Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
62. Kecelakaan


__ADS_3

"Aku ingin kamu berhenti menutupi kecantikan kamu dengan kacamata tebal dan gigi kawat mu itu. Apa kamu bersedia?"tanya Alva.


"Aku..."ucap Disha menggantung.


"Aku tidak akan memaksamu, jika kamu tidak mau,"ucap Alva tersenyum tipis sambil mengusap pipi halus Disha.


"Aku akan tetap memakai kacamata dan kawat gigi ku jika aku pergi tanpa kamu. Tapi jika aku pergi dengan kamu, aku tidak akan memakainya,"ucap Disha kemudian tersenyum kepada Alva.


"Benarkah?"tanya Alva dengan wajah yang bahagia.


"Iya,"sahut Disha kemudian mengecup pipi Alva," Al, aku besok pergi sama teman-teman ku ,ya?!"ucap Disha meminta izin.


"Sayang, apa kamu tidak lelah pergi berbelanja dengan perutmu yang besar ini?"tanya Alva sembari mengelus perut Disha.


"Aku nggak apa-apa, Al. Aku tuch merasa happy kalau ngumpul bareng mereka. Boleh, ya?,"bujuk Disha.


"Jangan sayang, kamu itu sebentar lagi sudah mau melahirkan. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian berdua,"ucap Alva.


Disha mendengus kesal, namun sesaat kemudian senyum di bibirnya mulai terkembang.


"Beneran nggak boleh?"tanya Disha tiba-tiba berdiri dan berpindah duduk dipangkuan Alva lalu mengelus bibir Alva.


"Nggak sayang, kamu dirumah saja, ya?!"ucap Alva merasa tubuhnya meremang saat tangan Disha mengelus lehernya.


Disha perlahan mencium bibir Alva yang langsung mendapat sambutan dari Alva, Disha mengusap tengkuk Alva, tangan Disha mulai turun dan menyusupkan tangannya kedalam kaos oblong yang dikenakan Alva, mengelus perut sixpack Alva membuat Alva semakin memperdalam ciumannya karena merasakan gelanyar yang menaikkan hasraatnya.


Alva kemudian melepaskan ciumannya saat Disha mulai susah bernafas dan berpindah menciumi leher Disha sedangkan Disha dengan beraninya mengelus sesuatu dibawah sana yang semakin mengeras.


"Sssst.., sayang.."desis Alva saat merasakan tangan Disha tiba-tiba menyusup masuk ke dalam boxernya dan mengelus miliknya yang semakin mengeras.


"Aku ngantuk, Al,"ucap Disha yang tiba-tiba bangkit dari pangkuan Alva.


"Sayang ... jangan seperti ini. Kamu sudah membangunkannya, masa iya kamu tinggal tidur, sayang,"rengek Alva mengikuti istrinya yang malah berbaring di atas ranjang lalu menutupi tubuhnya dengan selimut dengan posisi miring.


"Aku mau tidur, Al. Aku capek,"sahut Disha sambil memejamkan mata membuat Alva mengacak rambutnya dengan frustasi.


"Sayang, jangan tidur! Kamu harus tanggung jawab karena sudah membangunkannya. Aku bisa sakit kepala atas bawah sampai besok kalau dia nggak kamu tidurkan,"renggek Alva yang sudah duduk di samping Disha yang berbaring membelakangi nya dengan wajah memelas mengelus lengan Disha.


"Tidurkan sama Tante Lux sana,"ucap Disha enteng.


"Nggak mau sayang, nanti aku kedinginan jika harus menidurkannya sama Tante Lux. Lagian aku nggak pernah menidurkannya dengan Tante Lux, sayang,"ucap Alva memelas.

__ADS_1


"Oke..oke .akan aku tidurkan, tapi kamu harus mengizinkan aku pergi dengan teman-teman ku besok,"sahut Disha.


"Kamu curang sekali, sayang,"ucap Alva dengan wajah ditekuk.


"Kalau nggak mau ngasih izin ya sudah, tidurkan saja sendiri,"sahut Disha.


"Oke..oke..aku kalah. Besok kamu boleh pergi dengan teman-teman mu. Sekarang kamu harus menidurkan dia,"ucap Alva sambil menggesekkan miliknya yang sudah mengeras di bamper belakang Disha.


"Oke,"ucap Disha tersenyum manis pada Alva hingga membuat Alva sudah tidak sabar lagi untuk menerkam istrinya itu.


"Berani sekali kamu menggodaku, aku akan membuatmu menyesal karena telah menggodaku,"bisik Alva di telinga Disha kemudian menggigit nya.


Keesokan paginya.


