
Disha berdiri di balkon menatap Alva yang sedang memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil Radeva. Disha hanya menatap sendu mobil Radeva yang perlahan keluar dari pekarangan rumah Bramantyo hingga akhirnya menghilang dari pandangan matanya. Disha menghela nafasnya yang terasa sesak. Perlahan Disha pun keluar dari kamarnya.
"Sayang mama, mau bobok, ya?"ucap Disha saat melihat Bik Inah menggendong Kaivan menuju kamar Kaivan. Disha segera mengambil alih Kaivan dari Bik, Inah.
"Mama!"sahut Kaivan mengulurkan tangannya pada Disha.
"Papa dan mama belum pulang dari luar kota, Bik?"tanya Disha sambil masuk ke dalam kamar Kaivan diikuti Bik Inah.
"Belum, Nyah. Kata Nyonya Ratih tadi, mungkin mereka malam ini tidak akan pulang dan akan menginap di hotel," sahut Bik Inah.
Disha duduk di tepi ranjang yang ada di kamar Kaivan diikuti Bik Inah, kemudian menyusui bayi yang baru berumur satu setengah tahun itu.
"Kaivan tidak menangis saat melihat papanya pergi, Bik?"tanya Disha sambil mengusap kepala Kaivan yang sedang menyusu itu.
"Tidak Nyonya, cuma kelihatan sedih saja. Tapi wajar saja Tuan kecil sedih, biasanya kan Tuan kecil suka berenang, mandi dan bermain bersama dengan Tuan Muda," sahut Bik Inah menatap Kaivan yang mulai memejamkan matanya.
"Iya, sich,"sahut Disha.
"Em, Nyonya, maaf kalau saya lancang. Tapi boleh kah, saya bertanya?"tanya Bik Inah nampak ragu.
"Silahkan saja, Bik!"ucap Disha menoleh pada Bik Inah yang sedang duduk di sebelahnya itu.
"Begini, Nyonya, sebelumnya saya minta maaf karena mencampuri urusan pribadi, Nyonya,"ucap Bik Inah nampak serba salah.
"Apa, Bik? Katakan saja!"tanya Disha terlihat penasaran.
"Begini Nyonya, saya mengatakan ini karena saya sangat menyayangi Nyonya. Em..saya lihat sudah tiga hari Tuan Muda tidur di ruangan kerjanya, apa Nyonya ada masalah dengan Tuan Muda? Maaf jika saya lancang, Nyonya,"ujar Bik Inah seraya menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya masalah sudah selesai, Bik. Kami cuma sedang saling introspeksi diri saja,"sahut Disha.
"Maaf Nyonya jika saya harus mengatakan ini, saya sama sekali tidak memiliki tujuan buruk. Tapi menurut saya, jika anda dan Tuan Muda memiliki masalah, sebaiknya jangan sampai pisah ranjang,"
"Masalah tidak akan selesai jika anda pisah ranjang dengan suami Anda. Justru itu akan menimbulkan masalah baru,"ujar Bik Inah menatap Disha sekilas kemudian kembali menundukkan kepalanya.
"Maksud bibi?'tanya Disha yang masih menyusui Kaivan yang sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
"Begini, Nyonya. Saya dulu bercerai dengan suami saya gara-gara setiap kami ribut saya selalu tidak mau tidur satu ranjang dengan suami saya. Dulu kami masih sama-sama muda dan masing- masing mempunyai ego yang tinggi dan sama-sama merasa paling benar,"
"Hingga suatu hari, kami bertengkar hebat, sampai- sampai saya pulang ke rumah orang tua saya bersama anak kami satu-satunya. Dan dari situlah semua bermula, suami saya berselingkuh dengan seorang janda yang tidak jauh dari rumah kami. Kemudian menceraikan saya dengan alasan saya sebagai istri tidak mau memenuhi kebutuhan biologisnya,"ujar Bik Inah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan pernah memberikan celah pada wanita lain untuk masuk dalam kehidupan anda dan Tuan. Sebesar apapun masalah kalian, jangan sampai pisah ranjang. Maaf, saya mengatakan ini karena saya menyayangi anda dan Tuan seperti saya menyayangi anak saya sendiri. Saya tidak ingin anda mengalami apa yang saya alami,"ucap Bik Inah seraya menghapus air matanya.
"Tidak apa, Bik. Terimakasih atas perhatian bibi. Kalau boleh saya bertanya, dimana anak bibi sekarang?"tanya Disha seraya memberikan tisu kepada Bik Inah.
"Anak saya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan Nyonya,"sahut Bik Inah.
"Maaf, saya tidak bermaksud membuat bibi semakin sedih,"ucap Disha seraya mengusap lengan Bik Inah.
"Nggak kok, Nyah. Memang saya tadi yang memulai bercerita. Saya selalu berharap rumah tangga Nyonya dan Tuan baik-baik saja sampai maut memisahkan,"ucap Bik Inah tulus, mencoba tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"Terimakasih, Bik,"ucap Disha tersenyum hangat.
***
Alva telah naik ke pesawat dan Radeva pun segera menuju area parkir. Radeva mengendarai mobilnya keluar dari area bandara dengan kecepatan rata-rata. Hari sudah semakin larut malam dan Radeva nampak santai mengendarai mobilnya hingga Radeva melewati sebuah jalan yang terlihat sepi.
"Kamu tidak apa-apa?"tanya Radeva khawatir.
"To.. tolong saya!"ucap gadis itu tiba-tiba memegang lengan Radeva kuat dengan wajah lebam, bibir pecah, dan pakaian yang sobek di beberapa bagian, nampak gelisah menengok ke arah belakangnya.
Radeva melihat ada tiga orang pemuda yang berlari ke arah mereka, membuat gadis itu semakin ketakutan, dengan tangan yang semakin kuat mencengkram lengan Radeva.
"Tolong saya, Tuan. Saya mohon!" ucap gadis itu dengan air mata yang membasahi pipinya. Bisa menebak apa yang terjadi, Radeva pun menarik tubuh gadis itu ke belakang tubuhnya.
"Serahkan gadis itu!"perintah salah seorang dari ke tiga pemuda itu pada Radeva.
"Sebaiknya kalian pergi dan jangan mengganggu gadis ini,"ucap Radeva nampak tenang tapi terdengar tegas.
"Serahkan gadis itu pada kami atau kamu akan menyesal!"ancam satunya lagi.
"Masuk lah ke dalam mobil!"perintah Radeva pada sang gadis dan langsung dituruti oleh gadis itu.
__ADS_1
"Oh.. jadi kamu mau menjadi pahlawan?" ucap salah satu dari ketiga pemuda itu,"Hajar dia!!"ucap pemuda itu lagi pada kedua temannya dengan menggerakkan kedua tangannya sebagai isyarat agar kedua temannya itu maju.
Akhirnya perkelahian satu melawan tiga pun terjadi. Dengan lincah Radeva menghindar dan membalas mereka.Satu pemuda nampak ingin memukul wajah Radeva, namun langsung Radeva tangkis dan Radeva menendang perut pemuda itu hingga pemuda itu terhuyung dan terduduk di aspal.
Dua lainnya menyerang bersamaan dari kanan dan kiri, namun Radeva langsung menangkap tangan keduanya dan memelintir lengan mereka berdua hingga mereka berdua berbalik membelakangi Radeva dengan tangan yang di kunci oleh Radeva.
Radeva menendang lutut bagian belakang kedua pemuda itu bergantian membuat kedua pemuda itu memekik kesakitan hingga keduanya jatuh berlutut membelakangi Radeva.
"Krak"suara tulang lengan kedua pemuda yang terlipat di belakang punggung keduanya itu terdengar patah karena dengan kuat Radeva menariknya ke atas hingga membuat kedua pemuda itu kembali memekik kesakitan.
"Kamu juga ingin aku mematahkan tangan dan kakimu?"tanya Radeva pada pemuda yang dia tendang perutnya tadi. Karena pemuda itu nampak berusaha bangkit dari aspal tempatnya jatuh. Namun di luar dugaan, pemuda itu malah berlari menjauh.
"Ampun Tuan, tolong lepaskan kami,"ucap salah satu pemuda itu.
"Enak saja! Kalian sudah berusaha melecehkan anak orang tapi mau bebas begitu saja, hah?"sergah Radeva.
"Nona, cepat kamu hubungi polisi, jika mereka tidak diberikan pelajaran, mereka akan menggangu mu lagi,"ucap Radeva pada gadis yang ada di dalam mobilnya.
"Handphone saya hilang, Tuan,"sahut gadis itu.
"Kamu ambil handphone di saku celana saya ini! Cepat!"titah Radeva yang masih memegangi dua pemuda tadi.Gadis itu pun bergegas turun dari mobil Radeva dan mendekati Radeva.
"Cepat, ambil handphone saya di saku celana saya di sebelah kanan?"titah Radeva.
Dengan ragu-ragu gadis itu memasukkan tangannya ke saku celana Radeva untuk mengambil handphone Radeva.
"Ini di kunci,"sahut gadis itu saat menghidupkan handphone Radeva.
"Sandinya dua, satu, tiga,empat,"ucap Radeva, dan gadis itu pun langsung menekan angka yang dikatakan Radeva.
"Cepat telepon polisi!"titah Radeva.
...🌟"Diam ataupun marah bukanlah solusi yang tepat untuk memecahkan masalah."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
To be continued