Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
144. Tuduhan Radeva.


__ADS_3

Bel rumah Bramantyo berbunyi beberapa kali dan seorang Art tergopoh-gopoh menghampiri pintu kemudian membukanya.


"Maaf, Tuan dan Nyonya ingin bertemu dengan siapa?"tanya Art itu pada dua orang pria dan seorang wanita yang berdiri di depan pintu.


"Tolong sampaikan pada Nyonya Ratih, saya Ghina ingin bertemu dengan nya,"ucap perempuan paruh baya yang tidak lain adalah Ghina.


"Mohon tunggu sebentar Nyonya, Tuan,"sahut Art itu bergegas memberitahu pada majikan nya.


"Nyonya, ada seorang pria paruh baya, seorang pemuda dan seorang wanita paruh baya yang bernama Ghina ingin bertemu dengan anda,"ucap Art itu pada Ratih.


"Ghina?"tanya Ratih untuk memastikan apa yang di dengarnya tidak salah.


"Iya, Nyonya,"ucap Art itu.


Ratih langsung bangkit dari karpet tempatnya duduk dan bergegas menuju pintu utama, sedangkan Bramantyo yang mendengar kata-kata Art tadi hanya melihat sekilas kepada Ratih kemudian kembali bermain dengan cucunya.


"Ghina?!"pekik Ratih saat melihat sahabatnya berdiri di depan pintu. Ratih pun langsung memeluk sahabatnya itu.


"Ratih!"ucap Ghina membalas pelukan Ratih.


"Ya ampun!! Aku tidak menyangka jika kamu akan datang ke rumah ku. Ayo semuanya, masuk!"ajak Ratih menggandeng Ghina, melangkah menuju ruang tamu. Namun seketika Ratih mengurungkan niatnya untuk menuju ruang tamu saat mendengar suara tawa Kaivan, cucu kesayangan nya.


"Eh..kita ke ruang keluarga saja, yuk! Semua sedang berkumpul di sana,"ucap Ratih terus menggandeng Ghina melangkah ke ruang keluarga di ikuti Mahendra dan Radeva di belakang mereka.


Saat baru masuk kedalam ruang keluarga itu, Mahendra, Ghina dan Radeva melihat Bramantyo sedang asyik bermain dengan Kaivan, sedangkan Alva yang duduk disebelah Disha nampak memeluk Disha dari samping seraya memperhatikan tablet yang ada ditangan Disha.


Alva dan Disha menggunakan satu earphone bersama-sama. Alva memakai earphone di telinga kanannya dan Disha memakai earphone di sebelah kiri nya. Mereka sedang menonton tentang cara mendidik anak yang baik dari berbagai sumber.


"𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙥𝙪𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙨𝙧𝙖,"batin Radeva menatap Alva yang sedang memeluk Disha dari samping.


"Pa, lihat siapa yang datang!"seru Ratih dengan wajah yang berbinar.


Sedangkan Mahendra dan Ghina memperhatikan Bramantyo yang sedang asyik bermain dengan cucunya lalu melihat Disha dan Alva yang terlihat sangat mesra duduk berdampingan.


"Mahendra! Mimpi apa aku semalam hingga kamu jauh-jauh datang ke rumah ku ini,"ucap Bramantyo langsung bangkit dari duduknya dan menggendong Kaivan. Sedangkan Alva dan Disha pun ikut memperhatikan tamu yang di bawa Ratih ke ruang keluarga itu.


"Al, Dis, sini! Kemari lah! Kenalkan, ini teman lama mama,"ucap Ratih menatap pada anak dan menantunya. Alva dan Disha pun segera menghampiri Ratih.

__ADS_1


"Wah.. nampaknya kamu sangat menikmati menjadi seorang kakek ucap Mahendra pada Bramantyo.


"Ah iya, aku sangat menikmati nya. kapan kamu menyusul?"tanya Mahendra


"Entah lah. Bahkan sampai sekarang putraku masih betah melajang,"keluh Mahendra.


"Ghina, Mahendra, kenalkan ini anak dan menantu ku,"ucap Ratih memperkenalkan mereka.


"Apa kabar Om, Tante?"sapa Alva menyalami Mahendra dan Ghina.


"Baik, nak! Teryata putramu tampan juga, Tyo,"celetuk Mahendra sedang Ghina hanya tersenyum.


"Dan ini menantu kami, Disha,"ucap Ratih.


"Apa kabar Om, Tante?"sapa Disha menyalami Mahendra dan Ghina.


"𝘽𝙚𝙧𝙣𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙫𝙖, 𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙞𝙧𝙞𝙥 𝙞𝙗𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙩𝙪𝙖, 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙞𝙧𝙞𝙥 𝙞𝙗𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙩𝙪𝙖,"batin Ghina.


"𝙏𝙚𝙧𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙫𝙖, 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙞𝙧𝙞𝙥 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙞𝙗𝙪,"batin Mahendra.


"Baik, Tuan Radeva,"ucap Alva tersenyum tipis dengan tangan yang melingkar di pinggang Disha. Sedangkan Disha hanya tersenyum tipis dan sedikit mengangguk pada Radeva.


"Kenapa kalian formal sekali? Panggil saja nama! Usia kalian kan cuma beda satu tahun saja,"celetuk Ratih.


"Kami rekan bisnis Tante jadi biasa memanggil seperti ini,"sahut Radeva.


"Benarkah? Wah..mama baru tahu kalau kalian rekan bisnis. Tapi ini kan di rumah, lagian walaupun kalian baru saling mengenal, kami orang tua kalian ini sudah lama bersahabat,"ujar Ratih.


"Itu benar. Atau mungkin kalian bisa memanggil kakak kepada Radeva, usia kalian kan lebih muda dari Radeva,"celetuk Ghina.


"Benar sekali! Sebaiknya kamu dan Disha memanggil Radeva dengan sebutan kakak saja , Al,"timpal Ratih.


"Baiklah, ma,"sahut Alva dan Disha hanya mengangguk.


"Iya, panggil saja seperti itu, biar akrab,"timpal Bramantyo.


"Eh, ayo silahkan duduk!"ucap Ratih mempersilahkan tamunya duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Ngomong -ngomong aku surprise banget dengan kedatangan kalian,"ucap Ratih.


"Kami datang kemari sebenarnya juga tanpa rencana. Tiba-tiba saja Radeva meminta kami kemari untuk menyelesaikan masalah yang di buat putri kami,"sahut Mahendra.


"Masalah yang dibuat putri kalian?"tanya Bramantyo seraya mengernyitkan dahinya.


"Iya Om. Mungkin Alva sudah tahu dengan apa yang kami maksud,"ucap Radeva seraya menghela nafas panjang.


Sebenarnya Radeva tidak ada rencana untuk mendatangi Alva dan membicarakan masalah itu, karena yang bersalah sebenarnya adalah Trisha. Namun karena masalah itu disinggung, sekalian saja Radeva mengungkapkan perasaannya yang tidak setuju dengan perbuatan Alva yang malah menjebak balik Trisha.


"Maksudnya tentang Trisha yang ingin menjebak kami?"tanya Alva yang tahu kearah mana Radeva bicara.


"Aku minta maaf sebelumnya. Aku tahu adikku memang bersalah, tapi tidak seharusnya juga kamu menjebak balik Trisha. Apa kamu tidak tahu, apa artinya kesucian bagi seorang wanita?"tanya Radeva menohok.


Alva menarik sebelah sudut bibirnya mendengar Radeva menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Trisha. Kemudian Alva menatap Radeva dengan tatapan datar.


" Aku tidak tahu jika adikmu akan menjebak kami. Aku baru tahu pagi hari nya. Bahkan aku terkejut mendengar tentang kejadian itu. Jujur aku memang tidak suka dengan adikmu yang selalu ingin menjatuhkan istri ku di setiap kesempatan yang ada. Namun aku tidak akan berbuat seperti itu,"


"Aku tidak pernah memberi perintah pada anak buah ku untuk melakukan hal itu. Mereka melakukan itu atas inisiatif mereka sendiri,"ujar Alva.


"Apa sebenarnya yang kalian bicarakan?" tanya Bramantyo yang memang tidak tahu apa-apa, begitu juga Ratih.


"Adik saya berusaha menjebak Alva dan Disha dengan memberi mereka obat perang sang agar Alva tidur dengan Trisha dan Disha tidur dengan pria yang bernama Hery. Tapi pihak Alva malah menjebak Trisha balik sehingga Trisha berakhir tidur dengan Hery,"jelas Radeva singkat.


"Apa?"pekik Bramantyo dan Ratih terkejut dengan apa yang mereka dengar.


"Ada yang ingin aku lurus kan dalam kejadian itu. Trisha memang berkata pada Hery bahwa Hery akan mendapatkan Disha dan Trisha mendapatkan aku. Tapi kenyataannya Trisha mengkhianati Hery dan menyuruh orang untuk memberikan obat perang sang itu pada ku Disha dan pada anda Tuan Radeva,"ucap Alva tegas dan menatap tajam ke arah Radeva.


"Apa maksud mu?"tanya Radeva.


"Trisha ingin mendapatkan aku dan kamu mendapatkan istri saya. Trisha berencana memberi obat perang sang itu pada ku, pada Disha dan padamu,"jelas Alva tegas.


"Apa? Apa maksud mu?"tanya Radeva nampak terkejut.


"Maksud nya, seperti aku yang mengetahui bahwa kamu menyukai istriku, Trisha sepertinya juga tahu jika Anda juga menyukai istriku. Apa yang aku katakan itu benar kan?!"tanya Alva tersenyum sinis.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2