
Hery melajukan mobilnya seperti orang kesetanan, berkali-kali mendahului kendaraan lain, membunyikan klakson berkali-kali setiap berada di jalanan yang ramai atau pun macet. Tidak sekali dua kali pengguna jalan yang lain memaki dan mengumpat dirinya, namun Hery sama sekali tidak menghiraukan mereka.
"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Ruzian. Aku memang bukan anak yang baik, aku bukan suami yang baik, bukan pula ayah yang baik untuk putraku, tapi aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu pada darah daging ku sendiri," gumam Hery dengan mata yang fokus pada jalan raya.
Sedangkan Sandy yang menyusul Hery pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun tidak seperti Hery yang mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan, Sandy melajukan mobilnya penuh perhitungan dan berusaha sebaik mungkin melajukan mobilnya dengan cepat tanpa membuat pengendara lain merasa terganggu.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Hery menjadi panik seperti itu setelah mengetahui Anjani dan Ruzian memakai mobilku itu? Apa ada sesuatu yang tidak beres dengan mobil yang dikendarai oleh Anjani? Apa Hery ingin mencelakai aku lewat mobil ku itu, dan dia salah sasaran? Aku berharap asumsi ku itu tidak benar. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Anjani dan Ruzian," gumam Sandy dengan mata fokus ke jalan raya.
Di sisi lain, Anjani mengendarai mobilnya dengan santai, namun Anjani menambah kecepatan mobilnya saat ingin mendahului sebuah truk yang sarat dengan muatan kayu hingga membuat truk itu melaju dengan lambat.
"Eh..kenapa mobil ini melaju semakin cepat?"gumam Anjani setelah berhasil mendahului truk tadi, lalu mencoba mengurangi kecepatan mobilnya dengan menginjak pedal rem. Namun rem mobil itu nampak tidak berfungsi membuat Anjani menjadi panik.
"Ya Tuhan...kenapa remnya tidak berfungsi? Padahal tadi masih baik-baik saja, kenapa sekarang rem mobil ini menjadi blong? Bagaimana ini?"gumam Anjani seraya terus fokus pada jalan, sesekali melirik Ruzian yang masih terlelap di baby seat car nya. Anjani berusaha setenang mungkin melajukan mobilnya, namun saat melewati sebuah jembatan seketika Anjani membulatkan matanya saat tiba-tiba ada pengendara mobil di depannya yang tiba-tiba memutar arah mobilnya.
"Akhh... tidaakk,"Anjani seketika membelokkan mobilnya dan menabrak pembatas jalan sehingga mobil Anjani yang melaju kencang itu menerobos pagar jembatan dan posisi mobil Anjani menggantung di pinggir jembatan dengan separuh badan mobil yang sudah menggantung di luar jembatan seperti jungkat jungkit yang berporos pada pagar jembatan. Kadang bagian depan mobil itu nampak turun ke arah sungai, namun kadang nampak turun ke trotoar jembatan.
Seketika Ruzian menangis karena terkejut saat mobil yang menabrak pagar jembatan,"Ruzian, jagan menangis, sayang!"ucap Anjani berusaha menenangkan putranya dengan mengelus kepala bayi itu.
Wajah Anjani pucat pasi dan tubuhnya pun gemetar, di depan matanya nampak sungai yang mengalir dengan deras dengan air yang meluap karena hujan deras yang mengguyur kota itu semalam. Anjani mencoba membuka pintu mobilnya, dengan mencoba mengimbangi tubuhnya agar mobil itu lebih berat bagian belakang dan mobil itu tidak jatuh ke dalam sungai, namun Anjani nampak tidak bisa membuka pintu mobil itu. Jika Anjani membukanya dengan kuat, dia takut mobil itu akan langsung jatuh ke sungai, membuat Anjani semakin panik, tanpa terasa, air matanya pun jatuh begitu saja.
Sedangkan jalanan yang dilewati Anjani itu, entah mengapa sepi sekali, tak satupun kendaraan yang melintas di jalan itu, hingga Anjani tidak bisa meminta tolong pada siapapun.
__ADS_1
"Apa hidupku akan berakhir sampai di sini? Ya Tuhan... tolong aku!"gumam Anjani dalam tangisnya, sedangkan Ruzian menangis semakin kencang, membuat Anjani semakin panik.
Di sisi lain, setelah melaju dengan kencang di jalanan, akhirnya Hery melihat mobil yang dikendarai oleh Anjani menggantung di jembatan. Dengan cepat Hery keluar dari mobilnya
"Anjani.!"pekik Hery. Hery pun langsung menghampiri mobil Anjani.
"Tolong Ruzian! Selamatkan dia, Her!" pinta Anjani dalam isak tangisnya.
Hery mencoba membuka pintu mobil bagian penumpang di sebelah kursi kemudi. Namun Hery nampak kesulitan menjangkau pintu mobil itu karena badan mobil yang setengah nya menggantung di pinggir jembatan dan bergerak seperti jungkat jungkit. Jika Hery tidak bisa mengimbangi tubuh nya, bisa-bisa dia juga akan jatuh ke dalam sungai itu. Kemudian Hery memutari mobil dan mencoba membuka pintu mobil bagian kemudi dimana Anjani berada.
"Her, tolong Ruzian dulu!"pinta Anjani.
"Tidak bisa, aku sulit menjangkau pintu mobil di tempat Ruzian,"sahut Hery. Dengan susah payah Hery berhasil membuka pintu mobil bagian kemudi yang macet sambil berusaha menahan badan mobil agar tidak jatuh ke sungai.
"Tapi Ruzian..,"
"Kamu turun lebih dulu! Biar nanti aku yang mengeluarkan Ruzian,"ucap Hery, sedangkan Ruzian masih saja menangis.
Dengan susah payah, Anjani menjangkau tempat untuk berpijak yang agak jauh dari pintu mobil, sedangkan Hery terus menahan mobil agar tidak jatuh ke sungai dengan sebelah tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya dia ulurkan pada Anjani agar Anjani bisa keluar dari mobil itu dan berpegangan pada tangannya.
Dengan susah payah akhirnya Anjani bisa keluar dari mobil itu. Hery langsung membuka pintu belakang mobil bagian penumpang. Dia berusaha melepaskan baby seat car Ruzian dengan mobil yang semakin condong ke sungai, walaupun Anjani sudah berusaha untuk menahan mobil itu agar tidak condong ke sungai, namun sedikit demi sedikit mobil itu semakin condong ke sungai.
__ADS_1
Hery berhasil mengambil Ruzian, kemudian berusaha keluar dari mobil itu, namun saat Hery kembali membuka pintu, mobil itu semakin bergerak ke arah sungai, membuat Anjani dan Hery semakin panik.
Sandy yang melihat mobil Hery berhenti di jembatan pun langsung menghentikan mobilnya dan sangat terkejut saat melihat mobil yang dikendarai oleh Anjani sudah hampir jatuh ke dalam sungai. Tinggal beberapa langkah lagi Sandy sampai pada Anjani dan mendengar....
"Anjani, tangkap Ruzian!"teriakan Hery yang merasakan sebentar lagi mobil itu akan jatuh ke sungai. Hery pun langsung melemparkan Ruzian ke arah Anjani. Reflek Anjani langsung menangkap tubuh Ruzian yang dilemparkan Hery padanya dan berhasil ditangkap nya. Tapi nahas, tanpa bisa ditahan lagi mobil itu langsung meluncur ke dalam sungai sebelum Hery bisa keluar dari dalam mobil itu.
"Hery.!!"pekik Anjani yang hanya bisa melihat Hery yang masih berada di dalam mobil itu jatuh kedalam sungai.
"Anjani!"panggil Sandy langsung memeluk Anjani dan Ruzian kemudian matanya melihat mobil yang dikendarai Anjani yang jatuh ke dalam sungai.
"Walaupun aku mati, setidaknya anakku bisa selamat. Maafkan papa Ruzian! Papa bukan papa yang baik untuk mu. Mungkin memang seharusnya Sandy yang menjadi papamu, karena walaupun dia bukan ayah kandung mu, dia lebih menyayangi mu dari pada aku. Semoga kamu selalu bahagia Ruzian,"gumam Hery menatap Anjani dan Ruzian dipeluk Sandy, sebelum tubuhnya jatuh ke dalam sungai. Karena berada di dalam mobil yang masuk ke dalam sungai yang dalam dan deras, Hery pun tenggelam bersama mobil itu.
"Kak, He..Hery...ada di dalam mobil itu. Dia tadi yang menyelamatkan kami,"ucap Anjani sambil terisak.
"Sandy langsung mengambil handphone nya dari dalam saku celananya kemudian menghubungi TIM SAR untuk mencari Hery yang tenggelam ke dalam sungai itu kemudian membawa Anjani pulang.
...π"Rasa iri, benci dan dengki hanya akan membuahkan kehancuran dan tidak akan pernah membuahkan kebahagiaan."π...
..."Nana 17 Oktober."...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
To be continued