Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
212. Orang Tua Trisha


__ADS_3

Alva berjalan menuju kamarnya sesuai arahan seorang Art. Perlahan Alva membuka pintu kamar itu kemudian masuk. Alva melihat Kaivan yang sudah tidur dengan lelap. Perlahan Alva melepaskan jasnya dan membuka beberapa kancing kemejanya hingga pintu kamar mandi terbuka.


"Sayang!"panggil Alva seraya mendekati Disha yang baru keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe.


"Etss... jangan mendekat! Aku sudah mandi. Bersihkan tubuh mu dulu, baru boleh menyentuh aku,"ucap Disha seraya menjauh dari Alva.


"Huff.. selalu saja,"gerutu Alva,"Tapi kamu jangan lupa pada janjimu, sayang! Malam ini akan ku tagih!"ucap Alva seraya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Alva keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Alva mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu tapi tidak menemukan Disha. Namun Alva melihat pintu balkon terbuka, akhirnya Alva pun berjalan kearah balkon dan mendekati Disha yang sedang berdiri di balkon kamar seraya menatap bintang di langit dan bulan purnama yang bersinar terang. Alva pun memeluk Disha dari belakang kemudian menciumi pipi Disha.


"Lihatlah, sayang? Malam ini langit terlihat begitu indah, aku suka melihatnya,"ucap Disha dengan senyum mengembang menatap langit. Alva menggosok- gosokkan hidungnya di leher Disha membuat Disha bergidik.


"Pemandangan di langit itu tidak seberapa indah jika dibandingkan dengan keindahan tubuhmu,"bisik Alva kemudian dengan sekali sentakan menggendong Disha.


"Sayang!"pekik Disha yang terkejut dan langsung mengalungkan tangannya di leher Alva.


"Kamu harus menepati janji mu tadi,"ucap Alva seraya menggendong Disha ke dalam kamar kemudian membaringkan tubuh Disha di atas ranjang dan Alva pun langsung menindihnya.


"Apa kamu tidak capek?"tanya Disha seraya mengelus rahang kokoh Alva.


"Untuk urusan yang satu ini, aku tidak akan pernah capek,"sahut Alva kemudian memiringkan wajahnya dan perlahan menundukkan kepalanya. Disha memejamkan matanya saat wajah Alva sudah semakin dekat dengan wajahnya dan hembusan napasnya pun terasa di wajah Disha hingga...


"Tok! Tok? Tok" suara ketukan pintu itu membuat Alva menghentikan aksinya untuk mencium bibir Disha.


"CK, siapa sich, malam-malam begini mengetuk pintu kamar orang!"gerutu Alva kemudian segera menggambil bathrobe dan memakainya. Dengan perasaan kesal, Alva melangkah menuju pintu kemudian membukanya.


"Mama, ada apa, ma?"tanya Alva saat mendapati ibu mertuanya ada di depan pintu.

__ADS_1


"Ini, tadi Disha meminta Art untuk mencarikan obat sakit kepala,"ucap Ghina seraya mengulurkan obat sakit kepala kepada Alva.


"Oh, terimakasih, ma,"sahut Alva seraya menerima obat dari tangan mama mertuanya.


"Al, boleh mama bawa Kaivan ke kamar mama?"tanya Ghina penuh harap.


"Boleh, ma. Silahkan saja!"ucap Alva dengan senyum tipis, kemudian mempersilahkan Ghina masuk.


"Mama!"ucap Disha agak terkejut melihat mamanya masuk kedalam kamarnya.


"Tadi, kata pelayan kamu minta obat sakit kepala, sayang. Jadi mama kesini membawakan nya. Apa kepalamu sangat sakit?"tanya Ghina dengan wajah khawatir mendekati Disha yang sedang bersandar di headboard ranjang.


"Sakit sedikit, ma. Obatnya cuma buat jaga-jaga kalau sakitnya semakin parah," ucap Disha jujur.


"Syukurlah, kalau tidak terlalu sakit,"ucap Ghina lega,"Boleh mama bawa Kaivan ke kamar mama?"tanya Ghina.


"Tentu saja boleh, sayang,"sahut Alva dengan senyuman manis. Akhirnya Ghina pun membawa Kaivan bersamanya dengan perasaan bahagia.


"Kamu sakit kepala? Kenapa tidak mengatakannya, hemm?"tanya Alva seraya duduk di samping Disha, kemudian memeluk tubuh Disha kemudian mengecup puncak kepala Disha dengan penuh kasih sayang,"Aku pijat, ya?"tanya Alva menatap manik mata istrinya lekat.


"Nggak usah, sayang. Kamu pasti juga capek,"ucap Disha pengertian.


"Tidak, aku tidak terlalu capek. Berbaring lah! Dan letakkan kepalamu di pangkuanku!"titah Alva dan Disha pun menurutinya.


