
Di kediaman Bramantyo. Satu Minggu setelah kepergian Alva ke luar negeri.
"Jagoan nenek udah bau asem, nich! Ayo, nenek mandiin!"ucap Ratih seraya menggendong Kaivan.
"Papa...papa!"celoteh Kaivan.
"Pengen mandi sama papa, ya?"tanya Ratih sambil mengelus kepala Kaivan.
"Papa.!"ucap Kaivan lagi.
"Papa belum pulang, sayang! Nanti kalau papa sudah pulang, Kaivan mandi bareng lagi sama papa, oke? Sekarang nenek mandiin, ya?!"ucap Ratih membujuk Kaivan.
"Nggak mau. Mau papa!"ucap Kaivan mencoba turun dari gendongan Ratih.
"Eh, kok jagoan nenek ngambek, sich?!" ujar Ratih mencoba mempertahankan Kaivan yang berontak ingin turun dari gendongannya.
"Eh, ada apa ini? Kenapa dengan jagoan kakek ini? Hemm?"tanya Bramantyo seraya mengambil alih Kaivan dari gendongan Ratih.
"Mau mandi cama papa,"adu Kaivan yang sudah lumayan lancar berbicara itu pada Bramantyo.
"Papa Kaivan kan, belum pulang, sayang. Mandi sama kakek saja, ya?"bujuk Bramantyo.
"Nggak mau! Kai mau papa,"rajuk Kaivan. Disha yang mendengar kegaduhan ketiga orang itu pun menghampiri mereka.
"Sayang, jangan nakal! Kaivan mama mandiin, ya? "bujuk Disha.
"Nggak mau! Kai mau papa!"keukeh Kaivan.
"Mungkin Tuan kecil sudah kangen sama Tuan Muda, Nyonya Muda. Coba ditelepon dulu, Tuan Muda nya,"usul Bik Inah yang dari tadi melihat Kaivan merajuk.
"Sebentar, biar nenek telepon dulu papa Kaivan,"ucap Ratih kemudian meraih handphonenya dan segera menghubungi Alva melalui sambungan video.
"Halo, ma. Ada apa, ma?"sahut Alva saat panggilan video sudah diterimanya. Alva nampak khawatir, karena tidak biasanya mamanya menghubunginya lewat panggilan video.
__ADS_1
"Ini Al, Kaivan nggak mau mandi kalau nggak sama kamu,"ucap Ratih kemudian mengarahkan layar handphonenya pada Kaivan yang sedang di gendong Bramantyo, dan Kaivan pun segera meraih handphonenya itu saat melihat wajah papanya di layar handphone itu.
'Papa!"ucap Kaivan nampak senang saat melihat wajah papanya.
"Jagoan papa kenapa belum mandi, hem?"tanya Alva menatap layar handphonenya yang dipenuhi oleh wajah putra pertamanya itu.
"Kai mau mandi cama papa!"ucap Kaivan.
"Papa baru mau pulang sore ini, sayang. Nanti malam, pasti papa sudah sampai rumah. Jadi besok saja ya, mandi sama papa,"bujuk Alva, Disha yang mendengar suaminya malam ini akan pulang pun merasa senang.
"Jam berapa pesawat kamu landing, Al? Biar nanti papa suruh supir buat jemput kamu di bandara,"tanya Bramantyo.
"Satu jam lagi aku berangkat, pa. Kalau menurut jadwal, jam delapan aku sudah tiba di bandara,"sahut Alva.
"Papa mau siap-siap buat pulang dulu, ya?! Kaivan renang sama kakek aja dulu. Udah renang mandi sama kakek. Besok Kaivan renang dan mandi sama papa, oke?!"bujuk Alva.
"Oke,"ucap Kaivan.
"Tuch, kan! Papa bilang Kaivan mandi sama kakek. Ayo, sekarang kita berenang, dan kita akan ke kolam renang dengan cara terbanggg...!"seru Bramantyo berlari kecil seraya menggendong Kaivan dengan cara tangan kanan di bawah dada Kaivan dan tangan kiri di bawah perut Kaivan dengan posisi Kaivan yang tengkurap hingga posisinya seperti pesawat terbang. Kaivan pun tertawa senang karena aksi kakeknya itu. Ratih, Disha dan Bik Inah pun ikut tertawa karena melihat tingkah cucu dan kakek itu.
"Papa mu tidak berubah, Dis. Dulu papa mu juga seperti itu pada Alva. Saat melihat papa mu dan Kaivan seperti itu, mama seperti kembali ke masa lalu, saat Alva masih kecil seperti Kaivan,"ucap Ratih dengan senyum di bibirnya, menatap Bramantyo dan Kaivan yang sudah menjauh.
"Alva beruntung sekali memiliki orang tua seperti kalian,"ucap Disha tersenyum tipis menatap Ratih.
"Kami juga beruntung memiliki Alva , kamu dan juga Kaivan. Kehadiran kalian membuat hidup mama dan papa berwarna dan bahagia,"ucap Ratih menatap wajah Disha," Kapan kalian memberikan cucu ke dua untuk kami?"tanya Ratih dengan wajah penuh pengharapan.
"Kaivan masih kecil, ma. Kaivan bahkan masih minum ASI,"jawab Disha.
"Setelah Kaivan berhenti minum ASI, kalian program hamil, ya? Biar Kaivan cepat punya adik. Jangan sampai Kaivan seperti Alva yang tidak memiliki saudara," ucap Ratih menghela nafas panjang. Ratih merasa sedih karena tidak bisa memberikan seorang adik untuk Alva.
"Mama tidak usah khawatir, nanti kalau Kaivan sudah agak besar, aku akan berhenti memakai alat kontrasepsi,"ucap Disha tersenyum tipis.
"Jangan terlalu lama, ya? Mama ingin rumah ini ramai dengan suara anak-anak," ucap Ratih penuh harap.
__ADS_1
***
Di sebuah kamar hotel.
"Nyonya, ada apa Nyonya memanggil saya?"tanya sekretaris Dita.
"Sudah seminggu kita di sini, tapi aku sama sekali tidak bisa mendekati Alva. Sulit sekali bertemu dengannya. Bahkan saat aku datang ke perusahaannya, aku juga tidak di ijinkan masuk,"ujar Dita.
"Kenapa anda tidak meminta bantuan Tuan Kristian untuk mendekati Tuan Alva? Bukankah dia teman Tuan Alva? Dan saya lihat anda juga dekat dengan Tuan Kristian,"ujar sang sekretaris.
"Entah lah! Aku juga tidak mendapatkan informasi apapun tentang Alva dari Kristian,"sahut Dita.
"Lalu apa rencana anda?"tanya sekretaris Dita.
"Jika aku tidak bisa memilikinya dan menjadikan dia budak ku, maka aku akan melenyapkan dia. Aku ingin Bramantyo menangis karena kehilangan anak kesayangan nya itu. Jika bukan karena dia, keluarga ku tidak akan mengalami kecelakaan dan meninggal dunia,"
"Dia mengusir kami dari kota itu hanya karena aku mendekatinya putranya. Dengan kekuatan uang, dia menyuruh kami pindah dari kota itu saat itu juga. Dia mengancam akan menghabisi keluarga kami, jika kami tidak pindah dari kota itu. Aku yakin, kecelakaan yang menimpa kami juga ada hubungannya dengan dia,"
"Bus yang kami tumpangi tiba-tiba mengalami rem blong, dan akhirnya mobil yang kami tumpangi masuk ke dalam jurang.Dari seluruh keluarga ku, hanya aku yang selamat. Aku hidup luntang lantung di jalan hingga akhirnya aku ditolong almarhum suamiku,"
"Namun dia mau membantu menguliahkan aku dengan syarat aku mau menjadi istri ketiganya. Dan setelah sekian lama akhirnya aku berhasil menyingkirkan kedua istrinya dan juga bandot tua tidak tahu diri itu. Aku bahkan bisa menguasai hampir seluruh hartanya,"
"Cih! Jika saja aku tidak jadi gelandangan waktu itu, mana sudi aku menikah dengan bandot tua seperti dia. Wajahku cantik dan tubuhku juga seksi, banyak pria yang tergila-gila padaku. Bahkan Kristian yang tampan dengan tubuh yang proporsional itu saja tergila-gila padaku,"ujar Dita percaya diri tingkat tinggi tanpa mengetahui bahwa Kristian adalah seorang Casanova.
Setelah Kristian berhasil meniduri Dita malam itu, keesokan harinya Alva menghubungi Kristian. Alva bersedia menerima kerjasama dengan perusahaan Kristian jika Kristian bisa menjauhkan Dita dari Alva. Karena itulah, Kristian selalu mencari kesempatan untuk bertemu dengan Dita.
Kristian bahkan mengungkapkan bahwa dia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Dita dengan membuat heboh di lobi hotel, karena Kristian menyatakan cinta pada Dita di lobi hotel dengan membawa bunga dan beberapa pemain musik.
Karena kegigihan Kristian dalam mengejarnya dengan memberikan berbagai macam hadiah dan perhatian, akhirnya Dita pun jatuh ke dalam pelukannya Kristian, tapa mengetahui jika dirinya hanya di jadikan Kristian sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan biologis Kristian dan juga untuk melancarkan kerjasamanya dengan Alva.
"Jadi, kita akan melenyapkan Tuan Alva?"
To be continued
__ADS_1