
Sudah cukup lama Radeva mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menurunkan suhu tubuhnya yang terasa panas. Radeva memakai bathrobe dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, kemudian keluar dari kamar mandi. Radeva mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu, tapi tidak menemukan istrinya. Tatapan matanya tertuju pada baju piyama yang ada di atas ranjang.
"Dia menyiapkan pakaian untuk ku, tapi kemana dia?"gumam Radeva seraya mengenakan baju piyama yang sudah disiapkan oleh Icha. Radeva menghampiri pintu balkon yang tertutup rapat, memastikan bahwa istrinya tidak ada di balkon kamarnya.
"Apa dia ke dapur?"gumam Radeva lagi, kemudian melangkah keluar dari kamar menuju dapur rumah itu.
Radeva menuruni anak tangga dan melangkah menuju dapur hingga terdengar suara...
"Kamu? Sedang apa kamu di sini? Kamu menginap di sini?"tanya seorang itu, membuat Icha langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Iya,"sahut Icha singkat dan santai, kemudian kembali menuang air minum dalam kemasan botol ke gelas dan meminumnya sampai habis. Mendengar suara dua orang didalam dapur itu, Radeva pun menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam dapur.
"Tak"orang itu menyalakan lampu utama yang ada di dapur itu, sehingga ruangan itu terlihat terang benderang.
"Baru juga menjadi tunangan, tapi sudah berani menginap di rumah calon suami. Apa kamu sudah tidak sabar ingin menjadi Nyonya rumah ini? Kamu pasti ingin merayu kakak ku, hingga kakakku membiarkan kamu menginap di sini, kan? Kamu ingin merangkak ke atas ranjang kakak ku agar kamu bisa cepat-cepat menjadi Nyonya dirumah ini, kan? Murahan!"ucap orang yang tidak lain adalah Trisha itu sarkas dengan tatapan merendahkan Icha.
Radeva mengepalkan tangannya saat lawan bicara Icha, yang tidak lain adalah Trisha itu menghina Icha. Radeva bermaksud masuk ke dalam dapur itu, namun dia menghentikan langkahnya saat mendengar suara Icha.
"Memangnya kenapa jika iya? Aku datang kemari memang untuk merangkak ke atas ranjang putra sulung keluarga ini. Kenapa? Kamu iri, karena kamu tidak bisa menikah dengan pria kaya, tapi sekali menikah, malah menikah dengan pria brengseek bajing*n, yang nggak punya apa-apa. Dan mirisnya lagi, sekarang malah jadi janda. CK.ck.ck. nasibmu tragis sekali. Aku turut prihatin,"ucap Icha pura--pura menampilkan ekspresi sedih seraya menggeleng-ngelengkan kepalanya pelan.
Mendengar Icha yang terdengar bisa membela diri, Radeva memilih diam dan bersembunyi di suatu tempat untuk mendengar apa saja yang akan dibicarakan oleh kedua orang yang ada di dalam dapur itu.
"Dasar wanita rendahan! Wanita murahan! Tidak tahu malu! Beraninya kamu menghinaku!"umpat Trisa pada Icha, membuat wajah Radeva di tempat persembunyiannya menggelap.
__ADS_1
"Aku berasal dari keluarga sederhana yang terhormat, bermartabat dan jelas asal usul ku, tapi kamu...."Icha menjeda ucapnya seraya menatap orang yang menghinanya itu dari atas sampai bawah,"
"Kamu hanya anak pungut yang tidak jelas orang tuamu.Bahkan orang tuamu adalah orang yang telah berusaha mencelakai keluarga ini. Kamu dirawat dan dibesarkan oleh keluarga ini, diperlakukan layaknya putri keluarga ini sendiri, bahkan diberikan uang seratus juta dan sebuah butik besar di kota ini, tapi tidak tahu terima kasih,"
"Mengharapkan warisan dari keluarga yang di celakai kedua orang tuamu, sekaligus keluarga yang merawat dan membesarkan mu. Jangankan membalas budi atas kebaikan mereka padamu, kamu malah meminta warisan yang bukan hak mu pada mereka. Jadi siapa sebenarnya yang orang rendahan dan tidak tahu malu?"tanya Icha membuat Trisha mengepalkan tangannya, menatap Icha tajam, sedangkan Radeva yang berada di tempat persembunyiannya nampak menipiskan bibirnya saat mendengar kata-kata Icha.
"Kau.!"geram Trisha yang tidak menyangka kalau Icha tahu tentang orang tua nya yang mencoba mencelakai keluarga Mahendra.
