
Sore itu, setelah pulang kerja, Alva menjemput Disha dari rumah sakit. Alva benar-benar tidak membiarkan Disha melakukan apapun.
"Sayang, kamu kan sedang mengandung, jadi kamu tidak usah bekerja lagi ya?! Nanti setelah melahirkan, jika kamu ingin bekerja lagi, aku tidak akan melarang mu. Kamu tidak bekerja lagi pun tidak apa-apa,"pinta Alva.
"Kenapa?"tanya Disha.
"Aku tidak ingin kamu kecapekan, sayang," ucap Alva sambil mengelus kepala Disha.
"Terus apa yang harus aku lakukan, Al?"tanya Disha.
"Tidak ada, kamu hanya perlu menjaga buah hati kita dalam kandungan mu,"ucap Alva sambil mengelus perut Disha.
"Enggak, Al. Aku nggak mau hanya diam di rumah, Al,"protes Disha.
"Jangan keras kepala sayang, aku tidak mau kamu sampai kelelahan, sayang,"ucap Alva.
"Jika aku hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun aku akan stres, Al,"ucap Disha.
"Tapi, sayang....."
"Tidak ada tapi tapian. Jika kamu tidak mengizinkan aku bekerja di perusahaan mu, aku akan mencari pekerjaan di tempat lain,"ucap Disha tidak mau dibantah.
"Oke..oke, tapi kamu jangan sampai kelelahan, ya?! Dan kamu bekerja dari rumah saja,"ucap Alva terpaksa menyetujui keinginan Disha.
"What?! Bekerja dari rumah?! Nggak... nggak...aku nggak mau bekerja dari rumah. Aku akan merasa terkurung, Al. Jika aku bekerja di kantor aku dapat berinteraksi dengan karyawan yang lain, dan itu membuat aku senang, Al,"jelas Disha.
"Tapi sayang, perutmu akan semakin membesar dan kamu akan kesulitan untuk bergerak. Aku tidak bisa mengawasi kamu sepenuhnya,"kilah Alva.
"Di kantor itu rame, Al. Banyak orang di sana, jadi nggak mungkin kalau aku kenapa-kenapa bakalan di biarin sama mereka. Mereka semua orang yang baik kok! Lagian aku di sana kan nggak pernah jauh dari kamu,"ucap Disha.
"Oke..oke.. terserah kamu, bumil memang selalu menang. Tapi kamu harus istirahat saat merasa lelah,"ucap Alva pasrah.
"Oke,"ucap Disha dengan wajah yang senang.
"Dasar bumil keras kepala,"gerutu Alva yang masih terdengar oleh Disha tapi tidak di hiraukan oleh Disha.
***
Tujuh bulan kemudian.
"Dis, kamu nggak dapat cuti hamil apa? Itu kandungan kamu udah gede banget, tapi kamu masih kerja aja sich ?!"tanya Icha saat mereka sedang makan di kantin perusahaan.
__ADS_1
"Iya, Dis. Bukannya dua mingguan lagi kamu lahiran, ya?!"timpal Yessie sambil mengunyah makanannya.
"Semenjak aku jatuh di toilet kemarin sebenarnya Pak Rendra udah nyuruh aku buat berhenti bekerja di kantor. Pak Rendra nyuruh aku bekerja dari rumah saja, tapi aku nggak mau. Aku bete kalau diam dirumah sendirian,"jelas Disha, masih setia dengan bakso pedasnya.
"Terus kenapa kamu nggak ngambil cuti sekarang saja Dis?"tanya Yessie.
"Aku nggak mau ngambil cuti. Aku senang dengan aktivitas ku di kantor, lagian kalau pun aku sampai lahiran di sini juga nggak apa-apa, kan banyak orang disini. Nggak mungkin kan mereka biarin aku dan nggak nolong aku?!"ujar Disha.
"Dasar bumil keras kepala!"ucap Icha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar bumil gila kerja!"timpal Yessie menghela nafas panjang.
"Dih..kenapa kalian jadi kayak PakSu, sich? Herman dech aku, kompak banget kalian,", ujar Disha kemudian meminum teh nya.
"Soalnya kamu itu keras kepala,"ucap Icha.
"Bandel,"timpal Yessie.
