Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
119. Kekesalan Adiguna Dan Riky


__ADS_3

"Aku tidak melakukan apapun pada Anjani, pa,"kilah Hery tidak ingin papanya semakin marah padanya.


Setelah menunggu dengan gelisah akhirnya terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan UGD itu membuat Hery dan Darmawan merasa lega. Hery tidak tahu apa yang akan dilakukan papanya jika sampai terjadi sesuatu pada anak dan istrinya yang sebentar lagi mungkin akan menjadi mantan istri nya.


Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruangan itu,"Dok, bagaimana keadaan anak dan istri saya?"tanya Hery.


"Syukurlah, semua baik-baik saja karena segera dibawa kesini dan mendapatkan penanganan medis dengan cepat. Sebentar lagi istri anda akan di pindahkan ke ruang rawat. Selamat ya, Pak! Jagoannya sangat tampan,"ucap dokter itu kemudian berlalu dari tempat itu.


Hery dan Darmawan merasa sangat bahagia mendengar kata-kata Dokter itu. Tak lama kemudian Adiguna keluar dari ruangan itu dan melihat Hery dan Darmawan berada di depan ruangan itu.


"Bagaimana keadaan Anjani dan cucu kita?"tanya Darmawan pada Adiguna.


"Syukurlah mereka baik-baik saja,"sahut Adiguna nampak lega. Namun Adiguna langsung menatap tajam kearah Hery saat mengingat banyak kiss mark di leher Anjani. Adiguna berjalan ke arah Hery dan langsung memegang kerah kemeja Hery dan mendorong Hery ke dinding.


"Bugh" tubuh Hery membentur dinding lumayan keras hingga membuat Hery meringis.


"Apa yang telah kamu lakukan pada putri saya hingga terjadi kejadian seperti ini? Apa kamu tidak berpikir bahwa tindakan mu itu hampir saja membunuh putriku dan bayi yang ada di dalam kandungan nya? Apa tidak bisa kamu menghargai nyawa orang lain apalagi nyawa seorang wanita yang sedang mengandung darah daging mu sendiri?"cecar Adiguna merendahkan suaranya namun dengan kata-kata yang penuh penekanan.


"Aku tidak sengaja, pa!" kilah Hery.


"Tidak sengaja kamu bilang? Jika ingin melampiaskan naffsu bejjat mu, carilah wanita diluar sana! Jangan membahayakan nyawa wanita yang sedang mengandung anakmu!"ucap Adiguna dengan penuh kemarahan.


Darmawan yang mulanya tidak mengerti dengan kemarahan Adiguna, akhirnya mengerti apa duduk masalahnya setelah Adiguna mencecar Hery.


"Dia masih sah sebagai istri ku, karena palu pengadilan belum di ketuk. Papa tidak berhak memisahkan kami,"ucap Hery tanpa rasa berdosa.


"Cih! Kamu bicara seolah kamu adalah suami yang baik, bertanggung jawab, dan sangat mencintai istrimu,"sergah Adiguna melepaskan tangannya dari kerah baju Hery seolah merasa jijik dengan Hery.


"Walaupun aku tidak mencintai Anjani, tapi itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku adalah suami Anjani,"ucap Hery percaya diri.


"Iya, aku tidak bisa mengubah kenyataan bahwa kenyataannya kamu adalah suami paling brengseek yang pernah aku temui. Suami macam apa yang tega memaksa istrinya yang sedang mengandung untuk melayaninya?!"sergah Adiguna berapi-api.

__ADS_1


"Aku tidak memaksanya, aku hanya meminta hak ku sebagai seorang suami. Harusnya papa mengajari putri papa agar patuh pada suaminya dan melayani suaminya dengan baik. Sudah beruntung aku mau menikahi putri papa yang sudah bekas orang itu,"ucap Hery tanpa dosa.


"Bugh! Bugh!"dengan penuh amarah Adiguna menghadiahkan bogem mentah pada Hery.


Darmawan yang memang menyadari bahwa sikap putranya sudah sangat keterlaluan itu pun membiarkan Adiguna menghajar Hery. Darmawan bahkan merasa sangat malu mempunyai anak seperti Hery.


Darmawan sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendidik dan membesarkan Hery menjadi orang yang baik dan bisa dibanggakan. Namun kenyataannya Hery malah menjadi pria brengseek.


"Pergi kamu dari sini! Jangan pernah temui putri saya lagi! Saya tidak mau melihat wajah mu lagi!"sarkas Adiguna.


"Papa tidak berhak melarang saya menemui anak dan istri saya. Saya masih kepala keluarga dalam rumah tangga kami. Kami belum resmi bercerai,"ucap Hery masih keukeh dengan pendiriannya.


"Kau..!!!"geram Adiguna yang tidak tahu harus bagaimana lagi bicara dengan Hery.


"Sudahlah, Di! Jangan diladeni lagi anak itu. Aku saja yang sebagai ayahnya tidak sanggup lagi untuk mendidiknya.Jika terus diladeni, lama-lama kita akan menderita darah tinggi, dan terkena stroke,"


"Sepertinya aku harus tes DNA, aku ragu kalau dia itu darah daging ku. Aku curiga putra kandung ku tertukar dengan dia saat ada di rumah sakit. Tidak ada keluarga kami yang berakhlak bejjat seperti dia,"ucap Darmawan yang merasa sangat kecewa dengan Hery.


Darmawan mengajak Adiguna pergi dari tempat itu. Kebetulan brankar Anjani keluar dari ruangan UGD dan akan dipindahkan ke ruang rawat. Akhirnya Darmawan dan Adiguna pun meninggalkan tempat itu mengikuti brankar Anjani menuju ruang rawat.


Diruang rawat Anjani, nampak Adiguna dan Darmawan sudah berada di ruangan itu. Adiguna mengusap kepala Anjani dengan sayang.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?"tanya Adiguna pada putrinya.


"Iya pa, aku sudah merasa lebih baik,"sahut Anjani seraya tersenyum walaupun wajahnya masih terlihat pucat.


"Anjani, papa minta maaf atas kelakuan Hery padamu. Papa tidak tahu lagi harus bagaimana mendidik Hery. Dari kecil dia memang susah diatur. Papa sepenuhnya mendukung kamu berpisah dari Hery. Tapi papa mohon kamu tetap memanggil papa dengan sebutan papa. Kamu mau kan?"tanya Darmawan penuh harap.


"Iya, pa. Papa tidak perlu khawatir, Papa akan tetap menjadi papa ku,"sahut Anjani seraya tersenyum tipis.


"Terimakasih, Nak,"ucap Darmawan merasa bahagia.

__ADS_1


***


Di Perusahaan Bramantyo.


"Rik, aku ingin mengajak mu ke acara ulang tahun Trisha. Kamu boleh mengajak Yessie sebagai pasangan mu. Itung-itung kencan, seumur hidup kamu kan belum pernah merasakan bagaimana itu kencan,"ledek Alva.


"Tuan, sepertinya cermin di rumah anda sudah tidak bagus lagi. Apa perlu saya mengganti cermin yang ada di rumah anda?"tanya Riky.


"Cermin di rumah ku masih bagus. Lagian aku sekarang sedang membahas tentang kencan, bukan soal cermin. Apa telinga mu bermasalah? Atau kita harus ke dokter THT untuk memeriksakan telinga mu?"ketus Alva.


"Telinga saya baik-baik saja Tuan, tidak bermasalah.Tuan harus berkaca, Tuan mengatakan saya belum pernah berkencan, tapi Tuan sendiri belum pernah berkencan dengan Nyonya. Bahkan tuan tidak pernah melamar Nyonya. Tuan tidak tahu bagaimana rasanya melamar seorang gadis,"


CK..ck..ck.. Apa Tuan tidak berpikir bagaimana perasaan Nyonya jika melihat seorang gadis dilamar dan duduk bersanding di pelaminan? Nyonya tidak pernah merasakan itu,"


"Tuan menikah dengan Nyonya karena di gerebek warga, setelah menikahi Nyonya, anda meninggalkan Nyonya dan menikah lagi tanpa sepengetahuan Nyonya. Bahkan anda menyembunyikan identitas Nyonya sebagai istri pertama anda,"


"Apa anda tahu bagaimana perasaan Nyonya? Saya yakin Nyonya pasti merasa seperti seorang istri simpanan waktu itu. Maaf jika saya lancang mengatakan ini.Tapi menurut saya anda sangat beruntung mendapatkan istri seperti Nyonya,"


"Sampai detik ini Nyonya masih tetap bertahan bersama Anda setelah melewati begitu banyak masa sulit dan juga rasa sakit.Jaga Nyonya baik-baik, jangan biarkan wanita lain mendekati Anda. Jangan memberikan perhatian kepada wanita lain selain Nyonya,"


"Jangan biarkan sedikit pun hati Nyonya terluka karena anda.Tolong jauhilah gadis yang bernama Trisha itu. Saya akan mengajak Yessie menghadiri acara ulang tahun itu. Saya permisi,"ucap Riky mengungkapkan rasa kesalnya pada Alva, kemudian pergi meninggalkan ruangan Alva.


Riky merasa kesal saat mengingat Alva membiarkan Trisha ikut dengan mereka makan siang bersama klien waktu itu. Menurut Riky, Alva kurang tegas terhadap Trisha yang jelas-jelas ingin mendekatinya.


Alva nampak tertegun mendengar kata-kata Riky yang panjang dan lebar itu. Alva merasa apa yang dikatakan oleh Riky memang benar adanya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku pada Disha?"gumam Alva.


...🌟"Sakit yang paling menusuk ke dalam hati adalah jika rasa sakit itu karena orang yang sangat kamu cintai."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2