Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
146. Pertemuan Mahendra Dan Darmawan.


__ADS_3

Setelah pernikahan Sandy kemarin, Darmawan memohon pada Sandy agar mau menginap di rumah nya. Darmawan bahkan sudah menyiapkan kamar baru untuk Sandy dan keluarga barunya.


Karena merasa tidak enak hati, Sandy pun menurut, apalagi Darmawan juga telah membawa ibu angkat Sandy untuk tinggal di rumah Darmawan.


"Kak, aku ingin membeli sesuatu di mini market,"ucap Anjani di dalam kamar yang di sediakan Darmawan untuk sepasang pengantin baru itu.


"Aku antar, ya?!"tawar Sandy mengulas senyum seraya mengelus kepala Anjani membuat dada Anjani berdetak kencang.


"𝙆𝙖𝙠 𝙎𝙖𝙣𝙙𝙮 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙞𝙨 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙚𝙩, 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙞 𝙃𝙚𝙧𝙮 𝙗𝙧𝙚𝙣𝙜𝙨𝙚𝙚𝙠 𝙞𝙩𝙪. 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙡𝙞𝙣 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙧𝙞𝙖, 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝙎𝙖𝙣𝙙𝙮 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙡𝙚𝙢𝙗𝙪𝙩, 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙬𝙖𝙨𝙖,"


"𝙎𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖, 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙝𝙖𝙧𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙖. 𝙋𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙡𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙠𝙪,"batin Anjani hingga tanpa sadar dia terpaku ditempatnya.


"Lhoh, kok bengong? Tidak mau kakak antar?"tanya Sandy tersenyum tipis seraya mengusap lengan Anjani lembut.


"I..iya,"sahut Anjani gugup. Anjani kemudian menggendong bayi nya dan berjalan keluar dari kamar di ikuti Sandy.


"Tuan Muda mau kemana?"tanya seorang Art kepada Sandy saat Sandy dan Anjani hampir sampai ke pintu keluar.


"Kami ingin ke mini market di dekat sini, Bik,"sahut Sandy tersenyum tipis.


"Oh, kalau begitu hati-hati Tuan, Nona!" ucap Art itu.


"Makasih, Bik!"ucap Sandy kemudian sepasang suami istri itu pergi.


Tak lama kemudian Darmawan keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Sandy namun tidak ada sahutan dari dalam kamar itu


"Bik, kemana anak dan menantu saya?" tanya Darmawan pada seorang Art yang berada di dapur.


"Mereka tadi keluar, Tuan,"sahut seorang Art di rumah Darmawan.


"Mereka membawa cucuku pergi?"tanya Darmawan.


"Iya Tuan, mereka membawanya,"sahut Art itu.


"Seharusnya mereka tidak perlu membawa cucuku bersama mereka. Aku kesepian di rumah sendirian,"keluh Darmawan.


"Paling sebentar lagi mereka pulang, Tuan. Kata Tuan Muda, mereka cuma akan ke minimarket dekat sini,"sahut Art itu.


Ting tong...Ting tong...


Tiba-tiba bel rumah itu berbunyi dan Art yang baru saja bicara dengan Darmawan pun langsung bergegas ke arah pintu utama dan membukanya.

__ADS_1


"Maaf, ingin bertemu dengan siapa?" tanya Art itu pada tiga orang yang sedang berdiri di depan pintu.


"Boleh kami bertemu dengan Tuan Darmawan? Tolong katakan saya Mahendra ingin bertemu dengan beliau," ucap Mahendra sopan.


"Baik, tunggu sebentar, Tuan,"ucap Art itu kemudian bergegas menemui Darmawan.


"Tuan, di depan ada dua orang pria dan satu orang perempuan ingin bertemu dengan anda. Kata salah seorang dari mereka, namanya Mahendra,"lapor Art itu.


"Mahendra? Aku tidak pernah mengenal orang yang bernama Mahendra,"gumam Darmawan yang masih bisa di dengar Art itu. Kemudian Darmawan berjalan menuju pintu utama diikuti Art tadi.


"Maaf ada keperluan apa ya, anda bertiga bertandang ke rumah saya?"tanya Darmawan sopan.


"Apakah benar, anda Tuan Darmawan?' tanya Mahendra tanpa menjawab pertanyaan Darmawan.


"Iya, benar,"sahut Darmawan.


"Bisa kami bicara dengan anda? Kami ingin membahas soal putra putri kita," ucap Mahendra.


Darmawan mengernyitkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud tamunya ini," Membahas tentang putra putri kita? Maksud Tuan apa, ya?"tanya Darmawan.


"Tentang Hery dan putri kami Trisha," jawab Mahendra.


"Mari, silahkan masuk dulu!"ajak Darmawan.


"Terimakasih,"ucap Mahendra kemudian ketiga orang itu mengikuti langkah Darmawan menuju ke ruang tamu.


"Silahkan duduk!"ucap Darmawan dan ketiga orang itu pun duduk.


