
"Sayang, kamu tadi ada tamu?"tanya Disha setelah masuk ke ruangan Alva dengan membawa beberapa berkas.
"Iya, memangnya kenapa?"tanya Alva menatap Disha.
"Siapa?"tanya Disha tanpa menjawab pertanyaan Alva, menatap balik Alva hingga pandangan mata mereka bertemu.
"Mama dan anak teman lama mama,"sahut Alva.
"Ohh.."sahut Disha kemudian membereskan beberapa berkas di meja Alva.
"Hanya 'ohh'?"tanya Alva nampak kecewa.
"Terus aku harus bilang 'woww' gitu?" sahut Disha.
"Dari mana kamu tahu kalau tadi aku punya tamu?"tanya Alva menyelidik.
"Tadi kami bertemu dengan tamu kamu itu di toilet,"sahut Disha.
"Ohh.. gitu. Dia cantik kan?"tanya Alva mencoba membuat istrinya cemburu.
Disha langsung menatap Alva dengan tajam,"Iya, dia cantik dan lebih muda dari ku. Lebih segar dipandang mata, terlihat begitu seksi dengan pakaian yang dipakainya dan yang pastinya terlihat lebih menggoda,"ucap Disha menatap tajam Alva, membanting berkas yang disusunnya, membuat Alva kaget.
Disha kemudian langsung bergegas keluar dari ruangan Alva dan membanting pintu ruangan Alva hingga Alva kembali berjengit karena kaget.
"Dia marah karena cemburu atau..." gumam Alva tidak bisa melanjutkan kata-katanya sendiri karena tidak bisa mendeskripsikan apa yang ada di otaknya sendiri. Alva sama sekali tidak mengerti dengan sikap Disha.
Tak lama kemudian Riky mengetuk pintu ruangan Alva sambil melirik Disha sekilas.
"Masuk!"sahut Alva dari dalam.
"Tuan, ini semua dokumen yang anda minta,"ucap Riky sambil meletakkan dokumen yang diminta oleh Alva. Kemudian Riky menatap wajah Alva seraya mengernyitkan keningnya.
"Iya,"sahut Alva yang nampak masih bingung dengan sikap Disha.
'Tuan kenapa? Tuan bertengkar dengan Nyonya Disha?"tanya Riky to the point.
"Dari mana kamu tahu?"tanya Alva menatap Riky.
"Saat saya akan kemari, Nyonya keluar dari ruangan ini dengan membanting pintu. Dan saat saya melihat Nyonya, wajahnya nampak seperti singa betina yang sedang marah,"jelas Riky.
"Aku hanya ingin menggodanya, aku ingin melihat dia cemburu padaku, tapi dia malah marah padaku,"jelas Alva kemudian membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Memangnya bagaimana cara Tuan menggoda Nyonya?"tanya Riky mengorek informasi dari Alva.
"Aku bilang tamu ku tadi cantik,"jawab Alva.
"Oh ya ampunn..!!"ucap Riky sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa? Apa kata-kata ku itu salah?"tanya Alva yang bingung dengan reaksi Riky.
"Tentu saja kata-kata anda salah, sangat salah,"ucap Riky.
"Apanya yang salah?"tanya Alva masih tidak mengerti.
"Saya memang belum pernah punya pasangan, tapi saya selalu mengamati hubungan antara ibu dan ayah saya. Ibu saya akan marah jika ayah saya memuji perempuan lain apalagi memuji perempuan lain cantik didepan ibu saya,"jelas Riky.
"Jadi dia marah karena aku bilang wanita lain cantik?"tanya Alva memperjelas.
"Iya, dan apakah anda tahu apa yang dilakukan oleh ibu saya setelah ayah saya memuji perempuan lain cantik?"tanya Riky nampak serius.
"Apa?"tanya Alva penasaran.
"Ayah saya tidak diperbolehkan ibu untuk masuk ke dalam kamar dan di diamkan oleh ibu,"jawab Riky.
"Anda harus merayu nya. Tanya apa keinginan Nyonya dan berjanjilah untuk menepatinya. Tapi anda harus benar-benar menepatinya karena kalau Tuan tidak menepatinya, Nyonya akan semakin marah pada Anda,"jelas Riky.
"Begitu ya?"tanya Alva menghela nafas berat.
"Iya, dan ingat, turuti apapun permintaan Nyonya, jika tidak, anda akan didiamkan oleh Nyonya, tidak diperbolehkan tidur di dalam kamar, dan... selamat anda tidak akan bisa melukis dan keris pusaka Tuan tidak akan bisa masuk ke dalam sarungnya,"ucap Riky tertawa terbahak-bahak, menertawakan nasib Alva.
