
Sudah hampir tiga Minggu Radeva mencari keberadaan istrinya, namun belum juga membuahkan hasil. Radeva lebih banyak diam tanpa bicara apapun dengan keluarganya. Bahkan untuk bicara dengan Disha pun, Radeva tidak berani. Adiknya itu nampak sinis jika bertemu dengannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh menit dini hari. Radeva duduk di kursi taman sendirian, sulit untuk memejamkan matanya. Walaupun kebersamaan nya bersama Icha belum genap satu bulan, tapi Radeva benar-benar merasa sangat kehilangan. Tempat tidur ukuran king size terasa dingin dan kamar terasa sunyi tanpa kehadiran istrinya. Mendekap tubuh istrinya yang terasa hangat beberapa Minggu yang lalu, sungguh sangat dirindukannya.
"Kenapa kakak di sini? Ini sudah dini hari,"ujar Alva yang tiba-tiba duduk di samping Radeva.
Usai bercinta dengan istrinya Alva pergi ke balkon kamarnya karena baru ingat jika handphonenya tertinggal di sana. Dan tanpa sengaja Alva melihat seseorang sedang duduk di kursi taman, seseorang yang sosoknya mirip dengan Radeva. Karena penasaran, Alva pun menghampiri orang itu yang ternyata memang Radeva.
Radeva tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Alva. Wajah yang nampak pucat karena kurang tidur itu menoleh ke arah Alva. "Kamu sendiri, sedang apa di sini?"tanya Radeva pada Alva tanpa semangat.
"Aku? Aku tadi habis bercinta dengan adikmu, saat aku ke balkon kamar, aku tidak sengaja melihat kakak sedang merenungi nasib di sini,"sahut Alva santai.
"CK..kamu sengaja pamer padaku kalau kamu baru saja bercinta, sekaligus mencibir ku,"ketus Radeva yang memang sudah lama tidak bercinta gara-gara istrinya kabur.
"Hey..kenapa kakak jadi sensitif begini? Kayak perempuan yang lagi dapet aja,"ejek Alva.
"Lebih baik kamu dekap adikku di dalam kamar, dari pada mengejekku di sini,"ketus Radeva.
"CK.ck..ck..aku hanya simpati pada kakak, takut kalau kakak kesambet setan karena duduk melamun di sini seorang diri. Tapi kakak malah berprasangka buruk padaku,"ucap Alva mencebikkan bibirnya.
Radeva menghela napas dalam, selama ini Alva memang selalu menyempatkan diri untuk menemani Radeva di tengah kegundahan hati Radeva. Walaupun Alva suka mengejek, mencibir ataupun menggoda Radeva, tapi hal itu merupakan hiburan untuk Radeva. Setidaknya Alva bisa menjadi pendengar yang baik untuk mencurahkan keluh kesahnya. Walaupun selalu diselingi ejekan, cibiran, dan kata-kata konyol dari adik iparnya itu, tapi sejenak Radeva bisa menghilangkan rasa sepi dan kekosongan dalam ruang hatinya karena kepergian istrinya.
"Aku sangat merindukannya,"ucap Radeva menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Merindukan apa nya?tanya Alva mengulum senyum.
Radeva mendengus kesal,"Kamu lebih tahu dari aku, bukannya kamu lebih berpengalaman?"ujar Radeva dengan wajah kesal.
"Dia belum mau kembali, berarti dia belum bisa memaafkan kakak,"sahut Alva seraya bersedakep.
__ADS_1
Menghela napas berat, Radeva pun berkata,"Apa dia tidak akan mau kembali lagi padaku?"tanya Radeva dengan mata yang nampak sendu,"Sebelumnya, aku tidak pernah mencintai seorang wanita seperti aku mencintainya. Aku....aku tidak ingin berpisah darinya. Aku ingin dia melahirkan anak-anak ku dan menua bersamaku,"ujar Radeva dengan suara bergetar.
Takut kehilangan? Tentu saja, selain karena memang sudah mencintai Icha, juga karena merasa sulit untuk menemukan cinta. Dan Icha adalah satu-satunya wanita yang benar-benar dicintainya.
Alva membuang napas kasar,"Langit terlihat mendung, sepertinya hujan akan segera turun. Jika sekarang kakak mengetahui dimana keberadaan nya, apa saat ini juga kakak akan pergi menemuinya?"tanya Alva menatap langit yang gelap, udara pun terasa semakin dingin karena sudah dini hari, ditambah cuaca yang nampaknya akan turun hujan, angin bertiup agak kencang terasa menusuk di kulit.
"Kapanpun aku mengetahui keberadaannya, aku akan langsung menemuinya,"ujar Radeva ikut menatap langit yang semakin hitam.
"Jika kakak sudah bertemu dengannya, jangan dulu menjelaskan apapun. Kakak hanya perlu mengatakan tiga kata, yaitu , Maaf, aku mencintaimu, katakan saja tiga kata itu,"Alva menatap layar handphonenya yang menyala terang karena ada notifikasi pesan, kemudian membaca pesan itu. Alva menoleh pada Radeva," Anak buahku sudah ada di depan, pergilah sekarang jika kakak ingin menemui kakak ipar!"ucap Alva kemudian langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan Radeva.
Radeva nampak terkejut mendengar kata-kata Alva yang terakhir. Namun bibirnya langsung tersenyum lebar, bangkit dari duduknya dan menatap Alva yang sudah berjalan menjauhi nya. "Terimakasih!"ucap Radeva agak meninggikan suaranya menatap Alva dari belakang, dan Alva hanya melambaikan tangannya saat mendengar ucapan Radeva tanpa menoleh ataupun berbalik ke arah Radeva.
Radeva langsung beranjak dari tempatnya dan bergegas pergi. Sebuah mobil dengan mesin yang sudah menyala, nampak sudah menunggu di depan pintu utama, dan Radeva pun langsung masuk kedalam mobil itu. Radeva duduk di kursi penumpang di samping kursi kemudi, dan anak buah Alva pun langsung melajukan mobilnya. Waktu sudah dini hari, jadi jalanan pun lengang, anak buah Alva pun melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata agar segera sampai di tempat tujuan.
Sedangkan Alva kembali kekamar nya, naik ke atas ranjang dan membawa istrinya ke dalam dekapannya. Sejak dua hari setelah kepergian Icha, Alva sudah tahu dimana Icha berada. Alva bicara pada Icha melalui anak buah perempuan nya lewat sambungan telepon. Icha memohon pada Alva agar jangan dulu memberitahukan keberadaannya pada Radeva. Karena Icha masih ingin menenangkan diri terlebih dulu. Alva pun mengerti dan tidak memberitahu Radeva.
Dalam perjalanan, Radeva beberapa kali bertanya pada anak buah Alva, kapan kira-kira mereka akan sampai, membuat anak buah Alva hanya bisa menghela napas, mencoba bersabar menghadapi seorang suami yang sudah rindu berat pada istrinya. Walaupun mobil sudah melaju cukup kencang di jalanan yang lengang, namun Radeva masih saja merasa perjalanan mereka begitu lama.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama satu jam setengah jika lancar dan selama dua jam bahkan lebih jika terjadi kemacetan. Sekarang ditempuh dalam waktu kurang dari dari satu jam. Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat cukup nyaman. Rumah yang tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil dengan pekarangan yang lumayan luas.
Titik-titik air hujan sudah mulai menyapa bumi, dan Radeva bergegas melepaskan sabuk pengamannya,"Tuan, bagaimana cara tuan masuk nanti?"tanya anak buah Alva langsung memegang lengan Radeva yang hendak turun dari mobil.
"Tentu saja mengetuk pintunya,"sahut Radeva mencoba melepaskan pegangan tangan anak buah Alva agar bisa segera turun dari mobil, namun anak buah Alva tidak mau melepaskan nya.
"Apa Tuan yakin akan ada yang membukakan pintu, jika Tuan mengetuk pintu? Bisa saja tidak ada yang mendengarnya, karena sekarang sudah pukul setengah empat pagi. Atau pun jika Nyonya membukakan pintu, apakah Tuan yakin jika Nyonya akan mengijinkan anda masuk? Nyonya sedang marah pada anda, kan?"tanya anak buah Alva membuat Radeva terdiam sesaat.
Benar apa yang dikatakan oleh anak buah Alva, belum tentu akan ada yang membukakan pintu untuknya, dan jika istrinya membukakan pintu, belum tentu istrinya akan mengijinkan dia masuk.
"Lalu aku harus bagaimana?"tanya Radeva.
__ADS_1
"Sebaiknya anda masuk lewat jendela kamar Nyonya. Saya akan membantu anda untuk membuka jendelanya,"ucap anak buah Alva.
"Tapi..apa kamu yakin jika Icha ada di rumah ini?tanya Radeva menjadi ragu.
"Tentu, saja. Kami telah mengawasinya baik-baik, dan Nyonya memang tinggal di sini. Bagaimana? Anda ingin masuk sekarang atau menunggu langit terang. Jika menunggu langit terang, ada kemungkinan, anda akan diusir Nyonya, jika Nyonya melihat anda,"ujar anak buah Alva membuat Radeva kembali tertegun.
"Ya sudah, tolong bantu aku masuk lewat jendela,"sahut Radeva akhirnya memutuskan pilihan.
Akhirnya, dalam hujan yang turun belum terlalu deras itu, keduanya masuk.ke pekarangan rumah itu dan membuka salah satu jendela kamar.
"Kamu yakin ini kamar istriku?"tanya Radeva pelan setelah jendela sudah bisa dibuka, dirinya kembali ragu, apa benar istrinya ada di dalam sana.
"Anda bisa memeriksanya sendiri, atau kembali ke mobil bersama saya sekarang juga,"sahut anak buah Alva langsung berlari meninggalkan Radeva, kembali ke dalam mobil. Tidak ingin hujan yang mulai deras itu membuat tubuhnya menjadi basah.
Dengan ragu, Radeva mengintip ke dalam kamar dari jendela yang di bukanya. Namun suasana di dalam tidak terlalu jelas karena hanya diterangi oleh lampu tidur. Hanya terlihat sesosok tubuh yang berada di balik selimut. Dengan memberanikan diri, Radeva masuk ke dalam kamar itu melalui jendela kaca.
Hujan di luar sana nampak semakin deras, bahkan kilat dan petir mulai terdengar. Perlahan, Radeva mendekati sosok yang sedang terlelap di bawah selimut tebal. Radeva nampak tersenyum dengan wajah sendu saat sudah bisa melihat sosok yang sedang terlelap itu adalah istri yang sudah hampir tiga Minggu ini meninggalkan dirinya.
Radeva duduk di tepi ranjang dan menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya,"Maaf, aku mencintaimu!"gumam Radeva kemudian mengecup lembut kening istrinya.
Sedangkan anak buah Alva yang berada di dalam mobil,"Huff...terpaksa aku harus tidur di mobil. Jika aku ikut masuk ke dalam rumah itu, bisa jadi aku tidak akan bisa tidur karena mendengar suara-suara aneh sepasang suami-isteri yang sedang melepas rindu. Mimpi apa aku kemarin malam, hingga dini hari begini di suruh mengantarkan pria yang sedang terkena penyakit galau dan rindu akut ke tempat sejauh ini,"gumam anak buah Alva seraya membaringkan tubuhnya di kursi penumpang bagian belakang, kemudian mulai memejamkan matanya.
...π"Rindu yang tidak bertepi adalah rindu pada orang yang telah pergi dan tidak mungkin kembali."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
To be continued
__ADS_1