"Al, bangun, sudah siang, Al,"ucap Disha yang terbangun lebih dulu tapi tidak bisa beranjak dari ranjang karena Alva masih memeluknya dari belakang.


"Sebentar lagi, sayang," sahut Alva dengan suara serak khas bangun tidur.


"Tapi ini sudah siang, Al,"ucap Disha sambil mengelus pipi Alva yang berada di ceruk lehernya.


"Lima menit lagi, sayang,"ucap Alva sambil menggosokkan hidung mancung nya di leher Disha.


"Aku kebelet pipis, Al,"dusta Disha agar Alva melepaskan pelukannya.


Setelah sarapan pagi, Alva pun bersiap-siap untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya.


"Sayang, kamu yakin akan pergi bersama teman-teman mu hari ini?"tanya Alva.


"Iya,"sahut Disha.


"Sebenarnya hari ini aku ingin kamu di rumah saja, sayang,"ucap Alva.


"Kenapa?"tanya Disha sambil mengernyitkan keningnya.


"Entahlah, sejak bangun tadi aku merasa gelisah tanpa sebab,"jelas Alva.


"Mungkin karena kamu ingin mengungkapkan tentang hubungan kita pada keluarga mu, jadi kamu merasa gugup,"sahut Disha.


"Aku rasa bukan soal itu, tapi aku tidak tahu mengapa aku menjadi gelisah seperti ini," jelas Alva.


"Sudahlah, jangan dipikirkan mungkin itu hanya perasaan mu saja.Itu ada yang datang, pasti itu Riky,"ucap Disha saat mendengar suara bel berbunyi beberapa kali.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pergi, ya?!"pamit Alva mengecup kening kemudian bibir Disha.


"Hati-hati,"ucap Disha.


"Iya,"sahut Alva kemudian pergi bersama Riky yang sudah menunggu di depan pintu apartemennya.


Setelah tiba di rumah Bramantyo, Alva segera menghampiri kedua orang tuanya dan mereka pun segera berangkat ke makam kakek dan nenek Alva.


Riky duduk di kursi pengemudi, Alva duduk disebelah Riky. Sedangkan Ratih duduk di kursi penumpang bagian belakang, diapit Bramantyo dan Anjani.


Bramantyo terlihat sangat sedih hari itu, hari dimana kedua orang tuanya harus meregang nyawa dalam kebakaran. Waktu itu rumah Bramantyo dirampok dan sengaja dibakar oleh supir pribadinya hingga Bramantyo tidak pernah bisa melupakan hari itu.


Dan setiap hari peringatan meninggalnya kedua orang tuanya sekaligus hari kelahiran Alva, Bramantyo hanya akan diam tanpa berkata apapun.


Karena itulah dari rumah sampai di makam, bahkan sampai saat dalam perjalanan pulang pun tidak ada yang memulai perbincangan. Hingga setelah setengah jam dalam perjalanan pulang, Alva melihat mobil yang biasa dipakai Disha berada di depan sebuah mobil yang berada di depan mobil yang ditumpangi oleh Alva.


"𝐈𝐭𝐮 𝐦𝐨𝐛𝐢𝐥 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚. 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐧𝐚?"batin Alva sambil terus mengamati mobil yang ditumpangi oleh Disha.


"𝐈𝐭𝐮 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐦𝐨𝐛𝐢𝐥 𝐍𝐲𝐨𝐧𝐲𝐚 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚,"batin Riky yang juga mengenali mobil Disha.


Sementara itu di sebelah mobil Alva ternyata ada Icha dan Yessie di dalamnya yang sudah janjian dengan Disha untuk makan di sebuah kafe baru.


"Yes, itu bukannya mobil Disha, ya?"tanya Icha menunjuk ke arah mobil Disha.


"Iya, Cha. Hampir bareng dong kita nanti sampai di kafenya,"sahut Yessie.


"Iya, nich kayaknya,"sahut Icha.


Saat mendekati traffic light, mobil Disha terus melaju, tapi mobil yang ditumpangi Alva dan taksi yang ditumpangi oleh Icha dan Yessie terpaksa harus berhenti karena traffic light sudah berwarna merah.


Namun saat mobil yang ditumpangi Alva dan taksi yang ditumpangi Yessie dan Icha berhenti di traffic light tiba-tiba terdengar suara...


"Brakk... brakk...brakk..."


Seketika Alva, Riky, Icha dan Yessie yang sedari tadi mengawasi mobil yang ditumpangi oleh Disha pun shock saat mobil yang ditumpangi oleh Disha ditabrak oleh mobil yang menerobos lampu merah.


"Disha..!!!"


...🌟"Mendapatkan cintamu adalah anugerah terindah dalam hidupku, tapi jika harus kehilangan mu, jujur mungkin aku tidak akan mampu."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2