Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
66. Surat


__ADS_3

Di rumah sakit.


"Al, kamu melepaskan kacamata dan kawat gigi ku?"tanya Disha saat menyadari dia tidak lagi mengenakan kacamata dan kawat giginya.


"Iya, sayang. Kamu tidak perlu memakainya lagi,"ucap Alva mengusap wajah Disha dengan tersenyum manis,"Hei, lihatlah dia sudah bangun sayang,"ucap Alva saat melihat putranya membuka matanya.


"Dia lucu sekali,"ucap Disha sambil mengelus bibir bayinya dengan ibu jarinya namun malah ibu jarinya akan dikecup oleh bayi mungil itu.


"Sayang, sepertinya dia haus,"ucap Alva kemudian tangannya terulur untuk membuka kancing piyama Disha.


"Eh.. Al. Kamu mau apa?"tanya Disha sambil memegang tangan Alva yang sudah memegang kancing piyamanya.


"Membuka kancing piyama kamu, sayang. Kalau kancing piyama kamu tidak dibuka, bagaimana putra kita akan menyusu?!"tanya Alva.


"Dia menyusu padaku?"tanya Disha.


"Iya, sayang. Putra kita hanya mau minum ASI mu. Dia tidak mau minum susu formula,"jelas Alva.


"Tapi bagaimana cara ku menyusuinya, Al?"tanya Disha.


"Kamu diam saja, aku tahu caranya,"ucap Alva kemudian melanjutkan kegiatannya membuka kancing piyama Disha dan menyibaknya sebelah, sehingga terlihatlah benda kenyal yang nampak begitu montok, membuat Alva susah payah menelan salivanya.


Alva kemudian memindahkan putranya yang nampak semakin gelisah itu ke atas dada Disha dan mengarahkan mulut bayi mungil itu untuk menghisap air susu ibunya.


"Auw..lidahnya kasar sekali, Al,"ucap Disha sambil meringis saat putranya mulai menghisap air susunya.


"Menurut yang aku baca, pada awalnya memang begitu, sayang. Nanti lama-lama juga nggak lagi,"ucap Alva yang masih terus memperhatikan putranya yang sedang menyusu.


Di kediaman Bramantyo, Vicky sekarang sudah duduk di hadapan Bramantyo dan Ratih.


"Jadi informasi apa saja yang kamu dapatkan tentang sekretaris Alva itu?"tanya Bramantyo to the point.


"Nona Disha seorang yatim piatu, lulusan S2 jurusan bisnis dan manajemen. Dan sudah menikah dengan Tuan Muda hampir dua tahun,"jawab Riky.


"Apa?! Dua tahun?! Kamu yakin mereka sudah menikah selama dua tahun?!"tanya Bramantyo tidak percaya.


"Yakin, Tuan. Tepatnya keesokan hari setelah Tuan Muda melarikan diri dari pernikahan Tuan Muda dan Nona Anjani waktu itu,"jawab Vicky mantap.


"Jadi Alva melarikan diri dari pernikahannya dengan Anjani untuk menikahi Disha?"tanya Ratih.


"Saya rasa begitu Nyonya,"sahut Vicky.


"Sejak kapan Alva berhubungan dengan Disha?"tanya Ratih lagi.


"Saya tidak tahu, Nyonya. Selain dari tempat tinggal Nona Disha selama di kota ini dan informasi tadi, saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang Nona Disha,"ucap Vicky.


"Apa?! Hanya itu informasi yang kamu dapatkan?"tanya Bramantyo tidak percaya.


"Iya, Tuan. Sepertinya ada seseorang yang sengaja menutup rapat informasi tentang Nona Disha,"sahut Vicky.


"Aku tidak mau tahu, terus cari tahu siapa perempuan itu sebenarnya. Aku tidak mau memiliki menantu dari kalangan menengah kebawah,"ucap Bramantyo kemudian segera beranjak pergi dari ruangan itu membuat Ratih menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi, Nyonya,"ucap Vicky.


"Iya,"sahut Ratih.


***


Keesokan harinya, Alva nampak dengan telaten membersihkan wajah Disha yang duduk bersandar di headboard ranjang dan mengoleskan pelembab di wajah Disha kemudian menyisir rambut Disha dengan lembut.


"Kamu semakin cantik, sayang,"ucap Alva kemudian mengecup bibir Disha sekilas.


"Modus,"ucap Disha namun Alva malah kembali menciumnya.


"Al, apa kamu sudah memilih nama untuk bayi kita?"tanya Disha.


"Kaivan, apa kamu suka nama itu?"tanya Alva.


"Kaivan, artinya tampan. Benar begitu?'tanya Disha balik.


"Iya, apa kamu setuju?"tanya Alva.


"Menurut ku nama itu bagus, aku setuju,"ucap Disha.


"Al.!" ucap Ratih yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Mama? Masuk, ma!"ucap Alva.


"I..itu..."kata-kata Ratih menggantung sambil menunjuk kearah Disha, matanya menatap Disha tanpa berkedip.


"Dia benar-benar Disha?"tanya Ratih seolah tidak percaya.


Saat Disha memakai kawat gigi, gigi Disha terlihat agak tonggos dan wajahnya tertutup kaca mata tebal.Tapi sekarang yang terlihat adalah seorang perempuan bermata bulat dengan bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir mungil yang berwarna pink, cantik alami tanpa riasan.


"Iya ma, dia adalah Disha,"ucap Alva.


"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari mama? Kenapa kamu tidak mengatakan pada mama kalau kamu sudah menikah dengan Disha sebelum menikahi Anjani? Dasar anak nakal!!"ucap Ratih sambil menarik telinga Alva.


"Auw.. lepaskan ma.. sakit!"keluh Alva.


"Katakan apa alasanmu!"perintah Ratih.


"Iya, aku akan mengatakannya, tapi tolong lepaskan dulu telinga ku, ma!"mohon Alva, sedang Disha menahan tawa melihat pemandangan itu.


"Katakan!!"perintah Ratih setelah melepaskan tangannya dari telinga Alva.


"Saat aku pulang mama jatuh di kamar mandi dan masuk rumah sakit. Sebelum aku berkata dan bercerita apa-apa mama sudah mengatakan mama selama ini tidak pernah meminta apapun dari ku dan saat itu mama meminta aku menikahi Anjani. Waktu itu mama sama sekali tidak mau mendengarkan aku bicara, lalu bagaimana aku bisa menjelaskan hubungan ku dengan Disha?'jelas Alva.


"Maaf, mama yang salah. Waktu itu mama hanya ingin kamu menikah agar mama segera memiliki cucu, tanpa memikirkan perasaan kamu. Maafkan mama, Al.!"ucap Ratih dengan rasa sesal.


"Aku juga minta maaf, ma. Selama ini belum bisa membuat mama bahagia,"ucap Alva sambil merengkuh Ratih dalam pelukannya.


Pelukan antara ibu dan anak itu tak bertahan lama saat seorang perawat membawa putra Alva yang menangis sangat kencang masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Maaf, sepertinya dedek bayinya lapar,"ucap perawat itu.


"Tolong bawa kemari suster,"ucap Disha.


Perawat itu pun segera memberikan bayi mungil itu pada ibunya dan Disha pun segera menyusui putranya itu. Alva nampak susah payah menelan salivanya saat Disha mengeluarkan salah satu bukit kembarnya untuk menyusui Kaivan.


"𝐀𝐜𝐡..𝐬𝐢𝐚𝐥.!! 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐛𝐮𝐤𝐢𝐭 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐦𝐨𝐧𝐭𝐨𝐤 𝐬𝐚𝐣𝐚. 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐝𝐢𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐦𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐝𝐚𝐡. 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐛𝐢𝐤𝐢𝐧 𝐛𝐚𝐝𝐚𝐧𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐫𝐢𝐚𝐧𝐠, 𝐬𝐞𝐫𝐛𝐚 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡!"batin Alva.


"Wahh..cucu mama tampan sekali. Siapa namanya Dis?"tanya Ratih.


"Kaivan, Nyonya,"jawab Disha.


"Kenapa masih memanggil ku Nyonya? Panggil aku mama!"pinta Ratih.


"Ah iya, ma,"sahut Disha agak canggung.


"Kamu ternyata sangat cantik, udah itu pinter masak dan pintar menghandle pekerjaan lagi. Pantesan Alva nggak betah dan nggak bisa tidur jika menginap di rumah mama,"ujar Ratih sambil melirik ke arah Alva.


Di kediaman Adiguna.


Adiguna yang baru pulang dari luar kota itupun langsung bergegas menuju kamar putrinya. Semalam saat Adiguna makan malam dengan klien nya, handphone Adiguna lowbat.


Ketika kembali ke hotel Adiguna mencharge handphonenya, kemudian menghidupkan handphonenya dan sangat terkejut saat melihat pesan dari Art-nya tentang keadaan Anjani, akhirnya Adiguna pun bergegas pulang.


"Bik, bagaimana keadaan Anjani?"tanya Adiguna pada Art-nya.


"Nona sampai sekarang belum mau keluar dari kamarnya Tuan,"ucap Art itu.


"Tok..tok..tok.."


"Sayang, buka pintunya,ini papa,"ucap Adiguna setelah mengetuk pintu kamar Anjani.


Tak butuh waktu lama pintu kamar itu pun terbuka dan Anjani yang muncul dari balik pintu itu pun langsung menghambur memeluk Adiguna.


"Papa...Alva telah mengkhianati aku, pa! Alva menikahi perempuan lain di belakang ku, pa!"adu Anjani dalam pelukan Adiguna.


"Apa?! Berani sekali anak itu!! Papa akan memberinya pelajaran!!"ucap Adiguna berapi-api.


"Maaf Non, ini ada surat untuk Non Anjani,"ucap seorang Art sambil menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Adiguna.


Anjani mengurai pelukannya, kemudian menerima amplop berwarna coklat itu dan membukanya. Anjani membelalakkan matanya saat membaca isi surat dalam amplop itu.


"Pa..Alva benar-benar menceraikan aku, pa!!" ucap Anjani langsung menangis dan memeluk Adiguna.


"Kurang ajar!!"


...🌟"Bahagia itu sederhana, tapi tidak bisa dinilai dengan harta, karena bahagia itu datangnya dari hati, bukan dari materi."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2