Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
155. Nggak Dapat Jatah


__ADS_3

Riky nampak serius menatap laptopnya, jemari tangannya dengan lincah menari diatas keyboard laptopnya hingga....


"Ting...Ting...Ting ..."bunyi notifikasi di handphonenya berturut-turut. Riky pun segera meraih benda pipih itu dan membacanya. Matanya membelalak saat membaca pesan dari Alva di handphone nya yang isinya....


"Suruh beberapa karyawan wanita keruangan ku! Sekarang!!!!"


"Suruh langsung masuk dan jangan mengetuk pintu!"


"Aku hitung dari sekarang, jika dalam hitungan ke tiga puluh belum ada karyawan wanita yang masuk, gaji mu aku potong separuh dan tidak ada bonus bulan ini!!!"


Membaca pesan itu, Riky langsung berlari keluar dari ruangannya, walaupun handphone nya masih saja berbunyi menandakan ada pesan yang masuk, Riky tidak perduli lagi.


"Kamu! Cepat ikut saya!"


"Kamu ikut saya!"


"Kalian ikut saya!"


Riky menunjuk setiap karyawan wanita yang ditemuinya dan terus berlari menuju ruangan Alva diikuti beberapa karyawan wanita yang ditunjuknya tadi. Walaupun mereka bingung dan penasaran apa yang terjadi dan kenapa di suruh mengikuti Riky sambil berlari, namun mereka tetap berlari mengikuti Riky.


"Cepat kalian buka pintu itu dan langsung masuk!"titah Riky.


"Tapi, Pak......"


"Cepat!!!"bentak Riky hingga mau tidak mau mereka membuka pintu ruangan itu.


"Ceklek, braakk,"suara pintu yang dibuka dari luar terbuka lebar.


"𝙒𝙝𝙖𝙩?? 𝘿𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙗𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖𝙬𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙠𝙚𝙧𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙏𝙧𝙞𝙨𝙝𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙥𝙤𝙡𝙤𝙨 𝙞𝙩𝙪?"batin Disha yang masih bersembunyi di ruangan pribadi Alva.


"Akkh.!!"pekik Trisha saat melihat beberapa orang tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Trisha langsung berjongkok memeluk lututnya untuk menutupi tubuh bagian depannya.


"Astaga!!!'para wanita itu terperanjat saat melihat seorang wanita yang hanya mengenakan kain segi tiga saja di bagian inti tubuhnya, sedang Alva berdiri di pojok ruangan dengan pakaian yang masih lengkap.


"Kalian pakaikan baju perempuan tidak waras itu, setelah itu seret dia keluar dari ruangan ku. Dan satu lagi! Jangan pernah biarkan perempuan tidak waras itu menginjakkan kakinya di perusahaan ku!" titah Alva kemudian melangkah keluar dari ruangannya.


"Baik, Pak,"sahut para karyawan wanita itu.

__ADS_1


"Alva brengseek!! Aku akan membalas mu!!"pekik Trisha tidak dihiraukan oleh Alva yang terus melangkah meninggalkan ruangannya tanpa menoleh sedikit pun pada Trisha. Para karyawan wanita itu pun bergeser dari pintu masuk, memberikan jalan untuk atasan mereka itu.


Nona, sebaiknya nona memakai baju Nona sendiri, karena jika nona tidak mau memakainya lagi, kami yang akan memakaikannya untuk Nona,"ucap salah seorang karyawan wanita.


"Aku bisa sendiri! Keluar kalian dari ruangan ini!'perintah Trisha.


"Kami tidak akan keluar dari ruangan ini sebelum nona juga keluar dari ruangan ini,"ucap karyawan wanita itu lagi yang membuat Trisha mendengus kemudian memakai pakaiannya.


"Cih!! Tidak tahu malu! Berusaha merayu suami orang,"


"Pakai membuka seluruh pakaiannya lagi di depan Pak Rendra, murahan!"


"Pelakor jaman sekarang memang urat malunya benar-benar sudah putus,"


"Harus nya di arak aja keliling perusahaan atau bila perlu di arak di jalan raya sana biar tidak ada lagi yang berniat jadi pelakor," selentingan suara para wanita yang ada di ruangan itu.


"Diam!! Jika aku berhasil memiliki Alva, akan aku pecat kalian semua!!"sergah Trisha yang hampir selesai memakai pakaiannya di depan semua karyawan wanita yang ada di ruangan itu.


"Cih!! Mimpi kamu ketinggian! Pak Rendra tidak akan menikahi sundel bolong kayak kamu!"


"Iya, mana mau Pak Rendra sama kamu,"


"Iya, tidak seperti kamu! Perempuan murahan!!"kata-kata tidak mengenakan itu terus keluar dari mulut para karyawan wanita itu dan membuat Trisha semakin kesal.


Sementara saat Alva keluar dari ruangan nya, Alva sudah melihat Riky yang berdiri di luar ruangan nya itu.


"Ada apa, Tuan?"tanya Riky yang memang hanya berdiri di luar ruangan dan tidak bisa melihat kedalam karena kerumunan karyawan wanita yang berada di pintu masuk.


"Si Trisha memaksaku untuk bertanggung jawab atas hilangnya kesuciannya,"ucap Alva nampak kesal sambil berjalan ke arah kursi yang biasa diduduki oleh Disha.


"What?! Nekat sekali dia! Dasar tidak tahu malu! Tidak waras! Kenapa dia tidak meminta pertanggung jawaban dari Hery? Ini malah datang ke sini dan meminta pertanggung jawaban dari, Tuan,"gerutu Riky yang masih bisa di dengar oleh Alva.


"Tapi kenapa Tuan menyuruh para karyawan wanita masuk ke ruangan anda tanpa mengetuk pintu? Apa benar Trisha melepaskan pakaiannya di depan, Tuan?" sambung Riky karena mendengar kata-kata dari para karyawan wanita di dalam ruangan Alva.


"Iya. Dia berusaha menggodaku dengan melepas hampir seluruh pakaiannya di depan mataku. Aku benar-benar jengah, dan muak pada perempuan itu,"ucap Alva dengan membuang nafas kasar.


"Ya Tuhaann...perempuan itu! Lalu dimana Nyonya, Tuan?"tanya Riky yang memang tidak melihat Disha.

__ADS_1


"Astaga!! Dia ada di dalam ruangan pribadi ku, Rik!!"ucap Alva yang melupakan keberadaan istrinya bersamaan dengan para karyawan wanita yang keluar dari ruangannya membawa Trisha keluar dengan paksa.


"Lepaskan aku! Aku tidak terima penghinaan ini! Alva, awas kamu! Aku akan menghancurkan kamu!"pekik Tisha saat melihat Alva, namun tidak dipedulikan oleh Alva.


"Tuan terlalu menikmati pemandangan yang Trisha suguhkan, sehingga Tuan lupa jika istri Tuan ada di dalam ruangan pribadi Tuan. Padahal tadi tuan kan bisa memanggil Nyonya, tidak perlu meminta saya untuk memerintahkan karyawan wanita untuk masuk ke dalam ruangan Anda,"


"CK..ck..ck.. awas, bisa-bisa tuan nggak dapat jatah malam ini! Karena anda telah menikmati pemandangan indah yang terlarang. Saya kasihan sekali pada Tuan,"ujar Riky kemudian terkekeh.


"Riky!!!"geram Alva dengan wajah mengeras dan mata melotot ke arah Riky.


"Ampun Tuan, saya sebentar lagi kawin!!" pekik Riky seraya berlari meninggalkan Alva.


"Kawin...kawin...nikah dulu baru kawin!!" sergah Alva dan hanya disahuti dengan gelak tawa oleh Riky.


"Shiitt, Disha pasti marah padaku,"Alva bergegas masuk kedalam ruangannya dan langsung menutup pintu. Seketika matanya tertuju pada Disha yang baru saja keluar dari ruangan pribadinya.


"Sayang, kenapa dari tadi tidak keluar? Kamu lihat kan perempuan itu benar- benar nekat menggoda ku dengan melepaskan pakaiannya?" tanya Alva.


"Bukankah kamu menikmati nya? Melihat tubuh putih mulus dengan dua gunung kembar yang menantang dan hanya mengenakan kain segi tiga saja. Kamu pasti senang kan, melihatnya?!"tanya Disha yang terkesan menuduh.


"Isshh...mana ada yang begitu? Bagiku hanya tubuhmu yang paling indah, sayang,"sahut Alva seraya memegang pipi Disha, namun langsung ditepis oleh Disha.


"Cih..saat melihat tubuh Trisha tadi, memangnya kamu ingat dengan istri mu ini?"ketus Disha.


"Aku hanya ingin mempermalukan dia didepan orang banyak, sayang. Aku ingin memberikan dia pelajaran. Lagi pula jika aku memanggilmu, Trisha akan tahu jika ada ruangan rahasia di dalam ruangan ku ini,"jelas Alva yang otak pintarnya cepat sekali mencari alibi.


"Dasar! Pintar sekali kamu mencari alasan! Jika memang kamu ingin mempermalukannya, kenapa sampai menunggu dia hampir polos seperti tadi? Bilang saja kamu memang sengaja agar bisa menikmati pemandangan gratis itu," tuduh Disha.


"Tidak sayang, bukan seperti itu. Butuh waktu untuk menghubungi para karyawan wanita dan butuh waktu pula kan mereka untuk berkumpul dan masuk ke dalam ruangan ini? Mereka pasti merasa segan kan, jika masuk keruangan ini tanpa mengetuk pintu,"kembali Alva memberikan alibi yang masuk akal kepada Disha.


"Bodo'lah! Yang pasti malam ini tidak ada jatah buat kamu! Itu hukuman karena kamu berani melihat tubuh perempuan lain selain aku,"tukas Disha melangkah meninggalkan ruangan itu.


"Sayang....!!"


"Brakk"Disha menutup pintu degan kuat sebelum Alva berhasil mencegahnya keluar dari ruangan itu.


"Shiitt.!! Sial.!! Sial..!! Ini semua gara-gara Trisha,"umpat Alva menendang-nendang udara.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2