
Setelah keluar dari ruangan pesta, Alva dan Disha langsung menuju kamar yang memang khusus Alva siapkan untuk keluarganya dan tidak disewakan. Kamar yang luas juga nyaman.Sedangkan Yessie dan Riky masuk kekamar yang terpisah namun bersebelahan.
"Jagoan papa ganti baju dulu ya, baru bobok,"ucap Alva seraya melepaskan pakaian Kaivan, kemudian membersihkan tubuh Kaivan. Setelah selesai, Alva memakaikan baju piyama pada Kaivan.
"Ma..ma...ma.."celoteh Kaivan saat melihat Disha.
"Sayang, susui lah dulu, biar Kaivan segera tidur,"ucap Alva memberikan Kaivan pada Disha yang baru selesai melepaskan aksesoris yang dipakainya.
"Sini, sayang mama bobok!"ucap Disha kemudian membawa Kaivan dalam pangkuannya dan menyusui Kaivan.
Alva kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian Alva sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Alva hanya memakai celana boxer saja hingga menunjukkan dada bidang dan perut dengan otot-otot yang tercetak jelas dan sempurna.
"Kaivan sudah tidur, sayang?"tanya Alva yang melihat Disha berada di depan box bayi Kaivan.
"Iya, sepertinya Kaivan sangat lelah,"ucap Disha.
"Apa kamu juga lelah, sayang?"tanya Alva berbisik di telinga Disha seraya memeluk Disha dari belakang.
Disha membalikkan tubuhnya lalu mengelus rahang kokoh Alva,"Aku ingin membersihkan diri dulu, tubuhku rasanya lengket sekali,"ucap Disha kemudian mengecup bibir Alva sekilas.
Alva pun tersenyum, lalu melepaskan pelukannya dan membiarkan Disha untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian Disha keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
Disha tidak melihat Alva di dalam kamar dan mendengar Alva sedang berbicara dengan menggunakan bahasa asing dalam sambungan telepon dari arah balkon kamar itu.
Perlahan Disha mendekati Alva dan memeluk Alva yang bertelanjang dada dari belakang, menempelkan pipinya di punggung lebar suaminya. Alva sempat terhenyak karena ulah Disha namun kembali melanjutkan pembicaraannya lewat sambungan telepon dengan mengusap-usap tangan Disha yang melingkar di perutnya. Beberapa saat kemudian, Alva mengakhiri pembicaraan lewat sambungan telepon itu.
Alva meletakkan handphonenya dan melepaskan tangan Disha yang melingkar di perutnya, kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya yang hanya menggunakan bathrobe itu. Memeluk pinggang ramping istrinya dan merapatkan pinggang itu kepada-nya.
"Apa kamu sedang menggodaku, hem?" tanya Alva merapikan rambut Disha yang tertiup angin.
"Apakah berdosa jika menggoda suami ku sendiri?"tanya Disha dengan tangan kiri memegang pundak Alva sedangkan tangan kanannya mengelus lembut dada bidang suaminya yang menimbulkan gelanyar hasraat bagi Alva.
__ADS_1
"Iya, sangat berdosa jika kamu menggoda suami mu sendiri namun hanya sekedar menggoda dan tidak mau melanjutkan nya,"ucap Alva mengelus pipi Disha kemudian mengikis jarak di antara mereka.
"Apakah kau akan tergoda dengan wanita lain selain diriku?"tanya Disha seraya mengelus pipi Alva dengan ibu jarinya.
"Mana mungkin aku tergoda dengan wanita lain?!"ucap Alva.
"Usia ku akan semakin bertambah, dan kulit ku pun lambat laun akan menjadi keriput. Sedangkan diluar sana banyak gadis yang menyukaimu,"ucap Disha menundukkan kepalanya, membuang nafas kasar.
Alva memegang dagu Disha dengan jari jempol dan jari telunjuknya kemudian mengangkatnya agar bisa menatap wajah istrinya itu.
"Cintaku padamu tidak akan berubah walaupun kita menua. Cinta itu bukan semata karena paras rupa, tapi cinta datang dan bertahan karena rasa nyaman. Hidup bersama seorang hartawan dengan paras rupa yang rupawan tidak bisa menjamin kita hidup bahagia jika kita tidak merasa nyaman,"
"Karena cinta itu adanya dan datangnya dari dalam hati. Jika mencari yang lebih muda dan lebih cantik tidak akan pernah ada habisnya. Selama matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat, akan selalu ada wanita yang lebih muda dan lebih cantik,"
"Aku mencintaimu bukan karena fisik dan rupa, aku mencintaimu karena hati ku merasa nyaman dan tenang saat bersamamu. Walaupun sampai detik ini aku tidak pernah tahu alasan apa yang membuat aku tenang dan nyaman saat bersamamu," ujar Alva panjang lebar.
