
"Brugh"
"Auwh"Disha hampir saja jatuh saat tiba-tiba seorang pria muncul dari private room lain dan tak sengaja ditabrak oleh Disha yang berjalan cepat diikuti oleh Riky dan Alva.
"Ish..kamu ini ceroboh sekali!"ucap pria yang ternyata adalah Radeva itu. Jika Radeva tidak segera meraih tubuhnya, Disha pasti sudah terjatuh.
"Kakak juga makan siang disini?"tanya Disha seraya melirik Riky yang sudah berdiri tidak jauh darinya dan Alva yang juga sudah dekat.Dengan sengaja Disha bergelayut manja di lengan Radeva membuat Radeva mengernyitkan keningnya. Karena tidak biasanya adiknya ini bersikap seperti ini.
"Iya, baru saja selesai,"sahut Radeva seraya mengelus kepala Disha.
"Sayang..!"panggil Alva menatap Radeva sekilas dengan tatapan tajam namun Radeva malah tersenyum mendapati tatapan tajam adik iparnya itu.
"𝙊𝙝, 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙙𝙞𝙠𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙟𝙪𝙠 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖? 𝙋𝙖𝙣𝙩𝙚𝙨𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙟𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙣𝙞. 𝙒𝙖𝙝..𝙨𝙚𝙧𝙪 𝙞𝙣𝙞! 𝙆𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙜𝙪𝙨 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙖𝙨-𝙢𝙖𝙣𝙖𝙨𝙞 𝙖𝙙𝙞𝙠 𝙞𝙥𝙖𝙧 𝙠𝙪, 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙟𝙚𝙣𝙜𝙜𝙤𝙩,"batin Radeva tersenyum smirk. Entah kenapa Radeva merasa senang jika bisa membuat adik iparnya itu cemburu padanya.
"Tuan Radeva, saya kira Tuan sudah pergi,"ucap seorang pria paruh baya dan seorang wanita cantik yang menatap Disha yang bergelayut manja di lengan Radeva dengan tatapan tidak suka, kedua orang itu keluar dari ruangan yang sama dengan Radeva.
"Ah iya, Tuan,"sahut Radeva tersenyum tipis.
"Kalau begitu, kami pergi duluan,"pamit pria paruh baya itu.
"Oh, silahkan!"sahut Radeva tersenyum tipis pada pria paruh baya itu, sedangkan wanita yang bersama pria paruh baya itu nampak menatap Disha sinis.
"Kak, habis ini kakak mau kemana?"tanya Disha yang masih bergelayut manja di lengan Radeva mendongakkan kepalanya menatap wajah kakaknya yang lebih tinggi darinya.
"Mau pulang. Apa mau ikut?"tanya Radeva seraya melirik adik iparnya yang wajahnya nampak seperti benang kusut.
"Antar aku pulang, dong, kak!"ucap Disha manja membuat Alva mengepalkan kedua tangannya sedangkan Radeva tersenyum senang.
"Boleh. Dengan senang hati adikku, tersayang,"ucap Radeva seraya menoel hidung adiknya yang mancung membuat Riky mengulum senyum melihat wajah Alva yang terlihat semakin kusut.
"Sayang..! Kamu tidak mau kembali ke kantor?"tanya Alva penuh harap.
__ADS_1
"Al, kamu masih di sini?"tanya Dita yang tiba-tiba muncul membuat Radeva mengernyitkan keningnya menatap Alva yang nampak membuang nafas kasar, Riky yang mengulum senyum dan Disha yang nampak tidak suka dengan kehadiran wanita yang menyapa Alva itu. Radeva sekarang benar-benar tahu apa yang membuat adiknya bertingkah manja kepadanya dan merajuk pada suaminya.
"Sayang, ayo aku antar pulang!"ucap Radeva pada Disha dengan mesra membuat Alva semakin geram.
Jika tidak ingat Disha adalah adik kandung Radeva, Alva pasti sudah menghajar pria itu. Bahkan setelah keluarga Mahendra mengklaim Disha sebagai putri mereka yang hilang 26 tahun yang lalu, Alva sempat meminta tes DNA sebagai bukti untuk meyakinkan semua orang bahwa Disha adalah putri dari Mahendra.
Bukan tanpa sebab Alva meminta tes DNA itu. Selain agar lebih pasti kebenarannya, hal itu Alva lakukan karena merasa cemburu pada Radeva yang diketahuinya memang menyukai Disha dari awal Radeva bertemu dengan Disha. Alva tidak suka ada pria lain yang menyentuh istrinya.
"Oh, jadi anda kekasih sekretarisnya Alva ini? Apa anda tahu, perempuan ini sungguh tidak tahu diri dan tidak tahu sopan santun,"ucap Dita yang ingin menjatuhkan Disha di depan Radeva yang dia pikir adalah kekasih Disha.
"Jaga bicaramu!"bentak Alva dan Radeva bersamaan membuat Dita terkejut.
"Jangan sembarangan kalau bicara! Anda mengatakan saya tidak sopan? Apa yang bisa membuat anda menilai saya tidak sopan?"tanya Disha.
"Kamu masuk keruangan tadi tanpa basa-basi,"sahut Dita.
"Lalu apakah sopan jika saya bertanya pada anda, tapi anda malah menjawab pertanyaan saya ke pada nya?"tanya Disha menunjuk pada Alva membuat Dita terdiam.
"Kau!!"geram Dita langsung mengangkat tangannya ingin menampar Disha namun baru saja tangan itu terangkat, Alva dan Radeva yang ada di sebelah kanan dan kiri Disha langsung memegang tangan Dita.
"Sedikit saja kamu melukainya, akan aku patahkan tanganmu ini,"ucap Radeva dengan tatapan tajam dan bersamaan dengan Alva menghempaskan tangan Dita yang mereka pegang.
"Tidak salah papaku menjauh kan kamu dari ku, ternyata kamu memang bukan wanita yang baik,"ucap Alva pada Dita.
"Kenapa kalian begitu membelanya? Apa karena dia cantik? Kalian memperebutkan satu wanita seolah tidak ada wanita lain di dunia ini,"cibir Dita yang merasa iri sekaligus kesal karena Disha yang nampak dilindungi dua orang pria. Belum lagi Riky yang juga nampak siap siaga menjaga Disha.
"Memperebutkan dia?"tanya Radeva menunjukkan pada Disha,"Kenapa aku harus memperebutkan adikku dengan dia,"ucap Radeva menunjuk pada Alva.
"Disha ini adalah istri ku, dan tidak akan aku biarkan dia disakiti siapa pun termasuk kamu!"ucap Alva menatap tajam pada Dita.
Setelah mengatakan itu secara bersamaan Alva meraih pinggang Disha dan Radeva merangkul pundak Disha.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu dari pundaknya!" ucap Alva penuh penekanan menatap tajam pada Radeva yang merangkul pundak Disha.
"Kenapa? Kamu tidak punya hak melarang ku! Aku ini kakaknya,"ucap Radeva tersenyum sinis.
"Aku suaminya, aku lebih berhak dari pada kamu,"balas Alva tidak mau kalah.
"Sebelum dia menjadi istrimu, dia sudah menjadi adikku,"ucap Radeva yang memang suka membuat Alva kesal.
"Lepas!"bentak Disha melepaskan tangan Radeva dari pundaknya membuat Alva tersenyum menang, namun baru saja senyumnya mengembang Disha juga melepaskan tangan Alva dari pinggang Disha membuat tawa Radeva langsung pecah.
"Rik, ayo kita kembali ke kantor!"ajak Disha.
"Baik, Nyonya,"sahut Riky langsung mengikuti Disha.
"Sayang, bareng sama aku aja!" / "Sayang, katanya mau pulang, ayo kakak antar!" ucap Alva dan Radeva bersamaan.
"Nggak! Aku nggak mau satu mobil dengan kalian! Aku sebal sama kalian!"ucap Disha tanpa menghentikan langkahnya.
"𝘽𝙚𝙧𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙙𝙞𝙖, 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙣𝙮𝙖,"batin Dita yang melihat dua pria tampan mengejar perempuan yang menghinanya habis-habisan.
"Ini semua gara-gara kamu!"tuduh Alva pada Radeva sambil terus mengejar Disha.
"Lah, kenapa jadi nyalahin aku? Adikku marah kan gara-gara perempuan yang memanggilmu dengan suara manja tadi? Kenapa jadi nyalahin aku? Kalau kamu membuat adikku sampai menangis, akan aku pecat kamu agar tidak lagi jadi adik ipar ku,"tukas Radeva.
Alva langsung menghadang Radeva dan memegang kerah baju Radeva,"Jangan mimpi bisa menjauhkan aku dari Disha!"ucap Alva yang masih memegang erat kerah baju Radeva.
"Hei..dimana sopan santun mu sebagai adik ipar!"ucap Radeva santai. Radeva tidak pernah sekalipun tersulut emosi karena perbuatan Alva padanya.
"Cari pasangan sana! Jangan mengikuti istri ku terus! Dasar perjaka tua!"umpat Alva melepaskan kerah baju Radeva dengan sedikit mendorong Radeva, kemudian bergegas meninggalkan Radeva.
"Dasar adik ipar lak natt! Kalau nggak ingat adikku cinta banget sama kamu, udah aku copot gelar mu sebagai adik ipar ku,"ucap Radeva agak menguatkan suaranya karena Alva yang sudah semakin menjauh. Setelah berkata demikian Radeva malah tertawa tanpa suara, karena merasa senang sudah membuat Alva kesal.
__ADS_1
To be continued