjang.
"Kebenaran apalagi maksud mama?" tanya Mahendra menatap lekat wajah Ghina.
"Kebenaran tentang siapa sebenarnya Trisha,"ucap Ghina kembali menghela napas panjang.
"Memangnya, siapa Trisha yang sebenarnya?"tanya Mahendra tidak sabar.
"Kebenaran nya adalah... orang tua Trisha adalah anak buah kak Nalendra yang disuruh kak Nalendra untuk membakar villa kita dulu...."
__ADS_1
"Apa? Astaga..!! Takdir macam apa ini?"ucap Mahendra semakin shock hingga memotong kata-kata Ghina.
"Orang tua Trisha memeras Kak Nalendra. Mereka mengancam akan mengatakan semua rahasia itu pada kita, namun kak Nalendra berusaha menangkap mereka hingga akhirnya mereka lari dan tertabrak mobil. Dan mirisnya kita menyelamatkan putri mereka, kita merawat dan membesarkan dia dengan penuh kasih sayang, tapi ternyata dia menginginkan harta kita,"ujar Ghina dengan dada yang terasa sesak saat mengingat Trisha yang tidak tahu di untung.
"Papa tidak menyangka, takdir akan mempermainkan kita seperti ini,"ujar Mahendra.
"Lalu apa yang sekarang harus kita lakukan pada kak Nalendra dan Trisa, pa?"tanya Ghina menatap lekat wajah suaminya.
"Kita tidak bisa melakukan apapun, ma. Walaupun kita tahu tentang semua kebenaran ini, kita tidak punya bukti apapun untuk mengungkapkan kejahatan kak Nalendra. Dan untuk Trisha, kita tidak bisa menghukum dia atas kejahatan kedua orang tuanya. Dia masih bayi waktu itu, dan tidak tahu apa-apa. Walaupun kenyataannya, sifat jahat kedua orang tuanya itu menurun padanya. Mulai sekarang, kita harus hati-hati pada mereka, namun bersikaplah biasa agar mereka tidak curiga ke pada kita.Pantas saja, kak Nalendra selalu berusaha menjatuhkan aku,"ujar Mahendra.
"Iya, pa. Mama akan berusaha bersikap senormal mungkin,"sahut Ghina.
"Sekarang kita tidur, ya?! Lihat lah, cucu kita begitu lelap dalam tidurnya,"ucap Mahendra menatap wajah Kaivan yang nampak tidur dengan lelap.
Sepasang suami istri itu akhirnya naik ke atas ranjang, membaringkan tubuh mereka di kanan dan kiri Kaivan.
"Papa juga, ma. Papa bahagia karena keluarga kita telah berkumpul kembali, anak-anak kita bahagia dan kita mendapatkan anugerah cucu yang tampan dan lucu seperti ini,"ucap Mahendra seraya menggenggam tangan mungil Kaivan. Akhirnya sepasang suami-isteri paruh baya itu pun terlelap sambil memeluk cucu mereka.
***
Di kamar Bramantyo dan Ratih.
"Ma, papa ingin mengatakan sesuatu pada mama,"ucap Bramantyo yang sekarang sedang duduk di atas ranjang di samping Ratih.
"Apa, pa? Katakan saja!"Mama akan mendengarkan nya,"sahut Ratih serius.
"Ini..ini soal mantan istri papa,"ucap Bramantyo menghela napas panjang.
__ADS_1
"Soal mantan istri papa? Ibu kandung Alva?"tanya Ratih dengan dahi agak berkerut. Pasalnya selama 30 tahun menjadi istri Bramantyo, Bramantyo nampak enggan menceritakan soal mantan istrinya itu. Bahkan Bramantyo terkesan menutupi apapun yang berkaitan dengan mantan istri nya itu. Namun sekarang, dia sendiri yang ingin bicara soal wanita itu.
"Iya, soal mantan istri papa. Papa harap, mama tidak akan terpengaruh apapun oleh mantan istri papa. Mama memang bukan yang pertama mengisi hati papa. Tapi percayalah! Mama adalah satu- satunya wanita yang papa inginkan untuk menemani papa hingga maut memisahkan kita. Papa ingin menua bersama mama.Mantan istri papa adalah masa lalu papa, sedangkan mama adalah masa depan papa,"ucap Bramantyo seraya memegang jemari tangan Ratih.
"Iya, mama percaya pada papa. Mama juga ingin menua bersama papa. Walaupun awal hubungan kita terjalin karena mama adalah ibu susu Alva, namun seiring berjalannya waktu, mama jatuh cinta pada papa dan hingga saat ini, rasa cinta mama tidak usang dimakan waktu, walaupun kita semakin menua. Tapi, kenapa papa tiba-tiba ingin membicarakan soal mantan istri papa pada mama? Bukan kah selama ini papa sama sekali tidak ingin membahas tentang mantan istri papa itu?"tanya Ratih yang sangat penasaran kenapa Bramantyo tiba-tiba ingin membahas wanita yang telah melahirkan Alva itu..
"Itu...itu karena papa bertemu dengan mantan istri papa lagi,"ucap Bramantyo menghela napas panjang.
"Papa bertemu dengan nya lagi?"tanya Ratih nampak terkejut, pasalnya selama 30 tahun bersama Bramantyo, belum pernah sekalipun Ratih melihat bagaimana rupa mantan istri Bramantyo yang dulu meninggalkan Alva yang baru dilahirkan. Wanita di masa lalu yang pernah sangat dicintai Bramantyo, namun meninggalkan Bramantyo dalam keterpurukan, membuat Bramantyo sangat membenci wanita itu.
"Iya,"sahut Bramantyo singkat.
"Kapan? Dan dimana?"tanya Ratih penasaran.
"Di rumah ini semalam. Dia sekarang adalah istri Nalendra, kakak dari Mahendra,"ucap Bramantyo menatap Ratih yang nampak terkejut.
"Ja..jadi... perempuan itu adalah ibu kandung Alva?"tanya Ratih tergagap.
"Iya. Dia adalah ibu kandung Alva yang bernama Nety. Dan ternyata sekarang dia telah mengganti namanya menjadi Neda,"sahut Bramantyo.
...🌟"Walaupun masa lalu terkadang menyakitkan,...
...namun jangan biarkan masa lalu membuat kita berhenti berjalan untuk menyongsong masa depan."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued
__ADS_1