"Sudah menggombal nya? Belajar dari mana kamu kata-kata itu?"ucap Disha sambil tertawa memalingkan wajahnya.
Disha merasa senang dengan kata-kata suaminya, namun tidak mau membuat suaminya menjadi narsis jika Disha memujinya, karena itu Disha sengaja menertawakan Alva.
"Ish..gitu aja ngambek!"cibir Disha.
"Aku akan menghukum mu karena telah membuat aku kesal!"ucap Alva.
"Mau dong di hukum!"ucap Disha seraya mengedipkan sebelah matanya dengan genit lalu tertawa.
"Kamu benar-benar ingin menggoda ku?" ucap Alva mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Disha membuat Disha berhenti tertawa.
Perlahan Alva mencium bibir Disha dengan lembut, tangannya menahan tengkuk Disha untuk memperdalam ciumannya. Mereka pun saling membalas ciuman itu, saling membelit dan sesekali menggigit kecil.
"Kamu yang memancing ku, jadi jangan salahkan aku jika aku memakan mu!"ucap Alva seraya mengusap bibir Disha yang basah karena ciuman mereka tadi.
__ADS_1
"Oh ya?"tanya Disha kembali mengelus dada Alva lalu turun ke perut seraya memberikan beberapa tanda merah di dada Alva.
Alva memejamkan matanya meremas rambut Disha. Apalagi saat jemari Disha menyentuh sesuatu di bawah sana yang mulai menegang. Disha mengelus dengan sensual membuat Alva menggeram saat sesuatu di bawah sana terasa semakin mengeras dan semakin sesak.
"𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐬𝐭𝐞𝐦𝐩𝐞𝐥 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐦𝐮, 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐩 𝐦𝐮 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐥𝐚𝐣𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐠𝐢. 𝐁𝐢𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐭𝐚𝐡𝐮 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐚𝐝𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐮𝐧𝐲𝐚,"batin Disha terus membuat tanda di tubuh Alva.
Alva yang tidak tahan lagi dengan kenakalan Disha, akhirnya mengangkat tubuh Disha dan membawanya masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh Disha di atas ranjang lalu segera menindihnya. Tidak seperti biasanya, malam ini Disha begitu agresif membuat Alva benar-benar tidak bisa menggambarkan indahnya malam itu.
Disha membuat banyak tanda di tubuh Alva tidak seperti biasanya.Selama ini Disha hanya membuat tanda yang samar dan mudah hilang. Tapi kali ini Disha membuat tanda yang begitu banyak dan jelas di tubuh Alva.
Alva pun sama, karena Alva memang suka sekali melukis di kulit istrinya yang putih mulus itu. Akhirnya malam itu pun mereka habiskan dengan memadu kasih di atas ranjang hingga mereka merasa kelelahan.
Pagi datang menyapa, Disha menggeliat dalam dekapan Alva. Perlahan Disha membuka matanya dan menatap wajah suaminya yang masih memejamkan matanya. Tangannya terulur untuk menyentuh rahang kokoh Alva. Sepintas Disha teringat kembali dengan kejadian tadi malam.
Disha ingat bagaimana cara Trisha menatap Alva. Tatapan penuh cinta dan penuh pengharapan akan balasan yang sama. Membuat hati Disha semalam begitu sesak namun berusaha bersikap tenang di depan semua orang.
Tidak bisa di pungkiri Disha bahwa suaminya memang tampan dan mempesona sehingga banyak wanita yang ingin memilikinya.
"𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐮 𝐛𝐢𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐮! 𝐀𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐮 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐤𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮,"batin Disha mengelus rahang kokoh suaminya.
Tanpa Disha duga Alva menggenggam tangannya itu lalu menciumnya. Perlahan Alva membuka matanya dan tersenyum manis pada wanita yang masih ada dalam dekapannya itu.
"Kamu tahu kenapa aku selalu ingin tidur dengan memeluk mu?"tanya Alva dengan suara serak khas suara orang yang baru bangun tidur.
"Tidak"jawab Disha jujur.
"Karena aku tidak ingin saat aku bangun kamu tidak ada di sisiku. Aku ingin saat aku membuka mata, yang pertama kali aku lihat adalah kamu,"ucap Alva seraya mengelus pipi Disha.
"Kenapa?"tanya Disha seraya mengernyitkan keningnya.
...🌟"Jika kamu mencintai seseorang, tidak mungkin kamu tidak memiliki rasa cemburu."🌟...
__ADS_1
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued