Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
163. Informasi Dari Bik Anah


__ADS_3

"Maksud kamu,...kamu mengalami amnesia?"tanya Ghina.


"Iya, Nyonya. Saya tidak bisa mengingat apapun. Saat saya sadar ada luka di kepala saya yang mungkin terbentur batu waktu saya hanyut di sungai. Saya tersangkut di akar pohon yang berada di pinggir sungai dan ditolong seorang nenek,"


"Saya dan nenek itu bertahan hidup dengan berjualan kue, sampai akhirnya nenek itu meninggal sepuluh tahun yang lalu. Lama- kelamaan saya mengingat sedikit demi sedikit. Satu bulan yang lalu saat saya jatuh di kamar mandi, kepala saya terbentur lantai. Setelah kepala saya terbentur, saya benar-benar bisa mengingat semuanya,"


"Dengan membawa tabungan hasil berjualan kue, dua minggu yang lalu saya memutuskan untuk mencari Tuan dan Nyonya di kota ini. Namun baru hari ini saya bisa bertemu dengan anda berdua," jelas Bik Anah.


"Jadi kamu tidak tahu dimana putri ku?" tanya Ghina terlihat kecewa.


"Tidak, Nyonya,"sahut Bik Anah sedih.


Suara dering telepon genggam Radeva berbunyi mengalihkan perhatian mereka. "Pa, ma, aku angkat telepon di luar dulu ya?!"pamit Radeva kemudian keluar dari ruangan itu untuk menjawab panggilan masuk di handphonenya.


"Apa kamu masih mengingat wajah pria yang kamu mintai tolong untuk menyelamatkan putri kami?"tanya Mahendra.


"Tidak, Tuan. Sebegitu saya menyerahkan Nona muda pada kedua orang pria itu, saya langsung pergi, Tuan,"sahut Bik Anah.


"Apa kamu ingat, di daerah mana kamu menyerahkan putri saya kepada dua orang pria itu?''tanya Mahendra.


"Di dekat sebuah rumah sakit dipinggiran kota, Tuan. Saya tidak tahu apa nama rumah sakit ataupun nama daerah itu. Tapi rumah sakit itu tidak jauh dari sebuah sungai tempat saya jatuh,"jawab Bik Anah.


"Berarti kita akan mencari rumah sakit yang dekat dengan sungai tempat kamu terjatuh. Pasti kedua pria itu tinggal tidak jauh dari rumah sakit itu,"praduga Mahendra.


Pintu ruangan itu terbuka dan ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu pun menatap ke arah pintu. Radeva muncul dari balik pintu dan menghampiri ketiga orang itu.


"Ma, pa, sepertinya aku harus pergi. Ada jadwal bertemu dengan klien yang dimajukan. Apa tidak apa-apa jika mama dan papa pulang dengan naik taksi?"tanya Radeva setelah mengecek ponselnya.


"Nggak apa-apa, Dev. Kamu pergi saja," sahut Mahendra dan akhirnya Radeva pun meninggalkan rumah sakit itu.


"Siapa kedua pria itu dan dimana letak rumah sakit itu, Anah tidak tahu. Tapi setidaknya kita mendapatkan titik dimana kita harus mencari putri kita. Aku mohon papa menambah orang untuk mencarinya, pa,"mohon Ghina.

__ADS_1


"Iya, ma.Papa akan mengerahkan lebih banyak orang lagi. Kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencarinya, ma,"sahut Mahendra, mengelus punggung Ghina untuk menenangkan wanita yang sudah menemaninya selama 33 tahun itu.


"Saya mencari Nyonya dan Tuan memang berharap Tuan dan Nyonya bisa menemukan Nona muda dengan informasi yang saya punya. Saya meletakkan kalung kesayangan Nyonya yang saya temukan itu ke dalam bedongnya Nona muda. Mungkin itu bisa jadi petunjuk,"ucap Bik Anah.


"Kalung kesayangan ku? Maksud kamu kalung ku yang berbentuk bunga teratai merah muda itu?"tanya Ghina terkejut.


"Iya, Nyonya,"jawab Bik Inah.


"Kalung itu papa pesan secara khusus, dengan berlian berwarna merah muda yang sangat langka. Kalung itu bisa menjadi petunjuk tambahan untuk mencari keberadaan putri kita, ma,"ucap Mahendra yang semakin bersemangat untuk mencari putri mereka.


"Tapi bagaimana jika kalung itu sudah berpindah tangan, pa? Dan mungkin sudah berkali kali berpindah tangan,"ujar Ghina.


"Walaupun mungkin kalung itu sudah berpindah tangan tapi kita pasti bisa melacak keberadaan kalung itu, ma . Mama jangan khawatir, papa akan mencari cara untuk mencari keberadaan kalung itu,"ucap Mahendra.


"Aku tidak tahu putri kami masih hidup atau tidak. Tapi aku berterimakasih pada mu Anah, karena kamu sudah berusaha keras untuk menyelamatkan putri kami. Setidaknya kami masih punya harapan," ucap Ghina.


"Nyonya tidak perlu berterimakasih kepada saya. Saya sangat menyayangi Nona Muda dan sudah menganggap Nona Muda seperti anak saya sendiri. Saya merasa bersalah karena tidak bisa membawa Nona muda kembali pada Nyonya dan Tuan,"ucap Bik Anah tertunduk dengan wajah sedih.


Bik Anah merasa berhutang budi pada Ghina karena mau membiayai pengobatannya, karena suaminya sendiri tidak mau mengeluarkan uang untuk biaya berobat Bik Anah. Bik Anah sudah tidak memiliki keluarga dan memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada keluarga Ghina. Bik Anah sangat bahagia saat diberikan kepercayaan untuk menjadi pengasuh bagi putri Ghina. Bik Anah menyayangi Shahira seperti dia menyayangi putrinya sendiri. Karena itulah Bik Anah mati-matian berjuang untuk menyelamatkan putri dari majikannya itu.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah, Anah. Kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu mampu untuk menyelamatkan putri kami. Kita akan terus mencarinya sampai ketemu. Semoga dengan informasi yang kamu berikan kita bisa segera menemukan Shahira,"ucap Mahendra.


"Saya ingin pulang, Tuan, Nyonya. Saya tidak betah berada di rumah sakit,"celetuk Bik Anah.


"Tapi kamu masih sakit, Anah,"sahut Ghina.


"Saya sudah tidak apa-apa Nyonya,"sahut Bik Anah.


"Baiklah, kamu tinggal dimana? Biar kamu mengantarkan kamu pulang,"tukas Mahendra.


"Saya tinggal di kontrakan, Tuan,"sahut Bik Anah.

__ADS_1


"Kamu sudah punya pekerjaan?"tanya Ghina.


"Masih nyari, Nyah,"sahut Bik Anah.


"Bagaimana kalau kamu bekerja dengan kami lagi?"tanya Ghina.


"Nyonya mau mempekerjakan saya lagi?"tanya Bik Anah dengan mata yang berbinar.


"Kalau kamu tidak keberatan, saya akan memperkerjakan kamu lagi,"sahut Ghina.


"Saya mau, Nyah. Terimakasih Nyah!!" sahut Bik Anah terlihat sangat senang.


"Tapi apa kamu tidak apa-apa jika kita tidak tinggal di negara ini?"tanya Mahendra.


"Maksud, Tuan?"tanya Bik Anah tidak mengerti.


"Lima tahun setelah kejadian itu, kami pindah ke luar negeri dan menetapkan di sana. Kami baru beberapa hari tinggal di sini karena menikahkan putri angkat kami tadi pagi. Jadi mungkin nggak lama lagi kami akan pulang ke rumah kami yang ada di luar negeri,"sahut Mahendra.


"Saya tidak masalah mau tinggal dimana pun, yang penting ada Tuan dan Nyonya," sahut Bik Inah.


"Syukurlah kalau kamu tidak keberatan," tukas Ghina.


"Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi Nyonya, hanya sebatang kara. Saya sangat senang jika bisa kembali bekerja dengan Tuan dan Nyonya,"sahut Bik Anah.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Bukankah dari dulu kita adalah keluarga?" cetus Ghina.


"Terimakasih, Nyonya, karena mau menganggap orang miskin seperti saya sebagai keluarga,"ucap Bik Anah menghapus air matanya karena merasa terharu.


"Jangan berkata seperti itu! Dihadapan Tuhan semua manusia sama. Hanya iman dan taqwa nya yang membedakan manusia di hadapan-Nya.


"Ya sudah, katanya tadi mau pulang? Papa akan mengurus administrasi nya dulu, setelah itu kita pulang,"ucap Mahendra kemudian keluar dari ruangan itu untuk mengurus biaya pengobatan Bik Anah. Akhirnya ketiga orang itu menaiki taksi online dan kembali ke apartemen Radeva.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2