Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
110. Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Di apartemen Alva dan Disha.


"Sayang, semua barang yang harus dibawa sudah dipacking, kapan kita akan berangkat?"tanya Disha setelah semua barang yang akan dibawa ke rumah Bramantyo sudah di packing.


"Nanti akan ada orang yang mengambilnya, sayang. Kita berangkat sekarang saja. Ayo Bik!"ucap Alva kemudian menggendong Kaivan dan merangkul pinggang Disha lalu berjalan keluar dari unit apartemen itu. Sedangkan Bik Inah mengekor di belakang mereka.


Hari itu Alva dan Disha berniat pindah ke rumah Bramantyo dan Ratih, sesuai keinginan kedua orang tua Alva itu. Setelah hampir satu jam berjibaku dengan kemacetan lalu lintas, akhirnya mereka pun tiba di rumah Bramantyo.


Bramantyo dan Ratih yang melihat mobil Alva memasuki pekarangan rumah mereka pun segera keluar dari rumah untuk menyambut kedatangan keluarga kecil Alva.


"Ayo masuk!"seru Bramantyo yang nampak bahagia dengan kedatangan anak, menantu, dan cucunya itu.


"Sini sama nenek!"ucap Ratih mengulurkan tangannya pada Kaivan yang sedang digendong oleh Disha dan langsung disambut oleh Kaivan.


"Sama kakek dulu, dong! Masa sama nenek terus!"protes Bramantyo ingin menggendong Kaivan tapi Kaivan tidak mau.


"Nanti lama-lama juga mau ,pa!"ucap Disha.


"Iya, papa harus merayunya agar dia mau bersama dengan papa,"ucap pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah itu.


"Kalian lihat saja dulu kamar kalian. Papa sudah merenovasi kamar Alva dan kamar Kaivan ada disebelah kamar kalian. Papa juga membuat pintu yang menghubungkan kamar kalian dan kamar Kaivan,"ujar Bramantyo.


"Terimakasih, pa!"ucap Disha dan ditanggapi dengan anggukan kepala dan senyuman oleh Bramantyo.


"Oh iya, kamar Bik Inah akan ditunjukkan oleh Bik Sari,"ucap Ratih dan seorang Art segera menunjukkan pada Bik Inah dimana letak kamar yang akan ditempati oleh Bik Inah.


Bramantyo dan Ratih membawa Kaivan ke ruang keluarga dan bermain dengan Kaivan di sana. Pasangan paruh baya itu nampak sangat bahagia bersama cucu pertama mereka.


Alva dan Disha pun naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar Alva yang sudah direnovasi oleh Bramantyo. Kemudian masuk kekamar Kaivan melalui connecting room yang dibuat Bramantyo agar mempermudah Alva dan Disha masuk ke kamar Kaivan.


Disha berdiri di balkon melihat taman di bawah sana yang dipenuhi bunga mawar dengan berbagai macam warna.


"Apa kamu suka, sayang?"tanya Alva seraya memeluk Disha dari belakang kemudian menumpukan dagunya di pundak Disha.


"Aku suka, kamarnya nyaman dan pemandangan dari sini juga indah,"ucap Disha dengan wajah cerah.


"Tapi taman di bawah sana kalah indah dari dirimu,"bisik Alva ditelinga Disha mencium leher Disha dan sedikit menyesapnya.


"Sayang, hentikan.!!"ucap Disha menjauhkan wajah Alva dari lehernya.

__ADS_1


"Setiap dekat dengan mu aku seperti tersengat listrik, sayang. Tegangan mu terlalu tinggi sehingga aku mudah tersetrum,"ucap Alva kemudian menciumi leher Disha.


"Sudah, sayang! Ini masih siang!"bujuk Disha agar Alva menghentikan aktivitasnya yang membuat Disha meremang.


"Berarti, nanti malam boleh kan?"tanya Alva sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum nakal.


"Dasar genit!"ucap Disha lalu mencubit pipi Alva.


"Auwh.. sakit, sayang!"pekik Alva.


"Dertt.. dertt...dertt..."suara handphone Alva di dalam saku celananya membuat Alva melepaskan pelukannya pada Disha.


Sedangkan Disha dengan cepat menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari kamar itu agar tidak terus-menerus digoda oleh Alva.


"Halo, Fer!"sahut Alva setelah melihat nama orang yang menghubunginya.


"Tuan, saya ingin memberitahu anda jika tadi, Riky meminta bantuan saya untuk menyelidiki seorang perempuan,"sahut Ferdi.


"Menyelidiki seorang perempuan? Siapa yang ingin dia selidiki?"tanya Alva yang tidak merasa menyuruh Riky untuk menyelidiki seseorang, apalagi seorang perempuan.


"Perempuan yang bernama Yessie, Tuan,"sahut Ferdi.


"Iya, Tuan,"jawab Ferdi.


"Turuti saja keinginan Riky, dan jangan meminta imbalan padanya,"ucap Alva serius.


"Baik, Tuan,"sahut Ferdi dan sambungan telepon pun diakhiri.


"Akhirnya tertarik juga bujang lapuk itu pada perempuan. Aku ingin tahu, bagaimana cara Riky mendekati seorang perempuan,"gumam Alva kemudian terkekeh sendiri.


Malam itu meja makan dirumah Bramantyo nampak terasa hidup dengan kehadiran Alva dan Disha. Tidak seperti biasanya, hanya Ratih dan Bramantyo yang ada di meja makan itu. Sekarang nampak Alva dan Disha yang ada di meja makan membuat suasana terasa lebih ramai.


Tadi Disha sengaja terjun langsung ke dapur untuk memasak beberapa menu masakan dibantu Bik Sari.Disha nampak melayani Alva dengan mengambilkan nasi dan lauk pauk yang ada di atas meja. Bramantyo nampak bahagia melihat Disha yang telaten melayani Alva.


Setelah makan malam, mereka duduk di ruang keluarga. Kaivan yang belum tidur nampak asyik bermain dengan mainan yang diletakkan di atas karpet yang tebal dan halus. Sesekali menghampiri Disha dan juga Alva dengan merangkak.


"Al, besok papa dan mama akan ke luar negeri untuk memeriksa perusahaan kita yang ada di luar negeri,"ujar Bramantyo memberi tahu.


"Berapa hari, pa?"tanya Alva.

__ADS_1


"Mungkin sekitar seminggu, tapi papa akan usahakan pulang lebih cepat. Karena papa juga harus mengurus hotel kita yang baru beroperasi. Papa juga ingin cepat-cepat berkumpul bersama kalian, terutama cucu papa ini,"jawab Bramantyo seraya mengelus kepala Kaivan yang duduk di depannya sedang bermain mobil-mobilan.


"Kalau saja Kaivan tidak minum ASI dan mau minum susu formula, mama pasti akan membawanya,"ujar Ratih yang memang hampir setiap hari mengunjungi Kaivan di apartemen Disha dan Alva.


"Dia persis sama seperti Alva dulu yang tidak mau minum susu formula,"ucap Bramantyo mengingat masa lalu.


Alva harus di infus lewat kaki karena tidak mau minum susu formula. Sedangkan bayi yang baru lahir sampai umur enam bulan tidak disarankan untuk mengkonsumsi apapun selain ASI dan susu formula. Untung waktu itu Ratih datang sebagai penyelamat Alva dengan memberikan ASI-nya.


"Ma..ma..ma..."celoteh Kaivan menghampiri Disha dengan merangkak.


"Anak mama sudah mengantuk, ya?"ucap Disha meraih tubuh Kaivan kemudian menggendongnya.


"Tidurkan lah dulu, sayang!"perintah Alva seraya mengelus kepala Disha kemudian mencium pipi Kaivan yang nampak sudah gelisah ingin menyusu.


"Iya. Ma, pa, aku menidurkan Kaivan dulu!" pamit Disha.


"Iya,"sahut Bramantyo dan Ratih bersamaan.


Alva dan kedua orang tuanya kembali mengobrol dan tidak lama kemudian Bramantyo dan Ratih masuk ke kamar mereka. Sedangkan Alva berjalan ke arah dapur membuatkan susu untuk Disha.


"Sayang, apa Kaivan sudah tidur?"tanya Alva pada Disha saat melihat Disha baru saja membaringkan Kaivan di box bayinya.


"Iya,"sahut Disha singkat.


"Minum dulu susunya!"ucap Alva menyodorkan segelas susu untuk Disha dan langsung diminum oleh Disha.


"Ayo, kita tidur!"ajak Alva menggandeng tangan Disha setelah mencium kening Kaivan yang sudah terlelap.Kemudian Alva membawa Disha untuk berbaring di ranjang dengan ukuran king size itu.


Alva menarik tubuh Disha dalam pelukannya, mengusap pipi Disha yang halus dan mulus itu dan perlahan mendekatkan bibir mereka.


"Sayang, aku lupa mengatakan. Kemarin saat kita rapat dengan klien, resepsionis dibawah mengatakan Trisha datang lagi ke kantor dan ingin bertemu dengan mu,"ucap Disha menatap Alva membuat Alva mengurungkan niatnya untuk mencium bibir Disha.


"Trisha?"


...🌟"Kebahagiaan bagi orang tua adalah saat melihat keluarganya berkumpul dalam suasana yang hangat dan bahagia."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2