"Riky..!!!"pekik Alva.
"Ampun, Tuan!! Saya saya masih polos!!' pekik Riky berlari keluar dari ruangan Alva.
"Tidak bisakah dia memberikan solusi tanpa mengejek dan menertawakan aku?!"gerutu Alva.
***
Di kamar Anjani.
"Her, besok adalah jadwal aku periksa ke dokter,"ucap Anjani yang kandungannya sudah membesar.
"Suruh saja Sandy untuk mengantarkan kamu ke dokter,"sahut Hery enteng tanpa menatap Anjani, sibuk dengan handphonenya.
__ADS_1
"Her, anak yang aku kandung ini adalah anakmu, bukan anak Sandy! Setiap aku ingin makan apapun kamu selalu menyuruh ku untuk minta Sandy mencarikannya,"
"Setiap kontrol ke dokter kamu menurunkan aku di jalan dan menyuruh ku untuk meminta Sandy agar mengantarkan aku. Dimana tanggung jawab mu sebagai suami dan ayah dari anak ini?!"bentak Anjani.
"Tanggung jawab? Aku sudah menikahi kamu dan menafkahi kamu baik nafkah lahir ataupun batin.Tanggung jawab apalagi yang kamu inginkan dari ku?!" bentak Hery.
"Kamu memang menikahi ku dan menafkahi aku. Tapi kamu hanya menjadikan aku pemuas nafsu mu. Kamu meniduri ku hanya karena kebutuhan biologis mu dan tanpa rasa cinta,"ujar Anjani menitikkan air mata.
"Apa? Cinta? Cinta kamu bilang? Kamu tahu kan kalau aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah mencintai mu?"ucap Hery yang terasa menusuk jantung Anjani.
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku, aku pun juga tidak mencintaimu. Tapi aku berusaha mencintaimu dan selama ini aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk kamu. Semua itu aku lakukan karena bayi dalam kandunganku,"
"Aku tidak ingin dia terlahir dengan keadaan rumah tangga kita yang tidak seperti orang lain. Aku ingin dia hidup di tengah keluarga yang harmonis,"ucap Anjani seraya menghapus air matanya.
"Aku hanya mencintai Ayu dan selamanya akan tetap mencintai Ayu,"ucap Hery berapi-api.
"Sadarlah Her, Disha itu sudah menjadi milik orang lain dan dia tidak pernah mencintai mu!"ucap Anjani mencoba menyadarkan Hery.
"Aku tidak perduli dia mencintai aku atau tidak. Namun yang pasti aku hanya mencintai Ayu dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintai Ayu,"ucap Hery.
"Baiklah jika kamu tetap bersikeras seperti itu. Aku juga akan menentukan sikap ku. Aku sudah sangat bersabar menghadapi mu dan aku sudah muak dengan pernikahan ini. Setelah anak ini lahir, aku akan menggugat cerai pada mu,"ucap Anjani yang benar-benar sudah tidak bisa lagi memaklumi sikap Hery.
"Apa kamu bilang? Berani kamu menggugat cerai pada ku?"bentak Hery dengan wajah yang menggelap.
Dengan amarah yang terasa sampai di ubun-ubun Hery mencengkram pipi Anjani,"Jika kamu berani menggugat cerai padaku, akan ku bunuh anak dalam kandungan mu itu!"ancam Hery mencengkram kuat pipi Anjani.
"Aku tidak perduli! Bunuh saja aku! Bunuh saja anak ini! Aku sudah muak hidup dengan mu! Aku juga tidak lagi menginginkan anak ini! Aku tidak mau memiliki anak dari laki-laki seperti mu!"ucap Anjani berapi-api, tidak sedikit pun ada ketakutan di matanya.
"Kau...."geram Hery mengangkat tangannya hendak menampar Anjani.
"Apa? Pukul saja aku, dan aku akan menggugat mu karena KDRT! Kalau pun kamu membunuh ku, kamu akan mendekam di jeruji besi sampai akhir hidupmu! Cukup sudah aku bersabar menghadapi sikap mu, dan sekarang kesabaran ku sudah habis!"ucap Anjani menantang Hery.
Hery mengepalkan tangannya yang sudah di udara ingin menampar Anjani kemudian melepaskan cengkraman tangannya di pipi Anjani dan keluar dari kamar itu dengan penuh amarah.
🌟"Jangan menganggap gunung yang diam tidak berbahaya, karena jika gunung itu meletus, sedikitpun kau tidak akan berdaya untuk mencegahnya.
...Jangan remehkan orang yang hanya diam saat kau tindas, karena jika kesabarannya habis, kamu akan menyesal karena telah menindas nya." 🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued
__ADS_1