"Aku merayu Kak Radeva yang sudah resmi di mata publik jika dia adalah tunangan ku. Tapi kamu..."Icha kembali menjeda kata-katanya dengan tatapan jijik pada Trisha,"Kamu merayu pria yang sudah beristri, bahkan menanggalkan seluruh pakaian mu di depan pria yang jelas-jelas kamu tahu dia sudah beristri, hanya untuk menjerat pria itu. Tapi nahasnya, pria itu bukannya bernapsu padamu, tapi malah mempermalukan kamu di depan umum. Jadi, siapa yang rendahan dan tidak tahu malu?"tanya Icha lagi, menatap rendah pada Trisha.
"Jaga mulutmu itu! Atau aku akan merobek mulut mu itu!"sergah Trisha yang wajahnya sudah menggelap.
"Kamu yang harusnya menjaga mulutmu itu! Berani sekali kamu menghina aku! Aku Nyonya rumah ini, apa kamu tidak takut jika aku menendang mu keluar dari rumah ini?"sarkas Icha dengan senyum sinis, sedangkan Radeva yang berada di tempat persembunyian nya tersenyum bangga melihat dan mendengar Icha yang tidak mudah ditindas oleh Trisha.
Icha tentu tahu apa saja tentang keluarga Mahendra, karena Disha yang memberi tahu nya. Apalagi semenjak Icha sudah resmi menjadi istri Radeva, Disha menceritakan semua hal tentang keluarga nya, terutama tentang Trisha.
"Hey....kamu pikir kamu bisa menyingkirkan aku dari rumah ini? Jangan harap kamu bisa menendang ku dari rumah ini, yang ada kamu yang akan tersingkir dan ditendang keluar dari rumah ini. Dan satu lagi, kamu tidak perlu membanggakan diri menyebut diri mu sebagai adik dari Radeva, karena kamu bukan adiknya. Adik Radeva hanya satu, yaitu Disha. Namamu bahkan sudah dicoret dari kartu keluarga Mahendra, masih berani mengaku-ngaku sebagai adik Radeva,"
"Kamu pikir kamu bisa menyingkirkan dan menendang aku keluar dari rumah ini? Jangan mimpi! Dasar anak pungut tidak tahu diri! Perempuan tidak tahu malu! Masih berani mengemis tinggal di keluarga yang hampir dihabisi oleh kedua orang tuamu? Seharusnya kamu ikut mati tertabrak dengan kedua orang tua mu. Dasar anak penjahat! Kamu yang rendahan, murahan dan tidak tahu malu, tapi malah meneriaki orang lain rendahan, murahan dan tidak tahu malu. Menjijikkan!"sergah Icha dengan suara tegasnya, memandang sinis pada Trisha.
"Kamu!"geram Trisha seraya melayangkan tangannya hendak menampar Icha, namun sebelum tangan Trisa mendarat di pipi Icha, tangan Trisha langsung di cekal oleh Icha, bahkan Icha mencengkram tangan Trisha hingga membuat perempuan itu meringis menahan sakit.
"Aku bukan tipe orang yang suka menganggu dan mengurusi urusan orang lain. Tapi aku paling tidak suka jika ada yang menganggu dan ikut campur dalam urusan ku. Jadi, sebaiknya kamu jangan mencari masalah dengan ku!"ucap Icha seraya menatap tajam pada Trisha dan semakin mencengkram erat tangan Trisha.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan malam-malam begini di sini?"tanya Radeva yang tiba-tiba muncul.
"Kak,lihatlah! Perempuan ini sedang menyakiti aku,"ucap Trisha dengan ekspresi dan nada seolah sangat kesakitan, seraya melirik tangannya yang dicekal oleh Icha.
"Kembali ke kamar!"titah Radeva tanpa ekspresi, menatap Icha sekilas, kemudian langsung meninggalkan dapur itu dan melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Mampus!"ucap Trisha pada Icha dengan senyuman jahat menghentakkan tangannya hingga cengkraman Icha terlepas.
"Aku peringatkan sekali lagi! Jangan cari masalah! Karena aku tidak akan tinggal diam, jika kamu berani mengusikku!"ancam Icha dengan tatapan tajam.
"Aku akan membalas mu!"ancam Trisha seraya memegangi tangannya yang sakit kerena, dicengkeram Icha tadi,
Tanpa menggubris kata-kata Trisha, Icha langsung menyusul suaminya yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju kamar mereka.
...π"Kebanyakan manusia tidak mau berkaca, sehingga tidak bisa menilai dan melihat keburukan diri sendiri, tapi sibuk melihat dan mengomentari keburukan orang lain."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Jangan lupa like dan komen, ya! Biar author semangat buat up. Jangan menjadi pembaca ghoib, tanpa jejak! Terimakasih atas dukungan kalian semua. Love you all!π€π€π€πππππ
To be continued
__ADS_1