
"Pa?!"ucap Hery tidak percaya mendengar kata-kata papanya.
"Kapan kamu bisa menjadi pribadi yang bertanggung jawab? Kamu itu bukan anak kecil lagi, Her! Dimana akal sehatmu? Kamu meninggalkan istri mu di malam pertama pernikahan kalian dan malah mabuk mabukan di klub malam,"
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Pergi.!! Dan jangan pernah kembali sebelum kamu membawa istri mu pulang bersama mu!!"bentak Darmawan mengusir Hery seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah luar rumah.
Hery menghela nafas berat, melangkahkan kakinya menuju mobilnya kemudian mengendarai mobilnya keluar dari rumah nya.
"Lama kelamaan aku akan terkena darah tinggi dan menjadi struk menghadapi anak satu itu. Entah apa yang ada dalam otaknya. Mengejar-ngejar istri orang dan menelantarkan istrinya sendiri yang sedang mengandung. Bahkan mabuk mabukan di malam pernikahannya. Aku tidak habis pikir dengan kelakuan anak itu,"gerutu Darmawan seraya melangkah memasuki ruangan kerjanya.
***
Di apartemen Disha dan Alva.
"Bik, Bik Inah!"panggil Ratih yang sudah masuk kedalam apartemen Disha dan Alva. Ratih tahu nomor sandi apartemen Disha dan Alva, jadi setiap datang tidak perlu mengetuk pintu lagi.
"Eh, Nyonya besar,"ucap Bik Inah yang keluar dari dalam kamar Kaivan sambil menggendong Kaivan.
"Cucu nenek, tambah gendut aja,"ucap Ratih kemudian meraih tubuh Kaivan dari gendongan Bik Inah dan menggendong dan menciumi cucunya.
"Bik, tolong bawa semua barang bawaan saya ke dapur ya!!"pinta Ratih.
"Baik, Nyah,"sahut Bik Inah segera membawa barang bawaan Ratih kemudian menyusunya di tempat yang seharusnya.
"Bik, mana anak dan menantu saja Bik?"tanya Ratih mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya berdiri sambil menggendong Kaivan.
"Nyonya dan Tuan belum pulang Nyonya besar,"sahut Bik Inah seraya memasukkan buah, sayur, dan daging yang dibawa Ratih kedalam lemari es.
"Belum pulang? Memangnya mereka pergi kemana , Bik?"tanya Ratih dan sesekali menciumi cucunya.
Ke acara resepsi pernikahan model terkenal itu, Nyah. Siapa ya namanya? Saya lupa namanya, Nyah,"ucap Bik Inah sambil berusaha mengingat.
"Anjani?!"tebak Ratih.
"Ach iya, benar , Nyah,"sahut Bik Inah.
"Tapi acara resepsi pernikahannya kan semalam Bik?!"tanya Ratih.
"Iya, Nyah. Tapi semalam Tuan mengirim pesan kalau Tuan dan Nyonya tidak bisa pulang,"jawab Bik Inah.
"Apa terjadi sesuatu dengan mereka?"tanya Ratih nampak khawatir.
"Enggak kok Nyah. Semalam saya juga khawatir, takut terjadi apa-apa sama Tuan dan Nyonya, jadi saya bertanya pada Tuan. Kata Tuan mereka hanya capek saja dan ingin menginap di hotel tempat acara resepsi pernikahan diadakan,"jelas Bik Inah yang membuat Ratih bernafas lega.
__ADS_1
"Ini sudah hampir siang. Apa Alva memberi tahu Bik Inah, kapan mereka akan pulang?"tanya Ratih.
"Tidak, Nyah,"sahut Bik Inah.
Beberapa menit kemudian Bik Inah sudah selesai dengan pekerjaannya, terdengar suara seseorang yang sedang memasukkan nomor sandi di pintu. Tak la kemudian muncullah Alva dan Disha dari balik pintu.
"Mama kapan datang?"tanya Disha pada mertuanya seraya berjalan mendekati Ratih.
"Belum terlalu lama. Kalian dari mana?"tanya Ratih setelah menjawab pertanyaan Disha.
"Nginep di hotel,ma,"sahut Alva yang berjalan menuju lemari es kemudian meneguk air dingin.
"Kamu haus ya sayang?"tanya Disha pada Kaivan yang nampak mencari sumber ASI -nya di dalam gendongan Ratih.
"Iya, seperti dia haus. Susuilah dulu!"perintah Ratih kemudian memberikan Kaivan yang ada dalam gendongannya kepada Disha.
Tanpa sengaja, Ratih melihat banyak tanda merah keunguan di leher Disha. Ratih jadi mengerti kenapa anak dan menantunya menginap di hotel.
"Pantesan,"gumam Ratih seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada apa ma?"tanya Disha setelah membawa Kaivan ke dalam pelukannya. Disha dapat mendengar gumaman Ratih tadi.
'Tidak apa-apa,"sahut Ratih tersenyum tipis.
"Iya," sahut Ratih kemudian mengambil buah jeruk di atas meja lalu mengupasnya.
"Mama dan papa semalam kenapa tidak datang ke acara pernikahan Anjani?"tanya Alva seraya duduk didekat mamanya kemudian ikut mengambil buah jeruk yang berada di atas meja.
"Papa...."ucap Ratih terhenti saat ia mendongak menatap ke arah putranya dan tidak sengaja melihat tanda yang sama di leher putranya, tanda merah keunguan.
"Papa kenapa?" tanya Alva menatap mamanya karena Ratih tidak melanjutkan kata-katanya.
Ratih menghela nafas panjang melihat putranya itu,"Papa keluar negeri untuk mengurus perusahaan kita yang ada di sana,"jawab Ratih.
"Kenapa dulu papa mendirikan perusahaan diluar negeri, ma? Kenapa tidak dinegara ini saja?"tanya Alva sambil memakan jeruk yang sudah dikupasnya.
"Perusahaan yang ada di luar negeri itu adalah perusahaan yang didirikan oleh almarhum suami mama yang pertama,"jawab Ratih dengan wajah sendu.
"Maaf ma, aku tidak tahu,"sahut Alva yang jadi tidak enak hati melihat wajah mamanya yang berubah menjadi sendu.
"Nggak apa-apa. Mama sekarang juga bahagia, mama punya papa, kamu, Disha dan juga Kaivan,"ucap Ratih seraya tersenyum tipis mengelus pipi Alva.
Alva meraih tangan Ratih kemudian mengecupnya,"Kenapa mama dan papa tidak punya anak lagi selain aku?"tanya Alva.
__ADS_1
"Saat usia mu dua tahun, mama divonis dokter terkena tumor rahim. Rahim mama terpaksa diangkat agar tumornya tidak menyebar. Karena itu mama tidak bisa memberikan kamu seorang adik. Maafkan mama,ya?!"ucap Ratih menggenggam tangan Alva.
"Itu semua adalah takdir ma, tapi yang pastinya aku bahagia memiliki ibu seperti mama,"ucap Alva kemudian memeluk Ratih.
"Permisi Nyonya, Tuan,"ucap Bik Inah membawa mangkuk berisi lauk yang masih mengepulkan asap.
"Bibik masak?"tanya Alva menatap Bik Inah.
"I...."Bik Inah tidak melanjutkan kata-katanya karena gagal fokus saat menatap Alva dan tak sengaja melihat beberapa tanda merah keunguan dilleher Alva.
"Bik.!"panggil Alva seraya menepuk pundak Bik Inah karena perempuan paruh baya itu malah diam mematung. Sedangkan Ratih yang tahu ke mana arah tatapan Bik Inah pun hanya tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"I..iya, Tuan,"sahut Bik Inah yang tergagap.
"Bibi kenapa? Apa bibi sakit?"tanya Alva.
"E.. enggak kok, Tuan. Hanya kaget saja,"sahut Bik Inah menyengir.
"Kaget? Kaget kenapa?"tanya Alva sembari mengerutkan keningnya.
"Kaget lihat leher Tuan,"sahut Bik Inah dengan suara pelan seraya menundukkan wajahnya, tersenyum canggung.
"Anak muda memang seperti itu, Bik,"sahut Ratih mencairkan suasana, sedangkan Alva tersenyum canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
***
Di kediaman Adiguna.
Setelah tidak diterima di rumahnya sendiri, akhirnya mau tidak mau Hery pergi ke rumah Adiguna.Hery menekan bel beberapa kali hingga seorang Art membuka pintu itu.
"Tuan...."ucapan Art itu langsung dipotong oleh Hery.
"Apa Anjani ada?"tanya Hery tanpa basa-basi.
"Siapa yang datang, Bik?"
...🌟"Lari dari kenyataan tidak akan merubah apalagi memperbaiki keadaan, mau tak mau kita harus menghadapinya." 🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
Terimakasih atas like, komen, vote dan hadiahnya. Dukungan reader itu adalah penyemangat author untuk terus menulis. Jangan sungkan untuk memberi tahu jika ada typo.🙏🙏🙏🙏🙏
To be continued
__ADS_1