
"Alva..!!"pekik Disha tertahan mengingat masih ada beberapa karyawan yang belum pulang.
Disha terkejut, karena saat dia masuk tiba-tiba Alva langsung menariknya dan mengunci pintu ruangan itu.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"tanya Disha saat Alva mulai mendekatkan wajahnya.
'Tidak ada. Hanya ingin melanjutkan yang tadi pagi sempat tertunda.,"ucap Alva semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Disha.
"Al, ini di kantor. Kamu jangan macam-macam,", ucap Disha menahan dada Alva agar tubuhnya menjauh dari Disha.
"Aku hanya punya kesempatan bersama dengan mu di kantor ini saja, sayang,"ucap Alva dengan wajah memelas.
"Kita seharian bersama di kantor ini Al. Aku mau pulang,"ucap Disha segera membalikkan tubuhnya ingin keluar dari ruangan itu.
"Tidak boleh,"ucap Alva langsung memeluk Disha dari belakang.
"Al.. lepaskan.!"ucap Disha mencoba melepaskan pelukan Alva.
Alva mendengus kesal, melepaskan pelukannya, dengan cepat mengambil kunci pintu ruangan itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya kemudian berjalan menuju ruangan pribadinya.
"Al, berikan kuncinya,"ucap Disha sambil mengejar Alva . Disha sempat terkejut saat melihat Alva masuk ke ruangan rahasia di balik rak buku yang tersusun rapi. Dengan sedikit berlari Disha mengikuti Alva memasuki ruangan itu.
"Al, aku mau pulang,"ucap Disha mendekati Alva yang berbaring di atas ranjang yang ada dalam ruangan itu.
"Al.!"seru Disha, tapi tidak dihiraukan oleh Alva yang malah memejamkan matanya.
Disha menghembuskan nafas kesal karena tingkah laku Alva itu. Disha kemudian melirik saku celana panjang Alva, tempat Alva menyimpan kunci tadi.
Perlahan Disha mendekati Alva kemudian dengan memberanikan diri duduk di dekat Alva berbaring dan mulai mengulurkan tangannya ke arah saku celana panjang Alva.
"Awhh...Alva.!!"pekik Disha saat tiba-tiba Alva menarik tubuhnya hingga menindih tubuh Alva dan dengan cepat Alva langsung membalikkan posisi hingga sekarang dia yang menindih Disha.
Tanpa aba-aba Alva langsung menautkan bibirnya dengan bibir Disha dengan tangan yang sudah mulai menjalar kemana-mana, membuat Disha terbuai. Ciumannya pun mulai turun ke leher Disha menambah tanda merah yang ada di sana.
Tangan Alva mulai melucuti pakaian mereka helai demi helai hingga tidak ada lagi yang tersisa. Memulai penyatuan mereka yang tidak dapat ditolak oleh disha. Alva begitu pandai dalam permainannya hingga membuat Disha terlena dan akhirnya malam itu mereka lewati dengan pergulatan yang panas.
***
Di kediaman Bramantyo, Anjani nampak gelisah menunggu kedatangan Alva. Sudah satu Minggu Alva tidak pulang ke rumah. Bahkan sudah beberapa kali Anjani datang ke kantor Alva, tapi tetap saja tidak bisa bertemu dengan Alva.
__ADS_1
"Ma, apa Alva tidak pulang juga malam ini?"tanya Anjani yang kebetulan bertemu dengan Ratih di dapur saat akan mengambil air minum.
"Mama tidak tahu sayang,"sahut Ratih.
"Aku sudah beberapa kali ke kantor Alva, tapi juga tidak bisa bertemu dengan Alva, ma. Aku merasa, Alva sengaja menghindari aku ma,"keluh Anjani.
"Biar besok mama yang mencoba bertemu dengan Alva, ya?! Mama akan menyuruhnya untuk pulang,"sahut Ratih yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Anjani.
Keesokan harinya, Ratih pun mendatangi kantor putra semata wayangnya itu.
"Mbak, apa Rendra ada?"tanya Ratih pada seorang perempuan yang tidak lain adalah Disha.
"Maaf, apa anda sudah membuat janji dengan Pak Rendra?"tanya Disha sopan.
"Saya adalah mamanya Rendra,"ucap Ratih sambil tersenyum tipis.
"Oh, maaf. Saya tidak tahu kalau Nyonya adalah mamanya Pak Rendra. Mari saya antar,"ucap Disha sopan.
"Tok..tok...tok..."
"Masuk.!"terdengar suara dari dalam.
"Terimakasih,"ucap Ratih pada Disha yang ditanggapi Disha dengan anggukan kepala dan senyum manis.
"Alva.."panggil Ratih pada putranya yang nampak sibuk dengan laptopnya hingga tidak melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
"Mama?!"ucap Alva yang terkejut mendengar suara mamanya dan langsung mendongakkan kepalanya menatap wanita yang telah melahirkannya itu.
"Apa kamu sangat sibuk hingga sampai tidak sempat pulang selama satu Minggu?"tanya Ratih pada Alva kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Saat siang hari Alva memang sangat sibuk karena saat malam hari Alva tidak akan menyentuh pekerjaannya sama sekali. Saat malam hari Alva akan menghabiskan waktunya untuk bermesraan dengan Disha di ruangan pribadinya.
"Mama lihat sendiri kan? Aku sangat sibuk,"ucap Alva menghentikan pekerjaannya dan menyusul Ratih duduk di sofa.
Tak lama pintu ruangan itu pun diketuk dan muncul lah Disha yang membawa jus jeruk untuk Ratih dan Alva.
"Permisi Nyonya, Pak, ini minumannya,"ucap Disha sopan, kemudian menyuguhkan minuman untuk Alva dan Ratih.
Ratih menatap sekretaris Alva yang sedang membungkuk menyuguhkan minuman dan juga cemilan di meja, dan tak sengaja melihat banyak tanda keunguan di leher Disha.
__ADS_1
"Apa kamu sudah menikah?"tanya Ratih menatap Disha.
"Iya, sudah Nyonya,"jawab Disha tersenyum tipis.
"Sudah berapa lama kamu menikah?"tanya Ratih lagi, membuat Alva menaikkan sebelah alisnya.
"πΎπππππ ππππ ππππ‘πππ¦π π πππππ‘π ππ‘π’ ππππππ π·ππ βπ,"batin Alva.
"Sudah sekitar delapan bulan Nyonya,"jawab Disha sopan.
"Suami kamu pasti sangat mencintaimu,"ucap Ratih masih menatap Disha.
"Kenapa mama bisa berkata seperti itu?"kali ini Alva yang bertanya.
"Jika suaminya tidak mencintainya, dia tidak akan membuat tanda sebanyak itu dilehernya. Lihatlah leher sekretaris mu ini.! Belum sempat tandanya hilang, suaminya sudah membuat yang baru. Kamu pasti capek ya, menghadapi suami seperti itu?"
"Saya jadi kasihan sama kamu, lihatlah wajahmu nampak lelah. Saya yakin kamu tidak bisa tidur nyenyak setiap malam. Sesekali kasih obat tidur saja suami mu itu, biar kamu bisa beristirahat dengan tenang,"nasehat Ratih membuat wajah Disha memerah karena malu.
"ππππππ‘πππ¦π πππ ππππππ¦π πππππ πππ πππππ’ ππππππ πππβ,"batin Disha.
"Mama apa-apaan sich.! Jangan suka ikut campur rumah tangga orang ma.! Bagaimana kalau suaminya memang kepengennya tiap malam? Berdosa dia kalau tidak mau melayani suaminya,"sahut Alva dengan raut wajah yang kesal.
"πΈπππ π πππ ππππ πππ ππππππ π πππππ‘π ππ‘π’. π΅ππ π π ππππ‘ πππ ππππππ ππ‘ππ πππ πππ€πβ πππππ’ πππππ πππππ‘ πππ‘πβ,"gerutu Alva dalam hati.
"Kenapa jadi kamu yang sewot? Kayak kamu saja suami dia,"sahut Ratih yang Herman, maaf maksudnya heran melihat reaksi dari Alva.
"Deg,"Alva jadi kaget dengan pernyataan mamanya itu. Sedangkan Disha hanya menahan tawanya melihat reaksi Alva.
"Bu..bukan begitu. Aku hanya tidak mau hubungan Disha dan suaminya jadi bermasalah karena nasehat mama itu,"ucap Alva agak gugup.
"π΅ππ π-πππ πππ¦π ππππ ππππππππππ πππ πβππ‘ π ππ ππ‘ ππππππ ππ π‘ππ ππ’. π΄ππ’ ππππ π‘πππ πππ π ππππππ πππ πβππ‘ π ππ ππ‘ ππππ ππ‘π’,"batin Alva.
"Saya permisi Nyonya, Pak Rendra,"ucap Disha kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Alva, mama tidak mau tahu , pokoknya malam ini kamu harus pulang,"ucap Ratih tegas.
...π"Tidak semua nasehat yang diberikan orang lain itu baik, jadi pandai-pandailah memilah dan menilai, mana nasehat yang baik dan mana nasehat yang tidak baik."π...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued