Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
200. Tersangka


__ADS_3

"Siapa nama kakak kamu, Dis?"tanya Icha penasaran.


"Iya, siapa namanya?"timpal Yessie yang juga penasaran.


"Ntar aku kenalin pas pesta aja, biar surprise,"sahut Disha tersenyum cerah.


"Sejak kapan kamu ketemu keluarga kamu, Dis?"tanya Icha.


"Pas pesta pernikahan Yessie,"sahut Disha.


"Udah agak lama itu. Kok kamu nggak kasih tahu kami, sich!"protes Icha.


"Iya, Dis. Kok kamu diam-diam aja sich!" timpal Yessie.


"Kami memang belum ngasih tahu siapapun. Papa dan kakakku masih sibuk memindahkan perusahaan induk yang ada di luar negeri kembali ke sini. Kakak juga sibuk nyari rumah untuk tempat tinggal mereka disini. Setelah dapat rumah, kakak merenovasi beberapa bagian. Tapi kata kakak semalam, mungkin seminggu lagi mereka sudah bisa pindah ke rumah itu,"ujar Disha panjang lebar.


"Maksud kamu, sebelumnya mereka tidak tinggal di sini?"tanya Yessie.


"Iya, selama ini mereka tinggal di luar negeri,"sahut Disha.


"Mindahin perusahaan induk, berarti orang tua kamu tajir, dong?!"tanya Icha.


"Bisa dibilang begitu,"sahut Disha.


"Tapi beneran, kakak kamu manggil kamu dengan panggilan 'sayang'?"tanya Yessie penasaran.


"Iya,"sahut Disha singkat.


"Memang PakSu nggak cemburu gitu, ada pria lain yang manggil kamu dengan panggilan 'sayang'?"tanya Icha yang tahu jika suami Disha cemburuan.


"Cemburu, sich! Cuma dia bisa apa? Dia nggak bisa ngatur kakakku mau manggil apa ke aku. Mangkanya setiap mereka ketemu pasti ribut,"ucap Disha kemudian terkekeh. Disha malah merasa lucu saat suaminya dan kakaknya berdebat.


"Pantesan kamu nggak ketemu ketemu sama orang tua kamu, tinggalnya aja di luar negeri,"sahut Icha.


"Iya, tapi aku bahagia bisa bertemu dengan mereka lagi. Aku masih punya orang tua yang lengkap dan juga mempunyai seorang kakak yang sangat menyayangiku,"sahut Disha dengan raut wajah yang nampak bahagia.


Tapi beneran, kakak kamu masih singel"tanya Icha.


"Iya, masih singel. Kakak kalau lagi senggang pasti ke rumah buat main sama Kaivan. Kenapa? Kok kayak galau lagi?"tanya Disha saat melihat wajah Icha kembali tidak bersemangat.

__ADS_1


"Aku nggak mau mimpi terlalu tinggi. Kalian orang tajir, mana mau sama aku yang Upik abu ini. Lagian, susah sekali melupakan cowok itu,"sahut Icha.


"Ye ilee..nich anak! Langsung lesu gitu kalau ingat tuch cowok. Kamu beneran jatuh cinta sama cowok yang menolong kamu itu? Aku jadi penasaran banget, kayak apa sich, tampang tuch cowok?" tanya Disha terlihat penasaran.


"Menurut ku dia cowok paling sempurna yang pernah aku temui,"sahut Icha menopang dagunya dengan sebelah tangannya.


"Kayaknya ni anak udah bener-bener kena panah asmara, dech!"celetuk Yessie.


Icha menghela napas panjang untuk mengurangi sesak di dadanya,"Aku tidak pernah merasa galau kayak gini karena cowok. Dia itu spesial banget buat aku, dia udah dua kali menyelamatkan aku. Tapi aku sadar diri, mimpiku untuk bersamanya itu terlalu tinggi,"ucap Icha seraya menghela napas panjang, untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


"Kamu kan sudah biasa patah hati,"sindir Yessie yang mencoba mencairkan suasana.


"Patah hati karena udah jadian itu wajar, Yes. Tapi ini.... jangankan jadian, bahkan bisa dikatakan hubungan kami hanya sebatas orang yang menolong dan orang yang ditolong. Dia bahkan enggan untuk memberikan nomor ponsel nya padaku. Seharusnya aku mengerti, jika nomor ponsel aja dia tidak mau memberikan, berarti dia tidak ingin berhubungan terlalu jauh dengan ku. Seharusnya aku sadar diri bahwa dia terlalu tinggi untuk aku gapai,"ujar Icha dengan wajah sendu.


"Jangan pesimis seperti itu. Percayalah, kamu akan bertemu dengan jodohmu di waktu dan tempat yang tepat. Tuhan sedang menyiapkan jodoh yang tepat dan terbaik untuk mu,"nasehat Disha.


"Semoga saja. Entah mengapa, aku tidak bisa melupakannya. Jujur, aku tidak pernah merasa menyukai seseorang seperti aku menyukainya,"ujar Icha yang memang tidak bisa melupakan sosok yang telah menyelamatkan dirinya.


***


Malam itu Alva nampak masih sibuk di ruang kerjanya dengan pekerjaan yang nampak menumpuk. Kaivan sedang asyik bermain dengan kakek dan neneknya. Sedangkan Radeva nampak duduk di teras samping dan baru saja mengakhiri obrolan dengan seseorang lewat sambungan telepon. Disha menghampiri kakaknya yang baru saja selesai menelepon itu.


"Hei, sayang! Duduk sini!"titah Radeva menepuk kursi di sampingnya sebagai isyarat agar Disha duduk di kursi itu. "Mana suami posesif kamu itu?"tanya Radeva menatap ke seluruh penjuru arah, tapi tidak menemukan Alva.


"Dia sedang berada di ruang kerjanya. Dia punya banyak pekerjaan,"sahut Disha seraya duduk di samping Radeva.


"Apa kamu benar-benar mencintai nya dan bahagia bersamanya?"tanya Radeva seraya mengelus kepala Disha.


"Hum, aku sangat mencintai nya dan bahagia bisa hidup bersamanya,"sahut Disha penuh keyakinan.


"Tapi dia itu sangat posesif, sayang. Apa kamu tidak merasa terkekang dengan sifat posesif nya itu?"tanya Radeva.


"Dia posesif padaku karena dia sangat mencintai ku, kak. Kami sudah melalui banyak ujian hingga kami bisa sampai pada titik ini. Dia menerima ku apa adanya dan tetap berjuang agar aku selalu berada di sisinya. Suatu hari nanti, jika kakak sudah mencintai seseorang, kakak pasti juga akan seperti Alva. Semakin kakak mencintai nya, maka kakak akan semakin posesif pada orang yang kakak cintai,'ucap Disha menatap lekat wajah Radeva.


"Aku belum pernah merasakan jatuh cinta yang seperti itu. Sebelum aku mencintai seseorang, orang itu sudah jatuh cinta pada Niko,"ucap Radeva menghela napas panjang.


"Berarti selama ini belum ada perempuan yang benar-benar mencintai kakak. Jika perempuan itu mencintai kakak, dia tidak akan berpaling dari kakak apapun alasannya. Orang yang benar-benar mencintai kita akan menerima kita apa adanya, kak,"sahut Disha.


"Aku tidak tahu apa-apa soal cinta. Tapi ternyata adikku lebih berpengalaman," ucap Radeva terkekeh menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Apa benar, kakak sudah ada cewek incaran?" tanya Disha menatap kakaknya serius.


"Ada, kakak sudah menyuruh anak buah kakak untuk mencari informasi tentang keseharian gadis itu,"jawab Radeva jujur.


"Kalau boleh tahu, siapa gadis yang kakak incar itu?"tanya Disha hati-hati takut kakaknya tersinggung karena menanyakan hal yang agak pribadi.


"Temanmu yang bernama Icha itu, sesuai rekomendasi dari mu,"sahut Radeva santai seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang didudukinya.


'Serius?"tanya Disha agak terkejut.


"Serius, sayang. Bukankah kamu yang merekomendasikannya pada kakak?" tanya Radeva balik.


"Tapi tadi siang dia bilang sedang patah hati, Kak,"ucap Disha ragu-ragu.


Mendengar kata-kata Disha, Radeva pun langsung duduk dengan tegak dan menatap Disha,"Patah hati? Patah hati karena siapa? Kata anak buah ku, tidak ada tanda-tanda dia sedang dekat dengan seorang pria. Apa dia bercerita padamu siapa pria yang membuatnya patah hati?" tanya Radeva nampak penasaran.


"Katanya dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria yang sudah menolongnya,"jawab Disha jujur.


"Orang yang sudah menolongnya? Apa kamu tahu, siapa orang yang menolong nya? Dan kapan orang itu menolongnya?" tanya Radeva nampak semakin penasaran.


"Aku juga tidak tahu, kak. Btw, apa kakak sudah pernah bertemu dengan Icha?"


"Sudah, aku tidak sengaja bertemu dengan dia dua kali saat dia akan dilecehkan mantan pacarnya dan saat dia akan di ganggu dua preman. Selebihnya kami bertemu beberapa kali di kantor polisi, menyangkut laporan pelecehan yang dia alami karena aku adalah saksinya," ujar Radeva membuat Disha terkejut.


"Apa pernah kakak menelpon ku saat bersamanya?"tanya Disha ingin memastikan.


"Pernah. Kenapa?"tanya Radeva mengernyitkan keningnya.


"Kakak memanggil ku dengan kata 'sayang' saat menelpon ku?"


"Iya, seperti biasanya, sayang,"sahut Radeva santai.


"Jadi kakak adalah tersangka utama yang bikin Icha patah hati?!"


"Hah.. maksudnya?"


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2