Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
43. Mengaku Salah


__ADS_3

Seperti biasanya, sore itu Disha pulang lebih dulu dari Alva. Disha mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya, sedangkan Alva yang baru pulang langsung mandi di kamar mandi yang lain.


"Astaga..Al.!!"pekik Disha yang terkejut karena saat baru keluar dari kamar mandi Alva tiba-tiba memeluknya.


"Kamu selalu wangi sayang, aku suka aroma tubuhmu,"ucap Alva sambil mengendus leher Disha.


"Al, lepaskan aku.!! Kamu masih banyak kuman,"ucap Disha mencoba melepaskan tangan Alva yang melingkar di perutnya.


"Aku sudah mandi sayang,"ucap Alva sambil menggosok-gosokkan hidungnya di leher Disha.


"Lepaskan Al, aku mau pakai baju,"ucap Disha yang sekarang memang hanya menggunakan bathrobe.


"Kamu lebih seksi jika tanpa menggunakan apapun,"bisik Alva ditelinga Disha kemudian menggigit kecil telinga Disha.


"Al... lepaskan! Aku mau ganti baju," ucap Disha lagi, takut tergoda karena ulah Alva.


Alva mengecup pipi Disha dengan lembut, kemudian melepaskan pelukannya. Setelah selesai memakai pakaiannya, Disha duduk bersandar di dashboard ranjang sambil memainkan gadget nya.


"Sayang, ini untuk mu,"ucap Alva menyodorkan sebuket bunga mawar berwarna merah dan putih.


"Tumben sekali kamu memberikan aku bunga,"ucap Disha menerima buket bunga itu dengan tangan kanannya, mencium aroma wangi bunga itu yang terasa menyegarkan.


"Aku minta maaf, mungkin cintaku berlebihan, dan cemburu ku keterlaluan. Tapi sungguh, aku sulit mengontrol diriku sendiri jika aku sedang cemburu. Maafkan aku sayang, please.!!"mohon Alva sambil menggenggam tangan kiri Disha.


Disha menghela nafas panjang, kemudian menatap mata Alva lekat-lekat seolah sedang mencari sesuatu didalam mata itu.


"Al, bisakah kamu percaya padaku?Kepercayaan merupakan salah satu kunci suksesnya sebuah hubungan. Sebuah hubungan tidak akan bisa bertahan lama jika tidak dilandasi dengan kepercayaan," ucap Disha.


"Maafkan aku sayang, aku terlalu mudah cemburu. Aku tahu rasa cemburuku ini terlalu, tapi itu semua karena aku takut kehilangan kamu , sayang. Setelah mama, kamu adalah wanita pertama dan satu-satunya yang pernah aku cintai, sayang,"ucap Alva dengan suara dan tatapan lembut kepada Disha.


"Aku tidak tahu harus berapa kali lagi aku harus memaafkan kamu, Al,"ucap Disha menghela nafas berat.


"Maafkan aku ya, sayang?! Please.!!"ucap Alva memasang wajah melas dan puppy eyes nya.

__ADS_1


"Hemm,"sahut Disha singkat.


"Terimakasih, sayang,"ucap Alva dengan wajah berbinar-binar langsung memberondongi wajah Disha dengan kecupan.


"Sama-sama, tapi sebagai hukumannya, kamu tidak boleh minta jatah malam ini,"ucap Disha kemudian beranjak dari duduknya dan mengambil vas bunga yang terbuat dari kaca yang berwarna pelangi untuk meletakkan bunga yang sudah diberikan Alva.


"𝐍𝐚𝐬𝐢𝐛 𝐝𝐞𝐜𝐡!! 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐞𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐤𝐞𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐬𝐚𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚,"batin Alva sambil menunduk menatap keris pusaka nya kemudian menghela nafas panjang.


Tak lama kemudian Disha sudah kembali duduk di dasbor ranjang dan kembali memainkan gadget nya. Alva yang dari tadi masih duduk di atas ranjang pun beringsut untuk mendekati Disha kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Disha.


"𝐄𝐡, 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐬𝐢 𝐚𝐥𝐢𝐞𝐧 𝐢𝐧𝐢?"batin Disha saat Alva merebahkan kepalanya di pangkuan Disha sambil memeluk pinggang Disha dan sesekali mengusal-ngusal wajahnya di perut Disha.


"Aku ingin memiliki bayi dengan mu sayang,"ucap Alva menengadahkan kepalanya menatap wajah Disha.


Disha tidak mengomentari kata-kata Alva. Disha hanya tersenyum tipis menatap wajah Alva yang ada di pangkuannya sambil membelai rambut Alva yang hitam dan tebal itu. Alva pun kembali menenggelamkan wajahnya di perut Disha.


"𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮. 𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐣𝐚𝐮𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐞𝐝𝐚, 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐡𝐮, 𝐜𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐥𝐚𝐦𝐛𝐚𝐭 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐮𝐚𝐦𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐢 𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐭𝐚.𝐃𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐢𝐛𝐚, 𝐚𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐢𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐤𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐤𝐥𝐚𝐬𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐮,"batin Disha.


