
Setelah Hery keluar dari ruangannya, tak lama kemudian Alva pun keluar dari ruangannya. Namun betapa terkejutnya Alva saat melihat Disha berusaha melepaskan tangannya yang dipegang oleh Hery.
"Lepaskan wanita itu Tuan Hery Darmawan.!!"ucap Alva menggema ditempat itu.
Semua orang pun menoleh kearah sumber suara bariton itu, dan terlihat lah wajah Alva yang begitu dingin dan datar dengan tatapan matanya yang begitu tajam kearah Hery.Alva merasa sangat geram karena istrinya disentuh oleh pria lain.
"Maaf, saya hanya....."
"Nyonya Ayudisha Putri, saya tunggu di ruangan saya,"ucap Alva memotong kata-kata Hery dengan menekankan kata 'Nyonya' dan langsung membalikkan tubuhnya, kembali ke dalam ruangannya.
"Permisi,"ucap Disha menghempaskan tangan Hery yang masih mencengkram tangannya, namun sudah tidak sekuat tadi hingga Disha bisa melepaskan cengkraman tangan Hery.
"Ayu..!"panggil Hery, tapi tidak digubris oleh Disha yang berjalan menuju ruangan Alva.
"𝐈𝐧𝐢 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐠𝐚𝐰𝐚𝐭. 𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐝𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐭𝐚𝐫, 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐧𝐠𝐚𝐦𝐮𝐤 𝐝𝐢 𝐤𝐚𝐧𝐭𝐨𝐫 𝐢𝐧𝐢. 𝐎𝐡 𝐲𝐚 𝐚𝐦𝐩𝐥𝐨𝐩..!!𝐀𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐥𝐢𝐭 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐣𝐮𝐤𝐧𝐲𝐚," batin Disha terus berjalan menuju ruangan Presdir.
"Tok..tok..tok.."Disha mengetuk pintu ruangan Alva.
"Masuk!"suara Alva yang terdengar begitu dingin dan datar ditelinga Disha.
"Ceklek,"Disha masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Alva yang berdiri memunggunginya. Disha menutup pintu kemudian mendekati Alva dengan jantung yang berdetak kencang.
"Al..!"panggil Disha lembut.
"Bukankah sudah aku katakan, jangan keluar dari ruangan Riky sebelum aku perintahkan,"ucap Alva begitu dingin.
"Maaf, aku tadi dari toilet, Al,"ucap Disha jujur.
"Apa begitu besar kamu mencintai dia hingga kamu tidak bisa melupakan dia dan tidak mau belajar mencintai ku?"tanya Alva kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Disha dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Al...."
__ADS_1
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku, tapi jika kamu tidak bisa menghargai cinta yang aku berikan untuk mu, setidaknya hargailah ikatan pernikahan kita yang suci, Dis.!!"ucap Alva memotong kata-kata Disha dengan suara rendah namun penuh dengan penekanan.
"Al, aku selalu menghargai ikatan pernikahan kita. Aku juga selalu menghindari Hery, Al,"jelas Disha mencoba menahan emosinya karena tuduhan dari Alva.
"Menghindarinya? Jika kamu memang berniat menghindarinya kamu tidak akan keluar dari dalam ruangan Riky sebelum aku suruh, Dis,"ucap Alva agak meninggikan suaranya.
Disha merasa frustasi dengan kecemburuan Alva yang berlebihan itu. Disha menjambak rambutnya sendiri kemudian menyugar dengan kasar menggunakan kelima jarinya.
"Aku mau ke toilet, Al. Haruskah aku menahannya sampai Hery pergi, sedang aku tidak tahu kapan dia akan pergi?"tanya Disha masih berusaha menahan emosinya.
"Bohong.!! Itu hanya alibi mu saja untuk bertemu dengan pria brengseek itu..!!" pekik Alva yang membuat Disha gemas sekaligus frustasi karena kecemburuan suaminya yang menurutnya berlebihan itu.
Tanpa berkata apapun Disha langsung berdiri tepat di depan Alva, secepat kilat menarik dasi Alva kemudian menarik tengkuk Alva hingga wajah mereka berdekatan. Tanpa berpikir panjang Disha langsung mencium bibir Alva dengan agresif.
Disha yang selama menikah dengan Alva baru kali ini memulai duluan untuk mencium Alva pun membuat Alva terkejut. Namun keterkejutan itu hanya untuk sesaat, karena detik berikutnya Alva langsung membalas ciuman Disha tak kalah agresif hingga....
"Tok...tok...tok...."suara pintu ruangannya diketuk berulangkali.
