Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
122. Bertemu Lagi


__ADS_3

Hari itu Disha dan Alva datang kesebuah butik ternama di kota itu, kemudian membeli gaun pengantin untuk Disha serta tuksedo untuk Alva dan Kaivan yang akan mereka kenakan saat pemotretan.


Disha dan Alva juga membeli pakaian couple untuk mereka bertiga yang akan mereka kenakan saat acara ulang tahun Trisha nanti malam.


Setelah selesai membeli gaun dan tuksedo mereka pergi ke studio photo. Disha nampak sangat cantik memakai gaun pengantin dengan riasan natural membuat Alva tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Disha.


"Kamu sangat cantik, sayang. Rasanya aku ingin memakan mu sekarang juga,"bisik Alva di telinga Disha.


"Al, jangan macam-macam!"ucap Disha memperingati.


"Nggak kok, cuma satu macam saja. Aku cuma pengen makan kamu,"bisik Alva lagi, kemudian mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum nakal.


Disha hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi kelakuan suaminya yang selalu saja menggodanya.


"Sayang, setelah pemotretan, kita ke supermarket, ya? Aku ingin berbelanja," pinta Disha.


"Iya,"sahut Alva.


Akhirnya Disha dan Alva melakukan pemotretan dengan beberapa pose yang terlihat mesra. Ada pula pose Disha bersama Kaivan, Alva bersama Kaivan terakhir Disha, Alva dan Kaivan berpose bertiga.


Derrtt.. derttt..dertt... handphone Alva bergetar setelah mereka selesai melakukan pemotretan dan bersiap-siap untuk ke supermarket.


"Halo!"sahut Alva setelah melihat siapa yang menelponnya dan menggeser ikon berwarna hijau.


"Halo, Tuan. Anda harus ke kantor sekarang,"ucap Riky melalui sambungan telepon.


"Ada apa?"tanya Alva.


"Ada klien yang komplain, Tuan. Dan mereka tidak mau pulang jika belum bertemu dengan Tuan,"sahut Riky.


"Oke, aku ke sana sekarang,"sahut Alva kemudian mengakhiri sambungan telepon.


"Ada apa, sayang'?"tanya Disha.


"Ada klien yang datang ke kantor untuk komplain dan tidak mau pulang sebelum bertemu dengan ku. Maaf,ya?! Aku tidak bisa menemanimu belanja,"ucap Alva merasa tidak enak dengan Disha.


"Tidak apa-apa. Pergilah! Aku akan berbelanja sendiri,"ucap Disha yang mengerti dengan keadaan Alva.


"Terimakasih, sayang. Aku pergi!"ucap Alva mengecup bibir Disha sekilas, kemudian meninggalkan Disha.


"Fer, antar kan Kaivan dan Bik Inah pulang. Aku akan pergi ke supermarket sendiri saja. Kasian Kaivan, dia pasti lelah,"ucap Disha seraya mengelus kepala Kaivan yang berada di troli bayi nya.


"Baik, Nyonya,"sahut Ferdi lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkan Kaivan dan Bik Inah pulang lebih dulu. Sedangkan Ferdi tetap menjaga Disha.

__ADS_1


Setelah Kaivan dan Bik Inah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area itu, Disha pun masuk ke mobilnya dan melaju menuju supermarket.


Disha membeli barang-barang yang diinginkannya. Disha nampak asyik berbelanja hingga....


"Brukk" Disha bertabrakan dengan seorang pria.


"Maaf!" ucap Disha yang merasa bersalah karena berbalik mendadak hingga bertabrakan dengan seorang pria.


"Kamu?!"ucap pria itu seraya menunjuk Disha dengan jari telunjuknya,"Kita bertemu lagi. Kamu selalu menabrak saya, saat kita bertemu,"ucap pria itu lagi.


"Maaf, tapi saya tidak mengenal anda,"ucap Disha yang memang tidak merasa kenal dengan pria itu.


"Kita bertemu di depan pintu restoran xx, kamu menabrak saya di pintu utama restoran itu,"ucap pria itu mengingatkan.


"Oh iya, saya ingat. Sekali lagi saya meminta maaf. Saya permisi!"ucap Disha bermaksud pergi dari hadapan pria itu.


"Tunggu!'ucap pria itu memegang lengan Disha.


"Disha menatap lengannya yang di pegang pria yang tidak lain adalah Radeva itu, lalu menatap tajam pada Radeva.


"Maaf!"ucap Radeva seraya melepaskan tangannya dari lengan Disha,"Anting kamu ada pada saya,"ucap pria itu.


"Anting? Oh, jadi anting itu ada pada anda? Bisakah anda mengembalikan nya pada saya?" tanya Disha.


