
Di kantin perusahaan Bramantyo Group, seperti biasanya, Disha, Icha dan Yessie sedang menikmati makan siang mereka. Mereka duduk dipojok dan agak jauh dari tempat duduk karyawan yang lain, sehingga pembicaraan mereka tidak terlalu terdengar oleh karyawan yang lain.
"Hari ini kayaknya cerah sekali, ada apa gerangan yang membuat hari ini begitu berseri-seri?"ucap Yessie sambil melirik Icha yang hari ini nampak bahagia, kemudian mulai menyantap makanannya.
"Kakak udah pulang, ya?"tebak Disha kemudian juga mulai menyantap makan siangnya.
"Belum, tapi katanya nanti sore mau pulang,"sahut Icha dengan senyum yang menghias bibirnya kemudian melanjutkan menyantap makanannya.
"Pantesan, hari ini begitu indah seperti musim bunga sakura yang lagi bermekaran,"ledek Yessie sambil makan.
"Cie..cie.. yang lagi RiBa,"timpal Disha kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Riba apaan? Pinjam duit juga kagak,"sahut Icha seraya mengernyitkan keningnya.
"RiBa alias Rindu Banget,"ucap Disha membuat ketiga nya tertawa.
"Ada-ada saja,"sahut Icha menggeleng pelan kemudian lanjut makan.
"Oh Tuhan, aku sudah tidak sabar menunggu sore datang. Kenapa hari ini rasanya lambat sekali berjalan? Sedetik serasa satu jam, semenit rasa seminggu, satu jam berasa sebulan,"ucap Yessie seolah membaca puisi membuat Icha malu.
"Oh, Kakanda sayang, aku tunggu kedatangan mu,"sambung Disha membuat dia sendiri dan Yessie terkekeh geli.
"Issh...apaan sich, kalian ini!"ketus Icha bersungut-sungut karena malu digoda Disha dan Yessie.
__ADS_1
"Namanya juga pengantin baru, Yes. Masih anget-angetnya,"ujar Disha mengulum senyum sambil melirik Icha kemudian meminum jus nya.
"Iya sich, tapi walaupun pengantin usang juga harus tetep anget kan, jangan kalah sama pengantin baru,"celetuk Yessie kembali terkekeh.
"Bener itu, malah yang usang yang harus lebih anget, biar suami nggak kepikiran nyari ban serep,"imbuh Disha.
"Ban serep, emang mobil apa? Pakai ban serep segala,"celetuk Icha yang masih sebel karena digoda Disha dan Yessie.
"Maksudnya biar nggak cari wanita lain,"sahut Disha yang hampir selesai makan.
Yessie mendekat kearah kedua sahabatnya kemudian berkata dengan pelan,"Mangkanya harus full servis di atas ranjang biar nggak kepikiran nyari yang lain karena udah tepar duluan di rumah,"ujar Yessie kembali terkekeh, diikuti Disha dan Icha.
"Wah, bener-bener udah nggak polos lagi nich, anak,"ucap Icha kembali terkekeh.
Disha melambaikan tangannya memberi isyarat agar kedua sahabatnya mendekat, Yessie dan Icha pun langsung mendekat pada Disha.
"Bener, tuch! Aku yakin seratus persen,"imbuh Icha ikut tertawa.
"Sialan kalian! Kalau ngomong suka bener,"ucap Yessie membuat tawa ketiga sahabat itu makin meledak.
"By the way, suami kamu baru pulang ya, Dis?"tanya Icha yang baru menyelesaikan makannya.
"Iya,"sahut Disha nampak tidak bersemangat, dan ikut menyelesaikan makan siangnya.
__ADS_1
"Kok, malah kelihatan kayak nggak seneng gitu?"tanya Yessie yang juga baru selesai makan, mengernyitkan keningnya menatap Disha.
"Kamu masih berantem sama suami kamu? Belum baikan juga?"tanya Icha yang juga terlihat penasaran dengan ekspresi Disha yang langsung berubah muram saat ditanya soal Alva.
"Sudah. Walaupun semalam sempat salah paham,"ucap Disha menghela napas panjang.
"Sempat salah paham? Maksudnya?"tanya Icha semakin penasaran.
"Semalam dia pulang larut malam, tidak sesuai jadwal dia pulang. Aku sampai nggak tidur karena nungguin dia pulang. Tapi aku terkejut saat mendapati bau parfum wanita di pakaian nya dan ada bekas lipstik di kemejanya. Aku sempat marah sama dia dan menuduh dia selingkuh. Ternyata itu bukan parfum dan lipstik dari wanita selingkuhan nya, melainkan dari waria yang meluk dan mengejar-ngejar dia di bandara. Soal dia pulang terlambat ternyata ada kecelakaan beruntun yang membuat dia terjebak macet. Itu, kecelakaan yang terjadi di daerah xx, kalian lihat beritanya nggak?"tanya Disha setelah bercerita panjang lebar.
"Iya, aku lihat. Kecelakaan yang terjadi dari sekitar jam delapan kalau nggak salah ingat, dan tiga jam kemudian, kendaraan yang mengular panjang karena kecelakaan itu baru bisa bergerak,"sahut Icha yang juga menonton berita yang sempat heboh semalam.
"Iya, aku juga lihat beritanya. Korban meninggal dan luka-luka nya banyak banget. Sampai-sampai ada mobil yang meledak dan terbakar karena kecelakaan itu. Pemadam kebakaran kesulitan untuk menjangkau lokasi kecelakaan, karena banyaknya kendaraan yang terjebak macet di sekitar tempat kejadian,"imbuh Yessie.
"By the way, jika sudah tidak ada salah paham lagi dan masalah yang kemarin sudah kelar, lalu kenapa wajahmu masih suram seperti itu?"tanya Icha yang nampak mengerutkan keningnya.
"Memang sudah selesai, tapi aku merasa bersalah pada Alva,"ucap Disha menghela nafas panjang dengan wajah yang terlihat lesu.
"Merasa bersalah? Kenapa?"tanya Yessie seraya memicingkan matanya.
"Karena menuduh dia yang bukan-bukan?"timpal Icha.
"Iya, tapi selain itu, aku juga merasa bersalah karena hal lain. Selama ini, Alva selalu memberikan apapun yang aku butuhkan sebelum aku memintanya. Tapi saat dia meminta sesuatu dari ku.."Disha menjeda ucapnya untuk menghela napas, membuat Yessie dan Icha semakin penasaran,"Saat dia meminta sesuatu dari ku, aku malah merasa berat untuk mengabulkan keinginan nya,"ucap Disha tertunduk, nampak ada sesuatu yang membebani hatinya.
__ADS_1
"Apa yang diminta nya dari mu?"tanya Icha hati-hati.
To be continued