Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
37. Pujian Untuk Disha


__ADS_3

Anjani baru saja memasuki kediaman Bramantyo, namun saat akan berjalan menuju kamarnya, Anjani mencium aroma masakan yang begitu menggoda.


Anjani pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar dan memilih berbelok ke arah dapur.


"Kamu..?!!"ucap Anjani yang terkejut karena saat dia ke dapur, Anjani tidak mendapati Art yang biasa memasak, tapi malah mendapati Disha yang sedang menghidangkan makanan.


"Selamat sore Nona,"ucap Disha menyapa Anjani dengan senyum yang dipaksakan.


"Kenapa kamu ada di sini?"tanya Anjani menyelidik.


"Mama yang membawa Disha kesini,"ucap Ratih yang tiba-tiba muncul bersama Bramantyo.


"Wahh .. aromanya harum sekali, sangat menggugah selera,"sahut Bramantyo.


"Ada apa ini?"tiba-tiba terdengar suara bariton dari pintu ruangan makan dan terlihatlah seorang pria yang begitu tampan.


"Alva.?!"ucap keempat orang yang ada di dapur itu bersamaan.


Satu jam yang lalu, Alva menghubungi handphone Disha. Namun sudah berpuluh kali Alva menghubungi, Disha tak kunjung menjawab juga dan Alva menjadi khawatir. Akhirnya tanpa berpikir dua kali, Alva langsung menyusul Disha.


Saat sudah memasuki rumah, Alva mendengar ada suara di dapur yang menyatu dengan ruang makan itu. Alva langsung berjalan ke arah dapur dan melihat tiga orang perempuan dan seorang pria yang sangat dia kenal kemudian langsung bertanya apa yang terjadi hingga membuat empat orang yang berada di dapur itu langsung menoleh ke arah Alva.


"Apa mama tidak salah lihat, pa? Alva pulang jam segini?"tanya Ratih Herman....eh heran.


"Aku mengkhawatirkan keadaan mama, karena itu aku pulang cepat. Kenapa kalian berkumpul di sini?"ucap Alva beralibi sekaligus bertanya.


"Kami sedang melihat masakan yang di buat oleh Disha,"sahut Bramantyo.


"Sayang.."ucap Anjani berusaha meraih lengan Alva tapi langsung ditepis oleh Alva.


"Disha, tugasmu di kantor banyak, kenapa kamu malah memasak di sini?"tanya Alva, memandang kesal pada Disha tanpa menghiraukan Anjani.

__ADS_1


"Jangan marahi Disha, mama yang memintanya untuk memasak,"sahut Ratih sebelum Disha menjawab.


"𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫......𝐚𝐚𝐚𝐜𝐡..!! 𝐀𝐤𝐮 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐥 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢.!! 𝐀𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐬𝐚𝐤 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐤𝐞𝐥𝐞𝐥𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐤𝐬𝐢𝐦𝐚𝐥, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐦𝐚𝐦𝐚 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐬𝐚𝐤. 𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐧𝐢, 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐲𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐧𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐚𝐡 𝐝𝐮𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚,"batin Alva memijit batang hidungnya yang mancung untuk menghilangkan sakit kepala yang tiba-tiba muncul.


"Dis, kamu masak apa?"tanya Bramantyo yang penasaran dengan masakan Disha yang menggugah selera mengacuhkan yang lain.


"Saya membuat ayam bakar, lele balado, perkedel kentang, perkedel jagung, sayuran rebus, dan sambal terasi beserta lalapannya," jelas Disha sambil menunjuk satu persatu makanan yang dia sebutkan namanya.


"Itu apa?"tanya Ratih menunjuk pada bolu berwarna hijau yang dibuat Disha.


"Ini namanya bolu komojo, atau kalau orang Bengkulu menamainya bolu Kojo, dan orang Palembang menamainya Dadar Pandan. Bolu ini memakai daun pandan atau pasta pandan sehingga berwarna hijau dan beraroma pandan,"


"Bolu ini walau terkesan bantet namun sebenarnya teksturnya lembut. Ini bolu kesukaan suami saya,"jelas Disha yang seketika langsung menutup mulutnya saat mengingat bahwa orang yang dibicarakan ada diantara mereka.


Sedangkan Alva menatap Disha dengan senyum yang tidak dapat diartikan oleh Disha dan langsung memalingkan wajahnya dari Alva.


"Ya sudah kita makan saja sekarang, mumpung masih panas, sekali kali makan malam lebih awal tidak apa-apa kan?"tanya Bramantyo yang entah ditujukan kepada siapa, yang pastinya Bramantyo langsung duduk di kursinya dan bersiap-siap untuk makan.


Selesai makan, Bramantyo mengajak mereka duduk di ruang tamu, untuk sekedar berbincang-bincang setelah makan.


"Dis, masakan kamu enak sekali. Tante nggak nyangka kamu pandai memasak. Suami kamu pasti semakin cinta, sudah cerdas, pintar memasak lagi. Tante yakin, pasti suami kamu minta dimasakin setiap hari,"ujar Ratih memuji.


"𝐂𝐢𝐡..𝐩𝐞𝐧𝐚𝐦𝐩𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐭𝐫𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐲𝐚𝐤 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐚𝐣𝐚 𝐝𝐢 𝐩𝐮𝐣𝐢-𝐩𝐮𝐣𝐢,"batin Anjani.


"Suami saya tidak mengizinkan saya memasak, Nyonya,"sahut Disha.


"Oh ya? Kenapa?"tanya Ratih penasaran.


"Suami Disha pasti sangat mencintai Disha, jadi ingin menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Disha, karena itu, dia tidak ingin Disha kelelahan hanya karena memasak. Begitu kan Disha?"sela Alva.


"Ach .iya, benar yang dikatakan Pak Rendra,"ucap Disha dengan senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


"𝐈𝐲𝐚...𝐢𝐲𝐚 .. 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐡𝐮. 𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐚𝐩𝐚𝐫𝐭𝐞𝐦𝐞𝐧. 𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐝𝐢𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐚𝐦𝐚𝐫, 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐤𝐚𝐩𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐩𝐚𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮.𝐏𝐮𝐚𝐬..?!! 𝐏𝐮𝐚𝐬..?!!"gerutu Disha dalam hati.


"Ck, kayak kamu saja suaminya,"cibir Ratih dan hanya ditanggapi dengan wajah datar oleh Alva.


"Kenapa kamu tidak merubah penampilan kamu Dis? Tante yakin aura kecantikan kamu akan terlihat lebih bersinar jika kamu melepaskan kacamata dan kawat gigi kamu itu,"ujar Ratih.


"𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐧𝐚𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐬𝐚𝐭 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐟𝐨𝐤𝐮𝐬 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐛𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐜𝐚𝐦𝐚𝐭𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐠𝐢𝐠𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐭𝐮. 𝐀𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚, 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐝𝐚, 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮. 𝐒𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐚𝐤𝐮,"batin Alva yang wajahnya terlihat semakin datar saja.


"Saya tidak mau cari gara-gara Nyonya. Suami saya sangat cemburuan. Saya takut akan banyak pria yang masuk rumah sakit nantinya,"ucap Disha sekilas melirik wajah Alva yang semakin datar.


"Cih..percaya diri sekali kamu. Kamu pikir jika kamu melepaskan kacamata tebal dan kawat gigi kamu itu, kamu akan terlihat seperti bidadari?!"cibir Anjani yang merasa jengah karena dari tadi semua orang hanya memperhatikan Disha dan mengacuhkan keberadaannya.


"Sayang, jangan bicara seperti itu.!"tegur Ratih halus Sedang Alva menatap tidak suka kepada Anjani.


"Memangnya ada pria yang masuk rumah sakit karena suami kamu cemburu?"tanya Bramantyo yang dari tadi diam menjadi pendengar.


"Iya Tuan. Pria itu hampir saja mati jika saya tidak melindunginya. Suami saya menghajarnya sampai babak belur hingga pria itu harus dirawat di rumah sakit beberapa hari," ucap Disha kembali menatap Alva sekilas.


"Jika tahu suamimu pencemburu, sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan suamiku,"ketus Anjani yang merasa tidak suka karena beberapa kali memergoki Disha menatap Alva.


"Ha..ha...ha ..saya tidak tertarik menggoda suami orang, menjadi pelakor, apalagi menjadi yang kedua. Saya tidak perlu merendahkan diri saya sendiri menggunakan berbagai macam cara apalagi memaksa seorang pria untuk menikah dengan saya,"ujar Disha yang merasa jengkel pada Anjani.


"Apa maksud kamu..?!!"teriak Anjani yang tiba-tiba berdiri karena merasa tersinggung dengan ucapan Disha yang mengatakan memaksa seseorang pria untuk menikah.


...🌟"Jangan sombong karena pujian, dan jangan rendah diri karena hinaan, karena semua itu adalah ujian."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


To be continued


.

__ADS_1


__ADS_2