
...💖 Yang belum dewasa, harap menepi untuk sementara waktu 💖...
Setelah kepergian Radeva, Disha terduduk di tepi ranjang menatap fotonya dan foto Alva di dinding kamarnya. Foto mereka dalam balutan pakaian pernikahan dengan aura kebahagiaan. Air mata Disha mengalir, perlahan berbaring, merebahkan tubuhnya yang terasa lemas tanpa gairah.
"Maafkan aku!"gumamnya menyesali apa yang terjadi sebelum Alva pergi. Bahkan mereka berpisah dengan suasana hati yang sedang tidak baik. Air mata Disha mengalir tiada henti, takut kehilangan sosok yang selama ini telah mengisi hati dan hari-hari nya.Mengenang saat-saat kebersamaan mereka dan perjuangan mereka untuk tetep bertahan menjadi pasangan suami-istri hingga saat ini.
Cinta yang tumbuh secara perlahan hingga akhirnya mengakar dalam hati mereka. Perasaan bahagia saat bersama di tambah kehadiran buah hati mereka yang melengkapi kebahagiaan mereka. Disha terisak dalam tangisnya sampai dini hari, akhirnya mata itu pun terpejam karena kelelahan menangis.
Dini hari yang dingin dengan rincik hujan yang masih membasahi bumi, sesekali suara guntur terdengar. Suasana terasa sepi dan gelap karena mendung yang menyelimuti langit. Hawa dingin pun terasa karena hujan yang tak begitu lebat tapi terus mengguyur bumi sejak malam tiba.
Sebuah taksi berhenti di depan rumah Bramantyo. Seorang pria yang memakai penutup kepala dari hoodie yang dikenakannya berlari keluar dari dalam taksi, menghampiri pos penjagaan yang baru saja ditinggalkan sang penjaga ke toilet. Pria itu memanjat pagar dan masuk ke pekarangan rumah Bramantyo menuju pintu utama yang tertutup rapat.
"Shitt! Pintunya dikunci!"umpatnya kemudian bergegas berjalan ke samping rumah. Tak lama kemudian pria itu membawa sebuah tangga dan memanjat balkon sebuah kamar. Setelah berada di balkon, kakinya melangkah menuju pintu yang menghubungkan balkon dan kamar. Pintu balkon yang tidak terkunci, sehingga memudahkannya masuk ke dalam kamar.
Dalam lampu tidur yang temaram, terlihat sesosok tubuh yang sedang meringkuk di balik selimut. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi dan beberapa menit kemudian keluar hanya dengan menggunakan celana boxer. Perlahan melangkah menuju ranjang dan naik mendekati sosok yang sedang meringkuk.
'Aku merindukan mu, sayang,"ucapnya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik yang sudah sangat dirindukannya,"Kau menangis? Kenapa kamu menangis?"tanyanya dengan suara lembut saat jemari tangannya merasakan pipi wanita itu basah,"Jangan pernah menangis! Aku tidak suka melihat mu menangis. Aku hanya ingin melihat mu tersenyum,"ucap nya dengan suara lembut, kemudian mengecup kening wanita itu penuh kasih sayang.
Perlahan pria itu berbaring memegang pipi sosok wanita itu dan mendekatkan wajahnya pada sang wanita lalu mencium bibirnya dengan lembut untuk beberapa saat,"Aku mencintai mu. Aku merindukan mu,"ucapnya dengan ibu jari mengusap lembut bibir yang baru saja di cium nya. Berusaha mati-matian untuk tidak mengecup kembali bibir yang begitu menggoda baginya itu.
"Al.."ucap wanita yang tak lain adalah Disha, masih belum bangun dari tidurnya. Memegang tangan pria yang memegang pipinya. Saat ini Disha seperti sedang bermimpi Alva ada bersamanya, ciuman lembut dan aroma tubuh itu sangat dikenalnya.
__ADS_1
Rasa rindu dan juga perasaan yang menolak kabar bahwa Alva mengalami kecelakaan pesawat dengan kemungkinan selamat yang kecil, membuatnya tidak ingin membuka matanya, merasa takut jika matanya terbuka mimpi ini akan lenyap.Tangannya memegang erat tangan pria yang tidak lain adalah Alva.
Perlahan, tanpa bisa menahan diri, Alva kembali mencium bibir Disha dengan lembut, dan kali ini dengan mata terpejam Disha membalasnya, tanpa mau melepaskan tangan Alva. Merasakan balasan dari Disha, pangutan yang awalnya lembut dan perlahan semakin lama semakin menjadi agresif. Alva yang sudah menahan diri sejak lama pun tidak bisa lagi mengendalikan diri saat Disha membalas ciumannya dengan agresif, hingga nafas Disha tersengal, barulah Alva melepaskan ciumannya.
Namun bibir yang baru saja melepaskan pangutan pada bibir Disha itu sekarang malah berpindah ke leher Disha, menyesap dan menjilat leher Disha, membuat banyak tanda di leher putih mulus itu, membuat Disha mende sahh. Melepaskan pegangan tangannya pada tangan Alva berpindah menjambak rambut tebal Alva.
Jemari tangan Alva pun bergerak melucuti helai demi helai kain yang melekat di tubuh Disha yang masih enggan membuka matanya. Bibir dan lidahnya mulai bermain di dua bukit kembar Disha yang sudah lama tidak disambanginya, jemari tangannya pun meremas dengan lembut, dan memainkan puncak bukit kembar itu, membuat Disha semakin mende sahh dan menekan kepala Alva, menenggelamkan nya pada kedua bukit kembarnya.
Jemari tangan Alva mulai turun membelai perut Disha dan terus menjalar ke bagian inti Disha yang sudah terasa basah. Sudah tidak bisa menahan diri lagi, Alva pun segera melepaskan celana boxernya, memposisikan tubuhnya di atas tubuh Disha. Bibirnya mulai melum Matt bibir Disha yang dibalas Disha dengan agresif membuat Alva semakin tidak sabar untuk menyatukan tubuh mereka.
Tanpa bisa menahan diri lagi Alva mulai memasukkan miliknya ke inti tubuh Disha hingga membuat Disha mengerang dan semakin mendesah saat Alva mulai mengerakkan pinggulnya.Disha bahkan menghisap dan menggigit leher Alva karena tidak bisa menahan rasa nikmat yang mendera bagian inti tubuhnya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Alva benar-benar meluapkan semua yang selama ini dia tahan, bergerak cepat di atas tubuh Disha, mencium bagian- bagian tubuh Disha yang sensitif. Suara racauan, erangan dan desa Han pun memenuhi kamar itu. Malam itu Disha nampak lebih agresif dari biasanya, membuat banyak tanda di tubuh Alva, hingga Alva semakin tidak bisa menahan hasraatnya yang semakin meledak-ledak.
Alva menarik Disha kedalam pelukannya dan menutupi tubuh mereka yang polos dengan selimut. Sampai saat ini Disha masih belum mau membuka matanya, memeluk erat tubuh Alva, mengendus aroma tubuh pria itu seperti orang yang kecanduan narkotika. Walaupun tubuh Alva dibanjiri peluh sisa percintaan mereka, namun Disha tetap menyukai aroma tubuh Alva.
Disha menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alva, memeluk erat tubuh Alva seolah tidak ingin melepaskan nya lagi. Tidak ingin lagi berjauhan dengan pria yang telah memiliki dirinya sepenuhnya itu. Pria yang telah memiliki jiwa dan raganya.
"𝙎𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙙𝙖𝙧, 𝙗𝙚𝙩𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙢𝙪 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙠𝙪. 𝘽𝙚𝙩𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞-𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖𝙢𝙪, 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙚𝙬𝙖𝙩𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢𝙖𝙣 𝙢𝙪. 𝙅𝙖𝙧𝙖𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙨𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞, 𝙗𝙚𝙩𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙪𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞 𝙞𝙣𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙥𝙚𝙡𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙢𝙪. 𝘼𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖𝙢𝙪, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙢𝙪. 𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪!"batin Disha yang takut untuk membuka matanya dan semakin mengeratkan pelukannya.
Tak lama kemudian sepasang suami-isteri itupun terlelap karena kelelahan. Percintaan panas mereka tadi benar-benar menguras tenaga mereka. Mereka pun tidur saling berpelukan dengan erat seolah takut kehilangan, hingga matahari memancarkan sinarnya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Sayang! Buka pintunya! Apa kamu baik-baik saja?"suara Radeva dari balik pintu kamar.
"Sayang!"
Radeva terus mengetuk pintu kamar itu dan memanggil Disha hingga membuat Alva terbangun.
"Shitt!"umpat Alva yang merasa tidurnya terganggu. Perlahan Alva melepaskan pelukannya dari Disha, menyelimuti tubuh polos Disha kemudian mengecup kening Disha lembut. Setelah itu Alva segera mencari celana boxernya yang entah dilemparkan nya kemana. Sementara Radeva masih terus mengetuk pintu dan memanggil manggil Disha. Setelah menemukan celananya, Alva segera memakainya dan berjalan menuju pintu.
"Ceklek"Alva membuka pintu dengan rambut yang acak-acakan dan wajah yang terlihat kesal.
"Astaga!"pekik Radeva yang terkejut melihat Alva muncul dari balik pintu. Radeva melihat Alva dari atas sampai bawah untuk memastikan bahwa yang ada di hadapan nya itu benar-benar adik iparnya.
"Ada apa sich, pagi-pagi sudah menganggu orang?!"ketus Alva yang merasa terganggu karena keributan yang dibuat kakak iparnya itu membuatnya terpaksa bangun.
"Shitt.!!! Pagi kamu bilang? Ini sudah siang! Semalaman sampai pagi kami tidak tidur karena mencari mu. Tapi kamu ternyata malah disini dan asyik bercinta dengan adikku?! What the hell.!!"
...🌟"Rindu itu tidak terlihat, tapi nyatanya rasanya berat.'🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
...🌸💖🌸...
To be continued