
Alva kembali membuang napas kasar mendengar apa yang dikatakan Disha sambil menangkap bantal-bantal yang dilemparkan oleh Disha padanya.
"Sayang..."
"Jangan panggil aku sayang! Dasar brengseek! Tukang selingkuh!"sambar Disha memotong kata-kata Alva sambil menangis.
"Apa buktinya jika aku selingkuh? Jangan menuduh tanpa bukti, sayang!"ucap Alva frustasi melihat wanita yang dicintainya menangis, sungguh, Alva benar-benar tidak ingin melihat Disha menangis.
"Bukti? Kamu ingin bukti?"tanya Disha menggebu-gebu,"Akan aku tunjukkan buktinya,"ucap Disha lalu berjalan menuju keranjang tempat pakaian kotor, mengambil jas dan kemeja yang dipakai Alva saat pulang tadi.
"Lihat ini!"titah Disha menunjuk pada kemeja Alva yang dipegangnya,"Ini lipstik siapa yang menempel di kemeja mu ini, kalau bukan lipstik selingkuhan mu? Dan jas ini, aroma parfum siapa yang menempel di jas mu ini kalau bukan parfum selingkuhan mu? Jangan-jangan kamu menikah lagi di belakang ku seperti dulu. Dan waktu kita berselisih pendapat kemarin kamu pulang ke rumah perempuan itu kan, untuk memenuhi kebutuhan biologis mu?"cecer Disha membuat Alva melongo dengan segala tuduhan Disha itu.
"Kenapa diam? Jadi semua yang aku katakan benar kan? Kamu selingkuh di belakang ku, atau kamu benar-benar sudah menikahi selingkuhan mu itu!"bentak Disha dengan air mata yang terus mengalir,"Dasar alien brengseek! Bajing*n! Tidak tahu diri! Pengkhianat!" pekik Disha seraya memukuli dada Alva dengan kedua tangannya untuk melampiaskan rasa kesal, marah, benci dan juga sakit hatinya.
"Itu semua tidak benar, sayang!"ucap Alva memeluk pinggang Disha, berusaha menenangkan istrinya itu..
"Lepaskan! Kamu bohong! Pembohong! Aku benci kamu!"pekik Disha terus memukuli dada alva sambil menangis. Alva hanya diam menerima pukulan dari Disha, membiarkan Disha memukulinya sampai puas, sambil memeluk pinggang Disha erat.
Setelah beberapa lama memukuli dada suaminya untuk meluapkan perasaan nya, akhirnya Disha berhenti karena merasa lelah. Alva pun langsung membawa Disha dalam pelukannya. Hatinya terasa teriris mendengar dan melihat wanita yang dicintainya menangis karena dirinya.
Setelah merasa Disha agak tenang, Alva mengurai pelukannya kemudian menghapus air mata Disha. Alva menangkup pipi Disha dengan kedua tangannya yang besar. Menengadahkan wajah Disha agar bertatapan dengan nya yang menatap Disha dengan tatapan sendu.
"Please, don't cry! I'd rather hurt myself than to ever make you cry. As long as I live, I'll be love you.Only you in my heart and in my life. I"m promes you this. (Kumohon jangan menangis! Lebih baik aku melukai diriku sendiri dari pada harus membuatmu menangis.Selama hidup ku, aku akan mencintaimu. Hanya kamu dalam hati dan hidupku. Ini janjiku padamu)"ucap Alva menatap manik mata Disha lekat.
"Akan aku jelaskan semuanya padamu, dan aku mohon dengarkan penjelasan ku!"ucap Alva kembali mendekap erat wanita yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Setelah Disha tenang, Alva membawa Disha duduk di tepi ranjang. Alva menggenggam kedua tangan Disha kemudian mulai bercerita.
"Beberapa jam yang lalu, saat aku tiba di bandara..."
Dengan menggunakan kemeja putih yang dilapisi jas berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam, Alva berjalan seraya menyeret kopernya yang berukuran sedang hingga terlihat seorang perempuan yang sedang berjalan cepat.
Seorang perempuan berambut coklat sebahu, dengan make-up ala artis India, bibir merah merona, alis hitam berbentuk bulan sabit cetar membahana, bulu mata tebal dan lentik anti badai, memakai high heels dengan rok mini yang memperlihatkan setengah pahanya dan kaos ketat yang mencetak dua gundukan di dadanya, berjalan cepat berlawanan arah dengan Alva hingga...
"Aakh..monyet, monyet, eh monyet,"ucap wanita itu yang tubuhnya oleng karena salah satu high heels yang dipakainya tiba-tiba patah dan...
"Brukk"
"Eh.."ucap Alva yang terkejut karena tiba-tiba ditabrak dan dipeluk wanita yang hampir terjatuh itu.
"Lepaskan!"ucap Alva berusaha melepaskan pelukan wanita itu.
"Hey, lepaskan!"titah Alva berusaha melepaskan pelukan wanita itu.
Alva nampak terkesiap melihat perempuan di depannya itu dan bergidik ngeri, terus mencoba melepaskan pelukan wanita didepannya yang memeluknya dengan erat, kemudian berusaha menjauh dari perempuan itu. Wanita yang terlihat memakai make-up dengan bedak tebal dan dandanan menor ala India. Cantik? Memang cantik, tapi sikap yang agresif membuat Alva benar-benar ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.
"Eh, ganteng, mau kemana? Minta nomor telepon nya, dong!"ucap perempuan itu dengan suara mendayu-dayu, seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Alva benar-benar bergidik ngeri.
Tanpa kata, Alva langsung berjalan cepat menuju taksinya yang sudah datang dan segera berjalan cepat ke taksi online yang dipesannya dengan buru-buru karena wanita tadi terus mengejarnya.
"Ganteng, tunggu! Minta nomor telepon nya!"ucap wanita itu seraya melepaskan high heels yang dipakainya, mengejar Alva. Namun sayangnya, Alva sudah masuk kedalam taksi online yang dipesannya dan sudah menutup pintunya.
__ADS_1
"Jalan, Pak!"pinta Alva.
"Baik, Tuan,"sahut si pria paruh baya yang mengemudikan taksi itu.
"Astaga.! Mimpi apa aku semalam, sampai ketemu perempuan jadi-jadian seperti itu. Amit-amit deh!"gumam Alva yang masih bisa di dengar oleh sang supir taksi.
"Saya pernah bertemu dengan perempuan jadi-jadian itu di sebuah mall , Tuan. Dia itu suka mengejar pria tampan yang disukainya. Beruntung anda segera masuk taksi, kalau tidak anda bisa diciumnya,"ucap sang supir. sambil terkekeh.
"Apa? Dicium?"tanya Alva kaget.
"Iya, dan jangan pernah mengatakan kalau dia laki-laki, dia bisa jadi sangat marah jika dikatakan laki-laki.
"Fiuh..mengerikan sekali, Pak,"ucap Alva bergidik ngeri. Tidak dapat dibayangkan jika sampai dicium waria.
Saat ada dalam perjalanan, tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang begitu keras secara beruntun, membuat mobil yang ada di depan taksi yang ditumpangi Alva berhenti.
"Apa ada kecelakaan, ya Pak?"tanya Alva pada sang supir.
"Saya akan melihatnya, Tuan"sahut sang supir lalu keluar dari dalam mobil.
Tak lama kemudian supir itupun sudah kembali,"Di depan sana ada kecelakaan beruntun, Tuan. Dan kita terjebak disini. Kita tidak bisa muju, maupun mundur. Mobil kita terjebak di tengah-tengah kemacetan,"ucap sang supir taksi membuat Alva menghela napas panjang melihat kemacetan yang mengular dan mobil yang Alva tumpangi berada di tengah-tengah kemacetan itu.
***
"Itulah cerita nya, kenapa aku pulang larut sedangkan aku sudah tiba di badara pukul tujuh malam. Dan saat kita berselisih paham kemarin, aku bersama dengan Ferdi. Jika kamu tidak percaya kamu bisa menelpon supir taksi online dan juga menelpon Ferdi,"ujar Alva setelah panjang lebar bercerita pada Disha.
__ADS_1
To be continued