"Terimakasih. Perkenalkan, nama saya Mahendra, ini istri saya Ghina dan putra saya Radeva,"ucap Mahendra seraya menunjuk istri dan putranya bergantian.


"Salam kenal! Oh ya, ada apa dengan putra saya Hery?"tanya Darmawan yang sudah dari tadi penasaran dengan maksud kedatangan tiga orang asing depannya itu.


Terdengar suara langkah kaki memasuki rumah membuat Darmawan dan ketiga tamunya menoleh,"Sandy!"panggil Darmawan.


Sandy yang di panggil pun menoleh kemudian bersama Anjani yang sedang menggendong putranya, Sandy melangkah menuju ruang tamu menghampiri Darmawan.


"Iya, pa,"ucap Sandy setelah berada di dekat Darmawan.


"Perkenalkan, ini Tuan Mahendra dan keluarganya. Tuan Mahendra, ini putra saya Sandy dan menantu saya Anjani," ucap Darmawan.


Akhirnya mereka pun berkenalan, Anjani segera pamit menuju ke kamarnya setelah memperkenalkan diri karena harus menidurkan putranya yang terlihat sudah agak rewel. Sedangkan Sandy di minta Darmawan untuk menemaninya di ruang tamu itu.

__ADS_1


Permisi Tuan, ini minumannya,"ucap seorang Art lalu meletakkan minuman di atas meja ruang tamu itu, kemudian kembali ke dapur. Setelah Art itu pergi, Mahendra pun mulai membuka percakapan.


"Begini Tuan, maksud kedatangan kami adalah untuk membicarakan persoalan yang terjadi diantara putra dan putri kita. Ini memang memalukan, tapi mau tidak mau saya harus mengatakannya. Putra anda Hery menyukai Disha dan putri saya Trisha menyukai Alva. Singkat cerita mereka bersekongkol untuk menjebak Alva dan Disha agar Disha bisa menjadi milik Hery dan Alva bisa menjadi milik Trisha,"


"Namun semua rencana mereka gagal dan malah mereka yang dijebak lalu mereka berakhir dengan tidur bersama," jelas Mahendra tertunduk malu seraya membuang nafas kasar.


"Maksud anda mereka telah berhubungan suami-istri?"tanya Darmawan memperjelas asumsinya.


"Iya, anda benar. Dan disini tentu pihak kami yang......"Mahendra tidak dapat lagi melanjutkan kata-katanya.


"Saya mengerti. Anak itu tidak ada hentinya membuat masalah,"sahut Darmawan menghela nafas berat sambil memijit pangkal hidungnya, begitu pula dengan Sandy yang menghela nafas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Mahendra.


"Jadi bagaimana menurut anda? Apa yang akan anda lakukan?"tanya Mahendra to the point.


"Saya akan menyuruh putra saya untuk bertanggung jawab. Saya mengerti, terlepas dari apapun penyebab semuanya terjadi, anda dari pihak perempuan pasti sangat dirugikan, apalagi kalau sampai putri Anda mengandung karena kejadian itu,"kata Darmawan hati-hati takut menyinggung perasaan tamunya itu.


"Terimakasih atas pengertian anda," ucap Mahendra merasa agak lega.


"Anda tidak perlu khawatir, saya pastikan putra saya akan bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Jika dia menolak, saya akan mengusir dia dari rumah tanpa membawa apapun dan saya yakin dia tidak akan berani keluar dari rumah ini dengan tangan kosong,"ujar Darmawan.


"Terimakasih Tuan," ucap Mahendra,"Tapi ngomong -ngomong, di mana putra anda yang bernama Hery itu?"tanya Mahendra pada Darmawan karena saat mereka membicarakan hal itu, seharusnya Hery ada bersama mereka.


"Dia sedang keluar kota. Tapi jika dia tidak keluyuran, seharusnya malam ini dia pulang ke rumah,"ucap Darmawan.


"Bagaimana dengan rencana pernikahan mereka?"tanya Mahendra.


"Apakah Anda tidak keberatan jika kita menikah kan mereka secara sederhana saja?"tanya Darmawan.


"Tidak apa-apa, saya tidak keberatan. Iya kan, ma? sahut Mahendra kemudian bertanya pada Ghina.


"Iya,"sahut Ghina.


"Kalau begitu, sebaiknya kita pilih tanggal untuk pernikahan mereka sekarang,"ujar Dawam.


"Tap..tap..tap..." tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki rumah itu, bahkan menuju ruang tamu itu. Semua orang itu pun menatap ke arah datangnya suara langkah kaki itu.


"Ada tamu rupanya?"tanya Hery menatap semua orang yang ada di ruangan tamu itu,"Tuan Radeva anda ke sini?"tanyanya saat melihat Radeva," Dan kamu? Kenapa kamu ada di rumah saya?"tanya Hery saat melihat Sandy duduk di samping Darmawan.


...🌟"Sikap dan tingkah laku kita akan menentukan nyaman tidak nya orang lain saat bersama kita."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2