Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
207. Penyebab Dendam


__ADS_3

Waktu terus berjalan dan hari berganti hari. Sinar mentari nampak bersinar terang menyinari bumi. Seperti biasanya, Disha melakukan aktivitas pagi yang rutin dikerjakan olehnya. Disha membantu Alva memakai kemeja dan jasnya.


"Sayang, nanti malam aku harus bertemu dulu dengan klien. Kamu nggak apa-apa kan, kalau Ferdi yang mengantarkan kamu untuk pergi ke spa dan salon?"tanya Alva dengan tangan kiri memeluk pinggang Disha sedangkan tangan kanannya merapikan anak rambut Disha, kemudian menyelipkan nya di telinga Disha.


Disha yang sedang mengancingkan Kemeja Alva pun mendongakkan kepalanya menatap suaminya itu,"Apa pertemuan nya benar-benar tidak bisa ditunda besok?"tanya Disha.


"Kristian akan sampai di negara ini sore nanti dan besok pagi dia harus kembali ke negaranya. Setelah pertemuan nanti kami akan langsung ke rumah papa untuk menghadiri pesta. Nggak apa-apa, kan,"tanya Alva mengelus pipi Disha lembut.


"Ya sudah, nggak apa-apa,"sahut Disha seraya kembali mengancingkan kemeja Alva yang masih tersisa dua lagi.


"Maaf!"ucap Alva merasa tidak enak hati pada Disha.


"It is okay,"sahut Disha kemudian mencium pipi Alva sekilas untuk meyakinkan pria itu bahwa dia memang tidak apa-apa.


Sore harinya, Disha diantar Ferdi ke spa sekaligus salon. Sedangkan Alva bertemu dengan Kristian di sebuah restoran untuk membahas masalah bisnis yang sedang mereka jalin. Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya mereka pun menyelesaikan obrolan bisnis mereka.


"Aku sudah melacak tentang kecelakaan yang menimpamu waktu kamu berada di negara ku kemarin. Tapi ternyata cukup sulit walaupun kenalan papa mertua mu juga ikut membantu. Dita melakukan semua nya dengan rapi. Sayang sekali aku kemarin tidak sempat merekam percakapan nya dengan sekretaris nya, saat mereka sedang membahas rencana mereka untuk mencelakai mu waktu itu. Seandainya waktu itu aku merekamnya, pasti bisa jadi bukti yang kuat untuk menyeret dia ke penjara,"ujar Kristian.


"Kenapa bisa sesulit itu untuk menangkap Dita, Kris? Lakukan apapun agar dia membayar kejahatannya itu. Dia hampir saja membuat istri ku menjadi janda,"sahut Alva seraya mengepalkan tangannya.


"Supir truk yang menabrak taksi yang kamu tumpangi itu juga mengalami kecelakaan tidak jauh dari tempat truk itu menabrak taksi yang kamu tumpangi. Supir truk itu mengalami koma semenjak kejadian kecelakaan itu dan tadi sebelum aku berangkat ke sini, anak buah ku mengatakan kalau supir truk itu baru saja meninggal. Padahal super truk itulah yang aku harapkan untuk menjadi petunjuk terkuaknya kejahatan Dita padamu,"ujar Kristian membuang napas kasar.


"Aku tidak menyangka Dita akan melakukan itu padaku,"sahut Alva.


"Sebenarnya, apa yang menyebabkan Dita begitu dendam padamu, sampai-sampai dia ingin melenyapkan kamu?"tanya Kristian penasaran.

__ADS_1


"Dulu dia adalah teman sekolah ku waktu SMA. Dia dulu gadis dari kalangan menengah ke bawah dan bisa bersekolah di sekolah elit karena prestasi nya. Namun dia termasuk siswi kurang mampu dan seringkali di bully oleh siswa-siswi yang lain. Karena merasa kasihan, aku melindungi nya dan sering memberikan dia uang untuk kebutuhannya,"


"Tapi ternyata dia menyalah artikan kebaikan ku padanya. Dia mengira aku menyukai nya. Dia selalu menempel padaku walaupun aku sudah mengatakan bahwa aku hanya menganggap dia sebagai seorang teman. Kendati demikian, aku tidak pernah merubah sikapku padanya, karena aku merasa prihatin dengan keadaan perekonomian nya. Hingga papaku yang anti dengan wanita yang berasal dari kalangan menengah ke bawah mengetahui kedekatan kami. Papa memaksanya dan seluruh keluarganya untuk pindah dari kota ini dengan memberikan uang yang cukup banyak untuk modal usaha mereka di kota lain,"


"Sejak itu aku tidak pernah bertemu dengan dia lagi, sampai kami bertemu lagi beberapa waktu lalu. Saat bertemu kembali dia berusaha mendekati ku, bahkan menggoda ku. Tapi ternyata dia ingin mendekati dan menggoda ku bukan karena dia mencintai ku seperti dulu, tapi karena dia dendam pada ku dan papaku,"


"Aku baru tahu kalau dia dendam padaku dan papaku, karena setelah papaku mengusir dia dan keluarganya dari kota ini, mereka mengalami kecelakaan tragis yang menewaskan seluruh keluarganya, kecuali dia.Itu informasi yang aku dapat dari anak buah ku beberapa hari ini,"ujar Alva panjang lebar.