Alva memijit lembut kepala Disha, beberapa titik di bagian tengkuk pun dipijatnya, agar otot-otot yang tegang kembali rileks. Menatap wajah cantik di atas pangkuan nya yang telah memejamkan mata karena merasakan nyaman saat dirinya memijat. Wajah inilah yang sejak pertama kali dilihatnya membuat dirinya terpesona dan membuat jantungnya berdetak kencang. Wajah polos tanpa makeup yang dilihat nya keluar dari kamar mandi waktu itu, entah mengapa sejak saat itu membuat dirinya tak ingin melepaskannya.


Beberapa menit kemudian terdengar dengkuran halus dari Disha. Dengan hati-hati dan perlahan, Alva memindahkan kepala Disha dari pangkuannya. Membenarkan posisi Disha berbaring, kemudian ikut berbaring. Membawa Disha dalam pelukannya dengan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Disha, mengelus lembut kepala Disha hingga dirinya pun ikut terlelap.

__ADS_1


***


Ghina yang keluar dari kamar putri dan menantunya berjalan menuju kamarnya. Namun langkah kakinya terhenti saat akan melewati kamar Nalendra dan Neda yang tidak tertutup sempurna. Trisha yang keluar dari kamarnya dan hendak ke dapur pun ikut berhenti dan bersembunyi di balik salah satu pilar rumah itu, saat melihat Ghina berhenti di depan pintu kamar Nalendra dan Neda.


"Si Trisha itu, dasar anak tidak tahu diri," suara Nalendra dari dalam kamar itu, Trisha mengepalkan tangannya mendengar kata-kata Nalendra itu, sedangkan Ghina masih berdiri di depan pintu kamar Nalendra tanpa suara.


"Kata Radeva, anak itu secara terang- terangan meminta warisan dari Mahendra. Berani juga dia, padahal dia tahu kalau dia cuma anak angkat,"sahut Neda.


"Kasih sayang yang diberikan keluarga Mahendra tidak bisa merubah darah penjahat yang mengalir di tubuhnya. Kedua orang tua kandungnya mati dalam pengejaran ku saat mereka berusaha memeras ku,"ucap Nalendra membuat Ghina yang berdiri di pintu terkejut, begitu pula dengan Trisha yang berada di tempat persembunyiannya.


"Memeras mu? Kenapa kedua orang tuanya memeras mu?"tanya Neda yang nampak mengernyitkan keningnya.


"Aku menyuruh kedua orang tuanya untuk membakar villa tempat tinggal Mahendra, namun sayangnya, diluar rencana, Mahendra dan istrinya keluar dari villa itu menggunakan mobil asisten mereka hingga anak buah ku tidak menyadari kepergian mereka. Saat villa itu di bakar oleh kedua orang Trisha, hanya ada kedua anak Mahendra dan para pelayan di dalam villa itu,"


"Radeva berhasil selamat, bahkan putri mereka pun selamat karena dilindungi pengasuh mereka. Padahal anak buah ku melihat pelayan yang membawa putri Mahendra itu jatuh ke sungai bersama putri Mahendra yang sedang digendongnya, tapi nyatanya anak itu masih hidup. Setelah kegagalan kedua orang tua Trisha melenyapkan keluarga Mahendra, mereka malah ingin memeras ku dengan ancaman ingin memberitahu Mahendra tentang rencana ku untuk melenyapkan keluarga Mahendra.


"Tapi mereka malah mati tertabrak mobil saat anak buah ku mengejar mereka untuk ku lenyapkan. Dan Mahendra malah mengasuh putri dari orang yang telah membakar villa mereka dan hampir membunuh seluruh keluarga mereka,"ucap Nalendra membuat air mata Ghina menetes dengan tangan yang bergetar memeluk erat tubuh cucunya yang sedang terlelap dalam gendongannya. Sedangkan Trisha merasa tubuhnya tidak bertulang saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nalendra.


Suara handphone Nalendra yang berbunyi membuat Nalendra menghentikan ceritanya kemudian terdengar Nalendra berbincang dalam sambungan telepon dengan seseorang.


Dengan langkah gontai Ghina pergi dari depan pintu kamar Nalendra menuju kamarnya. Kenyataan yang didengarnya malam ini begitu membuat dirinya shock. Anak yang dididik, dibesarkan dan disayangi nya selama ini ternyata adalah putri dari orang yang hampir membuat seluruh keluarganya lenyap. Bahkan dia harus berpisah dengan putrinya selama 26 tahun karena ulah kedua orang tua anak itu..


Trisha terduduk di bawah pilar dengan wajah pucat pasi, kata-kata Nalendra rasanya tidak ingin dia percaya. Dia adalah putri orang yang sudah berusaha melenyapkan keluarga Mahendra. Dan sekarang Ghina sudah mengetahui nya. Akhir-akhir ini saja hubungan mereka sudah memburuk karena sifat egois dan keras kepalanya.Lalu bagaimana sikap keluarga Mahendra kepadanya setelah ini? Apa mereka akan menendang dirinya dari keluarga Mahendra?


...🌸❤️🌸...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2