
Di perusahaan Bramantyo Group.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"sahut Alva yang mendengar pintu ruangannya di ketuk. Riky masuk dan melihat Alva yang sibuk menandatangani beberapa dokumen.
"Tuan, ini dokumen yang harus segera anda tandatangani,"ucap Riky seraya meletakkan dokumen yang di bawanya ke atas meja Alva.
"Apa skedul hari ini?"tanya Alva seraya mengambil dokumen yang baru saja diletakkan Riky di atas mejanya tanpa menatap Riky.
"Hari ini jam sepuluh pagi, saya dan Nyonya ada rapat pemegang saham di perusahaan xx. Namun hari ini perusahaan kita juga ada pertemuan dengan klien baru di restoran xx. Jadi Tuan harus pergi sendiri ke sana, karena saya tidak tahu jam berapa saya dan Nyonya akan selesai rapat. Jika kami selesai sebelum jam makan siang, kami akan menyusul Tuan,"ujar Riky dengan wajah cerah dan nampak bersemangat.
Alva mendongakkan kepalanya menatap wajah Riky yang sedang berdiri di depan meja kerjanya.
"Wajahmu cerah sekali pagi ini.Sepertinya semalam kamu dari unboxing, ya?"selidik Alva tersenyum tipis.
"Ish.. Tuan kepo banget,"celetuk Riky masih dengan wajahnya yang secerah mentari pagi.
"Sudah kelihatan dari wajah mu. Gimana, gimana, masih ori nggak?"tanya Alva dengan tersenyum tipis dengan menaik turunkan sebelah alisnya.
"Tentu saja masih ori, Tuan. Saya yang pertama,"ucap Riky membusungkan dadanya, nampak bangga.
"Syukurlah, aku juga bersyukur karena aku juga yang pertama bagi Disha.Kita beruntung,"ucap Alva ikut merasa bangga.
"Aku dengar susah mencari gadis yang masih perawan jaman sekarang," sambung Alva seraya mengetuk-ngetuk mejanya dengan pena di tangannya.
"Iya Tuan, saya dengar yang gadis memang banyak, tapi nyari yang masih perawan susah. Pergaulan jaman sekarang ini memang meresahkan. Apa lagi saya punya dua adik perempuan, saya tidak bisa mengawasi mereka karena pekerjaan saya ini,"ujar Riky menghela nafas panjang.
"Apa kamu tidak menyuruh seseorang untuk mengawasi kedua adik perempuan mu itu?"tanya Alva seraya mengernyitkan keningnya.
"Iya, Tuan. Saya memberi uang jajan pada teman dekat mereka untuk melaporkan semua kegiatan mereka pada adik laki-laki saya. Tapi tetap saja saya masih khawatir, Tuan. Em..Tuan, kalau sudah tidak ada yang anda butuhkan, saya akan kembali keruangan saya,"ucap Riky yang memang masih mempunyai banyak pekerjaan.
"Tidak ada lagi, kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu,"ucap Alva dan Riky pun segera meninggalkan Alva.
Beberapa jam kemudian.
"Nyonya, apa anda sudah siap?"tanya Riky pada Disha yang masih duduk di kursi kerjanya sambil menggulir layar handphonenya.
"Ah iya. Ayo kita berangkat!"sahut Disha segera memasukan handphone nya ke dalam Sling bag milik nya.
__ADS_1
"Nyonya akan membawa mobil sendiri atau mau semobil dengan saya?"tanya Riky seraya berjalan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Disha.
"Kita satu mobil saja, Rik. Terserah mau pakai mobil kami atau mobil kamu. Itung-itung mengurangi kemacetan, toh tujuan kita juga sama," sahut Disha.
"Anda benar, Nyonya. Kalau begitu kita pakai mobil saya saja, Nyonya," sahut Riky.
"Oke,"sahut Disha dan mereka pun segera keluar dari gedung perusahaan Bramantyo Group, menuju parkiran mobil. Setelah mereka masuk kedalam mobil dengan Disha duduk di sebelah Riky yang duduk di kursi pengemudi, Riky pun segera melajukan mobilnya menuju perusahaan xx.
Setelah sampai di perusahaan xx, Riky dan Disha langsung memasuki ruangan rapat. Beruntung rapat berjalan lancar dan tidak alot, hingga tidak perlu memakan waktu berjam-jam. Riky dan Disha pun segera pergi dari perusahaan itu menuju restoran tempat Alva bertemu klien baru.
"Oh ya, Rik. Apa kamu sudah menyelidiki klien yang akan kita temui nanti?"tanya Disha saat mereka sudah berada di dalam mobil seraya meraih handphonenya karena terdengar notifikasi pesan masuk di handphonenya.
"Menurut Ferdi, perempuan yang akan menjadi klien kita adalah seorang janda muda, Nyonya,"sahut Riky.
"Janda muda?"tanya Disha mengulangi pertanyaannya Riky.
