Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
221. Terharu


__ADS_3

"Brakk" tiba-tiba pintu ruangan Bramantyo terbuka.


"Anda tidak boleh masuk tanpa izin!" pekik seorang karyawan berusaha menarik keluar orang yang menerobos masuk ke ruangan Bramantyo.


"Kau!"ucap Bramantyo nampak terkejut.


"Lepaskan!"sentak perempuan yang menerobos itu.


"Pak, mohon maaf, perempuan ini menerobos masuk,"ucap karyawan itu lagi masih mencoba menahan perempuan yang menerobos masuk itu.


"Aku bilang lepaskan aku!"bentak perempuan itu lagi, mencoba menyingkirkan karyawan Bramantyo yang masih menahannya.


"Sudah, tidak apa-apa. Kamu boleh pergi!"ucap Bramantyo pada karyawan nya itu.


"Baik, Pak,"ucap karyawan itu, menatap si penerobos dengan tatapan sengit, melepaskan perempuan yang di tahannya, kemudian membuka pintu dan meninggalkan ruangan itu.


"Ada perlu apa kamu datang kemari?" tanya Bramantyo menatap perempuan di depan nya dengan tatapan dingin, sedangkan Vidio call yang dilakukan Ratih masih tersambung tanpa disadari Bramantyo, sehingga Ratih bisa mendengar suara yang ada di ruangan itu, tapi hanya bisa melihat wajah Bramantyo karena posisi handphone Bramantyo yang diletakkan tepat di depan Bramantyo.


"Kamu masih marah padaku, karena aku meninggalkan mu dulu?"tanya perempuan itu seraya berjalan mendekati Bramantyo,


"To the point saja, tidak usah berbelit-belit! Aku tidak punya banyak waktu untuk berbincang dengan mu. Apa tujuan kamu datang kesini"tanya Bramantyo dengan raut wajah dingin dan tatapan kebencian.


"Tidak usah bersikap dingin seperti itu. Aku tahu, sebenarnya kamu itu sangat merindukan aku, kan?"tanya perempuan itu percaya diri, membuat Ratih penasaran, siapa yang masuk ke ruangan suaminya itu.


Nampak Bramantyo tersenyum dingin mendengar kata-kata perempuan yang tidak lain adalah Neda itu. "Merindukan kamu? Cih, percaya diri sekali kamu. Aku tidak akan merindukan pengkhianat sepertimu,"ucap Bramantyo menatap tidak suka perempuan itu.


"Oh ya? Aku tidak yakin kamu sudah tidak mencintai aku. Kamu menjadikan wanita bernama Ratih itu sebagai tempat pelampiasan dan pelarian, kan? Aku tahu kamu tidak pernah bisa melupakan aku,"ucap Neda yang merasa percaya bahwa Bramantyo masih mencintai dirinya.


"Masih mencintai mu?"tanya Bramantyo dengan senyuman dingin,"Aku sudah membunuh rasa cintaku padamu saat kamu meninggalkan aku dalam keterpurukan. Sekarang dan sampai akhir napas ku, aku hanya akan mencintai Ratih seorang. Dia adalah wanita yang selama 31 tahun ini selalu ada di sisiku, yang selalu menemaniku dalam suka dan duka ku,"

__ADS_1


Tidak ada lagi namamu atau nama perempuan lain di hatiku selain nama Ratih seorang. Cinta kami dibangun dengan rasa saling perduli, saling mengerti, saling memahami, saling menyayangi dan saling membutuhkan, bukan dibangun dengan keegoisan dan kepalsuan, seperti cintamu kepada ku dulu,"ucap Bramantyo tegas begitu menohok di hati Neda.


Ratih yang melihat ekspresi dan mendengar kata-kata Bramantyo melalui video call, tidak terasa menitikkan air mata karena terharu mendengar perkataan Bramantyo barusan.


"Kamu benar-benar sudah tidak mencintai aku lagi?"tanya Neda nampak kecewa.


"Tidak!"jawab Bramantyo singkat, tegas dan jelas.


"Tapi aku masih mencintai kamu, Tyo. Aku ingin kembali padamu," ucap Neda memelas.


Bramantyo tersenyum dingin,"Tapi sayang, seribu kali sayang, aku sudah tidak mempunyai cinta untuk mu walaupun hanya seujung kuku. Dan sampai mati pun aku tidak akan pernah kembali padamu,"sahut Bramantyo dengan ekspresi yang begitu dingin.


"Kalau begitu, tolong bantu aku untuk lepas dari Nalendra! Aku sangat tersiksa hidup dengan nya.Tolong aku,Tyo! Dia sering memperlakukan aku dengan kasar dan sering menyiksa aku secara fisik. Tolong bantu aku agar terbebas dari Nalendra, Tyo!"pinta Neda seraya meraih tangan Bramantyo yang berada di atas meja, namun langsung ditepis oleh Bramantyo.


