
Malam semakin larut, namun Icha belum juga bisa memejamkan matanya. Sudah hampir tiga Minggu, Icha pergi meninggalkan rumah tanpa pamit kepada suaminya. Rindu kepada suaminya? Tentu saja, selama hampir tiga Minggu ini, Icha sulit memejamkan matanya. Terbiasa terlelap dalam dekapan Radeva, membuat Icha merasa gelisah saat akan memejamkan matanya, bahkan saat terjaga pun akan susah untuk kembali terlelap.
Ingin kembali ke rumah? Belum ada keinginan untuk pulang. Ingin memaafkan? Ingatan tentang Radeva yang mengacuhkan dirinya dan nampak senang saat bersama wanita lain benar-benar membuat hatinya tidak tenang. Rasa marah, benci dan rindu berkumpul menjadi satu.
Icha tahu, bagaimanapun juga dirinya harus pulang, namun rasa sakit hatinya tidak mengijinkan nya untuk pulang ke rumah mertuanya atau pun ke rumah kedua orang tuanya. Dia masih ingin menenangkan diri, menyiapkan hati untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.Jika pulang ke rumah kedua orang tuanya, pasti akan dipaksa kembali pada suaminya. Karena itu lah Icha memilih tinggal di rumah almarhum kakek dan neneknya yang berada di pinggir kota.
Bahkan sampai saat ini hanya Alva dan anak buahnya yang mengetahui keberadaannya. Saat kedua orang tuanya menelpon orang yang menjaga rumah itu, Icha meminta agar mereka tidak mengatakan keberadaannya di rumah itu. Icha keluar dari kamarnya, melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Non Icha belum tidur?"sapa seorang wanita paruh baya yang baru terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Matanya melirik jam yang menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit, dini hari.
"Aku susah tidur, Bik,"sahut Icha dengan wajah lesu, seraya mengambil air minum.
"Jadi Non Icha belum tidur sama sekali?"tanya wanita paruh baya itu dengan ekspresi terkejut.
Icha menggelengkan kepalanya pelan,"Belum, Bik,"sahut Icha.
"Kalau Non Icha mau, saya punya obat tidur,"tawar perempuan paruh baya itu, karena khawatir Icha akan sakit jika kurang tidur.
"Benarkah? Saya mau, Bik,"ucap Icha. Mungkin dengan mengkonsumsi obat tidur dirinya akan bisa segera tidur, itulah harapan Icha.
__ADS_1
Wanita paruh baya yang menjaga rumah almarhum kakek dan nenek Icha itupun segera mengambil obat tidur untuk Icha.
Perempuan paruh baya itu tinggal di rumah kakek dan nenek Icha bersama suami dan anak keduanya. Mereka sudah tidak memiliki rumah karena rumah mereka sudah disita oleh bank. Mereka mengambil pinjaman untuk biaya berobat anak dan menantu mereka yang mengalami kecelakaan. Namun sayangnya, anak dan menantu mereka tidak dapat diselamatkan. Karena tidak bisa mengembalikan pinjaman, akhirnya rumah mereka pun disita oleh bank.
Perempuan paruh baya itu dan suaminya, sebelumnya adalah orang yang di upah papa Icha untuk merawat rumah almarhum kedua orang tuanya. Tapi karena merasa kasihan pada keluarga itu yang tidak memiliki tempat untuk berteduh, papa Icha mengijinkan mereka tinggal di rumah almarhum kedua orang tuanya dengan syarat, mereka harus merawat, menjaga serta membersihkan rumah itu, dan kedua orang paruh baya itu pun setuju.
"Ini, non, obat nya,"ucap perempuan itu seraya memberikan obat kepada Icha.
"Terimakasih, Bik,"ucap Icha, kemudian langsung meminum obat itu dan kembali ke kamarnya. Tak lama kemudian Icha pun terlelap.
Sekitar satu jam setelah Icha terlelap pintu jendela Icha tampak dibuka seseorang dari luar. Tak lama kemudian sesosok pria yang tak lain adalah Radeva, masuk ke dalam kamar itu.
Hujan di luar sana nampak semakin deras, bahkan kilat dan petir mulai terdengar. Perlahan, Radeva mendekati sosok yang sedang terlelap di bawah selimut tebal. Radeva nampak tersenyum dengan wajah sendu saat sudah bisa melihat sosok yang sedang terlelap itu adalah istri yang sudah hampir tiga Minggu ini meninggalkan dirinya.
Hujan terdengar semakin deras dari sebelumnya, angin pun bertiup kencang, udara dini hari yang menjelang pagi itu semakin terasa dingin. Dengan perlahan, Radeva naik ke atas ranjang, masuk kedalam selimut yang sama dengan istri nya. Tangannya yang besar membelai rambut Icha dengan lembut dan penuh kasih sayang. Menatap wajah yang hampir tiga Minggu ini dicari dan di rindukan nya dalam temaramnya lampu tidur.
Matanya menatap setiap inchi wajah istrinya, dari alis yang tidak terlalu tebal, hidung yang tidak terlalu mancung dan bibir yang nampak bervolume, namun terlihat manis di matanya, tidak jenuh rasanya untuk memandangnya.Radeva menelan ludahnya kasar saat matanya menatap bibir yang berwarna pink itu. Masih segar di ingatannya, betapa manisnya bibir itu saat dia mengecup, menyesap dan melum matt nya.
Perlahan wajahnya mendekat ke wajah istrinya dan perlahan bibirnya menempel di bibir sang istri. Dengan perlahan, Radeva mengecup, menyesap dan melum matt bibir itu, sangat pelan, karena takut istrinya itu terbangun. Saat dirinya semakin sulit mengontrol tubuh dan hasraatnya, Radeva pun memaksakan diri nya untuk melepaskan pangutan nya.
__ADS_1
Mata Radeva berpindah menatap ke arah leher putih mulus istrinya, kembali menelan ludahnya kasar. Radeva mendekatkan wajahnya ke leher Icha, mencium, mengecup dan menyesap leher itu hingga meninggalkan tanda merah keunguan. Sesekali Icha nampak bergerak dan melenguh, hingga membuat Radeva menghentikan aksinya. Namun saat Icha kembali tenang, Radeva pun kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Icha dan kembali mencetak beberapa tanda di sana, tanpa disadari nya tangannya secara naluriah mulai bergerilya menjelajah ke setiap bagian tubuh istrinya.
Merasa tidak puas dengan hanya menikmati leher istrinya, Radeva kembali nekat mencum bibir istrinya. Merasa Icha tidak terganggu dan malah nampak ikut menikmati setiap sentuhan tangan dan bibirnya, Radeva pun semakin berani. Jemari tangan nya mulai beraksi membuka kancing piyama dan bra Icha, sedangkan bibirnya terus bergerak mereguk manisnya bibir Icha.
Radeva melepaskan pangutan bibirnya, berpindah lagi ke leher Icha, sedangkan tangannya mulai bermain di dua bukit kembar milik istrinya setelah jemari tangannya berhasil melucuti pakaian istrinya. Tangannya mengelus, meremas, memainkan puncak bukit itu, membuat Icha kembali melenguh dan bergerak gelisah. Melihat dan mendengar reaksi istrinya seperti itu, Radeva pun tidak bisa menahan diri lagi. Dengan cepat Radeva menanggalkan seluruh pakaiannya, dan juga helaian benang yang masih menempel ditubuh istrinya, kemudian melemparnya asal.
Sebenarnya Radeva merasa curiga, mengapa istrinya tidak terbangun setelah apa yang dilakukannya. Namun Radeva tidak mau ambil pusing masalah ini, yang terpenting sekarang adalah, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, kebutuhan biologisnya yang sudah hampir tiga Minggu ini dia tahan harus segera terpenuhi.
Dalam dinginnya cuaca dan derasnya hujan yang di iringi suara kilat yang menyambar- nyambar dan petir yang menggelegar saling bersahutan, Radeva menyatukan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Bergerak gelisah diatas tubuh istrinya, menikmati aliran darah yang semakin deras mengalir dan detak jantung yang semakin berpacu cepat, meluapkan rasa rindu yang telah lama memenuhi ruang kalbu. Malam yang dingin itu pun menjadi terasa hangat dan bergairah.
Rasa nikmat dalam penyatuan itu membuat Radeva ingin lagi dan lagi. Mengulangi kegiatan panasnya di atas ranjang tanpa merasa lelah sedikitpun Setelah beberapa kali mengerang nikmat karena mendapatkan pelepasan, Radeva pun menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, mendekap tubuh Icha dan mencium puncak kepala Icha beberapa kali.
'Aku mencintaimu, jangan pernah lagi meninggalkan aku! Aku tak sanggup berpisah dari mu,"ucap Radeva semakin erat memeluk tubuh Icha, kemudian memejamkan matanya, menyusul istrinya ke alam mimpi. Hujan terus mengguyur bumi hingga pukul sembilan pagi. Pukul sepuluh pagi, setelah awan mulai menghilang, sang mentari perlahan menunjukkan dirinya. Udara pun tidak terasa sedingin sebelumnya.
Tadi pagi, anak buah Alva terbangun, kemudian mencari sarapan, namun setelah selesai sarapan pun tidak ada tanda-tanda Radeva menunjukkan dirinya.
"Huff... sungguh membosankan harus menunggu sepasang suami-isteri yang sedang melepas rindu. Mungkin sekarang mereka masih melanjutkan ronde berikutnya...dan aku?"gumam anak buah Alva, kemudian tertawa tanpa suara, menertawakan nasib dirinya sendiri.
Dini hari mendapatkan tugas dadakan, berkendara ke pinggir kota dan mirisnya harus menunggu sepasang suami-isteri yang sedang melepas rindu. Tidur dalam mobil ditemani hujan deras, kilat yang menyambar- nyambar dan suara petir yang menggelegar. Menghela napas kasar, pria itu mengeluarkan handphone nya dari saku celananya. Memilih bermain game di ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosannya menunggu sepasang suami-isteri yang sedang melepas rindu.
__ADS_1
...🌸❤️🌸...
To be continued