"Oke, saya akan ke sana. Dan saya harap anda tidak mengingkari janji anda untuk mengembalikan anting itu pada saya. Permisi!"ucap Disha lalu membalikkan tubuhnya hendak pergi.


"Tunggu! Siapa nama anda?"tanya Radeva sekali lagi.


"Ayudisha,"ucap Disha menghentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuhnya lalu kembali melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Radeva.


"Ayudisha, nama yang cantik, secantik orangnya,"gumam Radeva tanpa sadar.


Malam harinya, mobil rombongan Alva pun melaju menuju resort miliknya. Alva bersama Disha dan Kaivan, dan juga Ferdi serta seorang supir. Bik Inah berada di mobil lain, sedangkan Riky bersama Yessie hanya berdua di dalam mobil.


Setengah jam sebelumnya.


Riky sudah tiba di depan rumah Yessie dan segera mengetuk pintu rumah Yessie.


"Eh Nak Riky, tampan sekali. Mari masuk, Nak! Yessie masih berada di dalam kamarnya,"ucap Pak Budi ramah.


"Terimakasih, Pak,"ucap Riky tersenyum ramah.


"Biar saya panggilkan Yessie,"ucap Pak Budi.

__ADS_1


"Iya, Pak,"sahut Riky.


Baru saja Pak Budi hendak ke kamar Yessie, namun Yessie sudah keluar duluan dengan memakai gaun dan semua aksesoris yang diberikan oleh Riky.


Sesa'at Pak Budi dan Riky terpana melihat Yessie yang begitu cantik malam itu. Yessie hanya memakai makeup tipis, terlihat natural dan anggun di mata Pak Budi dan Riky.


"Anak saya cantik, kan?"tanya Bu Budi menyadarkan dua pria beda usia itu.


"Ah iya, Bu.Anak kita cantik sekali, seperti seorang putri,"sahut Pak Budi.


"Em, Pak, Bu. Bolehkah Yessie menginap di resort tempat acara ulangtahun itu diadakan?"tanya Riky.


"Menginap? Apa tidak bisa jika tidak menginap, Nak?"tanya pak Budi nampak keberatan jika anak semata wayangnya menginap di tempat yang tidak dia ketahui. Walaupun Yessie menginap dengan calon suaminya, tapi Pak Budi nampak ragu untuk memberikan izin.


"Bapak tidak usah khawatir. Saya akan menjaga Yessie. Saya berjanji tidak akan menyentuh Yessie sebelum kami sah menjadi suami istri. Saya tidak akan berbuat macam-macam pada Yessie. Saya juga mempunyai dua orang adik perempuan di rumah,"ucap Riky yang mengerti akan kegelisahan Pak Budi.


"Baiklah, bapak percayakan putri bapak pada kamu. Tolong jaga Yessie baik-baik dan jangan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya!"ucap Pak Budi memperingati.


"Bapak bisa memegang kata-kata saya," ucap Riky tegas.


"Baiklah, pergilah! Hati-hati di jalan!"ucap Pak Budi.


"Terimakasih, Pak. Kami pergi!'sahut Riky kemudian mengulurkan tangannya pada Yessie dan membawanya masuk kedalam mobil lalu mereka pun berangkat dan bertemu dengan rombongan Alva disebuah jalan yang memang sudah direncanakan.


"Mereka cocok sekali,ya Bu!"ucap pak Budi setelah Riky dan Yessie jauh dari pandangan mereka.


"Iya, Pak. Semoga pernikahan mereka nanti berjalan dengan lancar dan mereka bisa hidup bahagia,"ucap ibu Yessie.


"Aamiin,"ucap ayah Yessie.


Di dalam perjalanan ke resort, Riky dan Yessie hanya diam. Mereka sama-sama bingung harus berbicara apa. Sedangkan di dalam mobil Alva, Alva memerintahkan supirnya untuk mengarahkan kaca dasbor kearah lain karena Kaivan ingin menyusu.


"Jagoan papa haus banget, sich!"ucap Alva seraya mengelus kepala putranya yang sedang menyusu.


"Sayang, masih lama tidak sampai ke resort nya?"tanya Disha.pada Alva.


"Sudah tidak terlalu jauh lagi, sayang. Maafkan aku ya?! Aku bahkan belum pernah mengajak kamu ke sana, padahal resort itu sudah lama jadi,"sesal Alva.


"Tidak apa-apa. Kita juga tidak punya waktu luang selam ini,"ucap Disha yang mengerti perasaan suaminya.


"Terimakasih, kamu selalu mengerti aku,"ucap Alva kemudian mengecup kening Disha.


"Tuan, kita sudah sampai,"ucap Ferdi.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2