Ratih yang dari tadi penasaran dengan wanita yang sedang berbicara dengan suaminya itupun sekarang tahu, siapa yang mendatangi suaminya di tempat kerjanya itu.


"Jika kamu kesini untuk meminta pertolongan dari ku karena kamu dianiaya oleh suamimu, kamu datang ke tempat yang salah. Seharusnya kamu datang ke kantor polisi dan meminta pertolongan kepada mereka. Aku tidak berminat ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain,"ujar Bramantyo nampak acuh.


"Ya, seharusnya kamu meminta pertolongan dari putramu yang bernama Niko itu, bukan padaku,"tukas Bramantyo.


"Bukan pada Niko, tapi pada Alva. Niko bukanlah putraku, dia adalah anak tiri ku. Alva putra kita, kan?"tanya Neda.


"Putra mu? Putramu yang mana? Bayi yang setelah lahir kamu tinggalkan begitu saja?"sambar Bramantyo.


"Kamu jangan menutupinya dari ku! Aku yakin Alva adalah putraku,. Aku akan menemuinya dan mengatakan bahwa aku adalah ibu kandungnya. Jika perlu aku akan melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa Alva adalah putraku,"sahut Neda menggebu-gebu.


"Silahkan saja kamu temui Alva, dan katakan apa yang ingin kamu katakan padanya. Kamu pikir aku takut? Alva bukan bayi yang kamu tinggalkan 31 tahun yang lalu. Dia pria dewasa, seorang suami dan juga seorang ayah. Alva adalah pria bijak dan penuh tanggung jawab, pria yang berdedikasi pada keluarganya dan sangat kami banggakan,"


"Alva tumbuh menjadi pria hebat dan sukses diusia muda dengan kepribadian yang mulia, karena Alva dibesarkan oleh seorang ibu yang tangguh, hebat dan mulia,"ucap Bramantyo berapi-api, nampak terpancar rasa bangga pada istri dan putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


Dari kata-kata Bramantyo itu, secara tidak langsung Ratih telah dipuji dan dibanggakan oleh Bramantyo. Dan hal itu membuat Ratih menitikkan air mata karena rasa haru.


"Ya, dan dia adalah putraku,"sahut Neda penuh percaya diri.


"Tanyakan sendiri pada Alva, putra siapakah dia? Sekarang, enyah lah dari hadapan ku. Kamu hanyalah masa laluku, dan tidak akan pernah menjadi masa depanku. Pergi! Dan jangan pernah lagi menunjukkan wajah mu di hadapan ku! "bentak Bramantyo dengan suara yang menggelar, membuat Neda terserak. Dengan rasa kesal dan kecewa, akhirnya Neda meninggalkan tempat itu.


"Dasar perempuan ****** sialan! Tidak tahu diri! Tidak punya malu! Berani sekali dia mendatangi ku dan mengatakan ingin kembali padaku, setelah apa yang pernah dia lakukan padaku dulu,"umpat Bramantyo penuh amarah.


"Tenang, pa! Jangan emosi! Tidak baik untuk kesehatan!"ucap Ratih yang dari tadi hanya diam, membuat Bramantyo tersentak.


"Ma...mama!"ucap Bramantyo tergagap saat mendengar suara Ratih, dan baru menyadari bahwa tadi dirinya sedang melakukan panggilan video dengan Ratih.


"Sudah! Jangan emosi lagi!"ucap Ratih tersenyum lembut.


"Jadi dari tadi mama mendengar semuanya?"tanya Bramantyo.


"Iya, mama mendengar semuanya. Terimakasih karena di hati papa hanya ada mama. Terimakasih karena papa merasa bangga memiliki mama. Mama begitu tersanjung saat papa mengatakan bahwa mama adalah seorang ibu yang tangguh, hebat dan mulia. Mama tidak pernah menyangka jika selama ini, papa menilai mama seperti itu,"ucap Ratih yang terisak karena tidak kuasa lagi membendung rasa haru dan bahagia.


"Jangan menangis, ma! Sungguh, selama ini papa merasa, mama adalah seorang istri dan juga seorang ibu yang sangat sempurna di mata papa,"ujar Bramantyo menatap lekat wajah istrinya dari layar handphonenya. Ingin rasanya dia memeluk dan mengusap air mata wanita yang begitu dicintai nya itu. Wanita yang sudah sekitar 31 tahun ini selalu setia mendampingi dirinya.


...๐ŸŒŸCinta yang tulus terbentuk dari perhatian, keperdulian, pengertian,...


... saling memahami, saling menyayangi dan saling membutuhkan,...


... yang akhirnya melahirkan rasa nyaman....


...Cinta tidak akan pernah terbentuk dari sebuah kepalsuan dan keegoisan."๐ŸŒŸ...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


...๐ŸŒธโค๏ธ๐ŸŒธ...


To be continued


__ADS_2