Tanpa sengaja Disha menitikkan air mata, namun sebelum buliran bening itu jatuh ke wajah Alva yang ternyata sudah terlelap dalam pangkuannya, Disha langsung menghapus air matanya.


Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu dan bulan pun berganti bulan. Dengan segala yang dimilikinya, Alva menjauhkan Disha dari Hery. Bahkan semenjak Disha memberikan nomor ponsel Ferdi kemarin, Hery tidak pernah lagi bertemu dengan Disha.


Walau Hery sudah berusaha mencari informasi tentang Disha, dan dengan segala macam alasan datang ke kantor Alva agar bisa bertemu Disha, namun nyatanya Hery tidak bisa bertemu dengan Disha dan tidak mendapatkan informasi apapun tentang Disha.


Sudah empat bulan semenjak Anjani tinggal di rumah Bramantyo, Alva jarang sekali pulang. Anjani juga sudah beberapa kali datang ke kantor Alva,tapi jarang bisa bertemu dengan Alva. Sedangkan Bramantyo pun sepertinya tidak mempermasalahkan Alva pulang atau tidak.


Perlahan Anjani turun ke lantai satu dan di lihatnya Ratih sedang berada ruang keluarga bersama Bramantyo. Anjani mencoba untuk menanyakan lagi tentang Alva kepada kedua mertuanya itu.


"Pa, ma. Apa Alva tidak pulang juga malam ini?"tanya Anjani menghampiri kedua mertuanya itu.


"Mama tidak tahu sayang. Mama sudah sering menelpon Alva, tapi dia selalu bilang kalau dia sedang sibuk,"sahut Ratih.


"Apa sesibuk itu ma, sampai-sampai tidak sempat untuk pulang ke rumah?"keluh Anjani.

__ADS_1


"Pa, apa benar Alva sangat sibuk?"tanya Ratih pada Bramantyo.


"Memang papa dengar, Alva banyak pekerjaan semenjak akhir-akhir ini. Dia mendapatkan banyak tender proyek dan juga kesepakatan kerja sama dengan beberapa perusahaan. Bahkan Alva mendapatkan investor yang berinvestasi besar di perusahaan kita, ma,"jelas Bramantyo.


Bramantyo selama ini selalu mengutamakan kepentingan perusahaan di atas segalanya. Karena itu Bramantyo tidak mempermasalahkan Alva pulang atau tidak, asal perusahaannya berjalan lancar. Walaupun Adiguna sering menerornya karena mengeluhkan soal sikap Alva kepada Anjani.


Apa lagi sekarang semenjak Alva mempunyai sekretaris yang baru, Alva semakin bersemangat dalam bekerja. Sudah banyak kemajuan di perusahaannya karena sepak terjang Alva bersama asisten dan sekretaris barunya itu, yang membuat Bramantyo menjadi senang.


Sedangkan Anjani yang berprofesi sebagai foto model pun juga tergolong sibuk. Jadwal kerja yang padat dan tidak tentu waktunya membuatnya semakin susah untuk bertemu Alva.


Mengadu pada papanya pun percuma, karena Alva sama sekali tidak mempan digertak atau pun dimarahi Adiguna.


"Halo,pa,"sahut Anjani menjawab panggilan dari Adiguna.


"Sayang, besok kamu ada kegiatan apa tidak?"tanya Adiguna.


"Nggak pa, memangnya ada apa, pa?"tanya Anjani.


"Besok ikut makan malam dengan papa ya?!"ajak Adiguna.


"Kalau papa mau menjodohkan aku dengan rekan bisnis atau anak rekan bisnis papa aku nggak mau pa,"sahut Anjani.


Adiguna akhir-akhir ini memang sudah beberapa kali mempertemukan Anjani dengan rekan bisnisnya atau pun dengan anak rekan bisnisnya. Hal itu Adiguna lakukan karena merasa rumah tangga putrinya sama sekali tidak ada kemajuan. Dan entah mengapa Adiguna mempunyai feeling bahwa rumah tangga putrinya tidak akan lama lagi.


"Sayang, untuk apa kamu mempertahankan rumah tangga yang seperti itu? Kamu sama sekali tidak dihargai oleh Alva sayang. Papa akan mencarikan pria yang lebih segala dari Alva,"


"Papa tidak mau putri papa disia-siakan. Papa juga butuh penerus untuk perusahaan papa. Pokoknya besok kamu harus datang, jika tidak, papa akan memblokir kartu kredit kamu dan berhenti mentransfer uang ke rekening kamu,"ancam Adiguna.


"Pa....."


"Tut..Tut...Tut...."


...🌟"Sebuah hubungan yang tidak dilandasi dengan kepercayaan, tidak akan lama bisa bertahan."🌟...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued


__ADS_2