Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
265. Apa Dia Adikmu?


__ADS_3

Di perusahaan Bramantyo Group.


Disha nampak masuk ke dalam ruangan Alva dengan membawa beberapa dokumen,"Sayang, ini dokumen yang kamu minta,"ucap Disha seraya meletakkan dokumen yang dibawanya,"Sayang, setelah makan siang nanti, aku nggak usah balik ke kantor, ya?"pinta Disha menatap suaminya yang masih fokus pada layar laptop dengan jemari yang lincah bergerak di atas keyboard laptopnya.


Mendengar kata-kata Disha, Alva menghentikan aktivitasnya kemudian mendongak menatap wajah istrinya yang sedang berdiri di samping kursi kerjanya,"Kenapa? Memangnya kamu mau ke mana?"tanya Alva seraya mengernyitkan keningnya.


"Aku ingin belanja di supermarket, dan setelah itu pulang. Boleh, ya?"ucap Disha dengan suara manja.


Alva menarik tangan Disha lembut, kemudian membawanya duduk di atas pangkuannya dan memeluk pinggang Disha,"Kenapa? Apa kamu tidak enak badan?"tanya Alva seraya merapikan anak rambut Disha dan menyelipkannya di belakang telinga Disha.


"Aku baik-baik saja. Aku ingin membuat kue, setelah pulang dari supermarket nanti,"ujar Disha seraya mendongak menatap wajah suaminya.


"Apa Kaivan yang meminta?"tanya Alva yang memang tahu, putranya itu suka dengan kue buatan Disha. Bahkan Kaivan selalu menemani Disha, saat Disha membuat kue.


"Hum,"sahut Disha singkat.


"Oke, kamu boleh pulang setelah makan siang nanti,"sahut Alva kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Disha beberapa kali.


***


Di sebuah sekolah menengah umum, nampak seorang gadis baru saja keluar dari kelasnya setelah terdengar bunyi bel yang menandakan jam pelajaran telah usai.


"Din, pulang bareng, yuk!"ucap seorang pemuda yang merupakan kakak kelas Dina, nampak berjalan cepat menyamai langkah Dina. Sedangkan dibelakang pemuda itu nampak beberapa siswa yang berjalan mengikuti pemuda itu.


"Aku di jemput kakakku,"ucap Dina tanpa menoleh pada pemuda yang sekarang berjalan sejajar dengannya.


"Sekali saja, Din. Aku ingin bicara denganmu,"ucap pemuda itu tidak mau menyerah mendekati Dina.


"Ini juga sedang bicara. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan,"sahut Dina masih tetap berjalan tanpa menoleh pada pemuda di sampingnya.


"Eh.. lepaskan!"pekik Dina seraya menarik tangannya, saat pemuda itu tiba-tiba memegang tangannya, namun pemuda itu memegangi tangannya dengan kuat, hingga Dina tidak bisa melepaskan pegangan tangan pemuda itu. Sedangkan beberapa siswa yang nampaknya adalah geng pemuda itu juga ikut berhenti berjalan.


"Aku cuma mau bicara sebentar sama kamu. Kamu kok, cuek banget sich sama aku,"ujar pemuda itu menatap lekat wajah Dina.


"Aku memang begini, bukan cuma sama situ aja, tapi sama siswa yang lain juga,"cetus Dina dengan wajah masam.

__ADS_1


"Aku suka sama kamu, Din. Kenapa sich, kamu selalu menghindar dari aku. Kamu mau ya, jadi pacar aku! Aku bakal ngasih apapun yang kamu mau,"ucap pemuda itu serius.


"Aku cuma mau kamu jauhi aku. Aku disini buat belajar agar aku bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan bisa menggapai cita-cita ku, bukan buat pacaran,"ketus Dina seraya kembali menarik tangannya, namun tetap saja tidak bisa lepas dari pegangan pemuda itu.


"Walaupun kita pacaran, itu nggak bakal mengganggu sekolah kita, Din. Malah itu akan menjadi penyemangat buat ke sekolah, dan belajar,"ucap pemuda itu masih kekeuh dengan pendiriannya.


"Walaupun tanpa berpacaran pun, aku sudah semangat buat sekolah dan belajar. Dan aku nggak berminat sama sekali buat pacaran,"ujar Dina tidak mau kalah.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, mulai hari ini kita pacaran,"ucap pemuda itu tidak mau dibantah membuat Dina menjadi jengah.


"Dih..kok situ jadi maksa! Dalam mimpi pun, aku tidak mau menjadi pacarmu,"ucap Dina dengan wajah garang.


"Dukk"


"Akkhh"pekik pemuda itu saat Dina tiba-tiba menendang pangkal paha pemuda itu lalu berlari meninggalkan pemuda itu yang membungkuk memegangi pusaka nya sambil meringis menahan sakit.


"Gadis sialan!"umpat pemuda itu dengan raut wajah kesakitan, kesal dan marah menjadi satu.


"Kamu nggak apa-apa?"tanya salah satu teman pemuda itu.


"Nggak lihat apa, kalau aku sedang kesakitan? Mana ada aku nggak apa-apa setelah pusaka ku di tendang,"sergah pemuda itu semakin kesal membuat temannya yang bertanya tadi hanya bisa menyengir bodoh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jangan bilang kamu naksir juga sama dia,"ucap pemuda yang di tendang Dina, seraya memicingkan matanya.


"Eh...mana berani aku naksir dia, Dina kan gebetan kamu. Nggak mungkin lah, aku saingan sama kamu. Situ yang ganteng dan kaya aja ditolak mentah-mentah sama Dina, apa kabar diriku yang hanya punya kelebihan berat badan,"ujar siswa yang memang kelebihan berat badan itu, yang tadi memuji Dina.


"Syukur kalau situ sadar diri,"ucap pemuda itu sinis, tidak mau ada saingan untuk mendekati Dina.


Sebelum menikah dengan Ferdi, Dina adalah gadis miskin yang bersekolah di SMU itu karena beasiswa. Penampilannya terlihat culun, tidak menarik, pakaian lusuh, sepatu tidak bermerek tas murah, perlengkapan sekolah yang murah dan terbatas. Kulit dan rambutnya pun terlihat kusam tidak terawat, hingga kecantikannya pun tak terlihat.


Namun semenjak menikah dengan Ferdi, Dina memakai pakaian seragam yang bagus, sepatu bermerk dan semua perlengkapan sekolahnya pun bagus dan lengkap. Kulitnya pun terlihat semakin mulus dan terawat. Rambutnya yang kusam pun , kini terlihat sehat dan tergerai indah. Kecantikan alaminya pun semakin bersinar, tidak ada lagi Dina yang kusam dan kucel. Power of money memang luar binasa... eh..luar biasa maksudnya.


Dulu banyak siswa siswi yang menghindarinya dan acuh tak acuh padanya, tapi sekarang malah banyak yang mau berteman dengannya, bahkan banyak siswa yang terang-terangan ingin menjadi pacarnya. Karena sekarang Dina adalah siswi berprestasi yang modis dan juga cantik.


Pemuda yang di tendang Dina dan rombongannya itu pun akhirnya keluar dari gedung sekolah itu dan mengejar Dina yang sudah lebih dulu keluar dari gedung sekolah itu. Mereka mencari keberadaan Dina dan menemukan gadis itu tengah berdiri di dekat gerbang sekolah dan terus-menerus melihat ke arah jalan. Sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang.

__ADS_1


Ferdi melajukan mobilnya ke arah supermarket yang diinginkan oleh Disha. Ferdi agak memperlambat laju mobilnya saat melaju di jalan yang dekat dengan sebuah SMU. Banyaknya anak sekolah yang baru pulang, membuat jalanan itu pun menjadi ramai. Dari jauh, Ferdi yang melintasi jalanan itu, tidak sengaja melihat istri mudanya sedang berdiri di dekat gerbang sekolah dan nampak didekati segerombolan siswa,"Nyonya, bisakah kita berhenti sebentar di depan,"ucap Ferdi meminta ijin seraya menatap Disha dari kaca dasbor dalam mobil.


"Iya,"sahut Disha yang nampak sedang serius membuka email yang masuk ke akunnya tanpa menoleh pada Ferdi.


"Din, ayo aku antar pulang!"ucap pemuda yang tadi di tendang oleh Dina kembali memegangi tangan Dina dan menarik Dina dengan paksa.


"Lepaskan!"bentak Dina mencoba berontak, tidak mau dibawa pemuda itu.


Ferdi yang baru saja menepikan mobilnya pun langsung turun dari mobil dengan wajah yang sudah menggelap dan tangan mengepal erat, tidak suka melihat istrinya ditarik paksa oleh seorang siswa. Dengan perasaan geram, Ferdi pun menghampiri istrinya.


"Greb"Ferdi langsung memegang tangan siswa yang memegang tangan istrinya itu dengan kuat hingga membuat pemuda itu meringis.


"Lepaskan tangan kotor mu dari tangannya?"ucap Ferdi dengan suara berat, menatap pemuda itu dengan tatapan tajam dan dingin. Sungguh -sungguh tatapan yang penuh aura yang sangat menakutkan.


"Kak!"ucap Dina dengan mata berbinar dan senyum terkembang, begitu cantik dan menggemaskan. Sayang, saat ini Ferdi tidak menatap Dina, tapi menatap tajam pada pemuda yang sudah berani menganggu istrinya.


Karena merasa sakit, pemuda itu pun melepaskan tangan Dina dan Ferdi langsung menghempaskan tangan pemuda itu dengan kuat hingga membuat pemuda itu terhuyung dan hampir saja jatuh jika kawan-kawannya tidak menahan tubuhnya. Sedangkan Dina langsung bergelayut manja di lengan suaminya.


"Beraninya kamu menganggu Dina! Jauhi Dina jika kamu tidak ingin mendapatkan masalah!"geram Ferdi menahan amarahnya.


"Ada apa, Fer?"tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul, membuat semua orang yang ada di tempat itu langsung terdiam karena terhipnotis oleh kecantikan dan keanggunan wanita yang baru saja menegur Ferdi.


Ferdi langsung menghadap ke arah perempuan yang tidak lain adalah Disha seraya menundukkan kepalanya dan menjawab,"Mereka menganggu Dina Nyonya,"


Disha menatap gadis cantik yang sedang bergelayut manja di lengan Ferdi dan sedang menatapnya,"Apa dia adikmu?"tanya Disha.


"Nyonya, dia..."Ferdi menggantung kata-katanya.


"Ya sudah, bawa masuk kedalam mobil saja,"ucap Disha yang melihat Ferdi nampak kebingungan menjawab pertanyaannya.


"Baik, Nyonya,"sahut Ferdi menatap sekilas pada pemuda yang memegangi tangan istrinya tadi dengan tatapan membunuh membuat nyali para siswa itu menciut dan bergidik ngeri. Ferdi bergegas membukakan pintu mobil untuk Disha.


"Eh..biarkan dia duduk bersama ku,"ucap Disha saat Ferdi akan menutup pintu mobil.


"Duduklah bersama Nyonya!"ucap Ferdi menuruti perintah Disha.

__ADS_1


"Iya,"sahut Dina langsung masuk kedalam mobil dan duduk di sebelah Disha.


To be continued


__ADS_2