
Setelah acara inti selesai, semua tamu pun nampak saling mengobrol dan menikmati hidangan yang tersedia. Disha, Yessie dan Icha nampak berkumpul dan berbincang.
"Dis, jadi kamu tahu kalau kak Radeva melamar ku? Dan nggak ngasih tau aku, sampai-sampai aku galau tingkat dewa dan hampir gantung diri!"ucap Icha dengan wajah cemberut.
"Bunuh diri di batang tauge?"ucap Yessie dan Disha bersamaan, kemudian terkekeh saat mengingat betapa galaunya Icha beberapa hari ini.
"Sungguh tega kamu sama aku, Dis!" ucap Icha sambil bersungut-sungut.
"Maaf kakak ipar! Ini semua kan rencana calon suami kakak ipar tersayang yang pengen ngasih kejutan buat kakak ipar tersayang,"ucap Disha seraya menggoda Icha.
"Issh.. apaan sich! Lebay, dech!"ucap Icha menahan senyum.
"Harusnya kakak ipar berterimakasih sama aku, karena aku yang merekomendasikan kakak ipar pada kakakku tersayang,"ucap Disha pura-pura merajuk.
"Serius?"tanya Yessie dan Icha bersamaan.
"Serius. Seperti Yessie dulu yang aku rekomendasikan pada Riky, kakak ipar juga aku rekomendasikan sama kakakku. Tapi, kalau dipikir-pikir, aku cocok dech, jadi maka comblang. Buktinya, sudah dua kali jadi Mak comblang sukses tanpa hambatan," ucap Disha kemudian terkekeh.
"Tanpa hambatan? Jalan tol, kali ya?" celetuk Icha.
"Jadi siapa ya, cewek yang dijemput Kak Radeva ke kantor kemarin, yang bikin Icha galau tingkat dewa?"tanya Yessie saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Aku,"sahut Disha tanpa dosa.
"Wah.. bener-bener nich anak! Jadi dari kemarin kamu pasti ngetawain aku ,kan?"tuduh Icha dan hanya ditanggapi Disha dengan cengengesan.
"Apa nggak kebakaran jenggot tuch, si PakSu lihat kamu mesra banget sama Kakak kamu, Dis?"tanya Yessie.
"Cemburu lah! Dari mana ceritanya dia nggak cemburu. Cuma, karena Alva yang suka cemburu itulah yang membuat kakakku semakin suka menjahili Alva dengan bersikap mesra padaku,"ujar Disha.
"Sekarang bukan cuma Pak Rendra yang akan cemburu jika kalian terlalu mesra. Calon kakak ipar kamu juga bakal cemburu kali,"sindir Yessie melirik Icha dengan mengulum senyum.
"Btw, gimana perasaan kamu tadi, Cha? Pas tiba-tiba kak Radeva ngasih cincin sama kamu tadi. Nggak percaya atau gimana gitu?"tanya Disha.
"Aku ngerasa tadi itu kayak mimpi, dan jika ini hanya mimpi, rasanya aku nggak pengen bangun lagi,"ucap Icha dengan raut wajah bahagia.
"Haish..masih nggak percaya juga dia, kalau semua ini nyata. Mau dicubit apa?"celetuk Disha.
__ADS_1
"Hai! Boleh nimbrung nggak, nich?"tanya seseorang dengan suara bariton yang tiba-tiba sudah berada di dekat ketiga sahabat itu, ketiganya pun spontan langsung menatap pria tampan dengan tubuh proporsional yang sekarang ada di dekat mereka itu,"Kenalin, aku Niko, sepupunya Radeva," ucap Niko seraya mengulurkan tangannya pada Icha dengan menebarkan senyum playboy nya yang mempesona.Ketiga perempuan itupun menyambut uluran tangan Niko secara bergantian seraya menyebutkan nama mereka masing-masing.
"𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙙𝙞𝙖, 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙣𝙞𝙠𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙠𝙪? 𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙨𝙪𝙙𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙞?"batin Disha nampak curiga.
"Kalau boleh tahu, berapa lama kamu pacaran dengan Radeva, hingga kalian sampai di jenjang pertunangan ini?" tanya Niko dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Kami tidak pernah pacaran,"jawab Icha jujur.
"Tidak pernah pacaran? Kok bisa? Dan kalian langsung tunangan?"tanya Niko tidak percaya.
"Buat apa pacaran, kalau akhirnya cuma jadi mantan?! Menuh-menuhin sampah di memory aja,"celetuk Disha.
Niko mengulas senyum mendengar kata-kata Disha,"Pacaran itu perlu, agar bisa saling mengenal,"ucap Niko.
"Kalau sudah menikah nanti juga bakalan saling mengenal. Bahkan bisa mengenal luar dalam,"sahut Disha.
"Pacaran setelah menikah lebih seru, dari pada pacaran sebelum menikah," sahut Yessie.
"Bagaimana jika tidak cocok setelah menikah? Kan susah buat cerai. sayang loh, cantik-cantik jadi janda,"balas Niko.
"𝘼𝙥𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙢𝙖𝙠𝙨𝙪𝙙 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙨𝙪𝙩 𝙄𝙘𝙝𝙖?"batin Disha.
"Apa ada jaminan akan hidup bahagia, jika sebelum menikah, terlebih dulu pacaran?"sahut Icha ikut buka suara.
"Sayang!"ucap tiga orang lelaki bersamaan, membuat tiga orang perempuan itu pun menoleh.
Alva langsung memeluk Disha, Riky langsung memeluk Yessie dan Radeva pun tidak mau kalah, dia juga langsung memeluk Icha, membuat jantung Icha tidak bisa berdetak normal. Ketiga pria itu langsung mendekati wanita mereka saat melihat Niko mendekati tiga wanita yang bersahabat itu.
"Hai, Dev! Selamat ya, atas pertunangan mu,"ucap Niko dengan senyuman manis menebarkan pesonanya.
"Terimakasih!" sahut Radeva datar.
Sedangkan Alva, Disha, Riky dan Yessie pun memilih meninggalkan tempat itu ke tepat yang berbeda.
"Nikmati saja pestanya, aku akan menyapa yang lain bersama calon istri ku,"ucap Radeva kemudian beranjak untuk meninggalkan tempat itu bersama Icha.
"Kenapa terburu-buru? Kamu takut tunangan mu tertarik padaku, ya?"tanya Niko dengan sudut bibir tertarik ke atas, sengaja ingin menghentikan Radeva.
__ADS_1
Dan benar saja, mendengar kata-kata Niko itu, Radeva menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Niko,"Aku sama sekali tidak takut, aku yakin tunangan ku tidak akan tergoda dengan pria lain, apalagi tergoda oleh pria playboy macam kamu,"ucap Radeva seraya menatap wajah Niko sinis.
"Benarkah? Kamu yakin perempuan ini tidak akan mengkhianati kamu seperti para perempuan yang dulu pernah kamu dekati?"tanya Niko seraya memicingkan matanya.
"Mereka semua meninggalkan aku, karena mereka semua tidak tulus padaku dan hanya menginginkan hartaku saja,"balas Radeva.
"Apa kamu begitu yakin dan percaya jika perempuan ini bisa dipercaya? Jangan-jangan dia tidak jauh beda seperti perempuan -perempuan yang pernah kamu dekati dulu. Dan apa benar dia tidak menginginkan hartamu? Jaman sekarang mana ada cewek yang nggak materialistis!"cibir Niko membuat Radeva menahan emosinya begitu pun dengan Icha yang merasa direndahkan karena disamakan dengan perempuan- perempuan yang dibicarakan oleh Niko.
"Ada dua macam tipe cowok yang bilang kalau cewek itu materialistis. Pertama, tipe cowok kere yang nggak mampu memenuhi kebutuhan cewek, kedua tipe cowok pelit yang cuma pengen mengambil keuntungan dari cewek, tanpa mau mengeluarkan uang,"
"Cewek matre itu wajar, mereka butuh pakaian yang bagus agar sedap di pandang oleh pasangan nya. Mereka juga butuh skincare untuk merawat diri agar selalu cantik di depan pasangan nya. Apa kamu kira mereka akan terlihat cantik jika tidak diberi uang oleh pasangannya untuk membeli pakaian dan skincare?" balas Radeva membuat Icha semakin mengagumi Radeva. Setelah itu Radeva pun meninggalkan Niko yang tidak bisa lagi membalas kata-kata Radeva.
Disisi lain Mahendra dan Ghina nampak menghampiri Nalendra dan istrinya. "Terimakasih karena kakak sudah bersedia datang kemari,"ucap Mahendra pada Nalendra.
"Mana mungkin aku tidak hadir dalam acara pertunangan keponakanku,"sahut Nalendra tersenyum tipis.
"Sayang, kemari!"panggil Ghina saat melihat Alva dan Disha. Keduanya pun langsung menghampiri ke-empat orang itu.
"Kenalkan, ini paman kalian Nalendra dan bibi kalian Neda,"ucap Ghina pada Alva dan Disha. Keempat orang itu pun saling berjabat tangan.
"Apa kamu pacar Shahira?"tanya Nalendra pada Alva.
"Saya suaminya,"sahut Alva.
"Oh, jadi keponakan ku ternyata sudah menikah. Padahal aku bermaksud menjodohkan Shahira dengan Niko. Memangnya apa pekerjaan mu?" tanya Nalendra nampak tidak suka kepada Alva.
"Saya hanya seorang CEO,"sahut Alva.
"Dis, sepertinya cucu papa sudah mengantuk. Dia nampak sudah gelisah," ucap Bramantyo yang tiba-tiba muncul sambil menggendong Kaivan.
"Oh iya, pa. Sini, biar aku tidurkan," sahut Disha langsung mengambil alih Kaivan dari gendongan Bramantyo.
"Tyo, kenalkan, ini kakakku Nalendra dan itu istrinya, Neda,"ucap Mahendra. Bramantyo pun langsung menyalami Nalendra namun saat akan beralih untuk menjabat tangan Neda, Bramantyo nampak terkejut saat melihat Neda, begitu pula dengan Neda.
...🌟"Sesungguhnya cewek itu bukan makhluk materialistis, tapi realistis, karena hidup itu butuh uang."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
To be continued