"Iya, Nyonya. Wanita yang akan menjadi klien kita ini, dulunya adalah seorang sekretaris yang menikah dengan seorang pria paruh baya. Setelah pria itu meninggal dunia, perempuan itu mendapatkan warisan yang banyak hingga menjadi janda muda yang kaya raya,"jelas Riky.
"Dia istri satu-satunya atau istri ke berapa gitu?"tanya Disha yang mulai tertarik dengan pembahasan itu.
"Dia istri ketiga, dan setelah suaminya menikah dengan nya, suaminya menceraikan istrinya yang lain,"jelas Riky dengan mata yang fokus pada jalan yang mereka lewati.
"Apa suaminya tidak mempunyai anak dari pernikahan pertama dan pernikahan keduanya?"tanya Disha semakin penasaran.
"Kenapa feeling ku jadi nggak enak ya Rik, tentang perempuan ini?"celetuk Disha jujur.
"Karena mendengar informasi yang saya paparkan tadi?"tanya Riky melirik sekilas kearah Disha.
"Iya. Apa Alva sudah tahu tentang informasi ini?" tanya Disha.
"Belum, Nyonya. Saya baru tahu informasi ini ketika saya ke toilet setelah kita selesai meeting tadi,"sahut Riky mulai menepikan mobil yang dikendarai nya karena mereka sudah sampai di tempat tujuan. Riky segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Disha.
"Terimakasih, Rik!"ucap Disha dan Riky pun tersenyum tipis serta sedikit mengangguk kepada Disha.
"Nyonya, itu sepertinya Tuan,"ucap Riky dengan tangan yang menunjuk ke arah Alva.
Disha pun melihat ke arah tatapan Riky dan arah telunjuk Riky. Disha dan Riky melangkah menghampiri Alva yang juga baru turun dari mobilnya.
"Alva!"pekik seorang perempuan dan tiba-tiba langsung memeluk Alva. Alva sempat terkejut, namun saat sadar sedang dipeluk perempuan lain, Alva pun segera melepaskan pelukan perempuan itu.
__ADS_1
"Degh"Disha sangat terkejut melihat hal itu dan seketika menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Riky.
"𝙏𝙪𝙖𝙣, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝,"batin Riky setelah menatap wajah Disha disampingnya yang nampak agak menggelap.
"Alva, akhirnya kita bertemu lagi,"ucap perempuan yang memeluk Alva barusan menatap Alva dengan wajah yang berbinar-binar.
"Dita? Kamu Dita kan?!"tanya Alva menatap lekat wajah perempuan di hadapan nya.
"Iya, aku Dita. Kamu ternyata masih mengingatku,"ucap perempuan yang bernama Dita itu seraya memegang lengan Alva namun langsung dilepaskan oleh Alva, membuat perempuan yang bernama Dita itu terlihat agak kecewa.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap Alva tersenyum tipis.
"Iya, dan kamu tambah tampan saja,"puji Dita.
"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙖𝙡𝙞𝙚𝙣!!𝙋𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙣𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙘𝙝 𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙡𝙪𝙠-𝙥𝙚𝙡𝙪𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙞𝙣!"batin Disha dengan tangan meremas Sling bag yang tersampir di pundaknya.
Riky kembali menatap wajah Disha dan melihat wajah perempuan di samping nya itu semakin menggelap. Riky pun segera mengajak Disha menghampiri Alva.
"Mari, Nyonya!"ajak Riky membuat Disha menatap Riky sekilas.Tanpa berkata apa-apa, Disha berjalan beriringan dengan Riky dengan wajah yang sudah berubah menjadi datar.
"Ehem.."Riky berdehem mengalihkan atensi Alva dan Dita.
"Kamu Riky, kan?"tanya Dita seraya menatap Riky.
"Iya,"sahut Riky datar.
"Dan dia, apa dia istri mu?"tanya Dita menunjuk dengan dagu menatap Disha kemudian kembali menatap Riky.
"Saya sekretarisnya Pak Alvarendra Bramantyo. Bukankah begitu, Pak Rendra?"tanya Disha dengan tatapan tajam dan dingin pada Alva.
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙩𝙖𝙩𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙩𝙖 𝘿𝙞𝙨𝙝𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪?𝙃𝙖𝙙𝙚𝙝.. 𝙖𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞"batin Alva.
"Kita harus segera bertemu dengan klien, Tuan,"ucap Riky sebelum Alva sempat menjawab pertanyaan dari Disha. Riky merasa ada aura dingin yang terasa dari Disha. Demikian pula dengan Alva yang merasakan akan ada sesuatu yang tidak baik nantinya.
"Maaf Dita, aku ada kerjaan,"ucap Alva kemudian menyusul Disha dan Riky yang sudah berjalan lebih dulu tanpa menunggu jawaban dari Dita.
...🌟"Cemburu tanda cinta, memang benar adanya....
...Jika rasa cemburu mu semakin berkurang, berarti rasa cintamu berangsur pudar."🌟...
__ADS_1
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued