Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
253. Ingin Bicara


__ADS_3

Waktu terus berjalan, meninggalkan hari kemarin, menjalani hari ini dan menyongsong esok hari.Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hari dimana Radeva dan Icha menggelar acara resepsi pernikahan mereka.


Hotel berbintang lima tempat diadakannya pesta, WO untuk membantu merencanakan dan mengorganisir pesta pernikahan, kamar hotel untuk pengantin, dan juga paket honeymoon, semua sudah siap. Bahkan tamu undangan dari kalangan pebisnis pun banyak. Mengingat Mahendra yang mempunyai perusahaan besar dan otomatis memilikinya banyak rekan bisnis.


Sepasang pengantin yang terlihat bahagia berbalut pakaian pengantin yang berwarna putih, berdiri di pelaminan. Dengan senyuman bahagia menyambut para tamu yang bergantian mengucapkan selamat pada keduanya. Tamu undangan pun terus berdatangan, seorang MC terkenal memandu jalannya acara resepsi pernikahan itu. Hiburan dengan mengundang beberapa artis terkenal ibu kota untuk membawakan lagu pun membuat pesta semakin meriah.Mahendra, Ghina dan kedua orang tua Icha pun sibuk menyambut dan menjamu para tamu undangan yang hadir dalam pesta resepsi pernikahan itu.


"Kalau kamu capek, katakan saja! Jangan memaksakan diri! Sepatu high heels yang kamu pakai itu pasti akan membuat kakimu cepat pegal,"bisik Radeva pada Icha yang malah terlihat mesra di hadapan para tamu undangan.


"Iya, Kak,"sahut Icha tersenyum manis, merasa sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat pengertian dan perhatian seperti Radeva.


Nalendra berjalan menghampiri Mahendra,"Jadi hari ini tinggal pesta resepsi pernikahan saja?"tanya Nalendra seraya melihat meriahnya pesta itu.


"Iya, mereka sudah menikah seminggu lebih,"sahut Mahendra.


"Kamu tidak menganggap aku sebagai Kakak mu lagi? Kamu bahkan tidak mengundang kami saat menikahkan Radeva,"ucap Nalendra dengan wajah kecewa.


Kecewa karena tidak bisa menghadiri pernikahan keponakan nya? Sesungguhnya tidak, Nalendra selalu menyuruh Niko untuk menikung semua perempuan yang didekati oleh Radeva, agar Radeva tidak kunjung menikah. Tidak ingin ada yang meneruskan keturunan Mahendra dan tidak ingin keluarga Mahendra bahagia, selalu iri dengan Mahendra, itulah Nalendra.


"Radeva mendadak ingin menikahi tunangan nya, sebelum pergi ke luar negeri. Jadi kami tidak sempat mengundang kalian,"jawab Mahendra santai, menutupi alasan yang sebenarnya, kenapa Radeva menikah dadakan.


Disisi lain, nampak Riky sedang mendekati Alva yang sedang duduk memangku Kaivan dan menyuapi Kaivan kue,"Tuan, apa anda ingin menginap juga di hotel ini?"tanya seraya mengelus kepala Kaivan yang sedang mengunyah kue.


"Paman, mau kue?"tanya Kaivan mendongakkan kepalanya menatap Riky dengan matanya yang jernih tapi tajam, mewarisi mata ayahnya.


"Buat kamu saja jagoan, biar cepet gede,"jawab Riky tersenyum manis pada Kaivan sambil mencubit dagu Kaivan dengan gemas.


"Apa masih ada kamar yang kosong?"tanya Alva kembali menyuapi Kaivan, tanpa menyadari ada Neda yang tidak jauh dari tempat itu sedang memperhatikan anak dan cucunya itu.

__ADS_1


"Masih Tuan, yang ada di kanan dan kiri kamar yang dipesan oleh Tuan Radeva,"sahut Riky tersenyum manis.


"Kamu juga memesan kamar di hotel ini?"tanya Alva seraya membersihkan bibir Kaivan yang belepotan oleh kue dengan tisu.


"Iya, saya ingin bermalam di hotel ini Tuan, hitung-hitung, mengulang malam pertama,"ucap Riky sambil menyengir.


"Oke, pesankan dua kamar. Untuk ku satu dan untuk mu satu, aku yang bayar,"ucap Alva.


"Baik, Tuan. Terimakasih banyak,"ucap Riky tersenyum cerah kemudian mengecup pipi Kaivan dan segera pergi melaksanakan tugas nya, membuat Alva tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Papa, Kai ingin sama nek Inah,"ucap Kaivan setelah menghabiskan kuenya.


"Oke, jangan nakal, ya?!"ucap Alva seraya menurunkan Kaivan dari pangkuan nya.


"Oke,"sahut Kaivan dengan senyuman cerianya. Neda yang melihat Kaivan hanya didampingi oleh pengasuhnya pun langsung mengikuti kemana anak kecil itu pergi. Saat Neda ingin menghampiri Kaivan, ternyata Ratih dan Bramantyo sudah menghampiri Kaivan lebih dulu.Bramantyo dan Ratih nampak bahagia bersenda gurau dengan Kaivan.


Disisi lain Niko nampak berdiri seraya memegang gelas minuman nya, menatap Radeva dan Icha yang nampak bahagia duduk di pelaminan,"Apa aku bilang? Kamu gagal kan, kali ini?"ucap Trisha yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Niko, namun Niko hanya melirik sekilas kearah Trisha dan kembali menatap Icha dan Radeva.


"Aku tidak menyangka, teryata dia bergerak cepat menikahi wanita itu. Sebelumnya, dia sangat lamban dalam urusan wanita. Namun sekarang, dia sangat berbeda, dia nampak sangat menjaga wanita itu. Bahkan wanita itu selalu diantar dan di jemput oleh seorang supir yang sepertinya merangkap sebagai bodyguardnya. Sangat sulit untuk mendekati wanitanya itu,"sahut Niko tanpa menoleh ke arah Trisha, tatapan matanya masih tertuju pada Radeva dan Icha.


"Icha adalah sahabat Disha. Kamu tahu, Alva selalu menempatkan seorang bodyguard di samping Disha. Mungkin Kak Dev terinspirasi dari Alva. Kau sudah tidak punya harapan lagi,"sahut Trisha kemudian meninggalkan Niko.


Niko terdiam, dirinya tidak terlalu mengenal Alva. Niko akui, pria bernama Alva itu sangat berwibawa dan berkarisma. Tatapan matanya begitu tajam dan nampak begitu percaya diri. Bahkan Mahendra sebagai mertuanya juga sangat menghormati Alva. Niko ingat betul saat Radeva memarahi Alva karena Alva telah mengumpankan Disha pada musuh nya, tapi semua orang menjadi diam seribu bahasa saat Alva sudah bicara dengan serius.


"𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙣𝙖𝙢𝙥𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣-𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣.....𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙝𝙤𝙩𝙚𝙡 𝙞𝙩𝙪? 𝙒𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙣𝙠𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙨𝙝𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠 𝙢𝙪𝙨𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙗𝙪𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙢𝙪𝙨𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙞𝙡𝙞𝙧 𝙢𝙖𝙟𝙞𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞. 𝘼𝙘𝙝..𝙨𝙞𝙖𝙡! 𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝘿𝙞𝙨𝙝𝙖 𝙞𝙩𝙪? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞? 𝙎𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙩𝙪! 𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖, 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙩𝙞-𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙞𝙩𝙪,"gumam Niko dalam hati, kemudian matanya menelisik mencari orang yang bernam Alva itu.


Sedangkan Trisha nampak mengedarkan pandangannya menatap Kaivan yang nampaknya selalu dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak bisa mendekati anak kecil itu. Terlalu banyak orang yang mengelilinginya,"gumam Trisha masih menatap ke arah Kaivan yang sedang bersama Ratih dan Bramantyo.


Sesaat kemudian mata Trisha menangkap keberadaan Disha yang nampak berjalan sendiri menuju toilet. Trisha nampak tersenyum licik, kemudian mengikuti Disha ke toilet.


Setelah keluar dari kamar kecil, Disha nampak mencuci tangannya di wastafel, kemudian membenahi penampilan nya, terutama make-up nya. Sedangkan Trisha nampak melakukan hal yang sama dengan Disha tepat di sebelah Disha.


"Aku ingin bicara dengan mu,"ucap Trisha dengan nada datar, menatap cermin di depannya.


Disha menoleh sekilas ke arah Trisha, kemudian berkata,"Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan!"ucap Disha santai, masih sibuk dengan make-up nya.


"Jangan disini. Kita ke tempat yang lain,"ucap Trisha yang juga sedang membenahi make-up nya.


"Kemana?"tanya Disha menoleh ke arah Trisha seraya memicingkan sebelah matanya.


"Ikuti saja aku,"ucap Trisha seraya membereskan alat make-up nya.


"Oke,"sahut Disha ikut membereskan alat make-up nya.


Trisha berjalan keluar dari toilet diikuti oleh Disha, melangkah menuju lift dan menekan angka yang akan membawa mereka ke roof top hotel berbintang lima itu. Disha nampak menerka-nerka dalam hati, apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Trisha. Sedangkan Trisha tidak membuka mulutnya sama sekali saat mereka berada dalam lift.


...🌟"Untuk apa iri dengan kebahagiaan orang lain?...


...Bukankah kebahagiaan itu tercipta dari perasaan kita sendiri?"🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2