
"Maaf Dita, aku ada kerjaan,"ucap Alva kemudian menyusul Disha dan Riky yang sudah berjalan lebih dulu tanpa menunggu jawaban dari Dita.
"Al.!!"panggil Dita tapi tidak dihiraukan oleh Alva, membuat Dita menghela nafas panjang.
Namun sesaat kemudian, Dita nampak menyunggingkan senyumnya, dan kembali masuk kedalam mobilnya diikuti asistennya untuk memperbaiki makeup nya dan menyemprotkan parfum di tubuhnya.
Alva menyusul Disha yang berjalan cepat bersama Riky menuju restoran yang menyajikan masakan Nusantara itu. Namun karena fokus menatap Disha, Alva menabrak seseorang di pintu masuk restoran itu.
"Maaf," kata Alva pada orang yang ditabraknya namun sesaat kemudian Alva memutar bola matanya malas.
"Al, kamu mau makan siang disini juga?" tanya orang yang tidak lain adalah Radeva, sang kakak ipar yang baru saja ditabrak oleh Alva.
"Sudah jelas aku ada di sini, masih ditanya,"gerutu Alva.
"Ish.. kalau saja adikku tersayang tidak mencintaimu, sudah aku pecat kamu jadi adik ipar ku,"balas Radeva yang memang suka menggoda Alva.
"Tuan Radeva!"panggil seorang membuat Radeva berjalan meninggalkan Alva.
"Dasar perjaka tua!"umpat Alva kemudian menanyakan pada pihak restoran, dimana private room tempatnya bertemu klien.
Setelah mendapatkan informasi dari pihak restoran Alva pun menuju private room itu, dan saat masuk Alva tidak menemukan Disha, hanya Riky yang duduk di sana seraya menggulir layar handphonenya.
"Rik, dimana istri ku?"tanya Alva masih berdiri di depan pintu private room itu.
Riky mendongakkan kepalanya menatap wajah Alva lalu tersenyum tipis,"Nyonya sedang ke toilet. Sebaiknya anda duduk dulu untuk menenangkan diri. Sepertinya anda harus menyiapkan diri untuk meluluhkan hati Nyonya,"ucap Riky dengan senyum penuh arti.
"Kenapa? Apa dia marah padaku?"tanya Alva langsung duduk di sebelah Riky, mencoba mengorek informasi dari Riky. Alva yakin bahwa Riky tahu apa penyebab Disha marah. Walaupun Alva yakin kemarahan Disha ada hubungannya dengan Dita.
"Bagaimana perasaan anda saat Nyonya dipeluk oleh pria lain?"tanya Riky tanpa menjawab pertanyaan dari Alva.
"Tentu saja aku marah dan tidak terima. Dan yang pastinya, aku akan menghajar pria yang berani memeluk istriku," sahut Alva cepat.
"Lalu menurut anda, apa yang akan dilakukan Nyonya jika Nyonya melihat anda sedang berpelukan dengan perempuan selain Nyonya seperti tadi?"tanya Riky seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Apa? Maksud mu...."
"Ceklek"suara pintu yang dibuka dari luar membuat Alva tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Kita bertemu lagi, Al,"ucap seorang perempuan yang baru masuk bersama seorang perempuan yang usianya lebih muda dari perempuan itu.
"Ceklek"belum sempat Alva membuka mulutnya pintu yang baru saja tertutup itu kembali terbuka dan muncul lah Disha dari balik pintu itu dengan wajah datar, bahkan terkesan dingin saat menatap perempuan yang baru saja menyapa Alva.
Semua mata pun menatap ke arah Disha. Namun dengan santai Disha langsung masuk dan duduk di sebelah Alva tanpa menghiraukan tatapan perempuan yang baru saja menyapa Alva.
"Kali ini jika Tuan salah bicara dan salah bersikap, saya pastikan malam ini Tuan tidak akan mendapatkan jatah,"bisik Riky kepada Alva, membuat Alva menghela nafas berat.
"𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙠𝙡𝙞𝙚𝙣 𝙗𝙖𝙧𝙪𝙣𝙮𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙪𝙢 𝙗𝙖𝙪-𝙗𝙖𝙪 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙠𝙤𝙧 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞," gumam Disha dalam hati.
Perempuan yang tadi menyapa Alva akhirnya berjalan menuju kursi di depan Alva. Sedangkan perempuan yang satunya duduk di depan Riky.
"Al, sekretaris kamu itu tidak sopan sekali,"ucap perempuan yang tidak lain adalah Dita, dengan suara yang terkesan manja, menatap sekilas wajah Disha yang dia akui sangat cantik tapi terlihat datar bahkan terkesan dingin.
"Jadi anda dari perusahaan xx?"tanya Riky sebelum Alva membuka mulutnya.
"Kamu disini sebagai apa?"tanya Dita pada Riky terdengar agak ketus karena belum sempat Alva menjawab pertanyaan nya, Riky sudah bertanya padanya.
"Saya disini sebagai asisten pribadinya Tuan Alva. Jadi anda perwakilan dari perusahaan xx," tanya Riky tegas.
"Tok! Tok! Tok!"pintu ruangan itu diketuk dan dibuka membuat pembicaraan mereka terhenti. Seorang pelayan restoran masuk dengan membawa menu makanan.
Mereka semua pun memesan makanan. Disha lebih dulu memesan makanan dengan menu soto daging dan meminta pelayanan restoran itu memberinya sambal yang banyak serta memisahkan sambal itu di dalam wadah lain.
Sebelum Alva mengucapkan kata-kata pada Disha, Disha langsung menatap tajam pada Alva seolah-olah akan menerkam Alva hidup-hidup membuat nyali Alva menciut. Alva yang tahu Disha sedang marah padanya itu mengurungkan niatnya untuk membuka mulutnya, tidak ingin membuat Disha semakin marah.
Sedangkan Riky yang tahu Alva tidak suka jika Disha memakan makanan pedas pun mengulum senyum saat melihat Alva tidak berkutik mendapatkan tatapan tajam dari Disha.
"Oh ya, Al. Apa kamu tidak ingin tahu kabar ku setelah lama kita tidak bertemu?'tanya Dita setelah mereka selesai memesan makanan.
"Apa yang perlu ditanyakan? Aku lihat kamu baik-baik saja,"ucap Alva datar membuat Dita merasa kecewa tapi langsung ditutupi nya.
"Maksud ku, apa kamu tidak ingin tahu, kemana dan apa yang aku alami sejak kita berpisah dulu?"tanya Dita
"Tidak,"sahut Alva singkat, membuat Dita kembali kecewa, namun tidak menyurutkan Dita untuk kembali bertanya.
"Apa kamu tahu apa yang dilakukan papamu pada ku dan keluarga ku?"tanya Dita lagi. Sedangkan perempuan yang dari tadi bersama Dita hanya diam dan menjadi pendengar yang baik namun sesekali mencuri pandang pada Alva.
__ADS_1
"Aku sudah tahu,"jawab Alva lagi-lagi singkat. Sedangkan Disha sibuk memeriksa email yang masuk ke handphonenya, namun telinganya dipasang nya baik-baik untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh suaminya dan perempuan yang duduk di depan suaminya itu.
"Dan kamu tetap tidak ingin tahu, apa yang aku alami setelah apa yang dilakukan oleh papamu? Apa tidak ada sedikit pun rasa simpati mu padaku?" tanya Dita dengan wajah yang memelas membuat Disha jengah.
"Tok! Tok! Tok!"pintu ruangan itu diketuk dan muncullah para pelayan yang membawa makanan pesanan mereka. Akhirnya mereka pun menyantap makanan mereka dengan Disha yang menambahkan banyak sambal ke dalam sotonya.
Alva menghela nafas kasar melihat tingkah istrinya itu, namun tidak bisa protes. Tidak mungkin Alva membujuk Disha saat ini, karena sebelum mulutnya terbuka untuk berbicara, Disha sudah lebih dulu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jadi, berapa saham yang ingin anda tanamkan di perusahaan kami?"tanya Disha dengan tegas setelah mereka selesai makan siang.
Dita hanya melirik Disha sekilas tanpa menanggapi pertanyaan Disha lalu menatap Alva, membuat Disha geram.
"Al, aku ingin menanam modal di perusahaan mu dengan jumlah yang besar,"ucap Dita pada Alva dengan wajah penuh senyuman.
"Tuan Alvarendra Bramantyo, sebaiknya anda urus klien anda yang tidak punya sopan santun ini,"ucap Disha dengan wajah kesal.
"Hey, apa maksud mu? Dasar sekretaris tidak tahu diri!"teriak Dita.
"Kamu yang tidak tahu diri! Kamu mau mengajukan kerja sama atau ingin merayu pria? Murahan!"sambar Disha dan langsung meraih Sling bag nya dan langsung keluar diikuti Riky membuat Alva terkejut.
"Kau.!!"geram Dita.
"Dis.!"panggil Alva ikut menyusul Disha.
"Eh.. Al!"panggil Dita ingin mengejar Alva, namun tak sengaja bajunya terkena makanan yang tumpah tersenggol olehnya sendiri, karena Dita berdiri mendadak.
"Argh.!! Sial.!!"umpat Dita.
"Nyonya, pria itukah sasaran kita?"tanya sekretaris Dita yang sejak tadi hanya diam.
"Iya,"sahut Dita singkat.
"Kenapa Nyonya ingin menghancurkan dia? Dia tampan dan kaya, apa tidak sebaiknya anda jadikan dia sebagai suami saja?"
"Menjadikan dia suamiku? Jika dia menjadi suamiku, aku akan memperlakukannya sebagai budak ku. Aku tidak akan pernah lupa dengan apa yang terjadi pada keluarga ku karenanya," ucap Dita dengan mata yang penuh dengan dendam.
To be continued
__ADS_1