
Pesta pernikahan Radeva dan Icha pun berlangsung meriah dan berjalan dengan lancar. Tidak ada yang mengetahui apa yang telah terjadi di roof top hotel dan dilantai dasar hotel itu. Hanya saja, para tamu undangan yang sudah keluar dari hotel itu nampak saling bertanya apa yang terjadi saat melihat ada beberapa orang wartawan, polisi dan juga ada garis polisi yang tidak jauh dari pintu utama hotel. Karena sebelum mereka masuk ke dalam hotel, mereka tidak melihat ada garis polisi di area itu.
Beberapa orang nampak bertanya pada para wartawan itu, tapi para polisi itu malah menyuruh mereka segara pulang. Hal itu pun sukses membuat mereka semua semakin penasaran dengan apa yang terjadi di area yang tidak jauh dari pintu utama hotel tersebut.
Di dalam kamar hotel tempat Alva menginap, Alva nampak belum memejamkan matanya. Sesekali tangannya yang besar mengelus kepala Disha dengan lembut. Wanita itu tampak memeluk erat tubuh suaminya yang saat ini sedang mendekap tubuhnya.
"Al.. Trisha.."
"Ssstt,.. jangan bahas itu lagi! Tidurlah! Aku akan menemanimu,"ucap Alva memotong kata-kata Disha, kemudian mengecup lembut kening Disha dan kembali mengelus kepala Disha.
"Ferdi..."ucap Disha menggantung.
"Ferdi baik-baik saja, kamu tidak usah mengkhawatirkan dia. Ferdi bukan orang yang lemah,"ucap Alva meyakinkan Disha.
"Besok aku ingin menjenguk Ferdi,"ucap Disha yang masih setia memeluk tubuh suaminya.
Selama ini, selain Alva, Ferdi adalah orang yang selalu ada untuk nya. Semenjak dia menikah dengan Alva, Ferdi adalah orang yang ditugaskan Alva untuk menjaganya dan mengikuti kemanapun dirinya pergi. Ferdi tidak banyak bicara tapi selalu menjaga Disha dengan baik. Dan Disha sudah menganggap Ferdi sebagai keluarganya sendiri. Disha benar-benar mengkhawatirkan Ferdi, karena demi menyelamatkan dirinya, hari ini Ferdi harus terluka karena mendapatkan hujaman pisau dari Trisha.
"Oke, besok kita akan menjenguk Ferdi. Sekarang tidurlah, atau besok pagi kamu akan memiliki mata panda,"ucap Alva seraya mempererat dekapannya.
"Hum,"sahut Disha mulai memejamkan matanya.
Sedangkan di kamar Riky, Yessie sedang membersihkan tubuhnya. Sebenarnya Yessie begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. Yessie merasa ada sesuatu yang tidak baik sudah terjadi. Sejak suaminya kembali setelah di telpon Alva saat pesta pernikahan Icha tadi, beberapa kali pria itu menepi untuk menelpon dan menerima telepon. Tapi karena melihat wajah Riky yang serius saat menelepon, Yessie tidak berani menanyakan apapun.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri, Yessie pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe,"Kak, aku tidak membawa baju tidur. Aku tidak tahu kalau kakak akan mengajakku menginap di hotel,"ucap Yessie menatap Riky yang sedang duduk di tepi ranjang, menatap layar handphonenya.
Riky meletakkan handphone nya di atas nakas, berjalan menghampiri Yessie kemudian menundukkan kepalanya di samping telinga Yessie,"Untuk apa baju tidur? Kamu lebih cantik jika tidak memakai apa-apa,"bisik Riky kemudian mencium leher Yessie sekilas dan berlalu menuju kamar mandi.
Yessie membulat kan matanya saat mendengar apa yang di bisikkan oleh Riky, dan wajahnya pun seketika menjadi merona,"Dasar!"gumam Yessie mengulum senyum, membalikkan tubuhnya menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
Sambil menunggu Riky selesai membersihkan diri, Yessie duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Tak lama setelah Yessie mengeringkan dan menyisir rambutnya, Riky keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe.
"Kak, boleh aku bertanya?"tanya Yessie nampak ragu-ragu.
Riky pun menghampiri Yessie dan duduk di sebelah Yessie,"Mau bertanya apa? Tanyakan saja! Jika aku bisa, aku akan menjawabnya,"ucap Riky seraya meraih kedua tangan Yessie kemudian menggenggamnya.
"Em..kalau boleh tahu, tugas apa yang diberikan oleh Pak Rendra pada kakak tadi? Aku merasa ada sesuatu yang sangat besar yang telah terjadi. Ta..tapi jika kakak merasa aku tidak perlu mengetahuinya, kakak tidak perlu menjawab nya,"ucap Yessie tersenyum kikuk, takut disangka ingin ikut campur dalam masalah pekerjaan Riky.
Riky menghela napas berat kemudian menatap mata Yessie lekat,"Sebenarnya, tadi Trisha berusaha untuk mencelakai Nyonya Disha. Dia berusaha mendorong Nyonya Disha dari roof top hotel ini,"
"Tenanglah! Nyonya baik-baik saja. Dia selamat, tapi Trisha meninggal, dia jatuh dari roof top karena berusaha membunuh Ferdi yang ingin menyelamatkan Nyonya Disha,"jelas Riky.
"Syukurlah kalau Disha baik-baik saja,"ucap Yessie merasa lega.
"Sudah malam, ayo tidur!"ucap Riky seraya tersenyum menyeringai menatap Yessie.
"Eh..kak!"ucap Yessie saat Riky tiba-tiba mendorong tubuh Yessie hingga Yessie terlentang di ranjang dengan kaki yang menggantung di samping ranjang, karena posisi Yessie sebelumnya sedang duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Dengan kaki yang masih berpijak di lantai, Riky membungkuk di atas tubuh Yessie dengan tangan bertumpu pada ranjang, tepatnya di sisi kanan dan kiri tubuh Yessie,, mengunci pergerakan Yessie,"Sebelum tidur, sebaiknya kita berolahraga dulu. Biar nanti bisa tidur nyenyak,"ucap Riky tersenyum smirk menatap lekat manik mata Yessie, kemudian mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Yessie dan perlahan mencium lembut bibir Yessie.
Di kamar Radeva dan Icha, Icha duduk di depan meja rias, nampak Radeva dengan telaten membantu Icha melepaskan aksesoris di rambut Icha.
"Sudah! Semuanya sudah aku lepaskan,"ucap Radeva seraya meletakkan aksesoris terakhir yang dilepaskannya dari rambut Icha.
"Terimakasih, Kak!"ucap Icha mendongakkan kepalanya menatap Radeva yang berdiri di samping tempat duduknya.
Radeva membungkukkan tubuhnya dengan posisi wajah yang hanya beberapa centimeter dari wajah Icha. "Kita mandi bersama, yuk!"ajak Radeva tersenyum manis seraya mengedipkan sebelah matanya pada Icha dengan genit.
"Ka..kakak mandi saja duluan! A..aku harus membersihkan make-up ku lebih dulu,"ucap Icha tergagap dengan wajah yang merona.
Radeva terkekeh melihat Icha yang gugup dengan wajah merona,"Kamu menggemaskan sekali,"ucap Radeva seraya mencolek dagu Icha kemudian berlalu ke kamar mandi.
Icha mengulum senyum, menatap punggung Radeva hingga Radeva menghilang di balik pintu kamar mandi. Perlahan Icha membersihkan wajahnya menggunakan micellar cleansing water untuk membersihkan make-up nya. Tak lama setelah Icha selesai membersihkan make-up nya, Radeva keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dengan menggunakan bathrobe.
"Mandilah!"ucap Radeva pada Icha seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Iya,"sahut Icha segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Radeva mengambil handphonenya dan mulai membuka beberapa aplikasi untuk menunggu Icha menyelesaikan ritual mandinya.Mata Radeva membulat saat melihat trending topik terhangat yang berisi tentang berita seorang wanita berinisial T meninggal karena jatuh dari roof top hotel xx, hotel yang menjadi tempatnya menggelar resepsi pernikahan, tepatnya hotel tempatnya menginap sekarang. Bahkan waktu kematian wanita tersebut adalah setengah jam sebelum acara resepsi pernikahan nya selesai.
Acara resepsi pernikahan Radeva memang hanya mengundang sanak saudara dari kedua pengantin dan para rekan bisnis serta beberapa pejabat penting. Namun sudah sangat membuat mereka kebanjiran tamu undangan. Keluarga Mahendra sama sekali tidak mengundang media dalam acara resepsi pernikahan Radeva itu. Karena itu tidak ada tidak ada yang mengekspos pesta pernikahan Radeva.
__ADS_1
"Siapa wanita berinisial T yang meninggal di lantai dasar hotel ini? Dan kenapa dia bisa jatuh dari roof top hotel ini? Apakah ada tindakan kriminal dibalik kejadian itu, atau kah karena bunuh diri?"gumam Radeva penuh tanda tanya. Radeva hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi pada wanita yang jatuh dari roof top hotel itu, karena dalam berita tersebut mengatakan bahwa polisi masih menyelidiki penyebab dari meninggalnya wanita berinisial T tersebut.
To be continued