
"Diam! Kalau tidak aku akan melempar tubuh mu ke lantai yang keras itu,"ancam Hery dengan wajah yang nampak menggelap menatap tajam pada Trisha hingga membuat Trisha langsung diam dan tidak berani mengucapkan sepatah katapun lagi pada Hery.
Dengan langkah lebar, Hery menggendong Trisha menuju kamar mereka yang pintunya masih terbuka karena tadi Hery buru-buru keluar dari kamar dan tidak menutup pintunya.
Hery bahkan tidak memperdulikan para Art yang menatap mereka terutama menatap Trisha yang bisa dikatakan hampir polos.
"Brakk"Hery menendang pintu kamarnya hingga tertutup setelah mereka masuk. Dan dengan geram Hery melempar tubuh Trisha ke atas ranjang.
"Auw.! Kamu menyakiti aku!"pekik Trisha ketika tubuhnya terhempas di atas ranjang.
Hery naik ke atas ranjang dan mendekati Trisha dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan. Dan tiba-tiba...
"Srekkk...Sreekk....
Tanpa diduga Hery menarik kain kecil yang menutupi bukit kembar Trisha dan juga kain segitiga yang menutupi bagian inti Trisha.
"Ahkk..! Apa yang kamu lakukan?!"pekik Trisha mencoba menutupi bukit kembar dan juga bagian inti tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa? Kamu malu jika tubuh mu dilihat oleh suami mu sendiri? Tapi kamu tidak mau memperlihatkan tubuh mu pada pria lain, hah?!"bentak Hery.
"Aku akan mengadukan perlakuan mu ini pada orang tuaku!"ancam Trisha seraya mencoba menutupi tubuh nya dengan selimut namun selimut itu langsung ditarik dan dilempar Hery jauh dari Trisha.
"Oh ya? Aku mau tahu bagaimana kamu mengadukan perbuatan ku ini pada orang tuamu. Kamu akan mengatakan bahwa aku menghukum mu karena kamu telah berani menggoda sepupuku, begitu?" tanya Hery seraya mencengkram kuat pipi Trish dengan jari telunjuk dan jari jempolnya.
"Lepas kan!"pekik Trisha menahan sakit di pipinya.
"Aku akan menghukum mu karena berani menggoda sepupuku,"ucap Hery langsung menindih dan mencium Trisha dengan kasar.Trisha berusaha melawan tapi Hery malah semakin kasar mencium nya. Trisha terus meronta membuat Hery semakin marah lalu mengikat kedua tangan Trisha di headboard ranjang hingga Trisha tidak bisa berkutik. Kemudian Hery melepaskan pakaiannya dan melemparnya dengan asal.
Hery kembali mencium dan meremas kedua bukit kembar Trisha dengan kasar dan memasukkan miliknya ke bagian inti tubuh Trisha tanpa pemanasan yang cukup hingga membuat Trisha semakin menjerit karena kesakitan. Namun Hery tidak perduli. Hery hanya ingin mendapatkan kepuasan biologis nya untuk melampiaskan kemarahannya pada Trisha.
"Aku akan adukan kamu pada orang tua ku!"pekik Trisha dengan nafas tersengal- sengal setelah Hery mendapatkan pelepasannya namun belum mencabut miliknya dari inti tubuh Trisha.
"Orang tuamu?"Kamu mau mengadu pada orang tua mu yang sudah di alam baka?" tanya Hery mencibir.
"Apa maksud mu?"tanya Trisha yang masih dalam kungkungan Hery.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu jika kamu adalah anak pungut? Aku jelas-jelas keponakan Darmawan, tapi kamu? Kamu hanya anak pungut yang tidak jelas asal usulnya, yang dipungut dari tempat sampah di pinggir jalan,"ucap Hery dengan nada merendahkan.
"Da.. dari mana kamu tahu?"tanya Trisha nampak terkejut.
__ADS_1
"Aku mendengar papa ku dan papamu membicarakan hal itu dua hari yang lalu. Jadi jangan mencoba mengancam ku! Kamu tidak lebih baik dari ku! Sekarang kamu adalah istri ku dan orang tua angkat mu sudah menyerahkan kamu sepenuhnya padaku,"
"Jadi kamu harus menuruti apa kataku dan memuaskan diriku kapanpun aku mau,"ucap Hery kembali mencium dan meremas kedua bukit kembar Trisha dengan sesuka hatinya dan kembali mencari kepuasan nya sendiri tanpa memperdulikan keadaan dan perasaan Trisha.
***
Pagi itu Ghina sudah boleh pulang dari rumah sakit karena keadaannya sudah membaik. Seperti keinginan Ghina semalam, Radeva pun melajukan mobilnya menuju kediaman Bramantyo dengan hati yang bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan keponakannya yang montok itu.
Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan diantara mereka, namun raut wajah ketiga orang dalam mobil itu nampak bahagia. Ghina yang kemarin malam sempat pingsan, sekarang nampak segar seolah tidak terjadi apa-apa kemarin.