"Masuk!"ucap Alva, menahan perasaan kesalnya.
"Ceklek," suara pintu terbuka dan menampilkan seorang pria yang membuat kekesalan Alva menjadi amarah yang mati-matian berusaha ditahan Alva. Sedangkan Disha menghembuskan nafas kasar.
"𝐀𝐜𝐡..𝐬𝐢𝐚𝐥𝐥.!! 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐬𝐢𝐜𝐡 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐥𝐚𝐠𝐢? 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐛𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐢𝐜𝐡?!"gerutu Disha dalam hati masih berkutat dengan berkas-berkasnya.
"Ada apa? Kenapa anda kembali lagi?"tanya Alva dengan nada dingin dan datar.
"Maaf, boleh saya meminta waktu untuk berbicara dengan Disha sebentar?"tanya Hery menatap Alva.
Hery tadinya sudah mau pergi dari kantor Alva, namun rasa penasarannya pada Disha membuatnya memutuskan minta izin pada Alva untuk memberi mereka waktu untuk bicara.
Hery belum bisa menerima jika wanita yang telah dia pacari dari SMP itu sudah menikah, karena Hary juga tahu betul bagaimana cantiknya wajah Disha bila tanpa kacamata dan kawat gigi yang digunakannya.
__ADS_1
Dulu Hery bahkan rela mengikuti Disha pindah ke sekolah lain untuk mengejar cinta Disha sampai akhirnya Disha menerima Hery sebagai pacarnya.
Walaupun karena berpacaran dengan Disha yang berpenampilan katrok menutupi kecantikannya dengan kacamata tebal dan gigi kawatnya itu Hery diejek teman-temannya, tapi Hery tetap menempel pada Disha.
Sampai SMU pun mereka tetap pacaran dan bersekolah di sekolah yang sama. Namun Hery terpaksa harus berpisah dengan Disha saat orang tua Hery memaksa Hery untuk kuliah di luar negeri hingga mereka lost contact karena nomer Disha tidak bisa lagi dihubungi Hery.
"Maaf, ini adalah jam kerja,"ucap Alva datar.
"Oh kalau begitu boleh saya minta nomor ponsel Ayu sebentar saja?"tanya Hery dengan senyum tanpa dosa.
"𝐈𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐫𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐦𝐮 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐢𝐧𝐢 𝐣𝐮𝐠𝐚. 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐮 𝐠𝐚𝐭𝐚𝐥 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐨𝐧𝐣𝐨𝐤 𝐰𝐚𝐣𝐚𝐡𝐦𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐭𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠-𝐭𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐮,"batin Alva dengan tangan kiri diatas pahanya yang terkepal dan yang kanannya dengan siku bertumpu pada meja memijit batang hidungnya yang mancung.
"𝐀𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐠𝐞𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐢𝐧𝐠𝐤𝐢𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐇𝐞𝐫𝐲, 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤, 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐦𝐮𝐫𝐤𝐚 𝐝𝐢𝐛𝐮𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚, 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐬𝐮𝐥𝐢𝐭 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐣𝐮𝐤𝐧𝐲𝐚,"batin Disha langsung meraih kertas dan segera menuliskan beberapa digit angka di kertas itu.
"Ini, dan saya minta tolong dengan segala kerendahan hati, jangan menganggu saya , karena saya sedang bekerja,"ucap Disha kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya, sedangkan wajah Alva terlihat semakin menggelap.
"Terimakasih Yu, saya permisi Tuan Rendra,"ucap Hery tersenyum manis kemudian keluar dari ruangan Alva dengan wajah cerah walaupun tanpa mendapatkan jawaban apapun dari Alva.
"Arrghh..!!!!"pekik Alva setelah Hery pergi, mengacak-acak barang-barang yang ada di atas mejanya hingga berserakan di lantai.
"Al..!!"pekik Disha langsung menghambur memeluk Alva dari belakang,"Aku tidak memberikan nomor ponsel ku Al, aku memberikannya nomor ponsel Ferdi,"ucap Disha kemudian langsung berpindah posisi didepan Alva kemudian mencium Alva dengan agresif.
Namun diluar dugaan Disha, Alva hanya diam dan sama sekali tidak membalas ciuman Disha.
Disha melepaskan ciumannya yang tidak dibalas Alva, kemudian tangannya mengelus wajah Alva yang matanya terpejam dengan tangan terkepal sedang berusaha meredakan amarahnya.
...🌟"Berhentilah mengharapkan dan mengejar orang yang tidak ingin lagi bersamamu, karena itu hanya akan membuang-buang waktumu."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued
__ADS_1