"Apa Dita mengira kecelakaan yang menewaskan seluruh keluarganya itu adalah ulah papan?"tanya Kristian berasumsi.


"Bisa jadi,"sahut Alva.


"Tapi aku akan terus menyelidiki kecelakaan yang telah terjadi pada mu saat kamu ada di negaraku,"ucap Kristian.


Thanks, Kris!"ucap Alva.


Alva melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya kemudian menatap Kristian," Kris, aku harus segera pulang untuk bersiap-siap pergi ke rumah mertua ku. Kamu bakalan datang menghadiri pesta itu, kan?"tanya Alva menatap Kristian.


"Tentu saja, aku pasti datang. Jadi kita nggak bisa bareng, nich?"


"Nggak, aku harus pulang dulu untuk mandi dan berganti pakaian. Tadi dari kantor aku langsung ke sini, jadi belum sempat membersihkan diri. Aku akan mengirimkan alamat rumah mertuaku padamu,"ucap Alva langsung mengetik alamat rumah mertuanya dan mengirimkannya pada Kristian.


"Oke, aku akan datang ke alamat ini,"ucap Kristian setelah menerima pesan dari Alva yang berisi alamat rumah Mahendra,"Tapi kalau boleh tahu, apa adat disini kalau pindah rumah harus ngadain pesta seperti ini?"tanya Kristian.


"Kita bicara sambil berjalan keluar dari restoran ini, ok?"ucap Alva seraya mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di meja untuk membayar apa yang mereka makan dan minum tadi.

__ADS_1


"Oke," sahut Kristian.


Alva beranjak dari duduknya kemudian berjalan keluar dari ruangan itu diikuti oleh Kristian,"Dalam undangannya memang pesta acara pindahan rumah, tapi sebetulnya bukan itu inti pestanya,"ucap Alva pada Kristian yang sudah berjalan di sampingnya.


"Terus, pesta apa yang sebenarnya diadakan mertuamu?"tanya Kristian sambil terus melangkah disamping Alva sedangkan Alva berjalan seraya mengotak-atik handphone nya, memesankan taksi online untuk Kristian.


"Pesta ini adalah pesta untuk mengumumkan pada kolega bisnis kami bahwa istriku adalah putri kandung dari papa Mahendra dan mama Ghina, kemudian di sambung dengan acara pesta pertunangan kakak ipar ku,"sahut Alva.


"Kenapa harus mengumumkan istri mu sebagai putri mereka? Apa istri mu anak angkat mereka?"tanya Kristian bingung.


"Bukan putri angkat, tapi putri kandung mereka yang baru mereka temukan setelah 26 tahun hilang,"sahut alva seraya memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya.


"Oh, begitu, ya? "Aku jadi penasaran, bagaimana wajah wanita yang telah mendapatkan cinta seorang Alvarendra Bramantyo yang dingin dan cuek seperti mu,"ucap Kristian memandang Alva sekilas.


"Aku tidak tahu bagaimana pendapat orang lain tentang istri ku, tapi bagiku dia adalah wanita tercantik yang pernah aku temui,"ucap Alva tersenyum tipis.


"Aku jadi tidak sabar, ingin cepat-cepat bertemu dengan istri mu,"ujar Kristian nampak bersemangat.


"Nanti aku kenalkan padamu. Tapi awas ya, jangan sampai kamu naksir sama istri ku. Aku tidak tidak akan tinggal diam jika ada pebinor dalam rumah tangga ku,"ucap Alva memperingatkan Kristian dengan wajah serius.


Wihh..Santai aja bro, walaupun aku seorang Casanova, aku tidak akan mau menganggu istri temanku sendiri,"sahut Kristian tepat saat mereka sudah berada di depan pintu utama restoran itu.


"Itu taksi yang sudah aku pesan untuk mu, Kris,"ucap Alva saat melihat plat mobil taksi online yang baru saja berhenti tidak jauh dari mereka.


"Thanks. Aku duluan, ya?"ucap Kristian seraya menepuk bahu Alva.

__ADS_1


"Oke!"sahut Alva kemudian langsung menuju parkiran.


To be continued


__ADS_2