Memang benar adanya, saat kita merasa bahagia, kita akan melupakan rasa sakit ditubuh kita. Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa suasana hati kita juga ikut mempengaruhi tubuh kita. Saat kita sedih tubuh kita akan merasa lemah dan lelah. Namun saat kita bahagia, tubuh kita akan terasa lebih sehat dan bersemangat.
Setelah tiba di rumah Bramantyo, dengan tidak sabar Ghina menekan bel rumah Bramantyo. Rasanya Ghina sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan cucunya.
"Ceklek"
Pintu utama rumah Bramantyo itupun terbuka dan muncul lah seorang Art dari balik pintu.
"Eh.. Nyonya, Tuan. Mari masuk! Saya akan panggilkan Nyonya Ratih,"sahut Art yang sudah mengenal keluarga Mahendra tersebut mempersilahkan keluarga Mahendra.
"Terimakasih, bik,"sahut Ghina dengan senyum manis.
"Nyonya, Tuan, ada keluarga Tuan Mahendra di ruangan tamu,"ucap Art itu memberi tahu.
Bramantyo mengerutkan keningnya,"Ada apa pagi-pagi begini mereka kesini?"tanya Bramantyo pada Ratih seraya mengelus kepala cucunya, merasa kunjungan keluarga Mahendra tidak biasa.
Ratih mengedik kan bahunya,"Mama juga tidak tahu. Tidak biasanya mereka datang sepagi ini. Mama rasa, mungkin ada yang penting,"ucap Ratih kemudian berjalan menuju ke arah ruang tamu.
"Rat, maaf pagi-pagi begini sudah datang,"ucap Ghina seraya bangkit dari duduknya menghampiri Ratih yang juga sedang menghampiri dengan wajah yang nampak bahagia dan senyum terkembang yang sudah lama tidak Ratih lihat semenjak Ghina kehilangan putrinya.
Ghina tiba-tiba memeluk Ratih seolah- olah sudah lama tidak bertemu,"Tidak aku sangka, ternyata kita benar-benar menjadi besan,"sambung Ghina membuat Ratih menautkan alisnya tidak mengerti.
"Maksud mu?"tanya Ratih setelah merenggangkan pelukan mereka.
"Disha adalah putri kami yang selama ini kami cari,"ucap Ghina dengan senyum yang terus mengembang.
"Apa?"tanya Ratih dan Bramantyo yang baru saja muncul secara bersamaan.
"Iya, Tyo. Disha adalah putri kami, dia memiliki tanda lahir seperti putri kami,"ucap Mahendra yang ikut beranjak dari duduknya lalu menghampiri Ghina, Bramantyo dan Ratih.
__ADS_1
"Cucu nenek!"ucap Ghina mengambil alih Kaivan yang sedang digendong oleh Bramantyo.
"Ceritakan pada kami, bagaimana kalian bisa mengetahui bahwa Disha adalah putri kalian,"tukas Bramantyo kemudian mengajak semuanya untuk duduk dan menceritakan segalanya.
Keluarga Mahendra itu pun akhirnya menceritakan semuanya pada Ratih dan Bramantyo. Dua keluarga itu sama-sama merasa bahagia saat mengetahui bahwa Disha adalah putri kandung Mahendra dan Ghina.
***
Sementara itu, di dalam sebuah kamar, nampak sepasang suami-isteri yang masih terlelap di bawah selimut. Disha menggeliat pelan namun Alva malah mengeratkan pelukannya.
"Sayang.!"panggil Disha mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.
"Emmm.."sahut Alva tanpa membuka matanya.
"Sudah siang. Aku ingin mandi,"ucap Disha mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Sebentar lagi, sayang. Aku masih ingin memelukmu,"ucap Alva yang tidak mau melepaskan pelukannya pada istrinya itu.
"Sayang, aku malu sama papa dan papa kalau bangun kesiangan,"rajuk Disha.
"Kenapa harus malu, sayang?! Yang membuatmu bangun kesiangan kan anak mereka,"sahut Alva enteng.
"Ish...kamu ini!"sungut Disha. Eh...bagaimana malam pertama Riky dan Yessie, ya?"tanya Disha yang tiba-tiba teringat pada sepasang pengantin baru itu.
"Kenapa?"tanya Alva masih belum ingin membuka matanya.
"Kira-kira mereka udah unboxing belum, ya?"tanya Disha dengan senyum tipis di bibirnya.
"Kamu pengen tau?"tanya Alva mulai merenggang kan pelukannya kemudian menatap wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
"Ya... penasaran aja gitu. Soalnya semalam kan malam pertama mereka," sahut Disha menatap wajah suaminya dengan tersenyum.
"Apa kamu ingin menonton video malam pertama mereka?"
"Hah.?!"
...🌟"Bahagia itu datangnya dari dirimu sendiri, karena itu tetaplah berusaha untuk bahagia, sekalipun dunia ini membenci."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
To be continued