Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
216. Gunting Kertas Batu


__ADS_3

"Kamu! Berani sekali kamu menculik ku! Apa kamu sudah bosan hidup, hah?!" pekik Disha saat melihat Dita dan asistennya.


"Cih, sudah seperti itu, masih juga sombong. Kamu tahu, hidupmu sekarang bergantung padaku. Akulah yang sekarang menentukan takdir mu," ucap Dita duduk di sebuah kursi yang disiapkan anak buahnya menghadap Disha dengan angkuh.


"Hanya Tuhan yang bisa menentukan takdir manusia, bukan kamu!"sergah Disha.


"CK..CK..CK.. percaya diri sekali kamu. Aku ingin melihat, apa setelah apa yang aku lakukan padamu nanti kamu masih bisa percaya diri seperti ini?"ucap Dita dengan seringai jahat.


"Apakah, kamu yang telah berusaha melenyapkan Alva saat Alva berada di negara xx?"tanya Disha dengan tatapan tajam.


"Iya. Aku yang telah merencanakan kecelakaan yang menimpa Alva sewaktu di negara xx. Tapi sayang sekali dia bisa lolos,"ucap Dita santai.


"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu membenci kami? Apa kesalahan Alva padamu?"tanya Disha, masih menatap tajam ke arah Dita.


"Kesalahan Alva? Dia telah menolak cintaku yang tulus padanya. Dan dia membuat aku kehilangan seluruh keluargaku. Bramantyo telah melenyapkan seluruh keluargaku, hanya karena aku mencintai Alva. Mereka itu orang-orang yang tidak punya hati. Dengan kekayaan yang mereka miliki, mereka menyingkirkan kami yang berasal dari kalangan menengah ke bawah ini,"ucap Dita berapi-api.


"Kamu tidak bisa memaksa orang lain untuk menerima cintamu. Hati itu tidak bisa dipaksakan. Dan soal papa mertua ku melenyapkan keluarga mu, apa kamu punya buktinya? Jangan menuduh orang lain sesuka hati mu. Jika kamu memang merasa papa mertuaku memang sudah mencelakai keluarga mu, kenapa kamu tidak melaporkan pada pihak yang berwajib?"sergah Disha.


"Aku memang tidak punya bukti, tapi aku yakin kecelakaan itu pasti karena Bramantyo. Lagian, kamu pikir, kami yang orang miskin ini akan ditanggapi polisi jika kami melaporkan kejahatan orang kaya? Yang ada malah kami yang masuk penjara, dengan tuduhan telah mencemarkan nama baik orang-orang kaya itu,"sergah Dita.


"Kamu ini benar-benar sudah tidak waras, bisa-bisanya menuduh orang lain tanpa bukti dan saksi,"cibir Disha.

__ADS_1


"Aku memang sudah tidak waras. Bagaimana aku bisa waras jika seluruh keluargaku meninggal dalam satu hari. Walaupun bukan Bramantyo dalang dari kecelakaan itu, dia tetap harus bertanggung jawab. Karena jika dia tidak mengusir kami dari kota ini, maka keluargaku tidak akan meninggal dalam kecelakaan itu,"


"Apa kamu tahu bagaimana rasanya hidup sendiri tanpa keluarga, hah? Aku hidup terlunta-lunta tidak punya apa-apa, dan tidak punya siapa-siapa. Aku jadi gelandangan, dan kelaparan tanpa ada yang memperdulikan. Aku harus menjual diri pada seorang bandot tua untuk bertahan hidup. Tapi aku wanita yang cerdas, setelah aku menjadi istrinya, aku kuliah dan bekerja sebagai sekretarisnya lalu menyingkirkan semua istrinya. Dan dengan harta yang aku miliki sekarang, aku bisa membalas dendam pada orang yang telah membuat aku menderita,"ujar Dita kemudian tertawa, tawa yang terlibat mengerikan.


"Semua yang terjadi pada manusia itulah adalah takdir dari-Nya. Jangan menyalahkan orang lain karena nasib buruk yang menimpa mu,"sergah Dita.


"Oh ya? Jadi aku tidak bisa menyalahkan orang lain karena nasib buruk yang menimpaku? Semua yang terjadi pada manusia adalah takdir dari-Nya? Kalau begitu, jika aku memberikan mu obat perang sang dan membuat mu melayani semua pria yang ada di ruangan ini, itu juga nasib buruk dan takdir dari-Nya, kan?"tanya Dita dengan seringai jahat.


"Kamu benar-benar sudah tidak waras!" pekik Disha.


"Ya. aku memang sudah tidak waras karena Alva telah menolak cintaku. Dan sekarang dia begitu mencintai mu. Aku ingin melihat bagaimana perasaan nya jika melihat kamu mende sahh dan menikmati setiap cumb buan dari para lelaki yang ada disini, haha ..haha... "ucap Dita kembali tertawa.


"Kamu akan menyesal karena telah merencanakan semua ini padaku!"pekik Disha penuh emosi.


"Alva tidak akan mengampuni mu karena telah berani merencanakan semua ini padaku!"pekik Disha dengan tatapan tajam dan benci pada Dita.


Seorang pria berkepala plontos maju dengan senyum yang mengembang menghampiri Disha membawa obat,"Biar aku saja yang memberikan padanya,"ucap seorang pria yang menutupi wajahnya dengan masker.


"Pastikan dia menelan obat ini! Kita akan bersenang-senang dengan kucing liar malam ini,"ujar pria berkepala plontos tertawa senang seraya menyerahkan obat itu pada pria yang memakai masker.


"Lepaskan! Suamiku akan membunuh kalian jika kalian berani menyentuh aku!" pekik Disha mencoba berontak, tapi pria yang memakai masker itu terlihat memaksa Disha untuk meminum obat itu.

__ADS_1


"Ini minuman anda, Nyonya. Anda pasti merasa haus, kan?"ujar seorang pria yang memakai masker satunya lagi menyodorkan sebotol minuman pada Dita yang telah dibukanya. Kemudian membuka satu botol lagi dan memberikannya pada sekretaris Dita. Dita dan sekretaris nya pun langsung menyambar minuman kemasan itu dan menegak minuman itu sampai habis.


"Kita tunggu reaksi nya. Aku ingin melihat kamu menjadi kucing liar yang haus akan belaian. Siapkan alat untuk merekam semuanya, dan berikan pencahayaan yang bagus untuk Vidio panas ini. Ambil dari berbagai sisi agar terlihat jelas. Buat video paling hot dari perempuan itu!"perintah Dita kemudian mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, memainkan handphone nya seraya menunggu anak buahnya bekerja.


Para pria itupun dengan penuh semangat menyiapkan segalanya. Mereka nampak membentangkan kasur lantai yang sebelumnya sudah mereka bawa. Memasang kamera di beberapa titik dan menyalakan lampu emergency untuk memerangi tempat mereka akan melancarkan aksi menikmati buruan mereka secara bergiliran.


Bahkan mereka menentukan siapa yang akan menikmati buruan mereka lebih dulu dengan melakukan permainan gunting kertas batu. Sedangkan Disha nampak diam memperhatikan semua yang dilakukan oleh orang -orang itu dengan tenang.


"Kenapa ruangan ini terasa semakin panas, ya?"keluh Dita pada sekretarisnya seraya mengibas- ngibaskan tangan nya di depan wajahnya.


"Iya, Nyonya. Mungkin karena perapian ini dan juga lampu-lampu yang mereka pasang itu. Tapi jika perapian ini dimatikan, suasana yang tercipta jadi kurang seru, Nyonya,"ucap sang sekretaris yang juga nampak kepanasan.


"Apa obatnya sudah bereaksi?" tanya Dita pada salah seorang anak buahnya. Dita dan sekretarisnya itu nampak semakin kepanasan dan gelisah.


"Seharusnya sudah Nyonya,"sahut salah satu anak buah Dita.


"Lepaskan ikatannya! Dan mulai lah untuk menggilir nya!"perintah Dita dengan senyum jahatnya, seraya menahan rasa panas yang menjalar di tubuhnya yang semakin menjadi.


"Baik, Nyonya,"sahut pria yang berkepala plontos penuh semangat dan senyum yang mengembang.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2