"Cuma di kantor aku bisa bebas makan, kalau di rumah aku nggak boleh makan makanan berminyak, minuman dingin, dan juga manis,"ucap Disha tanpa rasa bersalah.
"Tapi itu demi kebaikan kamu, Dis!"seru Yessie.
"Ach.. kalian nggak seru ach!! Udah kayak PakSu,"ucap Disha sambil cemberut membuat kedua temannya geleng-geleng kepala karena tingkah bumil satu itu.
"Al, ini berkas-berkas yang harus kamu periksa dan tandatangani,"ucap Disha sambil meletakkan setumpuk berkas di atas meja Alva.
"Kemari lah, sayang!"perintah Alva sambil merentangkan tangannya pada Disha.
Disha mendekati Alva kemudian dengan hati-hati, Alva mendudukkan Disha dalam pangkuannya.
"Sayang, kamu dari makan bakso lagi?"tanya Alva saat mencium aroma bakso di tubuh istrinya.
"Iya,"jawab Disha sambil nyengir.
"Sayang, sudah ku bilang, jangan sering-sering makan bakso, apalagi baksonya pedas. Kasian sama dedek bayinya, sayang,"ucap Alva lembut sambil mengelus perut Disha yang sudah membuncit.
"Pengennya itu Al, aku nggak selera makan makanan yang lain,"ucap Disha manja.
"Ish.. jangan manja seperti ini sayang, aku jadi gemes. Kamu mau aku terkam di sini?"tanya Alva tersenyum smirk sambil menaik turunkan sebelah alisnya.
"Ish..apaan sich, Al!"ucap Disha dengan wajah yang bersemu merah.
__ADS_1
"Sayang, apa tidak sebaiknya kamu mulai mengambil cuti?"tanya Alva sambil terus mengelus perut Disha.
"Aku akan bosan sendirian di rumah, Al,"sahut Disha.
"Aku akan menyuruh bodyguard wanita untuk menjaga kamu,"ucap Alva.
"Aku nggak mau Al, aku akan tetap bekerja,"ucap Disha.
"Tapi perkiraan lahiran kamu tinggal dua Minggu lagi loh, sayang,"ucap Alva mengingatkan.
"Iya, aku tahu Al, tapi disini kan ada kamu Al. Kamu bakal stand by kan buat ngantar aku ke rumah sakit?"tanya Disha.
"Tentu saja sayang, kamu tidak perlu menanyakan itu,"jawab Alva.
"Ya sudah, aku akan tetap bekerja,"ucap Disha.
"Kamu benar-benar keras kepala, sayang,"dengus Alva masih setia mengelus perut Disha.
"Kamu baru sadar kalau aku keras kepala? Kemana saja selama ini?"cibir Disha.
"Sayang, kamu ini, ya....."
"Udah ach, aku mau balik ke meja ku,"ucap Disha memotong kata-kata Alva sambil berusaha bangkit dari pangkuan Alva, namun ditahan oleh Alva.
"Tunggu dulu sayang, kasih ciuman dulu, dong!!"pinta Alva sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya pertanda Alva ingin dicium di bibir.
Disha pun menurut, mencium bibir Alva. Namun saat Disha ingin melepaskan ciumannya, Alva menahannya dan malah memperdalam ciuman mereka. Disha pun meladeni suaminya, membalas ciuman Alva hingga Alva melepaskan ciumannya karena Disha nampak mulai kesulitan untuk bernafas.
"I love you,"ucap Alva kemudian kembali mengecup bibir Disha beberapa kali yang direspon oleh Disha.
Alva kemudian mengelus perut Disha dengan tangannya yang besar dan mencium perut Disha dengan lembut.
"Aku akan kembali ke mejaku," ucap Disha mulai beranjak dari pangkuan Alva.
Alva pun membantu Disha yang nampak kesusahan untuk bangkit dari duduknya. Saat Disha akan melangkah keluar, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.
"Ceklek,"
"Eh .kamu??"
...🌟"Ada saatnya kita harus keras kepala, dan ada pula waktu nya kita harus mengalah. Kita harus bijak dalam menentukan sikap dalam segala situasi, walaupun itu tidak mudah."🌟...
__ADS_1
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued