Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
65. Siuman


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit, Anjani nampak berjalan cepat meninggalkan Bramantyo dan Ratih.


"Anjani.! Anjani.!"panggil Bramantyo pada Anjani tapi tidak dihiraukan oleh Anjani.


Sudahlah pa, mungkin Anjani butuh waktu untuk sendiri,"ucap Ratih menenangkan.


"Ma, perusahaan kita benar-benar akan bangkrut jika Anjani dan Alva sampai bercerai dan Adiguna menarik semua sahamnya dari perusahaan kita,"ujar Bramantyo pada Ratih sambil terus berjalan menuju parkiran.


"Alva bukan orang yang bodoh pa, jika dia melakukan sesuatu pasti dia sudah memikirkan bagaimana resiko kedepannya,"ujar Ratih.


"Papa tidak yakin dengan itu, mama lihat betapa frustasinya Alva saat mendengar kabar bahwa Disha meninggal? Dari situ papa dapat melihat bahwa Alva sangat mencintai wanita itu. Dan orang yang dibutakan oleh cinta itu biasanya tidak berpikir panjang,"ujar Bramantyo yang membuat Ratih terdiam.


Ratih juga dapat melihat betapa Alva mencintai Disha setelah melihat sendiri kejadian di tempat kecelakaan dan di rumah sakit tadi. Ratih dapat melihat betapa takutnya Alva kehilangan Disha.


Bramantyo merogoh handphone dari saku celananya dan segera mendial sebuah nomor.


"Halo, Tuan,"sahut suara di ujung telepon.


"Vicky, kamu cari segala informasi tentang sekretaris Alva, dan secepatnya laporkan padaku,"ucap Bramantyo tanpa basa-basi lagi.


"Baik, Tuan,"sahut Vicky dan Bramantyo pun langsung menutup sambungan telepon. Ratih hanya menghela nafas panjang mendengar percakapan Bramantyo dengan Vicky.


Sementara Anjani memilih untuk pulang ke rumahnya sendiri. Anjani ingin mengadu pada Adiguna, namun sayangnya Adiguna sedang berada di luar kota. Akhirnya Anjani memilih masuk ke dalam kamarnya dan mengurang diri di sana. Anjani merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.


"Apa kurangnya aku hingga Alva tidak bisa mencintai aku dan malah memilih perempuan katrok itu dari pada aku? Bahkan dia berselingkuh dibelakang ku sampai memiliki seorang anak. Pantas saja walau pun hamil sebesar itu, perempuan katrok itu masih saja bekerja. Dia tidak mau jauh dari Alva agar bisa terus menjerat Alva,"


"Dasar perempuan sialan.!! Perempuan munafik.!! Arghh..!!!" pekik Anjani kemudian melempar semua barang yang ada di dalam kamarnya sehingga kamar yang semula bersih dan rapi, sekarang menjadi berantakan.


"Tok.!! Tok.!! Tok..!!"


"Nona, apa yang terjadi? Apa anda baik-baik saja?"tanya seorang Art yang merasa khawatir saat mendengar suara berisik barang-barang yang berjatuhan bahkan terdengar ada suara barang yang pecah dari kamar Anjani.


"Pergi.!! Pergi kamu.!! Jangan ganggu aku!!"pekik Anjani dari dalam kamarnya.


"Tapi Non..."

__ADS_1


"Aku bilang pergi.!!" pekik Anjani memotong kata-kata Art itu.


"Prangg"suara benda yang di lemparkan ke arah pintu membuat nyali Art itu ciut kemudian meninggalkan kamar Anjani dan memilih menghubungi Adiguna tapi ternyata ponsel Adiguna tidak aktif. Akhirnya Art itu memilih mengirimkan pesan kepada Adiguna tentang keadaan Anjani.


***


Disha POV


Pagi ini aku merasa sangat bahagia, aku tahu selama ini Alva mencintai ku, tapi aku tidak menyangka Alva akan memberikan aset yang begitu banyak padaku untuk membuktikan cintanya padaku. Bisa dibilang aku kaya mendadak bestie...he.he.he..


Menjelang siang aku sudah berjanji akan ketemuan sama para sohib ku. Kami akan mencoba makanan di sebuah kafe yang baru buka dan dengar-dengar menunya enak dan banyak pembelinya.


Seperti biasanya, seorang supir sekaligus bodyguard dan juga Ferdi, orang kepercayaan Alva selalu mengawal kemanapun aku pergi. Aku duduk di bangku penumpang bagian belakang dan seperti biasa Ferdi duduk di samping pengemudi.


Suasana jalanan siang ini nampak ramai lancar hingga saat mobil kami melintasi traffic light sedikit lagi lampu berwarna hijau akan menjadi kuning. Saat kami berada ditengah tengah perempatan jalan, tiba-tiba.....


"Brakk. brakk...brak..."


Mobil kami ditabrak oleh pengemudi yang menerobos lampu merah. Tubuh ku terbentur pintu mobil dengan keras dan aku merasa mobil ku tidak lagi melaju, tapi bergeser ke samping menabrak beberapa pengendara yang lain.


Aku bisa melihat wajah Alva yang sangat khawatir dengan air matanya yang bercucuran hingga aku akhirnya tidak sadarkan diri.


Aku berada disebuah taman yang begitu indah, seorang pria tampan berpakaian putih mengulurkan tangannya padaku dan tiba-tiba hujan mulai turun.


"Ayo kita pergi!"ucap pria tampan itu padaku dengan senyum yang sangat manis hingga aku mendengar ada suara dibelakang ku dan aku pun menoleh ke belakang.


"𝐒𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠..𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐧𝐣𝐢 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮. 𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐫𝐢 𝐣𝐚𝐧𝐣𝐢 𝐦𝐮! 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧𝐤𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐤𝐚 𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐫 𝐣𝐚𝐧𝐣𝐢? 𝐋𝐚𝐥𝐮 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐫𝐢 𝐣𝐚𝐧𝐣𝐢𝐦𝐮?"ucap Alva yang mengulurkan tangannya padaku.


"Kita harus segera pergi,"ucap pria tampan berbaju putih padaku dengan senyum menghiasi bibirnya, lalu aku menoleh lagi melihat Alva yang nampak putus asa dibelakang ku.


"𝐒𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠...𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢!! 𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮! 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚𝐦𝐮, 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠! 𝐀𝐤𝐮 𝐦𝐨𝐡𝐨𝐧 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮!!"ucap Alva seraya menangis terdengar begitu menyayat hati diiringi hujan yang semakin lama semakin deras.


Karena merasa tidak tega, akhirnya aku menghampiri Alva yang nampak putus asa itu dan dengan cepat pria itu menghambur memeluk ku dan aku tidak ingat apa-apa lagi.


Aku merasa telah tidur begitu lama, perlahan aku buka mata ku, terasa silau. Hingga tatapan mata ku tertuju pada seorang pria yang sedang menggenggam tangan ku dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


Aku lihat wajahnya nampak begitu lelah hingga aku sadar dimana aku berada sekarang dan mengingat kecelakaan yang terjadi padaku. Dan betapa terkejutnya aku saat aku melihat perutku yang membuncit sekarang datar. Aku gerakkan jemari ku yang terasa lemas untuk membangunkan Alva.


"Al.."ucap ku dengan suara pelan sambil terus menggerakkan jemariku yang di genggam oleh Alva.


"Sayang..kamu sudah siuman?"tanyanya setelah membuka matanya, dengan wajah yang nampak masih mengantuk namun terlihat sangat bahagia saat menatap ku kemudian menekan tombol untuk memanggil dokter.


"Anak kita...dimana anak kita?"tanyaku dengan suara lirih dan dada yang berdetak kencang. Aku takut karena kecelakaan yang terjadi padaku mengakibatkan sesuatu yang buruk pada bayi kami.


"Putra kita baik-baik saja sayang, dia sehat dan menggemaskan,"ucap Alva penuh senyuman.


Belum sempat aku bertanya lagi, dokter sudah datang dan memeriksa keadaan ku. Menanyakan apa saja keluhan ku.


"Keadaan Nyonya sudah semakin stabil, hanya perlu waktu untuk pemulihan saja. Kami akan memberikan pelayanan yang terbaik agar Nyonya Disha segera sehat seperti sedia kala,"ucap dokter itu.


"Terimakasih, dok!"ucap Alva dan di tanggapi dengan anggukan kepala oleh dokter itu kemudian dokter itu pun keluar dari ruangan ku.


"Al..aku ingin melihat putra kita,"pintaku karena sangat penasaran seperti apa bayi yang aku kandung selama ini.


"Baiklah, aku akan minta izin untuk membawanya ke sini,"ucap Alva kemudian mengecup kening ku dan berjalan keluar dari ruangan ku.


Beberapa saat kemudian Alva sudah kembali dengan bayi mungil dalam gendongannya.


"Lihatlah, ini putra kita, dia sangat tampan seperti aku,"ucapnya sambil membaringkan bayi mungil itu di samping ku.


"Narsis.!!"ucap ku mencibirnya namun Alva malah tergelak.


"Kamu masih saja gengsi untuk mengakui kalau suamimu ini tampan,"ucapnya sambil mencium bibirku sekilas," Aku mencintaimu, jangan pernah meninggalkan aku lagi! Aku tidak akan sanggup hidup tanpa mu,"ucapnya seraya mengelus pipi ku kemudian mencium kening ku dengan lembut.


"Al, kamu melepaskan kacamata dan kawat gigi ku?"tanyaku saat menyadari aku tidak lagi mengenakan kacamata dan kawat gigi.


...🌟"Bahagia itu bukan karena indah dan mewahnya tempat kita berada, tapi karena dengan siapa kita ada di sana."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2